Showing posts with label rehat. Show all posts
Showing posts with label rehat. Show all posts

Thursday, 30 July 2020

DIARY PETUGAS HAJI: JURUS TELUNJUK YANG AMPUH

bismillah

Kursi roda merupakan salah satu alat yang cukup dibutuhkan bagi jamaah haji lansia, difabel maupun yang sedang sakit, saat melaksanakan Haji atau umroh. Karenanya, dari pihak Masjidil haram demi Khidmah (kontribusi) untuk jamaah haji maupun umroh, menaruh perhatian yang tidak sedikit. Hal ini bisa dilihat dari ragam fasilitas yang disediakan dalam area Masjidil Haram.

Misalnya, di area dekat Terminal Bab Ali (arah bus bagi jamaah haji embarkasi Surabaya, Lombok dll) terdapat penyewaan kursi roda gratis, cukup dengan menunjukkan paspor kepada petugas Masjid.




Ada juga jasa dorong resmi, biasanya berseragam rompi abu-abu, hijau atau merah yang bertuliskan petugas resmi Masjidil Haram berikut nomor badge nya. Tidak gratis memang, namun cukup membantu sebenarnya. Harga jasanya berada di kisaran 125 Reyal Saudi pada hari-hari musim haji biasa, dan secara resmi naik menjadi kisaran 300an Reyal saat puncak musim Haji.

Di lantai 2,5 (dua setengah) -kami biasanya menyebut begitu, karena letaknya antara lantai 2 dan 3, terdapat pula area tawaf dan sai, khusus menggunakan skuter yang disewakan bagi Jemaah. Cukup membeli tiket pada loket yang tersedia di dua tempat. Di dekat bukit Safa dan Bukit Marwa.

Arti Kursi Roda bagi Petugas Haji

Bagi petugas Haji yang bertugas di Seksus (Sektor Khusus) Masjidil Haram, kursi roda adalah salah satu fasilitas yang cukup penting untuk melayani jamaah haji. Terutama ketika terdapat jamaah yang kelelahan dan tidak sangup melanjutkan ibadah dalam area Masjidil Haram.

Oleh karena itu, selain memiliki kursi roda sendiri, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji juga bekerjasama dengan Pengurus Masjidil Haram dalam penyediaan fasilitas tersebut.

Jadi, petugas haji Indonesia memiliki beberapa kursi roda wakaf milik Masjidil Haram yang dikhususkan bagi jamaah Haji Indonesia.

Nah, rupanya ada juga jasa dorong yang tidak resmi di area Masjidil Haram. Biasanya mereka mematok harga sesuai dengan penawaran. Tidak jarang, mereka adalah anak-anak remaja atau pemuda yang tidak dapat menyewa secara resmi (karena membutuhkan paspor).

Memenangkan Kursi Roda

Di malam kedua saya berjaga di Masjidil Haram, saat tengah menempati Pos Marwa, saya dan seorang rekan Polwan berjaga. Terdapat dua kursi roda yang selalu tersedia di Pos Marwa, mengingat area pintu Marwa adalah salah satu titik strategis untuk menyalurkan berbagai bantuan untuk jamaah.

Datang dua anak remaja Arab, mereka menginginkan kursi roda kami. Karena rekan Polwan tidak bias berbahasa Arab, saya lah yang menangani.

Setelah berdebat, sembari mengancam akan saya laporkan ke Askar (karena mereka adalah jasa dorong non resmi), akhirnya mereka sedikit mundur.

Namun rupanya mereka tak semudah itu menyerah. Rekan polwan mencoba memegang dan menduduki kursi roda milik kami, sambil berulang berkata,”NO!”.

Saya yang sudah jengah dan merasa percaya diri, karena tak mungkin mereka berani memaksa saya, hanya menggoyangkan jari telunjuk, “Ck! Ck!” Bahasa isyarat yang kurang lebih berarti “NO!”.

Akhirnya mereka pergi.

Berhasil!

Jurus Telunjuk, "Ck! Ck!"

Saking terkejutnya rekan polwan saya, ia semangat bercerita pada Petugas Haji lain dari Indonesia, “Ainun hebat loh, bisa ngusir anak-anak nakal itu Cuma pakai telunjuk.” Ia pun menggoyangkan jari telunjuk dan menirukan gaya saya, “Ck! Ck!”.

Beberapa hari kemudian, di saat rehat santai, seorang petugas haji menceritakan. Salah seorang petugas dari tim medis Seksus Masjidil Haram, terpaksa merelakan kursi roda di Pos Marwa. Kalah oleh anak-anak remaja, jasa dorong illegal.

Mendengar itu, rekan polwan saya kembali berseloroh, “Harusnya dia belajar dari Ainun,” ia menepuk Pundak saya setengah tertawa. Sekali lagi ia menjiplak mimic muka dan jari telunjuk dari saya, “Ck! Ck!”.

 

Monday, 27 July 2020

Diary Petugas Haji: Menangani Jamaah Pertama

Bismillahirrahmanirrahim


Sebelum jamaah haji tiba, sebagai orang yang baru pertama kali tiba di kota Mekkah, saya dibayangi rasa was-was. Jika untuk diri sendiri saja masih belum menguasai area Masjidil Haram yang sangat luas itu, bagaimana nantinya saya melaksanakan tugas; melayani, melindungi dan membimbing para jamaah haji?
Namun semua petugas “senior” yang pernah bertugas sebelumnya, selalu memiliki jawaban yang sama,”Nanti kalau sudah terjun di lapangan juga tahu sendiri, Mbak”. Dan saya hanya bisa nyengir untuk merespos jawaban semacam ini.

Petugas Haji Mengarahkan Jamaah


Saat belum ada jamaah yang datang, saya sudah melaksanakan umroh untuk haji Tamattu. Dari situ saya benar-benar memahami kenapa jamaah tersesat itu hal biasa. Pertama kali saya umroh, bahkan untuk mencari “pilar hijau” tanda permulaan tawaf saja, saya kebingungan. Saya sempat salah mengira bahwa Rukun Yamani adalah Hajar Aswad. Bagaimana dengan jamaah yang sudah sepuh dan terpisah rombongan? Hm…

Jamaah Pertama
Hari pertama bertugas dalam area Masjidil Haram, saya dapat tugas selama 12 jam untuk stand by di pos-pos tertentu dalam area Masjid. Sudah menjelang selesai bertugas, seorang petugas wanita dari unsur Polisi membawa seorang jamaah laki-laki yang masih muda. Saya perkirakan berumur 40an tahun. Ia mendatangi kami yang berjaga di pos Marwa sembari memberi isyarat mata, bahwa jamaah tersebut mentalnya terganggu.
Walau sudah pernah diberitahu bahwa kemungkinan adanya jamaah haji yang “disorientasi” itu ada, dan bagi yang bertugas di Sektor Masjidil Haram, pasti pernah menghadapinya. Namun saya agak terkejut, karena jamaah haji yang satu ini terbilang cukup muda. Biasanya gangguan mental ataupun disorientasi lebih banyak dialami jamaah haji yang sudah sepuh.
Dari penjelasan petugas tadi, ternyata jamaah tersebut terpisah rombongan, tersesat, sedikit mengalami gangguan mental dan juga memiliki riwayat jantung serta -ia sudah tawaf namun belum melaksanakan Sa’i!
Mas'aa lantai 2 saat sepi jamaah
Saya pun menawarkan diri untuk membantu sang jamaah untuk Sa’i, karena itu memang bagian dari tugas kami sebagai petugas haji. Saya berjalan bersama jamaah tersebut menuju area mas’aa. Sembari saya ajak berkomunikasi, dan mengedukasi seputar tata cara dan tuntunan melaksanakan sa’i.
“Bapak sanggup Sa’I sendiri kan ya ,Pak. Saya tunggu di sini ya (bukit Marwa)” Ujar saya.
Bapak itu tersenyum sembari dua matanya menyipit,”Jangan, Mbak. Saya ada sakit jantung nih”.
Akhirnya saya temani Bapak itu melaksanakan Sa’i. Karena kami masuk dari bukit Marwa, artinya Sa’I baru dimulai setelah kami sampai di bukit Safa. Lumayan lah jaraknya, 450 meter. Kalau plus Sa’i, total 3,5 KM. huhu
Inilah kenapa muncul anekdot di antara para petugas Seksus (Sektor Khusus) Masjidil Haram, “Andai ada namanya {Sa’i Sunnah} sebagaimana tawaf sunnah”. Itu karena seringnya kami terpaksa ikut Sa’i ketika jamaah ingin ditemani. Padahal sekali Sa’I, dengan jalan normal, tanpa istirahat, bisa makan waktu 30 menit-an.
Pintu Keluar Marwa lantai 1, titik poin jamaah selesai Sa'i

Masalah Rumah Tangga
Sembari berjalan menuju Safa, saya ajak mengobrol. Ternyata beliau orang Aceh, istrinya orang Bekasi. Sudah lama menetap di Bekasi. Saya pun bilang, “Oh, suami lon ureng Aceh. Lon Ureung Solo”. Beliau pun ajak saya bicara bahasa Aceh. Dan saya hanya bisa tersenyum sambil bilang,”Lon hanjeut basa Aceh.” Saya nggak bisa bahasa Aceh.
Bapak itu bercerita pada saya, bahwa ia sedang ada masalah rumah tangga. Saat ini ia dan istrinya sedang tidak akur dan berencana untuk cerai. Ia bercerita panjang lebar soal rasa kesalnya dengan sang istri. Lah… malah curhat! Saya hanya menanggapi, “sabar ya, Pak, semoga masalahnya tuntas.”
Setelah beberapa kali bolak balik Safa Marwa, ia nampak menguasai area Mas’aa. “Bapak, Sa’I sendiri sanggup ya pak, saya tunggu di Marwa. Kalau sudah selesai nanti tahalul.”. Alhamdulillah beliau mau Sa’i sendiri.
Saat itu, tiba-tiba seorang jamaah wanita Indonesia mendekati kami, tiba-tiba ia merangkul Bapak tersebut, setelah melihat saya yang berseragam petugas, ia pun menertawakan Bapak itu. “Haha.. kamu nyasar ya…”.
Saya sedikit terhenyak. Mungkinkah itu istri dari jamaah yang saya bimbing sa’i?
“Bu, Bapaknya belum selesai Sa’I, baru 3 kali.” Kata saya.
“Oh, Ya. Lanjut dulu Sa’I nya ya…”
Tak lama berselang, beberapa jamaah mendatangi saya. Setelah bapak itu melanjutkan Sa’I sendiri, beberapa jamaah laki-laki dan perempuan yang ternyata satu rombongan dengan Bapak itu bilang,”Bapak tadi suaminya Ibu itu,” sembari menunjuk jamaah wanita yang tadi menertawakan sang Bapak. “Orangnya agak sakit (mental) memang, tadi terpisah rombongan kami.”
Sembari menunggu Bapak tadi selesai Sa’i, saya mencoba mencerna apa yang terjadi. Justru seperti ada rasa bersalah telah mempertemukan Bapak itu dengan rombongan. Karena rupanya sang Istri ada dalam rombongan tersebut. Sebelumnya saya kira Istrinya tidak ikut Haji. Dan melihat respon sang istri ketika tahu suaminya tersesat, justru ditertawakan. Hmm…
Akhirnya Bapak itu selesai melaksanakan Sa’I dan Tahalul, alhamdulillah rombongannya pun mau menunggunya sehingga bisa pulang ke hotel dengan rombongan utuh seperti semula.
Jamaah Haji Indonesia keluar dari pintu Marwa Lantai 1
Saya dan rombongan itu akhirnya keluar dari pintu Marwa. Masing-masing mengeluarkan sandal maupun sepatu yang dibawa. Bapak itu tiba-tiba mendekati saya, tangannya terulur mencoba memberikan sesuatu untuk saya. Dalam genggamannya ada beberapa lembar Rupiah berwarna biru yang sengaja dilipat.
“Oh, nggak perlu, Pak. Ini sudah tugas saya.” Saya mencoba menolak secara halus.
Jamaah lain ikut berkomentar,”Nggak apa, Mbak, ambil saja.”
“Saya sudah ada yang gaji loh, Pak. Nggak perlu, buat infaq ke yang lain saja.” Saya keukeuh menolak.
Akhirnya ia mengembalikan Rupiah itu ke sakunya, sambil berjalan menuju terminal Ajyad, rombongan itu pamit dan berterima kasih pada saya.
Dalam hati saya berdoa agar Bapak itu lekas sembuh dan permasalahan rumah tangganya terselesaikan.
Amin.

*Mengenang Musim Haji 1440 H / 2019 M

Wednesday, 3 June 2020

KAJIAN HADIS NISFU SYA'BAN, YANG DIHUKUMI MAUDHU' (PALSU) OLEH SYEH ALBANI

bismillah
KAJIAN HADIS NISFU SYA'BAN, YANG DIHUKUMI MAUDHU' (PALSU) OLEH SYEH ALBANI
-----------------------------
Hj. Ainun Mardiyah, Lc, Dpl
(kandidat Master Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Al Azhar, Kairo.)

Terdapat beberapa informasi yang tersebar menyatakan bahwa hadis-hadis yang menjadi landasan tentang keutamaan malam nisfu sya’ban sangat lemah bahkan palsu. Kemudian diambil kesimpulan bahwa melakukan amal ibadah tertentu pada malam tersebut adalah bid’ah dan kemunkaran.

Lalu dikatakan bahwa riwayat yang dijadikan landasan dalil amalan nisfu syaban, hadisnya lemah bahkan palsu.

Selanjutnya, disertakan riwayat Ibnu Majah yang salah satu perowinya adalah Ibnu Abi Sabrah, yang tertuduh berdusta dan memalsukan hadis, sehingga status hadis tersebut adalah maudhu alias palsu.

Ini redaksi hadis tersebut:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ "
(Sunan Ibnu Majah, jilid 1, no 1388, hal 444).

=======================================

KAJIAN:

Sebelum membahas hal ini, perlu diketahui bahwa para ulama sepakat bahwa hadis dhoif dapat digunakan dalam amalan ibadah sunnah. {Lihat al-Adzkar (hal. 94) dan Majmu Syarh Muhaddzab (jilid 3, hal 226)}.

Sedangkan hadis Maudhu alias palsu adalah hadis yang bukan berasal dari Rasulullah  , namun disandarkan pada beliau. Sehingga hadis maudhu tidak boleh diriwayatkan, apalagi diamalkan.

Hadis dhoif/lemah adalah hadis yang masih ada kemungkinan berasal dari Nabi, sedangkan hadis maudhu/palsu adalah hadis yang 100% bukan berasal dari Nabi. Karenanya hadis maudhu tidak boleh sama sekali dijadikan landasan amalan. Sedangkan hadis dhoif masih dapat digunakan dalam amalan sunnah.

Oleh karenanya, jika penulis dapat membuktikan bahwa derajat hadis Ibnu Majah yang dicantumkan adalah hadis dhoif (bukan maudhu), maka tuduhan “bid’ah” tersebut akan terbantahkan dengan sendirinya.

KOMENTAR ULAMA AHLUL HADIS TERHADAP IBNU ABI SABRAH:

Dalam ilmu mustolah hadis, komentar/kritik dari para ulama ahli hadis merupakan referensi utama untuk mengetahui dan menghukumi status seorang perowi.

Dalam proses pencarian status perowi tersebut, tidak boleh hanya mencomot sebagian perkataan ulama hadis, tanpa mempertimbangan ulama hadis lainnya.

Berikut penulis cantumkan komentar ulama-ulama ahli hadis tentang Ibnu Abi Sabrah:
(berikut penulis sengaja tidak menerjemahkan sebagian istilah-istilah dalam ilmu mustolah hadis, karena jika diterjemahkan, butuh penjelasan yang panjang)

1. Madrasah Mutasyaddid (Ulama yang ketat dalam mengkritik perowi) :
- Ibnu Main: لَيْسَ حَدِيْثُه بِشَيْءٍ، ضعيف الحديث
- Imam Nasai:  مَتْرُوْكٌ.

2. Madrasah Mu’tadil (Ulama yang objektif dalam mengkritik perowi):
- Imam Ahmad: كَانَ يَضَعُ الحَدِيْثَ
- Ibnu ‘Adi: وَهُوَ فِي جُمْلَةِ مَنْ يَضَعُ الحَدِيْثَ
- Imam Bukhori: Hadisnya dhoif.
- .Imam adDzahabi: Ia dhoif dari segi hafalannya.
- Ibnu Hajar alAsqalani: Dituduh memalsukan hadis, kata Mus’ab azZubairi: Ia seorang yang alim.

Dalam komentar para ulama di atas, ditinjau dari segi ilmu mustolah hadis, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ibnu Abi Sabrah tertuduh melakukan pemalsuan hadis, sehingga statusnya adalah Matruk. Sedangkan hadis Matruk merupakan bagian dari hadis dhoif. Bukan maudhu/palsu.

Sekalipun ia pernah tertuduh melakukan periwayatan palsu, namun dalam riwayat Ibnu Majah -yang mencantumkan seputar amalan nisfu sya'ban ini-, tidak ada keterangan dan bukti bahwa dalam riwayat tersebut ia palsukan.

Sehingga tuduhan bahwa riwayat Ibnu Majah tersebut adalah hadis maudhu/palsu, terbantahkan. Karena tidak ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Disamping itu pula, terdapat banyak sekali riwayat-riwayat lain yang menerangkan keutamaan malam nisfu sya’ban, -namun penulis tidak cantumkan di sini, karena akan memperpanjang tulisan-. Sehingga melemahkan pendapat bahwa hadis tersebut adalah hadis maudhu/palsu.

Bahkan Syeh Albani mengatakan bahwa seluruh ulama hadis sepakat bahwa sanad (jalur periwayatan) hadis tersebut adalah dhoif/lemah.

Anehnya, secara pribadi beliau menganggap sanad hadis itu adalah palsu, meskipun seluruh ulama telah sepakat bahwa sanadnya dhoif, bukan maudhu/palsu.

Karena hal ini pula, dalam standar pembelajaran universitas Al Azhar Kairo, pendapat pribadi Syeh Albani tidak dapat menjadi rujukan dalam menghukumi status sebuah hadis.

Status hadis hanya dapat ditentukan setelah melalui proses penelusuran kritik sanad dan perowi secara komprehensif dengan referensi-referensi ilmiah, sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi:

- سلسلة الأحاديث الضعيفة (5/154)
- سير أعلام النبلاء ط الرسالة (7/ 330/116)
- تاريخ الإسلام ت بشار (4/ 553/458)
- تاريخ بغداد ت بشار (16/ 536)
- تقريب التهذيب (ص: 623)

Thursday, 8 January 2015

Merelakan Kau Pergi

bismillah

Belum sempat kusapa, purnama sudah lewat. Ujian Termin 1 yang memaksaku. Maka di sisa “sempurna”nya aku ingin bercerita. Ada beberapa, tapi aku tak tahu bagaimana merangkainya. Kekesalan atas beberapa masalah, kegalauan beberapa kawan di tengah ujian, kematian Snowwhite? Ah, tepat di kalimat ini, aku menitikkan air mata. Barusaja aku diberitahu, Goro meninggal. Kucing menggemaskan yang paling penurut itu… Innalillah.



Beberapa hari lalu keduanya nampak sakit. Hanya meringkuk, tak mau makan, minum susu pun harus kami paksa pakai dot bayi. Tak lama kemudian Snowwhite mati. Selepas kepergiannya, aku berharap Goro mengalami nasib lain. Kembali sehat. Apalagi ia nampak semakin bugar. Pun pagi tadi ia mau minum susu yang diberi kawan Thailand. Beberapa hari ini ia tidur meringkuk di depan kamarku. Aku pun harus relameminjam sandal kawan, karena punyaku ia tindih untuk hangatkan badan. Terkadang Gembrot dan saudara tirinya, Ichi datang menjenguk. Mengajak bermain atau sekedar tempelkan badan dan tidur bersama saling menghangatkan.
Tadi, sebelum aku berangkat ujian, Goro nampak kedinginan, maka kuberi alas kardus dan kuselimuti ia dengan kain. Ia nampak baik-baik saja. Ah, tidak. Ia nampak lebih sehat dari kemarin. Bahkan ia sempat meloncat ke bawah ranjang, lalu ku keluarkan,”Anak sholeh, keluar yah… kamu sedang sakit, bukan di sini tempatnya,”
Mungkin ada yang berpikir aku setengah sinting. Tapi aku suka berbicara bahkan mengobrol lama dengan kucing-kucing di lorong kami. Tapi untuk Goro, nyatanya hari ini Allah beri takdir lain.
Goro…
Tiba-tiba aku rindu sambutan hangatmu saat aku dating. Di ujung tangga menuju lorong kau biasa berjingkat dan berlarian mengejarku. Saat ku buka pintu dapur, kau satu-satunya yang menelusup cepat lalu berkelendot manja di kakiku. Tepat saat kau tahu bahwa aku akan membuka kulkas.
Goro, aku rindu kau berebut makanan dengan kawan-kawanmu. Saat kau begitu semangat berdiri dengan dua kaki, tak sabar menanti remah keju yang sedang kubuka. Aku rindu dengan cakar mungilmu yang tak sengaja menembus baju dan membuatku tersentak. Kau yang penurut saat ku mainkan bagai boneka, kupeluk dan ku goda saat tidurpun, kau diam saja.
Ah, apa kau ingat bagaimana kau bertahan hidup di musim panas kemarin? Bagaimana kami sengaja membagi susu asrama saat sahur demi kalian yang piatu? Juga saat kami rela kekurangan penerangan dan menjaga suara agar tidak mengganggu tidur nyenyak kalian?
Goro, Snowwhite, 7  purnama bersama kalian adalah hari-hari yang tak mudah kami lupakan. Maaf, aku tidak selalu peduli saat kalian merengek kelaparan. Maaf, aku pernah membentak kasar saat kalian mengacak-acak kamar yang baru saja ku rapikan. Maaf, sempat mendorong kasar saat kalian melompat ke atas meja dapur. Maaf, karena baru sekarang aku sadar, betapa kalian adalah bagian dari hari-hariku di Kairo.
Aku berduka atas kepergian kalian, namun terima kasih. Setidaknya untuk satu hal. Sesuatu terasa berharga saat kita kehilangannya.
Goro, Snowwhite, aku akan ikhlaskan kalian.
Aku ucapkan, selamat jalan…

                                                             Puncak Winter (feel 2 Derajat)
               Kairo, 8 Jan 2015

Thursday, 25 April 2013

Jalan-Jalan -lagi-

bismillah

Hari ini amazing kumpul, menjelang imtihan, sekaligus setelah banyak kesibukan dan kepulangan pak ketua. Jika dibilang capek, rasanya cukup sulit untuk berkata tidak.
Mulai dari pagi hingga menjelang dhuhur, amazing banat sudah gotong-royong masak  lauk.beuh.. capek lah intinya. Tapi yah.. alhamdulillah semua bisa terobati dengan acara-acara fun yang dikemas dalam bentuk games oleh para tim kreatif.
Alhamdulillah bus 926 langsung muncul –yah, ndak lebih dari 15 menit lah kita nunggu-, cabut deh ke Tahrir. Kita turun di Opera. Lalu jalan dikit deh ke pintu hadiqoh jaziroh. Cukup 3 Le untuk masuknya. Yah, harga standar sih, cuman kalau di banding tahun lalu, naik 1 Le lah.
Awalnya kawan2 banin khususnya yg belum pernah pergi ke hadiqoh ini pada bengong. Jelas sekali di wajah mereka tertulis,”Ini hadiqoh ni?”
Sampai saat ada yang bertanya, “ini hadiqoh? Gak ada tumbuhannya?”
Saya langsung jawab,”iya, memang begini seperti yang saya bilang. Sederhana.”
Nggak heran juga sih. Karena suasananya lumayan berbeda dengan setahun yang lalu di mana tidak ada restoran kecuali dalam kapal di tepi hadiqoh. Namun hari ini sudah banyak seperangkat meja kursi yang tertata hampir di setiap jengkal hadiqoh. Jadinya tak lagi nyaman untuk kumpul2 lah.
Tapi akhirnya pilihan tempat kumpul jadinya di bawah jembatan gitu lah. Miris sih, sedikit. But... musti di syukuri tah?
Saya sempat bertegur sapa dengan satu keluarga berkebangsaan Suriah. Subhanalloh... mereka mengungsi ke Mesir, sudah sekitar 5 bulan. Bahkan anaknya bersekolah di ma’had fatayat dekat asrama saya. Ia cukup kaget ketika saya katakan bahwa seorang saudara saya masih bertahan di Damaskus, ibu kota Suriah. Dan ketika saya bertanya tentang gosip bahwa “Pak Kumis” –maksudnya Bassar Assad itu lho- sudah mati, ia segera menengadahkan dua tangannya ke langit seraya berdoa agar ia benar-benar dibinasakan.
Hanya pertemuan singkat itu.
Selanjutnya, makan-makan –yummy-...
Lalu seorang kawan “mentraktir” kami untuk naik kapal melintasi sungai nil selama kurang lebih 30 menit. Hampir sekitar 20an orang lah kapal tu muatnya. Nah di sini lah saya mulai heran dengan diri saya sendiri.
Yang dari semalam meriang –biasa.. awal flu bgitulah-...hingga sore pun masih meriang sikit-sikit lah... e.. berfoto-foto ria di atas perahu kok ya semua rasa pegal tu hilang. Virus narsis ebih kuat sepertinya ya... hihi


Yah.. wah akhir capek-capek deh seharian ni. Kami harus menyebrangi jembatan hingga mencapai stasiun metro Sadat. Transit di Attaba, lalu menuju Abdou Basha.. Lalu jalan lagi –huwa... asli capek bangeeeeeet- sampai asrama...
e.. Ammu mahmud yang jaga... Ammu yang hapal silsilah keluarga dari pihak laki-laki hingga 14 keturunan ini,  wajahnya bijaksana gitu deh.. sesuai dengan sifat ramahnya... jadinya kami tidak perlu menullis nama di buku “hitam” atas keterlambatan kami.
Maturnuwun Ammu Mahmud Mamduh Mahmud...
Aih.. udah bingung mau nulias apa lagi.... semoga refreshing kali ini berbarokah dan menambah semangat buat menghadapi imtihan termin 2. Najjihna ya Rabb...
Allohumma Aamiin.

Saturday, 23 March 2013

Dari Mulut ke Kritik

bismillah


Kisah ini saya dengar dari Kiai sepuh di pesantren, saat saya berada di kelas 5 KMI. Terlepas dari benar tidaknya kisah yang beliau tuturkan saat taushiyah pekanan di depan masjid ini, Kiai yang acapkali berbicara dengan bahasa Inggris ini ingin menyampaikan sebuah pesan moral,”Mulutmu, harimaumu”
Alkisah seorang pengemudi mobil yang melintas di jalan, tiba-tiba mobilnya di seruduk oleh mobil lain. Segera ia turun dan melihat ada bagian mobilnya yang lecet. Keadaan itu ia manfaatkan untuk memeras Si penabrak, “Hey, kamu harus bayar mahal untuk lecet di mobilku!”
“Saya minta maaf,Pak. Beribu maaf,” Ujar Si penabrak tulus.
Bukannya melunak pengemudi itu semakin memeras Si penabrak,”Maaf..maaf.. harusnya kamu bertanggungjawab, kalau perlu kamu ganti mobilku ini dengan yang baru!”
“Baiklah, mari ikut saya ke bengkel, Pak.” Ujar Si penabrak.
Sampai di bengkel, pengemudi itu masih saja membentak-bentak Si penabrak. Namun ia heran karena para pegawai bengkel begitu hormat dengan Si penabrak. Maka ia bertanya pada salah seorang pegawai bengkel, tentang siapa sebenarnya Si penabrak.
“Maksud anda, orang yang menyuruh kami memperbaiki mobil anda?”
“Ya,” jawab pengemudi tadi.
“Dia adalah bos kami, pemilik bengkel ini, juga pemilik pabrik perusahaan mobil Ford.” Jawab pegawai itu jujur.
Pengemudi itu malu sekali saat Henry Ford muncul, dan meminta maaf atas sikap kasar dan berbalik menghormati pemilik perusahaan mobil Ford itu.
Cerita selesai. Dari kisah itu, Kiai saya mengambil sebuah hikmah yang cukup masyhur, “mulutmu, harimaumu”.
Benar bahwa perkataan yang meluncur dari lisan harus terkontrol, jika tidak ia akan benar-benar menjadi bumerang bagi yang mengatakannya. Di era informasi saat ini, hal itu tidak perlu pembuktian lagi. Kesalahan kata sedikit saja bisa menghantarkan anda ke jeruji besi, lebih lagi jika dikatakan di depan khalayak pers oleh seorang tokoh terkenal.
Jika setiap kata-kata yang keluar dari mulut bersumber dari lisan. Kita posisikan sebagai muqaddimah sughro, dan “mulutmu, harimaumu” sebagai muqoddimah kubro, akan lahir sebuah natijah,”Lisanmu, harimaumu”. Seandainya kita andaikan opini publik sebagai ‘mulut’, dan ‘lisan’nya adalah media, maka kesimpulannya adalah penyamaan antara harimau dan media.
Ya, media sebagai corong opini publik sejatinya berada di posisi yang mengkhawatirkan ini. kesalahan dalam pemberitaan bisa berakibat fatal. Dengan satu artikel, bisa menarik jurnalis ke penjara. Dengan satu paragraf bisa membuat buletin ditarik dari peredaran.
 Karena media tak bisa lepas dari perannya yang menggiring opini masyarakat ke arah tertentu. Tentu ini sudah jadi rahasia umum. Di balik opini dan pemberitaan yang dituangkan sang jurnalis dalam media, tentu bisa sejalan dengan pemikiran oknum tertentu, atau bisa juga berbalik 180 derajat. maka di sini terbuka sebuah jalan bagi oknum yang tidak sepakat untuk membuka arena kritik sebagai balasan.
Kritik dan balasan atas suatu opini yang menyesatkan harus dilancarkan, namun –dalam hemat penulis- dengan cara yang semestinya, tanpa harus ada kedholiman. Perang opini yang sehat akan melahirkan pemikiran-pemikiran segar yang mencerahkan. Bahkan sebuah teori filsafat selalu hadir dari budaya kritik penciptanya. Seperti Anaximandros yang mengkritisi buah pikir gurunya, Thales yang menganggap asal mula segala sesuatu dari air. Selanjutnya Anaximenes mengkritisi dua sesepuhnya. Dan begitu seterusnya hingga munculnya Rene Decartes, John Lock, David Hume. Sebuah teori filsafat baru terdorong lahirnya dari budaya kritik.
Tulisan ini pasti banyak kekurangan di sana sini, namun yang sebenarnya ingin penulis ajak, adalah menghidupkan budaya kritik yang sehat. Utamanya kita sebagai insan akademis, kesadaran untuk mengkritisi itu sudah menjadi hal yang wajib dan lumrah.
Penulis sendiri merasa cukup jauh dari ajakannya. Namun semua tidak akan terjadi jika tidak dimulai dari hal yang paling kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai sekarang juga!
Mari kita hidupkan budaya kritik yang sehat dan membangun!


                                                                       Madinah Al Buuts Al Islamiyah, 23:32
23/3/2013

Saturday, 22 September 2012

DUA SAUDARA dan INSPIRASI


bismillah


Sejujurnya, aku sedang tidak mood untuk menulis. Heh, padahal satu hal yang sangat ingin kuhindari, dikalahkan oleh mood. Tapi melihat beberapa buku yang tersusun di atas meja kamar, aku merasa de javu. Teringat sesuatu, apa ya? Eh, bukan. Seseorang, siapa ya? Kelihatannya bukan hanya seorang.
Ha! Tak lain dua saudara kandungku. Hmm, nampaknya aku banyak terinspirasi oleh keluarga. Seperti kata seorang teman Mas yang tengah menempuh studi di Timur Tengah, “Masing-masing kalian (Mas, aku dan Adek) adalah inspirasi. kalau untuk Mas dan Adek, aku setuju sekali. Tapi kalau diriku? Ha, rasanya tak ada yang pantas.
Kembali ke topik semula. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengingat masa-masa di pesantren. Saat itu kami bertiga masih hidup dalam lingkungan pesantren untuk waktu yang lumayan lama. Enam tahun, menghabiskan masa study. Plus setahun bagi yang mengabdi (buat yang bebas pengabdian, bersyukurlah. Aha!)
Saat masih santri, aku tidak masuk kategori santriwati yang sering dijenguk oleh dua saudara kandungku. Cukup sering sih,tidak. Tapi bukan juga termasuk yang jarang dijenguk. Biasanya dijenguk salah satu saja dari mereka berdua. Jarang sekali lah mereka jenguk aku berdua.
Ada satu ciri khas yang berbeda dari santriwan lain saat menjenguk saudari mereka di ghurfah istiqbal. Ya, biasanya santriwan yang menjenguk bawa sesuatu lah untuk santriwati yang dijenguk. Toh, banyak warung dan penjaja makanan yang selalu stand by di depan pondok Putri. Mulai dari bakso hingga gado-gado. Tapi dua saudaraku itu beda. Seingatku, mereka tidak pernah membelikanku sesuatu apapun dari yang dijajakan di depan pondok. Hiks!
Bukan berarti mereka tidak sayang denganku. Mungkin karena kebiasaan ‘tidak jajan’ masih terbawa hingga dewasa ini. oya, ciri khas yang membedakan mereka dengan santriwan lain saat menjenguk adalah, buku. Ya, BUKU! Baik Mas ataupun Adek selalu bawa buku. Meski hanya buku kecil, tapi mereka selalu bawa. Bahkan sampai ada adek kelasku (putri) yang melongo melihat adekku bawa buku. Yang lain bawa siomay, batagor, bakso. Lha ini kok bawa buku! Subhanalloh!mungkin begitu pikirnya. Yang jelas aku sering menggoda adek kelasku itu, “ehm, entar aku jodohin sama Adekku, mau ya?” Haha...
Aku ingin meniru kebiasaan dua saudaraku itu, tapi ternyata hanya terlaksana saat imtihan )ujian(. Itu pun, karena Mudabbiroh Muaqqotah (pengurus sementara) memberi sanksi bagi yang keluar kamar tanpa membawa buku.
Tidak hanya itu, mereka sangat jarang meminta uang saku ke Ummi atau Abi. Berbeda sekali denganku yang tiap dua pekan langganan telpon ke rumah. Cukup dengan tiga suku kata di awal telepon,”Hehe, Mi...” maka suara di seberang otomatis menjawab,”Apa, Nun? Uangnya habis?” Retoris deh. Geli kalau mengenang masa-masa itu. Sekarang tidak bisa lagi begitu.
Bahkan bebrapa kali Adek menjengukku lalu bilang, “Mbak, aku nggak punya sabun...” Weleh, kan tinggal telepon rumah juga bisa!Pikirku. tapi nampaknya ia lebih senang meminta uang dariku daripada langsung minta ke Ummi. Dan saat ku tanya, mengapa uang sakunya telah habis, ia selalu menjawab seperti yang juga biasanya dikatakan Mas,”Habis buat beli buku.” Jawaban yang klise dan selalu sukses membuatku nyengir.
Hm, whatever lah... aku sangat iri dengan mereka. karena mereka adalah samudra inspirasi yang semakin kugali, semakin ia dalam tiada bertepi. Aku ingin mengambil semangat juang mereka. membawanya ke dasar jiwa dan mememjarakannya di lubuk hati yang terdalam agar tak pernah semangat itu pergi.
Semoga, antum terinspirasi. Wallohu ta’ala a’lam.
                                                                                               
                                                                                                Abbasea, Cairo
                                                                                                September in Autumn

Saturday, 30 June 2012

AWAL SPRING at PYRAMID

bismillah

Mengawali musim semi “spring” tahun ini, aku dan kawan-kawan satu marhalah mengadakan acara pembubaran panitia MFD (Marhalah Family Day) -yang diadakan khusus keluarga besar masisir Madinah Al Buust Al Islamiyah (The Islamic Mission City)- di komplek wisata Pyramid, Giza.




Keluar dari asrama, sembari membawa bekal, bersama-sama kami berjalan menuju stasiun bawah tanah yang terhitung masih “baru”. Yup, Aboul Basha, Abbasea.
Lumayan sepi, selain karena baru, mungkin juga karena kami datang lebih pagi. Nampak sekali perbedaan yang mencolok antara “bawah tanah” yang bersih, tertata dan “kinclong” dengan suasana perkotaan di atasnya. Saya membayangkan bahwa lalu lintas bawah tanah itu seperti kota modern, begitu masuk, suasananya benar-benar seperti di luar negri deh, hihi…
Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini… Salut deh, buat Mesir yang lebih bisa mengoptimalkan penggunaan bawah tanah.
Oya, untuk yang pertama kali naik kereta bawah tanah, atau Metro, jangan kaget ya, jika tiket yang di masukkan di slop mesin entry tiba-tiba tertarik dan muncul di seberang. Hoho…
Setelah transit di Ataba, lalu melanjutkan perjalanan bawah tanah menuju Giza, melewati sekitar 8 setasiun. Wuusss….
sawah bo...
Sampai di stasiun Univ Cairo, selanjutnya keluar dan naik Tramco menuju komplek Pyramid…
Di sebuah pertigaan, kami turun dan berjalan beberapa ratus meter untuk membeli tiket masuk. Sepanjang perjalanan, tertata bunga-bunga yang bermekaran, melepas kepergian dingin di ujung winter, dan menyambut datangnya sejuk musim semi. Spring!
anak kecil, udah jadi kusir
Entah jenis bunga apa yang tertata apik di taman kecil tengah-tengah pertigaan jalan. Juga kami melewati tengah jalan dengan rerumputan dan macam-macam bunga di atas pembatas jalan. Beberapa petak sawah di seberang jalan, membuat kami berdecak kagum, sekaligus mengobati kangen tanah air. Secara, kita kan di gurun…
Sampai di loket pembelian karcis, kami keluarkan senjata pamungkas, eng ing eng… “Kerneh” atau kartu mahasiswa Al Azhar As Syarif. Hehe, buat apalagi kalau bukan buat… (tahu kan?)   (^_*)V
Sempat bersitegang dengan petugas gara-gara banner marhalah yang kami bawa, akhirnya salah seorang kawan nekat membawa masuk komplek tanpa sepengetahuan petugas. Tapi naas, saat sebagian kami telah masuk, petugas yang tadi memeriksa banner cukup tanggap dan melarang kami –yang masih di luar- untuk masuk, sampai banner dibawa keluar. Akhirnya seorang kawan keluar diseret petugas sambil bawa banner. Duh-duh, kasihan deh pokoknya. Seperti anak kecil yang dijewer sama bapaknya gara-gara nakal… hihi. Atau seperti maling yang kepergok petugas ronda. wkwk
Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menginjakkan kaki di bumi kinanah, akhirnya aku bisa melihat, meraba, dan berfoto secara langsung dengan pyramid, yang merupakan ikon Negara Mesir!
Selanjutnya, kami sholat Dhuhur berjamaah, acara pembubaran panitia, lalu makan siang, yummy…menu sambel anak Minang, terasa mantap!
ini ngambil fotonya diam2 lho.. ketahuan, bayar 5 LE
Lalu, intinya keliling komplek pyramid sampai sore!
Aku tidak akan menjelaskan detil sejarah Pyramid, karena terus terang, pasti akan bertele-tele dan kurang menarik. Tapi aku mencoba mendeskripsikan sesuai yang kulihat.
ini jalan masuk dalam pyramid lho
Awalnya, ku pikir komplek pyramid itu panas. Soalnya daerah gurun. Ho, ternyata aku harus memegang erat jaket yang kupakai, karena angin yang berhembus cukup dingin dan kencang. Mungkin karena letaknya yang lebih tinggi di banding sekitar, juga masih ada sisa-sisa “winter”.
Yup, ada 3 pyramid inti yang letaknya berdekatan. Sejajar memang, dan dipisahkan sekitar seratus meter antar bangunannya. Yang paling dekat dengan pintu masuk adalah Great Pyramid, itu yang paling besar. Lalu di barat daya nya, ada pyramid yang sedikit lebih kecil, dan di puncaknya terlihat putih, karena bebatuan penyusunnya dibuat rata, disesuaikan dengan bentuknya yang limas segiempat. Sedang Great Pyramid dan pyramid lain di barat daya, permukaan bangunan tetap terlihat bebatuan persegi panjang, meski secara umum berbentuk limas segi empat.
Awalnya, kukira permukaan pyramid itu seperti anak tangga kecil. Sehingga bisa dinaiki hingga puncaknya. Ternyata benar! Permukaannya seperti anak tangga. Tapi satu anak tangga tingginya hampir setinggi kepalaku. Ye.. tak bisa manjat…
 Di bagian utara Great Pyramid, ada pintu masuknya. Terdapat anak tangga yang menuju ke dalamnya. Tapi sayang, turis tidak diperkenankan untuk masuk. Oya, kami –sambil jeprat-jepret ria, berjalan menuju daerah “gurun”. We…. Beberapa bulan di sini tidak pernah melihat gurun yang sesungguhnya.
Nah, daerah gurun itu berada di selatan Great pyramid. Dari sini, bisa mengambil foto dua atau tiga pyramid sekaligus. Juga melewati banyak bangunan yang tertutup pasir gurun. Sebenarnya bangunan-bangunan itu seperti rumah-rumah balok zaman dahulu –kayak di film arab gitu lah- hanya karena tertimbun pasir gurun, setiap pintu masuk, lorong dan gang-gangnya Nampak seperti lubang bawah tanah.
Aku dan seorang kawan, iseng-iseng keluar rombongan dan menelusuri bangunan itu. Ingin rasanya memasuki lobang-lobang itu. Tapi semakin ke dalam semakin gelap, lalu sedikit kami masuk, dan… sampah! Huek!!! Kiraiin… tapi yakin, sebetulnya itu semacam kota yang tertimbun gitu deh…
Begitu keluar, aku mendekati benda putih yang cukup besar. Akhirnya, melihat bentuknya yang begitu, kami saling berpandangan dan…”Tengkorak ontaaa…!!!!” Lari deh, balik ke rombongan.
Menikmati suasana gurun sembari melihat rombongan turis yang memakai kafayeh. setelah puas, kembali deh ke Great Pyramid, namun kali ini ke sebelah tenggara nya. Yap, apalagi kalau bukan…. Spink!
Tapi sebelum itu, sekali lagi, di bagian tempat lain, aku dan kawan yang tadi, kembali iseng melihat-lihat sekaligus menelusuri kawasan bangunan-bangunan kotak yang –kali ini- lebih banyak. Tidak hanya lorong-lorong dan gang-gang yang berbentuk menyerupai labirin. Tetapi di beberapa bagian kami menemukan lobang-lobang. Sebagian dangkal dan banyak yang cukup dalam sehingga ditutup oleh besi yang melintang-lintang. Kami membayangkan bahwa di dalam bangunan-bangunan dan lorong yang tertimbun itu, terdapat rahasia peradaban mesir kuno. Yang belum terjamah tangan-tangan manusia modern.  Uhuy! Pokoke berpetualangan dengan fantasi kita deh.
Lalu di komplek Spink!
Awalnya agak kesal gitu deh. Soalnya, pas masuk, membayangkan bentuk singa berwajah manusia dengan pose aduhai.. ternyata malah masuk ke ruang dengan tiang-tiang besar, agak mirip labirin. Tapi juga seperti panggung coloseum tempat pertarungan gladiator.
Belum lagi beberapa ruangan ditutup, sehingga tidak di setiap ruang bisa dimasuki. Juga terdapat lantai yang dibuat tinggi rendah berbentuk kotak persegi. Entah untuk apa. Selanjutnya, kami menaiki lantai ke atas tanpa anak tangga. Namun terdapat kayu-kayu yang tertata sehingga mempermudah untuk berjalan.
Kembali bertemu dengan cahaya mentari yang sempurna dan…. SPINK!
Meski hidungnya seperti “sule” karena rusak sebagian, dua kaki di depan, ekor yang melingkar di belakangnya… semua dari batu!
Yup…
Itu cerita singkat perjalanan kami ke pyramid. Lebih seru jika anda pergi sendiri ke sana. Maasyi??





Thursday, 7 June 2012

Sesekali terjebak...

bismillah

Adakalanya, kita (atau hanya saya saja ya?) terjebak dalam suasana yang melankolis. Suatu perkara kecil menjadi “wah” dan “ehm” karena didramatisir.
Terkadang tersadar dan segera bertindak. Namun seringnya sadar tapi no respond. Membiarkannya begitu saja. Tanpa ada keinginan dan kesadaran untuk segera bangkit dan menyadari akan hakikat yang sebenarnya.
Sesekali terjebak di dalamnya, tak apa. wajar. Fitroh. Manusiawi.
Namun yang lebih penting, bahwa kita berada di alam nyata. Harus bertindak sesuai fakta!
Tindakan-tindakan yang lebih real, itu yang dibutuhkan!
Dan membangunkannya dari diri sendiri bukanlah perkara mudah. Ya, terkadang kita butuh motivasi dari luar.
Apakah harus dari teman? Orang lain?
Saya kira, tak hanya sebatas itu. Ada banyak sarana penunjang untuk bangkit. Memotivasi diri.
Dari buku-buku.
Biografi tokoh yang kita anggap “subhanalloh”!, de el el.
Tentu lain lagi ceritanya, jika berurusan dengan hal-hal yang membutuhkan imajinasi. Fiksi. Membuat cerpen, puisi, dan karya fiksi lain yang menuntut pendalaman rasa.
Kalau buat saya sih, juga mungkin buat mereka-mereka yang “traumatis”, terjebak dalam suasana melankolis itu… sebuah cobaan besar. Seperti penjara. Seperti candu.
Anda ingin keluar, tapi sulit. Sedang di sisi lain anda “kecanduan” di dalamnya.
Akibatnya, saat mengingat sedikit saja dari apa yang pernah di alami –saat terjebak dalam suasana mellow- waduh… sulitnya untuk bangkit dan pergi. Terjebak dalam fantasi sendiri sekaligus perasaan tersiksa itu tak jua lenyap.
Saya beri contoh dari yang pernah saya alami ya…
Misalnya, pernah suatu hari. Tanpa sengaja saya menginjak –entah hewan lunak apa itu- yang bentuknya mirip bekicot tanpa cangkang. Dan… KYAAAA!!! Entah berapa jam saya harus guling-guling di atas kursi sambil bulu kuduk yang terus berdiri. Sambil terus-terusan mengelus kaki dan perut mual. Kejadiannya sudah sekitar 3-4 tahun lalu. Tapi -bahkan- saat menulis ini, bulu kuduk berdiri. Hueeek!
Ya, kejadian-kejadian sepele lain juga tak bisa lekang dari benak sampai saat ini.
Saat SD, pernah menyeberang jalan, e… dari belakang ada orang naik sepeda yang nyaris menabrak saya. Kena semprot deh. Iya sih, saya yang salah, tidak tengok kanan kiri sebelum nyebrang. Sampai sekarang masih malu kalau mengingatnya.
Pernah lagi, tanya pangkalan bus Purwokerto di terminal Tirtonadi. E… malah di sindir,”wu… neng terminal kok ra mudeng! Takon-takon tak blusukke mengko!!”
wu… dasar! Di terminal kok tidak tahu! Tanya-tanya aku tipu nanti!!”
Grrr…  pengen marah tapi malu juga…
Wuaaah… banyak hal deh!!!
Apalagi kalau dibentak-bentak. Dimarahin. Apalagi yang sifatnya mempermalukan. Mungkin itu sebabnya, saya lebih senang menghindari yang namanya “permusuhan” (pleghmatis cinta damai euy).
Saya pikir tidak selamanya itu menjadi sikap terbaik. Karena yang saya rasakan, bersikap seperti itu, serasa menjadi orang munafik. Inginnya moderat. Tapi pada hakikatnya “laa ila haaulaai wa ila haaulaai”. naudzubillahi min dzalik.

Wah-wah… tulisan ini sulit di pahami ya. Meloncat-loncat tidak karuan.
Bahkan mungkin sudah beda topic. Tak apa lah. Biar saya yang menikmati. Hehe

Thursday, 10 May 2012

(part 1) DOWNLOAD SOAL-SOAL IMTIHAN QOBUL 2010

bismillah

 Nah, buat teman-teman, yang ingin mengikuti ujian muqobalah al Azhar, ana punya soal tahun 2010 nih.
lebih sederhana dari pada tahun 2011. sayang waktu saya ujian 2011, soalnya di minta sama Ammu. so, dari sini, smoga bermanfaat ya...
Suasana imtihan qobul di Al Azhar


Ada beberapa soal, klik masing-masing ya...
Pertama: 1
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Keenam

Berikutnya,
Soal 1
Soal 2
Soal 3
Soal 4
Soal 5
Soal 6

okay, sementara, ini dulu ya... in syaalloh berikutnya menyusul.
Ma'akumunnajah...
Jangan lupa do'akan kami di Cairo yang sedang menempuh ujian termin 2 ya... (^_^)V

Friday, 4 May 2012

MUKTAMAR AL AZHAR

bismillah

Dhuha waktu Cairo.
Aku tengah melintas depan taman asrama, ketika teriakan seorang ablah sedikit menarik perhatianku. Aku berhenti. Menyapa salah seorang kakak tingkat yang tengah belajar di depan taman. Dan tak lama kemudian, ablah –yang tadi berteriak mengumumkan sesuatu di gedung asrama 5 menyambangi kami.
“Ayo, ikut seminar di ACC, (Al Azhar Conference Center). Mobil jemputan menunggu!”
Rasanya tak perlu memasang pengeras suara dalam asrama. Karena suara ablah sudah lebih dari cukup. Hehe. “Imta ya ablah?” Tanya seorang mahasiswi dari lantai 3. Kapan, ablah?
“Dilwa’ti ya bint!!”
Sekarang.
Mulanya aku tak begitu tertarik. Meski aku tahu, ada Grand Syaikh Al Azhar dalam seminar itu. Tapi seorang kawan Nampak antusias, sehingga aku pun ikut tertarik untuk ikut. Toh, selama ini aku tidak pernah melihat langsung Grand Syaikh Al Azhar, yang konon –kata teman-teman sih, diberlakukan lebih dari layaknya Presiden Mesir.
Mobil asrama menjemput. Kupikir kami dijemput dengan otobus, ternyata hanya mobil biasa dengan kapasitas 15 orang.
Jalanan cukup lenggang. Arus lalu lintas tidak padat seperti hari-hari biasanya. Karena hari ini adalah hari buruh. Labour Day. Tidak heran Ammu memacu mobil dengan kencangnya. Sampai-sampai saat melewati polisi tidur, kami –nyaris serempak berteriak, “Wuoo..!!”
Sampai di depan gedung ACC, banyak massa berkerumun. Sebagian memberi kami selebaran, berisi sejumlah tuntutan tentang al azhar. Massa cukup banyak di luar, sampai-sampai kami harus di antar hingga tepat di depan karpet merah. Wuiih, bak para putri kerajaan…
Kami cukup beruntung, karena tidak sembarang mahasiswi bisa mengikuti Muktamar yang melibatkan Grand Syaikh DR Ahmad Thayyib, terlebih mahasiswi asing. Tapi, itulah kelebihan kami yang tinggal di asrama al azhar. Pakai antar jemput pula. Jadi, ala kulli hal Alhamdulillah.
Memasuki gedung ACC yang cukup megah, di bimbing seorang ammu, akhirnya kami duduk di barisan agak belakang. Tak apa. Mengingat semua yang hadir di Muktamar ini, mayoritas adalah Doktor-doktor dan orang-orang penting Al Azhar. sedang kami, seperti anak kecil saja. Hihi…
Alhamdulillah, acara baru dimulai saat kami datang. Sehingga pidato Grand Syaikh sempat kami simak. Di bagian tengah, Nampak para reporter televise sibuk dengan kamera masing-masing. Di bawakan pula beberapa pidato dari sejumlah masayikh, perwakilan menteri, juga perwakilan mahasiswa lewat ketua BEM Al Azhar.
Di belakang kursi para masayikh, sebuah spanduk besar terpampang, Al Mu’tamar al Ilmi haula Ar Ru’yah al Mustaqbaliah Al Azhar As Syarif.
di depan gedung ACC pasca Muktamar
Inti yang saya tangkap adalah, bahwa Al Azhar mengalami kemunduran dalam perannya di kancah dunia. Dan yang menjadi salah satu sebabnya ialah kekuasaan rezim Mubarak yang menguasai al Azhar. padahal seharusnya al azhar adalah lembaga yang mustaqil, independen.
Dan sudah berkisar 60 tahun-an hal tersebut berlangsung. Sehingga banyak permasalahan dalam tubuh al azhar yang mengendap dan belum terselesaikan.
Maka tak heran, banyak tuntutan dari massa di luar gedung. Pun beberapa kali sempat terjadi keributan oleh peserta muktamar yang meneriakkan aspirasinya, tanpa ijin moderator. Persis seperti keributan di gedung DPR. Dan hal itu tidak hanya sekali. Beberapa orang juga sengaja membawa kertas lebar bertuliskan tuntutan mereka atas sejumlah permasalahan, yang saya sendiri juga kurang tahu apa. Hehe… selain karena tulisan yang jauh dari mata, kami kan “anak baru”. Hi…
Saya agak ‘ngeh’ ketika presiden BEM al Azhar itu menyampaikan aspirasinya. Ya, dengan bahasanya yang to the point –tidak terlalu nyastra, layaknya syeikh rektor fak. Bahasa yang menyitir syair Ahmad Syauqi. juga penampilannya yang paling beda. Kaos, berlapis jas, dan celana jins. Wuih, mahasiswa banget… ckck
Presiden BEM itu meminta agar dengan adanya Muktamar ini, segala permasalahan dalam tubuh al Azhar segera diselesaikan. Tidak harus selesai hari ini. Namun mungkin hingga 2 pekan lamanya, terhitung mulai hari ini. Permasalahan Al Azhar harus diselesaikan.
Grand Syaikh langsung menanggapi. Beliau sampaikan bahwa permasalahan dalam tubuh al Azhar cukup banyak. Sehingga tidak mungkin menyelesaikannya dalam waktu 2 pekan. Namun beliau menyampaikan bahwa dengan adanya Muktamar ini, maka penyelesaian masalah dalam tubuh Al Azhar As Syarif segera dimulai, dan butuh waktu hingga satu tahun lamanya.
Sebuah kalimat yang beliau sampaikan mengundang tepuk tangan para peserta muktamar, “Lan yushliha al Azhar illa al Azhariyyun..” Tidak ada yang bisa menyelesaikan permasalahan al Azhar kecuali Azhariyyun…
Sementara moderator juga mengingatkan, bahwa kiblat ummat Islam adalah Ka’bah Musyarrofah, sedang kiblat ilmu Islam adalah Al Azhar As ASyarif.
Sebelum acara berakhir, sebuah persembahan tilawah menutup acara Muktamar. Dibacakan oleh seorang pemuda Afganistan, dengan jubah hijau kebiruannya.
Bakda Dhuhur, acara selesai, dilanjutkan dengan makan siang. Namun saya dan seorang kawan harus meninggalkan ruang Muktamar, karena kami akan menghadiri acara marhalah di kawasan Tubb Ramli.
Ini pengalaman pertamaku menyaksikan Muktamar yang dihadiri Grand Syaikh Al Azhar As Syarif. Sebagai anak baru, Lumayan berkesan…


Sunday, 8 April 2012

MENITI AWAL PERJALANAN 10

bismillah


Kami pun selalu memotivasi abi, “Ayo,bi. Cepat sembuh. Biar bisa antar Ainun ke bandara…”
Dua pekan dirawat di RS. Abi memutuskan untuk pulang. Meski belum pulih. Ya, setidaknya tangan dan kaki bisa bergerak, meski tidak bisa meniggalkan tempat tidur. Kata dokter memang, tinggal menggunakan bantuan fisioterapis saja, dan menunggu hingga pulih sempurna.
Aku ingat betul, tepat sebelum membawa abi pulang, dokter itu memperingatiku panjang lebar agar tidak sedikitpun menggeser dan mengutak-atik collar yang terpasang di leher abi.
Alhamdulillah. Abi pulang. Meski hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.
Hingga datang panggilan dari Pakde di Jakarta. Ya, aku harus segera tiba di kedubes. Visa.
Esoknya, aku menelpon kedubes. Memastikan saja.
Pihak kedubes mengatakan bahwa aku harus wawancara dengan Mr. Muhammad. Entah siapa beliau. Aku meminta kelonggaran, karena wawancara yang dimaksud adalah agar aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar beasiswa di Mesir pada beliau, sedang aku tinggal di Solo. Sehingga akan memakan banyak waktu dan biaya jika bolak-balik Jakarta.
Pihak kedubes mengatakan bahwa ia akan menanyakan pada Mr Muhammad, perlu tidaknya wawancara tersebut. Sementara pakde di Jakarta mengira bahwa aku harus mengikuti test wawancara di kedubes. Sehingga menyuruhku untuk segera datang ke Jakarta.
Pakde Paino di Jakarta, bukan Mahromku. Jadi aku berangkat ke Jakarta –yang nantinya memakan waktu beberapa hari, pikirku, bersama adik laki-laki dan pakde ku –yang mahrom. Sebut saja Pakde Anto.
Pagi itu, pagi terakhir aku bisa melihat secara langsung wajah ummi yang meneteskan air mata. Mungkin tak akan sederas itu jika sanggup mengantarku hingga bandara. Juga abi… yang tergolek tak berdaya di atas ranjang. Aku harus rela meninggalkan abi setelah mencium kedua pipinya.
Aku ingat betul pesan ummi,”Kamu harus rajin ya… lihat saja, kamu pergi sedang keadaan keluarga seperti ini,  kami harus rela merelakankamu pergi dalam keadaan begini …”
Ya Rabb… pagi itu adalah aku yang sekuat tenaga tidak meneteskan air mata…

Friday, 6 April 2012

MENITI AWAL PERJALANAN 9

bismillah

Kau tahu…
Aku hanya ingin menjadi seperti apa yang pernah ummi katakan, untuk tidak panik dan frustasi saat menghadapi situasi begini.
Namun nyatanya, seribu bayangan negatif menggantung sepanjang perjalananku ke Rumah Sakit. Air mata yang berusaha ku tahan sedikit demi sedikit meluncur deras.
Di Rumah Sakit.
Saat memarkir motor, ku lihat sepeda motor ummi sudah terparkir. Aku berputar-putar RS mencari ruang IGD. Yang pertama kali kulihat adalah sesosok abi yang tergolek lemas di atas ranjang rumah sakit. beberapa luka kecil di tangan dan kaki, serta luka di kepala yang telah terjahit. Juga seragam guru yang penuh bercak darah di bawah ranjang.
Alhamdulillah abi sempat siuman, itu kata ummi. Kami hanya berharap tidak terjadi luka atau cacat serius pada abi. Mengingat empat anggota gerak badannya belum bisa digerakkan.
Ummi pergi untuk sholat ashar. Dan aku berjaga di samping abi yang tak lama kemudian membuka mata perlahan. Abi memanggilku. Menayakan apakah sudah masuk waktu sholat ashar. Aku mengiyakan.
Kemudian Abi bertanya dimana posisi tangan dan kakinya yang tak bisa digerakkan. Ya Rabb, semoga ini hanya lumpuh sementara…
Selanjutnya, tentu kau tahu.
Ya, hari-hariku disibukkan dengan shift jaga abi di RS. Bergantian dengan ummi dan adikku. Kami harus bergantian. Antara mengurus rumah dan menemani abi –yang tak mungkin ditinggal sendirian di RS. Leher belakang yang membentur trotoar, luka jahitan di kepala akibat helm yang pecah –kami sering menghibur abi dengan julukan “simoncelli kedua”, membuat cedera otot, sehingga nyaris seluruh badan abi tak bisa bergerak. Memang setelah beberapa hari di ruang HCU, ada sedikit kemajuan. Setidaknya jemari abi bisa bergerak sedikit. Sedikit.

Aku masih ingat, beberapa kali abi memanggilkku dan berkata,”nun, apapun yang terjadi. Meski abi masih dalam keadaan seperti ini. Rencanamu harus tetap jalan. Kamu harus tetap ke mesir.”
Ah, abi… 

Wednesday, 4 April 2012

MENITI AWAL PERJALANAN 8

bismillah

Kami pun putar otak. Agar tidak menambah rupiah yang hilang akibat perencanaan yang kurang matang.
Besoknya, pagi-pagi selepas mengantar nenekku kajian. Aku meluncur ke biro titipan kilat. Mengirim seluruh dokumen, beserta fotokopi dan terjemahnya ke Jakarta. Ke rumah pakde Paino. Ya, nampaknya kami memang butuh bantuan beliau yang lebih berpengalaman. Di banding harus bolak-balik Solo Jakarta yang menghabiskan banyak biaya.
Selanjutnya, tinggal menunggu kabar dari pakde, kapan aku harus benar-benar ke Jakarta. Mengurus visa sekaligus langsung berangkat Jakarta-Cairo.
Baru istirahat sejenak, di tengah hari-hari kesibukanku hilir mudik mengurus persiapan keberangkatan. Alloh menguji kami sekeluarga. Sore itu, selepas mengantar nenek silaturrahim di Boyolali. Pulangnya, kami mampir ke rumah Bulik.
Belum sempat aku duduk di kursi, kata-kata itu terlanjur keluar dari mulut Bulik,
“Nun… abimu kecelakaan.”