Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Thursday, 27 March 2014

Dari Tepi Kairo

bismillah



Tidak lagi menawan.
source: landtarget.blogspot.com
Apa yang ku lihat setiap hari telah menjadi rutinitas yang tak lagi menggairahkan. Asrama mahasiswi di kawasan Abbaseya yang cukup jauh dari pusat dinamika masisir di Madinah Nasr. Buatku jarak yang hampir sama dengan Solo-Klaten ini sudah tidak lagi jauh. Berbeda dengan mahasiswa di madinah Nasr yang ketika harus ke Abbaseya selalu menggerutu, “Jauhnya...”.
Begitu pula pemandangan yang wajib aku temui setiap hari. Pekuburan Duwaiqah,  Nadi Sikkah, Hay Sadis hingga seterusnya tak ubahnya slide film dokumenter yang setiap hari diputar lewat jendela bus pemerintah. Goresan dan lekukan tak berseni yang menyombongkan ketangguhan setiap mobil di Kairo tak lagi menarik perhatianku. Tidak jauh berbeda dengan papan reklame yang selalu ku tatap dari jarak seratus meter dalam bus, setiap kali melintas di kawasan Hay Sadis.
Di papan reklame itu terlukis dan tertulis suatu paradoks. Senyum polos gembira sengaja disorot close-up dari mimik seorang anak kecil di foto itu. Di bawahnya huruf-huruf berbaris rapi dan bersuara, Undang-Undang Perlindungan Anak. Layar iklan yang warnanya telah usang dan terpojok oleh pohon-pohong menjulang serta keramaian Eltramco itu menertawakan pandanganku.
 Seorang anak yang tak pernah kubayangkan dapat tersenyum ceria seperti yang terpampamg dalam iklan menarik perhatianku, ia naik ke dalam bus dengan bawaan plastik besar yang diseret dua tangan mungilnya. Sementara sang bunda yang bertubuh gempal berusaha duduk di atas kursi yang lebarnya hanya setengah besar tubuhnya. Bahasa tubuh bocah di hadapanku ini dapat jelas diterjemahkan,”Mama, ini berat”
Bus melewati kawasan Hay Tsamin. Siang hari yang menyengat. Masing-masing merayap dalam irama klakson bersahutan. Siapa lagi yang mau peduli? Dengan polusi suara begitu pun tak ada yang mau ambil pusing. Pejalan kaki tetap menyeberang jalan seenaknya. Begitu pula polisi lalu lintas dengan bedak debu mix asap polusi hanya peduli dengan kapan kendaraan harus berhenti atau berjalan. Tugasnya hanya itu.
Bertambah satu anak yang mengalami nasib serupa tadi. Baru saja ia menaiki tangga bus dengan tergopoh-gopoh. Gadis kecil. Ibunya duduk manis dan sibuk berbicara dengan handphone nokia layar kuning yang terselip antara pasmina dan pipinya. Aku tersenyum pada bocah 6 tahunan yang tak berkedip memandangku. Orang asing. Sudah kugeser dan kusisakan space untuknya duduk bersamaku, tapi kepalanya segera menggeleng seperti mesin otomatis.
source: cairogizadailyphoto.blogspot.com
Birrul walidain. Komentar salah seorang kawan suatu ketika. “Makanya, anak kecil harus mengalah demi orang tua.” Lanjutnya. Memang nampak perbedaan yang sangat kontras dengan kultur masyarakat Indonesia. Di Mesir, seorang anak tidak dipandang lemah. Maka orang tua tidak perlu menggendong anak yang masih belajar berjalan dan terseok. Tidak perlu khawatir untuk tidak menggandeng anak kecil di jalanan ramai, meski beresiko tertabrak mobil yang melintas dengan ugal-ugalan. Juga tidak perlu ragu untuk menampar dan memukul kepalanya keras-keras di depan umum saat berbuat salah menurut orang tua. Bagi warga asing di Kairo,terkhusus orang-orang Melayu, tentu mereka menganggap anak-anak Mesir hidup tanpa kasih sayang. Namun mungkin bagi sebagian besar orang Mesir, wafidin yang berkulit sawo matang itulah yang terlalu dimanja sejak kanak-kanaknya.
Handphoneku bergetar. “Kamu sudah sampai mana, ya habibty?” Pertanyaan di seberang membuat ekor mataku menembus jendela.
“Sudah dekat arba’ wannus, ablah.” Jawabku. Mengapa mahattah terakhir di Tabba ini disebut begitu? Empat setengah? Belum tentu setiap penduduk yang lalu lalang di sini tahu jawabannya.
Senyum pasrahku bergelayut. Aku harus merelakan sepatu yang baru kemarin kucuci menapak becek tanah selepas turun bus. Beberapa kali aku harus berjingkat dan mengangkat rok sedikit untuk menghindari beberapa genangan air dan sampah basah yang menebar bau tak sedap.
Ini hanya permulaan! Aku menyemangati diri.
Menjadi relawan di salah satu kawasan pojok Cairo ini sudah menjadi keputusanku. Kalau sudah begitu, artinya tidak boleh ada kata mengeluh. Mengajar anak TK di tempat terpencil, bagi anak-anak yang terlahir dari orang tua kelas bawah. Siapa sudi? Aku sendiri mengiyakan tawaran ini karena ingin meraup pengalaman. Adapun beberapa puluh pounds sebagai gaji setiap bulan, anggap saja menambah uang jajan.
source: greensimon.com
Bila diukur dengan kacamata materi, aku yakin tak kan ada yang bilang sepadan. Terlebih harus melewati jalanan becek tak beraspal, penuh sampah dan anjing-anjing penuh kudis berseliweran. Sesekali menggonggong, berkejaran atau mengais-ngais sampah. Bukan salah penglihatan jika jarang sekali ditemukan orang-orang berpakaian klimis, berjas dan tidak berwajah garang. Tidak heran -entah benar atau tidak- sebagian kawan bilang ini kampungnya para maling dan penjahat. Maka harga sewa syaqqah bisa lebih murah. Meski begitu, tidak sedikit warga asing yang tinggal di Tabba. Indonesia dan China misalnya.
Ablah Gheda menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih dahulu sampai. Hari  pertama, tentu saja perkenalan.

“Ini Ablah Rani.” Ablah Gheda menunjukku.

bersambung...

NB: dimuat dalam buletin Terobosan edisi 360

Thursday, 12 July 2012

Akankah Ustadz Pergi? (part 2)

bismillah

Aku memutar otak. Memutar kembali slide-slide peristiwa yang ku lalui. Slide berhenti saat Umar menepuk punggungku ketika kami membaca koran. Secara spontan kuraba punggung seragamku. Terasa ada kertas yang menempel di sana. Setelah ku tarik dan, tertulis besar di sana... ”TERORIS”
Ku tempelkan kertas itu di dahi dan menatap Umar yang duduk jauh di bangku belakang, ”Seharusnya kamu tempel di jidatku saja! Aku ingin Amerika menembakku di sini, agar cepat syahid! ” kelakarku.
Ku biarkan teman-teman tertawa sepuasnya karena taK lama kemudian seorang Ustadz datang dan pelajaran pun di mulai.
***
Sabtu pagi ketika lima menit yang lalu bel istirahat berdering. Beberapa santri –termasuk aku- berdiskusi seputar tema yang tak pernah membosankan bagi kami. Terorisme.
Jiwa muda kami terbakar begitu topik diskusi mengenai Ustadz Azzam yang masih di tahan polisi dan tidak satupun keluarga dan kerabat yang boleh menjenguk sehingga tidak ada kabar mengenai keadaan beliau.
Umar yang juga ikut berdiskusi tiba-tiba berjalan ke depan kelas, melepas sepatunya, memindahkan Al Quran yang ada di laci meja terdepan ke meja di belakangnya, lalu mulai menaiki kursi. Kaki kirinya ada di atas kursi dan kaki kanannya di atas meja. Ia melepas ikat pinggang dan mengikatnya di kepala. Gayanya bak pasukan pejuang kemerdekaan yang siap untuk berorasi membakar semangat pejuang lainnya.
Kini satu tangannya terkepal. Aku tak sabar ingin tahu apa yang akan ia katakan ketika bertingkah konyol seperti ini.
”Wahai, Mujahid-mujahid yang berkorban demi tegaknya Islam! Ayo kita lawan mereka yang mengatakan bahwa kita adalah teroris! Allohu akbar!!”
Satu tangannya meninju udara, serentak kami melakukan hal yang sama, ”Allohu akbar!!’
”Allohu ak...” Takbir Umar terputus oleh pintu yang terbuka tiba-tiba.
”Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.”
Ustadz Hafidz!
Umar berusaha secepatnya turun. Ku lihat Ustadz Hafidz hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seisi kelas hanya bisa cekikikan.
”Umar bisa malu juga...” bisikku di telinga Jundi. Sesungging senyum segera tampak di wajahnya.
”Ya, ayyuhal mujaahiduun...”
Darahku seakan berpacu cepat melalui pembuluh-pembuluh di sekujur tubuhku. Mujahid!
”Iftahuu kitaabakum! Nastamir ilaa darsil jadiid...
Aku segera membuka halaman buku yang telah ku baca semalam. Ustadz Hafidz selalu meminta kami untuk membaca pelajaran yang akan di pelajari esok hari.
”Assalamualaikum!” seorang Ustadz muda tiba-tiba masuk kelas dengan wajah pucat pasi. Ia segera membisikkan beberapa kalimat di telinga Ustadz Hafidz.
”Ya, tunggu sebentar.” Aku hanya sempat mendengar itu dari Ustadz hafidz yang tampak santai saja. ”Mujahid-mujahidku, kalian hafalkan lima ayat yang ada di halaman sepuluh. Afwan, Ustadz pergi dulu, ini sedang ada...” kalimat beliau terputus karena terburu-buru keluar kelas. Sepertinya hal yang sangat penting sekali. Belum pernah beliau meninggalkan kelas dengan cara seperti ini.
Spontan beberapa santri melongo keluar kelas. Aku yang paling depan. Kulihat beberapa polisi menghampiri Ustadz Hafidz dan menunjukkan sebuah kertas putih yang terlipat. Tak sampai satu menit kemudian, tangan Ustadz Hafidz di borgol dan ditarik pergi. Kami yang melihat hal itu secara spontan keluar kelas dan mengejar Ustadz yang tengah digelandang beberapa polisi berbadan besar.
”Heh, mau di bawa ke mana Ustadz kami!” Ku tarik tangan salah seorang polisi yang segera mendorongku. Aku nyaris terjungkal.
”Ustadz!” aku berusaha sekali lagi mencegah polisi itu membawa Ustadz favoritku di bantu beberapa santri lainnya. Tapi usaha kami sia-sia. Beberapa polisi berpakaian preman lainnya segera datang dan menghalangi kami dari Ustadz Hafidz.
”Ustadz Hafidz!!” Aku berteriak meski hal itu tidak akan mengembalikan Ustadz Hafidz pada kami.
”Innalloha ma’anaa!! Allohu akbar!” itu kalimat yang terakhir ku dengar dari beliau sebelum akhirnya di paksa masuk dalam sebuah mobil kijang.
”Allohu akbar!!” Sambutan takbir di teriakkan oleh kami semua. Mengiringi kepergian Ustadz kami tercinta.
Tak lama kemudian, beberapa Ustadz menyuruh kami memasuki kelas.
Umar berdiri dengan tangan terkepal, dua mata elangnya menatap ke depan penuh amarah. Aku belum pernah melihatnya seserius ini. ”Apa yang mereka inginkan, hah?! Siapa yang akan mengajar kita di kelas ini? Siapa? Siapa?!” dua kristal bening menetes di wajahnya. Kelas hening berkutat dengan pikiran masing-masing. Apa yang kami pikirkan tetap sama. Ustadz Hafidz. Rasanya benar-benar memuakkan!!
Aku maju ke depan kelas. Menatap setiap pasang mata yang balas menatap ke arahku.
”Kita tahu bahwa Ustadz Hafidz adalah ustadz yang baik dan tidak mungkin melakukan tindak kriminal. Terlebih terorisme, betul?”
Secara kompak dan bersemangat, semua menjawab,”Betul!”
”Kemarin, sebelum apel pagi di mulai beliau menasehati beberapa santri yang masih ku ingat apa isi nasehat itu. Tugas utama kita di sini adalah belajar. Itu amanah yang di titipkan orangtua kita pada pesantren. Masalah-masalah seperti ini biarkan asatidz yang mengurusi. Jangan khawatir, selama kita berada dalam kebenaran, maka itu yang harus kita perjuangkan. Biarlah dengan itu kita di fitnah, di tangkap, di siksa. Yakinlah bahwa Innalloha ma’anaa! Allohu akbar!!”
”Allohu akbar!” seisi kelas menyambut.
”Kita laksanakan apa yang beliau perintahkan pada kita tadi.”
Aku kembali ke bangkuku. Dan mulai menghafalkan lima ayat yang beliau perintahkan. Jundi mengikutiku. Juga Umar, lalu Adi, lalu Ridwan, Hadi, dan semuanya. Satu persatu kami hafalkan ayat itu...
”Yaa ayyuhalladzinaamanusta’iinubisshobriwassholah, innalloha ma’asshoobiriin...
Bibirku terasa bergetar...
”Walaataquuluulimanyuqtalufiisabiilillahiamwat,bal ahyaauwwalaakin laatasy’uruun....
Bola mataku terasa basah...
”Walanabluwannakum bisyaiim minnal khoufi wal juu’i wannaqsil amwaali wal anfusi wastsamaroot, wabasysyirisshobiriin...
Aku tak lagi sanggup membendungnya....
”Alladziina idzaa ashoobathummusiibah, qooluu innalillahi wa innalillahi rooji’uun...
Apakah seorang mujahid tak boleh menangis?
”Ulaaika ’alaihim sholawaatum min robbihii wa rohmah, ulaaikahumul muhtaduun...
Kepada siapa akan ku setorkan hafalan tahfidku ini?
Aku tak sanggup menatap ke meja ustadz. Karena ku tahu, Ustadz Hafidz tidak duduk di sana untuk menyimak hafalan surat Al Baqoroh ini.....
Ketua
Tukang tidur
Kata kerja
Halaman empat
Apa yang terjadi?
Melebihi mata kaki
Jamak dari ustadz
Sesungguhnya Alloh bersama kita
 Buka buku kalian! Kita lanjutkan ke pelajaran baru
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar(Al Baqoroh : 153)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Alloh, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqoroh : 154)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaankepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar(Al Baqoroh : 155)
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ”Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun” (Al Baqoroh : 156)
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al Baqoroh : 157)

Thursday, 7 June 2012

Sesekali terjebak...

bismillah

Adakalanya, kita (atau hanya saya saja ya?) terjebak dalam suasana yang melankolis. Suatu perkara kecil menjadi “wah” dan “ehm” karena didramatisir.
Terkadang tersadar dan segera bertindak. Namun seringnya sadar tapi no respond. Membiarkannya begitu saja. Tanpa ada keinginan dan kesadaran untuk segera bangkit dan menyadari akan hakikat yang sebenarnya.
Sesekali terjebak di dalamnya, tak apa. wajar. Fitroh. Manusiawi.
Namun yang lebih penting, bahwa kita berada di alam nyata. Harus bertindak sesuai fakta!
Tindakan-tindakan yang lebih real, itu yang dibutuhkan!
Dan membangunkannya dari diri sendiri bukanlah perkara mudah. Ya, terkadang kita butuh motivasi dari luar.
Apakah harus dari teman? Orang lain?
Saya kira, tak hanya sebatas itu. Ada banyak sarana penunjang untuk bangkit. Memotivasi diri.
Dari buku-buku.
Biografi tokoh yang kita anggap “subhanalloh”!, de el el.
Tentu lain lagi ceritanya, jika berurusan dengan hal-hal yang membutuhkan imajinasi. Fiksi. Membuat cerpen, puisi, dan karya fiksi lain yang menuntut pendalaman rasa.
Kalau buat saya sih, juga mungkin buat mereka-mereka yang “traumatis”, terjebak dalam suasana melankolis itu… sebuah cobaan besar. Seperti penjara. Seperti candu.
Anda ingin keluar, tapi sulit. Sedang di sisi lain anda “kecanduan” di dalamnya.
Akibatnya, saat mengingat sedikit saja dari apa yang pernah di alami –saat terjebak dalam suasana mellow- waduh… sulitnya untuk bangkit dan pergi. Terjebak dalam fantasi sendiri sekaligus perasaan tersiksa itu tak jua lenyap.
Saya beri contoh dari yang pernah saya alami ya…
Misalnya, pernah suatu hari. Tanpa sengaja saya menginjak –entah hewan lunak apa itu- yang bentuknya mirip bekicot tanpa cangkang. Dan… KYAAAA!!! Entah berapa jam saya harus guling-guling di atas kursi sambil bulu kuduk yang terus berdiri. Sambil terus-terusan mengelus kaki dan perut mual. Kejadiannya sudah sekitar 3-4 tahun lalu. Tapi -bahkan- saat menulis ini, bulu kuduk berdiri. Hueeek!
Ya, kejadian-kejadian sepele lain juga tak bisa lekang dari benak sampai saat ini.
Saat SD, pernah menyeberang jalan, e… dari belakang ada orang naik sepeda yang nyaris menabrak saya. Kena semprot deh. Iya sih, saya yang salah, tidak tengok kanan kiri sebelum nyebrang. Sampai sekarang masih malu kalau mengingatnya.
Pernah lagi, tanya pangkalan bus Purwokerto di terminal Tirtonadi. E… malah di sindir,”wu… neng terminal kok ra mudeng! Takon-takon tak blusukke mengko!!”
wu… dasar! Di terminal kok tidak tahu! Tanya-tanya aku tipu nanti!!”
Grrr…  pengen marah tapi malu juga…
Wuaaah… banyak hal deh!!!
Apalagi kalau dibentak-bentak. Dimarahin. Apalagi yang sifatnya mempermalukan. Mungkin itu sebabnya, saya lebih senang menghindari yang namanya “permusuhan” (pleghmatis cinta damai euy).
Saya pikir tidak selamanya itu menjadi sikap terbaik. Karena yang saya rasakan, bersikap seperti itu, serasa menjadi orang munafik. Inginnya moderat. Tapi pada hakikatnya “laa ila haaulaai wa ila haaulaai”. naudzubillahi min dzalik.

Wah-wah… tulisan ini sulit di pahami ya. Meloncat-loncat tidak karuan.
Bahkan mungkin sudah beda topic. Tak apa lah. Biar saya yang menikmati. Hehe

Saturday, 11 February 2012

Film Review

untuk pertama kalinya, saya mencoba mereview sebuah film.
bismillah


                  Film drama action yang berjudul Darah Garuda atau Merah Putih II yang dirilis pada tahun 2010 ini, merupakan kelanjutan dari sekuel sebelumnya yang berjudul Merah Putih. Sedang judul selanjutnya dari film trilogy perjuangan ini adalah Hati Merdeka, yang dirilis pada tahun 2011.
                  Darah Garuda atau Merah Putih II bercerita tentang kisah perjuangan para prajurit muda pada era kemerdekaan Indonesia, yang dibumbui dengan beberapa drama dan kisah cinta. Diawali dengan slide video asli pada akhir perang dunia II tahun 1945, di mana Belanda  -untuk kedua kalinya berhasil menduduki bumi Indonesia- yang sekaligus menjadi slide penutup film berdurasi 108 menit ini.
                  Merupakan film karya anak bangsa, meski turut ambil bagian di dalamnya sutradara yang telah malang melintang di dunia Hollywood, Conor Allyn, bersama Yadi Sugandi berhasil membuat film ini layak untuk diacungi jempol. Hal ini tak terlepas pula dengan para ahli bidang senjata dan ledakan yang telah berkecimpung di Hollywood. Juga yang tak kalah penting, para actor yang berhasil memainkan karakter masing-masing tokoh dengan baik. Baik itu artis pendatang, maupun yang telah lama berkecimpung dalam dunia perfilman di tanah air.
                  Contohnya, Lukman Sardi yang berperan sebagai Kapten Amir, seorang muslim yang taat sekaligus guru yang pada akhirnya memutuskan untuk menjadi tentara revolusi setelah terinspirasi oleh muridnya yang mati sebagai pejuang. Darius Sinathrya sebagai Marius, anak pengusaha kaya asal Betawi yang berangan-angan menjadi pahlawan revolusi. Donny Alamsyah sebagai Tomas, petani Kristen asal Sulawesi yang memutuskan untuk menjadi tentara pejuang setelah kematian seluruh anggota keluarganya. Teuku Rifnu Wikana sebagai Dayan, pemuda Hindu asal Bali. Rahayu Saraswati sebagai Senja, gadis berdarah biru ini nekat bergabung dengan pejuang demi adiknya yang mati tertembak tentara Belanda. Astri Nurdin sebagai Melati, istri dari Kapten Amir. Dan Rudy Wowor sebagai Mayor Van Gaartner, tokoh antagonis.
                   Di film ini, terdapat lebih banyak adegan-adegan heroic, bila dibandingkan pada sekuel sebelumnya, Merah Putih. Ditambah lagi, efek ledakan dan tembakan yang bisa dibilang bergaya Hollywood turut membuat film ini lebih terasa “nyata”. Dibumbui kisah cinta gadis berdarah biru, Senja dengan petani asal Sulawesi yang telah menjadi tentara revolusi, Tomas. Juga perpaduan berbagai karakter berbasis budaya, agama, dan tanah asal yang dikemas apik. Menambah nilai plus untuk film ini.
                  Meski demikian, masih terdapat beberapa kekurangan yang cukup menonjol. Seperti tidak adanya teks terjemah untuk kata-kata berbahasa Belanda yang cukup banyak diucapkan pemeran tentara Belanda. Juga nuansa Hollywood yang terlalu dipaksakan dengan gaya “Indonesia”. Misalnya, kata-kata dan joke-joke yang tidak lazim penggunaannya dalam bahasa Indonesia, penggunaan tarian dansa ala Belanda untuk lagu campursari, juga perilaku seorang muslim taat yang memasang taruhan saat bermain catur. Belum lagi jalanan kampung beraspal, yang tidak mungkin terdapat pada masa tersebut.
                  Terlihat sekali gaya Hollywood yang terlalu dipaksa dimasukkan dalam karakter dan perilaku orang Indonesia pada zaman itu. Tentunya hal itu tidak terlepas dari peran serta sang sutradara, juga  kolaborasi Media Desa Indonesia milik Hashim Djojohadikusumo dan rumah produksi film internasional Margate House milik Rob Allyn dan Jeremy Stewart.
                  Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, film ini mengobati kehausan pecinta film tanah air –khususnya akan film bertema perjuangan yang sudah cukup lama tidak menghiasi jagad perfilman tanah air. Darah Garuda, maupun Merah Putih dan Hati Merdeka, merupakan trilogy perjuangan yang mengingatkan kita akan perjuangan nenek moyang dalam melawan kedzaliman, menumpas penjajahan dan kesewenang-wenangan. Sehingga diharapkan mampu menggugah anak bangsa untuk meneladani patriotisme dan perjuangan pahlawan, melanjutkan perjuangan mereka dalam mengharumkan agama, nusa dan bangsa.
                 

Untuk Film ini, bisa dibilang menempati rating 2.

FIKSIKU YANG MERANA... T_T

bismillah

Ahad, 29 Mei 2011
Satu hal yang cukup mengejutkan saya ketika membuka-buka isi hardisk. Saat merapikan isi hardisk yang serba berantakan itu, saya coba kelompokkan tulisan-tulisan yang pernah saya ketik. Hasilnya cukup mengejutkan. Terutama cerpen-cerpen yang dulu pernah saya tulis di atas kertas atau lembaran buku tulis, lalu saya ketik rapi di komputer –mayoritas baru saya ketik 35%-.
Tahu berapa jumlahnya? Sepuluh.
Ya, sepuluh cerpen. Wow, entahlah. Tapi dulu, ketika saya masih berada di pondok pesantren, susah payah saya bisa mengetiknya. Entah itu dengan curi-curi waktu ketika Jumat Putri, malam hari saat masih jadi Mudabbiroh –IST-. Dan kini nyatanya…
Padahal dulunya saya sangat ingin segera lulus, apa alasannya? Salah satunya, ya supaya bisa leluasa mengetik!
Tetapi, toh ternyata faktanya berbalik dengan apa saya cita-citakan.
Bayangkan.. sudah hampir setahun saya lulus! Jadi alumni! Tapi mana hasil karya saya? Tak satupun cerpen berhasil saya selesaikan. Saya teringat jelas kata-kata Mbak Nashita Zein, “Tidak menyelesaikan karya, adalah kegagalan besar bagi seorang penulis!”
Waduh mbak…

Semoga saya bisa segera menyelesaikannya. Cepat atau lambat.
Why?
Saya sedang menulis mimpi-mimpi saya. Impian yang sangat banyak. Dan impian-impian yang sangat menyilaukan. ,salah satu mimpi itu adalah menjadi penulis fiksi. Cerpen. Novel.
Karena saya yakin, itu akan menjadi salah satu langkah saya dalam berdakwah nantinya. insyaAlloh. Biidznillah.