Saturday, 18 August 2012

Aku dan AMAZING (sebuah catatan kecil)

bismillah

Mungkin ini hal yang terbilang sepele. Tapi buat saya, tidak.
Masih terhitung akhir Ramadhan. Teman-teman Indonesia yang lulus seleksi beasiswa dan ditempatkan di asrama internasional Al Azhar, membentuk sebuah wadah di setiap tahun kedatangan. Putra dan putri.
Kami menamainya marhalah AMAZING. 
Dengan harapan masing-masing menjadi pribadi yang ‘amazing’ untuk ummat, bangsa, dan diri masing-masing. Kalau dikalkulasi, hampir satu tahun marhalah ini terbentuk. Tentu saya hanya menikmati sekitar 7 atau 8 bulan saja, mengingat keterlambatan saya dalam mendapat visa ke mesir.
Setahun berlalu. Dan pemilihan ketua baru untuk putra maupun putri dilangsungkan di rumah salah seorang anggota putri yang telah berkeluarga di kawasan Tub Romly, Nasr City. Masih dalam Ramadhan. Berharap seiring dengan masa Ramadhan yang belum berakhir, turut mendapat suntikan barokah dalam pemilihan ini.
Dari segi kuantitas anggota, memang tidak mencapai angka yang fantastis. Bahkan terhitung marhalah dengan jumlah anggota paling sedikit di banding para senior. Namun justru hal itu yang membuat suasana ‘kekeluargaan’ kami begitu erat. Terlebih anggota putri yang hanya berjumlah 10 orang.
Dan ada yang terasa cukup menyesakkan buat saya. Ya, awalnya kandidat utama untuk ketua putri adalah seorang sahabat karib saya. Namun di tengah pemilihan, secara spontan dan di luar dugaan saya, ia mengundurkan diri. Bukan tanpa alasan memang, dan sayangnya, saya paham betul kondisi yang ia alami. Jadi, dengan berat –sangat- saya dan seorang kawan yang juga menjadi kandidat harus merelakannya mengundurkan diri.
Pemilihan babak kedua berlanjut. Dan, ya Rabb. Akhirnya saya yang harus menerima amanah tersebut.
Ya, ini terlihat biasa saja. Bukan sesuatu yang ‘wah’ buat kebanyakan orang. Tapi sepertinya tidak buat saya. Memang sempat  beberapa kali saya menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi. Tapi rasanya kali ini berbeda.
Tentu saja, yang saya pimpin adalah orang-orang yang kematangan dan kedewasaannya sama bahkan jauh melampaui saya. Kawan-kawan masisir, dalam pandangan saya adalah sosok-sosok yang mengagumkan. Bukan saja dari segi akademis. Namun dari ketekunan dan ijtihad mereka dalam berbagai lahan yang digeluti. Saya? Bukan apa-apa.
Fenomena itu saya sadari. Dan saya juga cukup sadar akan kelemahan diri. Terlebih untuk menjadi seorang pemimpin. Satu kelemahan besar yang saya miliki adalah tidak dapat melakukan pengambilan keputusan (decision making) dengan cepat.
Ya, seharusnya seorang pemimpin dituntut untuk intuitif, memiliki rasa peka yang besar dan juga cepat dalam mengambil keputusan. Tidak perlu jauh-jauh, dari sebuah contoh sehari-hari saja, bisa menjadi analogi yang tepat. Jika lazimnya seseorang (wanita khususnya) memasak di dapur selama satu jam. Maka saya menghabiskan waktu satu setengah jam, bahkan dua jam.
Ya, setengah jam pertama saya gunakan untuk berpikir keras.  Tentang apa nanti yang pertama kali saya lakukan di dapur. Mana yang seharusnya lebih dulu saya kerjakan, menyiapkan bahan utama atau bumbunya? Mana yang seharusnya lebih dahulu untuk dikerjakan agar efektivitas waktu mampu dioptimalkan. Saya selalu ingin meminimalisir kesalahan, namun itu juga menuntut saya –yang tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat- untuk menghabiskan banyak waktu. Tidak sesuai dengan tujuan awal.
Dan dari hal-hal seperti itu, saya membangun karakter diri untuk hal yang lebih besar lagi. Saya tidak tahu, apakah karakter yang demikian bisa berubah –untuk yang lebih baik- atau itu memang sesuatu yang melekat dalam diri dan tak dapat dipisahkan.
Saya tahu, bahwa kawan-kawan akan membantu di perjalanan ini nantinya. Karena kita adalah keluarga. Bersatu dalam ukhuwah abadi. Ukhuwah Islamiyah.
In syaalloh…


Cairo, akhir Ramadhan 1433 H


Sunday, 5 August 2012

Benar, anda Benar?

bismillah

Sepulang buka bersama marhalah kekeluargaan di Hay Asyir, Mutsallas.
Ketua kekeluargaan berbaik hati mengantar saya dan seorang kawan kembali ke asrama. Malam memang, sekitar pukul setengah sepuluh. Meski di jam itu jalanan Cairo masih ramai, karena di musim panas, masyarakat Mesir banyak menghabiskan waktu malam untuk beraktifitas sebagai ‘balas dendam’ atas teriknya siang hari.
Cairo seperti kota yang nyaris 24 jam berdenyut. Terlebih Ramadhan ini, di mana masjid-masjid selalu ramai dengan tarawih dan berlanjut dengan qiyamullail hingga dini hari. Bus besar yang dikelola pemerintah Mesir, beroperasi mulai sekitar jam 6 pagi hingga pukul 12 malam. Sementara minibus dan tramco, nyaris selalu ada. 24 jam. Berbeda dengan di Indonesia, khususnya kota Solo, kampung halaman saya. Bus dan angkot sudah nyaris tidak ada jika lewat jam 5 sore hari. Saya melihat bahwasanya tenaga dan spirit orang Arab –mesir khususnya- cukup berjarak jauh dengan orang Indonesia. Meski begitu, orientasi mereka bukan ‘uang’ semata. Itu yang saya lihat selama ini.
Kembali pada senior yang mengantar kami berdua pulang. Karena jam sepuluh adalah batas akhir kami keluar asrama –jika tidak ingin menandatangani buku hitam, maka Mas Hasan –sebut saja begitu- menyetop taksi. Saya dan kawan berpandangan dengan bahasa tanpa kata, “wah, mahal nih. Gimana dong?!”
Untuk kalangan masisir, taksi adalah transportasi yang cukup jarang kami gunakan. Lebih baik naik bus, yang ongkosnya tidak bikin kantong tipis. Tapi Mas Hasan segera menangkap isi kepala kami, “Biar cepet, naik taksi aja ya?”. Bisa saya bilang, bahwa beliau sangat mengkhawatirkan keselamatan kami. Intinya, terharu deh. Baru kali ini menemukan senior yang benar-benar perhatian dan merasa bertanggung jawab atas anggotanya.
Beliau adalah kakak kelas kawan saya. Jadi wajar saja sangat perhatian dengan kami berdua –kan ada adik almamaternya. Di sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 40 menit itu, terjadi perbincangan dua arah antara beliau dan kawan saya. Sementara saya lebih memilih untuk diam dan mendengar alunan Musyari Rasyid dari MP3 di balik jilbab. Inti dari yang saya dengar, beliau memberi paparan seputar dunia masisir. Tentang fenomena globalisasi yang berujung pada aktifitas masisir, di mana geliat intelektualitas semakin lesu, terkalahkan oleh hasrat finansial yang menandalkan profit semata. Cukup panjang beliau bercerita, dan sesekali kawan saya turut berargumen. Sampai air matanya menitik. terharu dengan perhatian kakak almamaternya.
Saya iri? Iya. Ternyata memang kita tidak bisa menilai penampilan seseorang. Orang yang kesehariannya memakai celana jins, penampilan yang agak jauh dari kesan islami, bahkan terkadang merokok. Ternyata memiliki perhatian jauh dengan fenomena lingkungan di sekitarnya, tentang pengabdian dan sumbangsih terhadap ummat Islam. Yah, meski juga bukan jaminan bahwa seluruhnya bisa dibenarkan.
Suasana menjadi tenang. Mereka terdiam, saya kecilkan alunan murottal. Dan Mas Hasan mengajak saya bicara, “Ainun dari Ngruki kan ya?” saya mengamini. “Bisa bahasa Jawa kan?” kembali saya amini. Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa kenalan dan adik kelasnya yang sempat belajar di Ngruki juga, sesekali dengan bahasa Jawa.
Dengan bahasa yang tidak to the point beliau memberi wejangan. Cukup membuat saya tahu tentang anak Ngruki di matanya. “Kita harus menerapkan apa yang dipelajari. Katanya, innamal mukminuna ikhwah. Ya harus di terapkan, jangan kok mengurung diri, belajar sendiri. Harus sosialisasi kan? Itu bukti “ikhwah”nya.
Di satu sisi saya merasa tersindir. Soalnya, hehe, saya rasa itu ada benarnya –buat saya lho, bukan buat senior dan alumnus Ngruki lainnya. Namun di sisi lain saya tidak setuju. Terlebih ketika dia berkata,”Jangan merasa benar, bla bla bla...”
Karena buat saya, kita memang harus selalu menjadi yang “benar”. Dalam arti, tidak mengakui sesuatu yang jelas-jelas itu salah dan menyimpang. Okelah, sebagai insan akademisi tidak berarti mengakui segala sesuatu sebagai “kebenaran”. Harus ada prinsip dan idealisme yang harus tertancap kokoh. Misalnya saja, ada 2 pendapat yang berlawanan, kontradiksi. Tidak bisa kita membenarkan keduanya, juga tidak bisa menyalahkan keduanya. Kita harus berdiri di salah satunya. Sesuai prinsip kita. Ya, kalau dalam ilmu mantiq “annaqidhoni la yajtamiani”. Anda melihat sebuah benda bergerak, sementara ada orang lain melihat benda tersebut diam. Berdiri sebagai akademisi, tidak bisa kita mengatakan “o, benda itu bergerak tapi juga diam” nah lho.. yang benar hanya satu. Satu.
Karena menurut saya, merasa “benar” itu harus. Bukan berarti tanpa ilmu. Namun sejauh mana kebenaran yang kita peroleh dari apa yang dipelajari, harus diterapkan dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Jika toh, ternyata seiring berjalannya waktu, kita tahu hal itu menyimpang, ya harus siap banting setir.
Dalam melihat permasalahan, bolehlah melihat berbagai pendapat. Namun berdiri di salah satunya, bukan berarti menafikan yang lain. Tapi itu adalah idealisme.
Wallohu ta’ala a’lam


Tuesday, 24 July 2012

Malam kedua

bismillah

Malam kedua dan ketiga, saya memilih untuk sholat tarawih di masjid Ma’shorowi. Tidak terlalu jauh dari rumah memang. Tapi entah kenapa, di hari kedua saya dan seorang kawan tidak menemukan satu bus pun yang beroperasi. Hanya satu minibus yang baru dating. Berjalan hingga pasar Tabbah pun, tidak satupun tramco yang bisa dinaiki. Penuh.
Akhirnya, sembari menunggu taksi lewat –barangkali ada- kami berjalan. Alhamdulillah jalanan tidak terlalu becek (heran deh, bagaimana sih sanitasinya, masak musim panas begini, bisa-bisanya becek?) saying beribu saying, mau naik taksi, lampu hijau yang menghiasi menara masjid sudah terlihat. Paling 100 meter di depan. Yup, akhirnya jalan deh.
Sampai di tempat sayyidat, alhamdulilllah masih kebagian tempat. Kami sholat Isya (telat euy). Seperti biasa, sholat tarawih, total delapan rekaat, empat kali sholat, masing-masing dua reka’at. Selesai rekaat keempat, diisi khutbah, dan berakhir dengan witir dan qunut.
Ada beberapa yang beda di masjid sekaligus Markas Hifdzul Quran al Ma’shorowi ini, dari delapan reka’at itu, sholat isya dan empat reka’at pertama di imami seorang syeh dan rekaat selanjutnya plus witir di imami oleh syekh yang berbeda. Juga witir di sana tidak langsung 3 reka’at melainkan 2 rekaat lalu 1 reka’at. Tempat sayyidat pun jauh lebih luas di banding masjid-masjid di perkampungan (iyalah!)
Sang khatib mengulas satu ayat. Ayat ke 31 dari surat Al-a’raf. Tentang berpakaian, ketika menuju masjid beserta adab-adabnya. Beliau juga menceritakan bagaimana Imam Malik saat mengajar, di mana beliau memakai pakaian yang bersih dan terpilih. Tidak lain karena sikap hormatnya kepada hadist-hadist Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam. Khotib juga mengingatkan untuk tidak israf, atau berlebih-lebihan dalam memenuhi perut. Karena tidak ada wadah dalam keturunan Adam yang paling buruk kecuali perutnya. Dan beliau juga menyitir hadist Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam. Agar manusia membagi ruang diperutnya untuk 3 hal. Makanan, minuman dan udara.
 Beliau juga menyampaikan bahwa seorang mukmin makan dengan satu lambung sementara orang kafir makan dengan tujuh lambung, saking tingginya hasrat mereka terhadap makanan. Dan terakhir, beliau menasehatkan agar tidak terlalu banyak makan, sehingga memberatkan kita dalam melaksanakan ibadah-ibadah.
Sholat selesai kurang lebih pukul setengah sebelas. Kami pun pulang, setelah sebelumnya, kawan saya itu ‘tepar’. Katanya, “baru kali ini aku sholat tarawih lamanya begini”. Hehe, ini sih biasa di pondok saya, Mbak…

Thursday, 19 July 2012

Malam Pertamaku

bismillah

Mengawali Bulan Ramadhan yang full berkah, sekaligus memanfaatkan peluang “agazah” alias ijin menginap di luar asrama. Saya pergi ke rumah seoraqng senior di kawasan Tabbah, terhitung pinggir Cairo. Dekat terminal akhir minibus dan sejumlah bus besar dengan nomor tertentu. Entah mengapa Mahattah akhir tersebut dinamakan arba’ wan nush (4,5).
Memasuki perkampungan, banyak umbul-umbul terpasang. Warna warni. Seperti menjelang HUT RI lah kalau di Indonesia. Ini sih lebih penting dari pada HUT RI, Ramadhan euy!!!
Masih tanpa info apakah Ramadhan tahun ini dimulai hari Jum’at atau sabtu, yang jelas tidak aka nada polemic seputar penentuannya seperti di Indonesia. Begitu mendapat kabar dari Koran online, bahwa Dar Ifta’ memutuskan bahwa Ramadhan dimulai pada hari Jum’at, segera bakda Isya saya segera menuju masjid terdekat guna mengikuti sholat tarawih.
Kebetulan senior-senior dan seorang kawan di rumah tidak bisa menemani saya yang ingin benar-benar merasakan bagaimana tarawih di Mesir. Maklum lha, ini Ramadhan pertama saya di bumi kinanah. Berhubung adzan Isya telah berkumandang beberapa saat sebelumnya, daripada sholat di rumah, saya putuskan untuk sholat di masjid terdekat. Letaknya hanya beberapa meter dari rumah.
Setelah sholat Isya, sholat tarawih dimulai. Raka’at pertama, mulai dari al Baqarah hingga seperdelapan juz. Lantunan qiroah Hafs dari sang imam, cukup membuat telinga ini nyaman, meski berada dalam ruangan sayyidat yang lumayan sempit. Sholatnya dua reka’at- dua reka’at. Mengikuti hadist Rosululloh Shallallohu alaihi wa as salam, “sholatul laili matsna…matsna”
Setelah mencapai setengah juz, khutbah pun dimulai. Berbeda dengan di Indonesia yang biasanya di adakan setelah reka’at yang kedelapan usai. Sang khatib berkhutbah dengan lantang dan menggebu-gebu. Setidaknya, itu sudah biasa di kalangan masyarakat Mesir.
Khatib sedikit mengingatkan jama’ah mengenai surat Al Baqarah yang tadi dibaca imam. Untuk siapa baqarah itu disembelih! Yang berujung pada anjuran bagi jama’ah untuk terus berusaha dalam mensucikan hati dalam bulan Ramadhan ini. Juga untuk meninggalkan hal yang sia-sia. Seperti meninggalkan ‘musalsal’ dan sejenisnya. (waduuh…(^_^)”??) dan tak lupa, beliau mengingatkan untuk terus mendoakan ikhwah kita yang tengah berjuang melawan kedzoliman, wa bil khusus fi Suriah. Di akhir khutbahnya, ia berdoa untuk kebaikan seluruh ummat Islam dan memohon pertolongan Alloh Ta’ala untuk ikhkwah di Suriah khususnya. Sholat Tarawih berlanjut hingga selesai juz 1. Ditutup witir dengan qunut pada akhir reka’at. Sekali laghi, untuk ikhwah yang di Suriah.
Dan ada hal baru yang saya rasa agar berbeda. Entah apa. Namun memang sepertinya saya tidak sering merasakan sholat tarawih sepanjang satu juz, langsung bakda Isya. Ya, mulai kecil di masyarakat sekitar, belum pernah sholat tarawih di masjid kampung dengan bacaan sepanjang satu juz. Beranjak di pesantren, iya, biasanya satu juz sekali qiyamullail. Di sepertiga malam, bukan langsung bakda Isya. Pun ketika saya masih kelas satu MTs dii pesantren, kami diwajibkan qiyamullail berjamah pada dini hari. Sedang untuk periode selanjutnya, khusus anak kelas satu MTs ada rukhsoh ‘keringanan’ untuk tarawih bakda ISya langsung.
Pun ketika sudah lulus pesantren, biasanya saya ikut I’tikaf, dan tentu qiyamullail dengan satu juz (biasanya) di sepertiga malam. Jadi, kalau untuk tarawih satu juz, bakda sholat Isya langsung, jarang sekali saya rasakan.
Ala kulli hal Alhamdulillah. Semoga malam-malam berikutnya mendapat kesempatan untuk sholat di masjid yang berbeda-beda. Agar merasakan sholat tarawih yang berbeda pula.  Karena bacaan imam satu masjid dengan masjid lainnya berbeda-beda. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan. Sebagaimana halnya yang saya ikuti di masjid kampung Tabbah tersebut, itu termasuk yang cepat bacaannya, karena jam sebelas sudah selesai.
Sekian dulu sedikit yang saya alami pada malam pertama bulan Ramadhan di Cairo. Semoga disempurnakan pertemuan dengan Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Amin.










Thursday, 12 July 2012

Akankah Ustadz Pergi? (part 2)

bismillah

Aku memutar otak. Memutar kembali slide-slide peristiwa yang ku lalui. Slide berhenti saat Umar menepuk punggungku ketika kami membaca koran. Secara spontan kuraba punggung seragamku. Terasa ada kertas yang menempel di sana. Setelah ku tarik dan, tertulis besar di sana... ”TERORIS”
Ku tempelkan kertas itu di dahi dan menatap Umar yang duduk jauh di bangku belakang, ”Seharusnya kamu tempel di jidatku saja! Aku ingin Amerika menembakku di sini, agar cepat syahid! ” kelakarku.
Ku biarkan teman-teman tertawa sepuasnya karena taK lama kemudian seorang Ustadz datang dan pelajaran pun di mulai.
***
Sabtu pagi ketika lima menit yang lalu bel istirahat berdering. Beberapa santri –termasuk aku- berdiskusi seputar tema yang tak pernah membosankan bagi kami. Terorisme.
Jiwa muda kami terbakar begitu topik diskusi mengenai Ustadz Azzam yang masih di tahan polisi dan tidak satupun keluarga dan kerabat yang boleh menjenguk sehingga tidak ada kabar mengenai keadaan beliau.
Umar yang juga ikut berdiskusi tiba-tiba berjalan ke depan kelas, melepas sepatunya, memindahkan Al Quran yang ada di laci meja terdepan ke meja di belakangnya, lalu mulai menaiki kursi. Kaki kirinya ada di atas kursi dan kaki kanannya di atas meja. Ia melepas ikat pinggang dan mengikatnya di kepala. Gayanya bak pasukan pejuang kemerdekaan yang siap untuk berorasi membakar semangat pejuang lainnya.
Kini satu tangannya terkepal. Aku tak sabar ingin tahu apa yang akan ia katakan ketika bertingkah konyol seperti ini.
”Wahai, Mujahid-mujahid yang berkorban demi tegaknya Islam! Ayo kita lawan mereka yang mengatakan bahwa kita adalah teroris! Allohu akbar!!”
Satu tangannya meninju udara, serentak kami melakukan hal yang sama, ”Allohu akbar!!’
”Allohu ak...” Takbir Umar terputus oleh pintu yang terbuka tiba-tiba.
”Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.”
Ustadz Hafidz!
Umar berusaha secepatnya turun. Ku lihat Ustadz Hafidz hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seisi kelas hanya bisa cekikikan.
”Umar bisa malu juga...” bisikku di telinga Jundi. Sesungging senyum segera tampak di wajahnya.
”Ya, ayyuhal mujaahiduun...”
Darahku seakan berpacu cepat melalui pembuluh-pembuluh di sekujur tubuhku. Mujahid!
”Iftahuu kitaabakum! Nastamir ilaa darsil jadiid...
Aku segera membuka halaman buku yang telah ku baca semalam. Ustadz Hafidz selalu meminta kami untuk membaca pelajaran yang akan di pelajari esok hari.
”Assalamualaikum!” seorang Ustadz muda tiba-tiba masuk kelas dengan wajah pucat pasi. Ia segera membisikkan beberapa kalimat di telinga Ustadz Hafidz.
”Ya, tunggu sebentar.” Aku hanya sempat mendengar itu dari Ustadz hafidz yang tampak santai saja. ”Mujahid-mujahidku, kalian hafalkan lima ayat yang ada di halaman sepuluh. Afwan, Ustadz pergi dulu, ini sedang ada...” kalimat beliau terputus karena terburu-buru keluar kelas. Sepertinya hal yang sangat penting sekali. Belum pernah beliau meninggalkan kelas dengan cara seperti ini.
Spontan beberapa santri melongo keluar kelas. Aku yang paling depan. Kulihat beberapa polisi menghampiri Ustadz Hafidz dan menunjukkan sebuah kertas putih yang terlipat. Tak sampai satu menit kemudian, tangan Ustadz Hafidz di borgol dan ditarik pergi. Kami yang melihat hal itu secara spontan keluar kelas dan mengejar Ustadz yang tengah digelandang beberapa polisi berbadan besar.
”Heh, mau di bawa ke mana Ustadz kami!” Ku tarik tangan salah seorang polisi yang segera mendorongku. Aku nyaris terjungkal.
”Ustadz!” aku berusaha sekali lagi mencegah polisi itu membawa Ustadz favoritku di bantu beberapa santri lainnya. Tapi usaha kami sia-sia. Beberapa polisi berpakaian preman lainnya segera datang dan menghalangi kami dari Ustadz Hafidz.
”Ustadz Hafidz!!” Aku berteriak meski hal itu tidak akan mengembalikan Ustadz Hafidz pada kami.
”Innalloha ma’anaa!! Allohu akbar!” itu kalimat yang terakhir ku dengar dari beliau sebelum akhirnya di paksa masuk dalam sebuah mobil kijang.
”Allohu akbar!!” Sambutan takbir di teriakkan oleh kami semua. Mengiringi kepergian Ustadz kami tercinta.
Tak lama kemudian, beberapa Ustadz menyuruh kami memasuki kelas.
Umar berdiri dengan tangan terkepal, dua mata elangnya menatap ke depan penuh amarah. Aku belum pernah melihatnya seserius ini. ”Apa yang mereka inginkan, hah?! Siapa yang akan mengajar kita di kelas ini? Siapa? Siapa?!” dua kristal bening menetes di wajahnya. Kelas hening berkutat dengan pikiran masing-masing. Apa yang kami pikirkan tetap sama. Ustadz Hafidz. Rasanya benar-benar memuakkan!!
Aku maju ke depan kelas. Menatap setiap pasang mata yang balas menatap ke arahku.
”Kita tahu bahwa Ustadz Hafidz adalah ustadz yang baik dan tidak mungkin melakukan tindak kriminal. Terlebih terorisme, betul?”
Secara kompak dan bersemangat, semua menjawab,”Betul!”
”Kemarin, sebelum apel pagi di mulai beliau menasehati beberapa santri yang masih ku ingat apa isi nasehat itu. Tugas utama kita di sini adalah belajar. Itu amanah yang di titipkan orangtua kita pada pesantren. Masalah-masalah seperti ini biarkan asatidz yang mengurusi. Jangan khawatir, selama kita berada dalam kebenaran, maka itu yang harus kita perjuangkan. Biarlah dengan itu kita di fitnah, di tangkap, di siksa. Yakinlah bahwa Innalloha ma’anaa! Allohu akbar!!”
”Allohu akbar!” seisi kelas menyambut.
”Kita laksanakan apa yang beliau perintahkan pada kita tadi.”
Aku kembali ke bangkuku. Dan mulai menghafalkan lima ayat yang beliau perintahkan. Jundi mengikutiku. Juga Umar, lalu Adi, lalu Ridwan, Hadi, dan semuanya. Satu persatu kami hafalkan ayat itu...
”Yaa ayyuhalladzinaamanusta’iinubisshobriwassholah, innalloha ma’asshoobiriin...
Bibirku terasa bergetar...
”Walaataquuluulimanyuqtalufiisabiilillahiamwat,bal ahyaauwwalaakin laatasy’uruun....
Bola mataku terasa basah...
”Walanabluwannakum bisyaiim minnal khoufi wal juu’i wannaqsil amwaali wal anfusi wastsamaroot, wabasysyirisshobiriin...
Aku tak lagi sanggup membendungnya....
”Alladziina idzaa ashoobathummusiibah, qooluu innalillahi wa innalillahi rooji’uun...
Apakah seorang mujahid tak boleh menangis?
”Ulaaika ’alaihim sholawaatum min robbihii wa rohmah, ulaaikahumul muhtaduun...
Kepada siapa akan ku setorkan hafalan tahfidku ini?
Aku tak sanggup menatap ke meja ustadz. Karena ku tahu, Ustadz Hafidz tidak duduk di sana untuk menyimak hafalan surat Al Baqoroh ini.....
Ketua
Tukang tidur
Kata kerja
Halaman empat
Apa yang terjadi?
Melebihi mata kaki
Jamak dari ustadz
Sesungguhnya Alloh bersama kita
 Buka buku kalian! Kita lanjutkan ke pelajaran baru
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar(Al Baqoroh : 153)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Alloh, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqoroh : 154)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaankepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar(Al Baqoroh : 155)
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ”Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun” (Al Baqoroh : 156)
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al Baqoroh : 157)