Saturday, 17 November 2012

Harus PeDe

bismillah

Hari itu aku begitu bangga. Ya, biasanya saat muhadhoroh[1] di Al Azhar terjadi tanya jawab dan diskusi interaktif antara Duktur atau Dukturoh[2] dengan mahasiswi. Teman-teman Mesir memang memiliki rasa percaya diri dan keberanian yang tinggi. Tidak jarang mereka bertanya dan mendebat argumen Duktur. Di sisi lain juga, mereka memang terbiasa adu mulut terhadap persoalan-persoalan kecil. Agak sulit mengalah. Begitulah watak unik mereka.
Tentu berbalik seratus delapan puluh derajat dengan wafidat[3] khususnya yang berasal dari Asia. Lebih khusus lagi Asia Tenggara. Karena rata-rata mahasiswi berasal dari Malaysia, Indonesia, Thailand dan sekitarnya. Selain karena watak asli orang Asia yang pemalu dan lebih memilih tunduk dan sendiko dawuh daripada berdebat. Meski tidak semua begitu. Sejauh yang saya amati, ada beberapa wafidat Asia yang cukup berani, entah itu dari Singapura, Indonesia atau sekitarnya.
Jangankan mendebat argumen Duktur. Untuk bertanya hal yang tidak diketahui, atau memohon Duktur agar menerangkan dengan bahasa fusha[4] saja, terkadang meminta bantuan orang Mesir agar mereka yang sampaikan ke Duktur. Pun Barisan bangku awal selalu terisi mahasiswi Mesir. Entah karena malu, atau tidak percaya diri atau dua-duanya.
Hari itu, muhadhoroh al Nudzum al Islamiyah. Duktur Ahmad menerangkan tentang salah satu asas Undang-undang Islam, yaitu kebebasan. Yang saya cerna dari setiap pelajaran, tampaknya beliau orang Ikhwanul Muslimin (IM). Terlihat jelas dari setiap yang beliau terangkan, mengarah pada perpolitikan dan pujian terhadap gerakan ini.
Di awal beliau jelaskan mengenai perbudakan yang merupakan natijah atau akibat dari peperangan. Di mana hal itu merupakan sesuatu yang telah terjadi sebelum munculnya Islam di Jazirah. Setelah beberapa kali pemaparan, beliau bertanya pada semua mahasiswi. Saat itu semua wafidat diharuskan duduk di tiga baris dari depan. Saya memilih duduk di baris kedua, tepat lurus dengan Duktur. Karena kelas kami di mudarraj[5]. Di kananku Orang Maldaves, kiri orang Singapura, Depan orang Amerika. “Islam melarang adanya perbudakan. Akan tetapi mengapa tidak ada dalil yang secara jelas menyatakan akan pelarangannya?”, tanya Duktur.
Seorang mahasiswi Mesir yang dudukjauh di atasku menjawab. Duktur menggeleng, “Hadza ghoitu shohih...”[6]
Aku angkat tangan. Mencoba asal jawab berdasar  kesimpulan yang kutarik sendiri dari perkataan Duktur sebelumnya. “Perbudakan adalah natijah dari peperangan. Sedang peperangan itu akan terus terjadi hingga hari Kiamat.” Begitu jawabku, singkat.
“Mumtaz!” kata Duktur.
Cess... tanganku langsung bergetar (kebiasaan kalau grogi).
Orang Singapura di sampingku sampai terbengong-bengong, “Wah... subhanalloh. Anti hebat sekali..”. saya sendiri tidak pernah menemukan seorang wafidat yang bisa menjawab dengan benar. Sementara teman-teman Mesir saja tidak satupun yang bisa menjawab dengan benar. Rasanya bangga bercampur gembira! Mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku bisa menjawab pertanyaan duktur dan di jawab,”Mumtaz”.
Mungkin ini hal sepele dan wajar. Bahkan mungkin banyak juga wafidat yang mengalaminya. Namun saya mengambil sebuah pelajaran berharga, bahwa kita Ummat Islam harus PeDe. Harus berani! Kalau kata Ustadz saya di Pesantren dulu, “Salah itu nomer pitu likur![7] yang penting adalah keberanian untuk mencoba dan percaya diri. Karena dengan kepercayaan diri dan keberanian Islam pernah mengayomi lebih dari duapertiga dunia!
Seperti Umar bin Khothtob di awal keislamannya,”Ya Rosululloh, a lasnaa ‘ala haqq?!”[8]
Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi saya, dan pembaca sekalian. Wallohu ta’ala a’lam.


[1] Sebutan untuk kelas perkuliahan
[2]Kebiasaan untuk memanggil Dosen.  Karena semua pengajar di Al Azhar telah menyelesaikan doktoral.
[3] Sebutan untuk mahasiswi berkewarganegaraan selain Mesir.
[4] Rata-rata bahasa pengantar kuliah adalah bahasa Ammiyah.
[5] Kelas dengan susunan bangku memanjang dan bertingkat.
[6] Jawabanmu tidak benar.
[7] Salah itu nomor dua puluh tujuh.

[8] Wahai Rosululloh, bukankah kita di atas kebenaran?!

Wednesday, 14 November 2012

Aktif Sabar... hohoho (^_^)"?

bismillah

Malam ini aku jadi penanggung jawab pelatihan baca koran arab dari kekeluargaan. Tempatnya di Hay Tsamin. Selepas maghrib kita berangkat bersama dari sekretariat kekeluargaan. Di tengah-tengah pelatihan, handphone ku bergetar dalam kondisi “silent”. Niatku supaya tidak mengganggu konsentrasi saat materi di sampaikan.
Tapi di sela-sela pelatihan akhirnya tetap ku buka juga, tuntutan penasaran. Hehe.
Dan ternyata... nomor Indonesia! Nomor abi! Kayaknya aku dapat telephon dari Indonesia itu setahun yang lalu. Ketika aku baru sampai di bumi Kinanah. Selebihnya aku biasanya yang menelpon ke Indonesia setiap bulan. Karena biaya telepon lewat internet di sini relatif lebih murah.
Huwa.. rasanya pengen nangis deh... tadi telepon itu nggak aku angkat. Hiks. Sedih pokoknya deh...
Setelah itu pulang ke asrama. Sambil menunggu bus 80 coret, aku teringat mafrum alias daging giling calon pentol bakso di freezer. Waduh, di dapur nggak ada merica. Jadilah aku menyeberang jalan yang terpisah rel tua menuju athoroh yang menjual obat-obatan dan bumbu dapur.
Ini pentol bakso yg akhirnya berhasil saya buat d bantu seorang teman. dengan mengandalkan resep dari seorang senior masisir. edisi perdana bs di bilang "mumtaz" lho... ^_^

Jam setengah sembilan tepat, akhirnya kami dapat bus. Berharap dapat sampai asrama tepat pukul sembilan, sehingga tidak terlambat. Ternyata takdir berkata lain. Sedikit kemacetan, dan kami sampai asrama pukul 9 lebih 20. Karena security asrama saat itu orangnya disiplin, kami masuk daftar terlambat deh. Hiks.
Melihat Aula kecil asrama, aku teringat ujian Dauroh LUghoh yang ku lewatkan. Padahal sebelum libur Idul Adha, semua acara aku cancel demi ikut dauroh ini lho. Sampai-sampai tadi sore teman dari Belgica menelponku dan bertanya alasan absenku. Hiks lagi deh
Naik tangga ke lantai tiga, menoleh ke kanan, lihat Mesin cuci. Teringat cucian baju yang menumpuk. Kapan ada waktu sela untuk mencuci ya? Hiks
Menoleh ke kiri, melihat dapur. Ingat mafrum lagi. Kapan ya, ada waktu buat bikin baksonya? Hiks
Sampai di kamar, buka pintu. Teman sekamarku sudah tidur. Aku melihat netbook merah kesayanganku di bawah. Teringat tugas buletin yang belum ku kerjakan. Deadline nya besok. O..ow! alamat begadang nih. Hiks
Sekilas melihat notebook kertas berisi jadwal kegiatan harianku, seharusnya malam ini belajar untuk pelajaran esok hari. Harus dikorbankan deh. hiks.
Teringat esok hari –seharusnya- mulai setor tahfidz bersama teman. Tapi malam ini tak bisa murojaah. Aduh... hiks
Akhirnya ngelembur tugas buletin. E... ketiduran. Bangun-bangun meggigil kedinginan karena mulai masuk musim dingin. Brr... selepas sholat, melihat jam. Masih tersisa 40 menit sebelum adzan shubuh. Kuputuskan untuk masak sahur. Lumayan lah, ada ayam dan sayuran, bisa dibuat sop.
Sambil merebus air di hitter. Kayaknya dari kemarin aku sedikit banget minum air putih... nyambi selesaikan tugas buletin juga. Sambil bolak-balik kamar-dapur, akhirnya sup untuk sahur selesai juga. Tara!
Aku kembali melihat jam di handphone, kyaaaa!
Dua menit lagi adzan!
Aku coba makan kilat, sambil kepanasan karena kuah sop yang panas. Huaaah...
“Allohu akbar-Allohu akbar!...”
Yah.. lumayanlah tiga sendok sahur. Lha... minumnya? Hadoh, lupa deh. seret. Padahal dari semalam, cita-citaku adalah minum air putih. Hiks
Selamat datang pagi.. kita mulai aktifitas lagi!
Ala kulli hal, alhamdulillah! Betul2?

Wednesday, 24 October 2012

MARAH is JUNUN

bismillah



Malam ini, aku sedikit merenung, berkontemplasi. Sebelumnya, maaf saja kalau aku banyak menulis tentang diriku, yang tentu bias saja berbeda dengan anda atau orang lain.
Tentang amarah, emosi, temperamen, entah apa sebutan lainnya yang mewakili. Dalam kondisi marah, entah itu marah pada keadaan, orang lain atau bahkan diri sendiri –aku menyebutnya ‘penyesalan’. Apa yang terjadi dalam otakku adalah kebekuan. Ya, otak yang serasa membeku sehingga menghambat jalannya pikiran yang sebelumnya mengalir lancer.
Dalam keadaaan seperti itu pula, setan-setan terasa berkelebatan mengitari setiap gerak, pandangan dan perasaan. Mereka seolah membisikkan segala yang berbau apatisme dan kerusakan. Jadi, apapun bias terjadi. Aku bahkan bias menghamburkan sekian LE untuk hal yang remeh temeh. Aku bias mengitari Cairo dengan membuang biaya dan waktu tanpa berpikir panjang. Pun aku bias melampiaskan pada orang yang saat itu telah berbuat baik padaku.
Itu mengapa aku setuju.sangat. dengan peryataan bahwa orang yang marah itu ‘junun’, gila! Dan setelah semua itu terjadi. Ketika benak semakin mencair, meleleh, pikiran berjalan lancer kembali, yang terjadi adalah penyesalan.
Maka, aku tak seirama dengan mereka yang mengatakan bahwa ‘menyembunyikan kemarahan’ –khususnya- terhadap orang lain adalah ‘ketidakjujuran’. Justru sebaliknya, semisal aku marah dengan seseorang, dan aku cukup sadar bahwa jika kutampakkan kemarahan dan kebencianku padanya, maka nantinya aku akan menyesal. Karena aku tak ingin itu terjadi, aku memilih untuk diam.
Bukan berarti aku munafik. Dan jangan artikan sikap itu sebagai ketidakjujuran. Justru itu adalah berpikir lebih panjang. Karena aku cukup sadar bahwa segala tindakan yang kulakukan ketika ‘marah’  adalah ‘gila’. Maka aku lebih memilih untuk diam. Menunggu otakku untuk mencair.
Karena seringkali, jika aku membenci seseorang karena kesalahannya, dan suatu hari aku menemukan kebaikan darinya. Tumbuhlah penyesalan karena pernah membencinya. Dan penyesalan itu sakit, kawan. Buatku. Entah untukmu.

Saturday, 22 September 2012

DUA SAUDARA dan INSPIRASI


bismillah


Sejujurnya, aku sedang tidak mood untuk menulis. Heh, padahal satu hal yang sangat ingin kuhindari, dikalahkan oleh mood. Tapi melihat beberapa buku yang tersusun di atas meja kamar, aku merasa de javu. Teringat sesuatu, apa ya? Eh, bukan. Seseorang, siapa ya? Kelihatannya bukan hanya seorang.
Ha! Tak lain dua saudara kandungku. Hmm, nampaknya aku banyak terinspirasi oleh keluarga. Seperti kata seorang teman Mas yang tengah menempuh studi di Timur Tengah, “Masing-masing kalian (Mas, aku dan Adek) adalah inspirasi. kalau untuk Mas dan Adek, aku setuju sekali. Tapi kalau diriku? Ha, rasanya tak ada yang pantas.
Kembali ke topik semula. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengingat masa-masa di pesantren. Saat itu kami bertiga masih hidup dalam lingkungan pesantren untuk waktu yang lumayan lama. Enam tahun, menghabiskan masa study. Plus setahun bagi yang mengabdi (buat yang bebas pengabdian, bersyukurlah. Aha!)
Saat masih santri, aku tidak masuk kategori santriwati yang sering dijenguk oleh dua saudara kandungku. Cukup sering sih,tidak. Tapi bukan juga termasuk yang jarang dijenguk. Biasanya dijenguk salah satu saja dari mereka berdua. Jarang sekali lah mereka jenguk aku berdua.
Ada satu ciri khas yang berbeda dari santriwan lain saat menjenguk saudari mereka di ghurfah istiqbal. Ya, biasanya santriwan yang menjenguk bawa sesuatu lah untuk santriwati yang dijenguk. Toh, banyak warung dan penjaja makanan yang selalu stand by di depan pondok Putri. Mulai dari bakso hingga gado-gado. Tapi dua saudaraku itu beda. Seingatku, mereka tidak pernah membelikanku sesuatu apapun dari yang dijajakan di depan pondok. Hiks!
Bukan berarti mereka tidak sayang denganku. Mungkin karena kebiasaan ‘tidak jajan’ masih terbawa hingga dewasa ini. oya, ciri khas yang membedakan mereka dengan santriwan lain saat menjenguk adalah, buku. Ya, BUKU! Baik Mas ataupun Adek selalu bawa buku. Meski hanya buku kecil, tapi mereka selalu bawa. Bahkan sampai ada adek kelasku (putri) yang melongo melihat adekku bawa buku. Yang lain bawa siomay, batagor, bakso. Lha ini kok bawa buku! Subhanalloh!mungkin begitu pikirnya. Yang jelas aku sering menggoda adek kelasku itu, “ehm, entar aku jodohin sama Adekku, mau ya?” Haha...
Aku ingin meniru kebiasaan dua saudaraku itu, tapi ternyata hanya terlaksana saat imtihan )ujian(. Itu pun, karena Mudabbiroh Muaqqotah (pengurus sementara) memberi sanksi bagi yang keluar kamar tanpa membawa buku.
Tidak hanya itu, mereka sangat jarang meminta uang saku ke Ummi atau Abi. Berbeda sekali denganku yang tiap dua pekan langganan telpon ke rumah. Cukup dengan tiga suku kata di awal telepon,”Hehe, Mi...” maka suara di seberang otomatis menjawab,”Apa, Nun? Uangnya habis?” Retoris deh. Geli kalau mengenang masa-masa itu. Sekarang tidak bisa lagi begitu.
Bahkan bebrapa kali Adek menjengukku lalu bilang, “Mbak, aku nggak punya sabun...” Weleh, kan tinggal telepon rumah juga bisa!Pikirku. tapi nampaknya ia lebih senang meminta uang dariku daripada langsung minta ke Ummi. Dan saat ku tanya, mengapa uang sakunya telah habis, ia selalu menjawab seperti yang juga biasanya dikatakan Mas,”Habis buat beli buku.” Jawaban yang klise dan selalu sukses membuatku nyengir.
Hm, whatever lah... aku sangat iri dengan mereka. karena mereka adalah samudra inspirasi yang semakin kugali, semakin ia dalam tiada bertepi. Aku ingin mengambil semangat juang mereka. membawanya ke dasar jiwa dan mememjarakannya di lubuk hati yang terdalam agar tak pernah semangat itu pergi.
Semoga, antum terinspirasi. Wallohu ta’ala a’lam.
                                                                                               
                                                                                                Abbasea, Cairo
                                                                                                September in Autumn

Sunday, 19 August 2012

Idul Fitri kali ini....

bismillah

I’dun sa’id!!!
Taqobbalallohu minna wa minkum!!!
Wa ja’alanalloh wa iyyakum minal aidin wal faizin!!!
Kullu ‘aam wa antum bi khoir!!!

Alhamdulillah, itu yang jadi kalimat utama untuk hari ini. Meski lebaran kali ini cukup berbeda dari 20 lebaran sebelumnya. Di hari penuh kemenangan ini, semua terasa ‘bahagia’.
Dan hmm... terdengar cukup childish memang. Tapi saya akui, es krim tetap jadi yang nomor satu buatku di hari raya ini (dan hari-hari biasanya), dan air mata akhirnya tumpah juga mengingat lebaran kali ini tanpa kebersamaan dengan Ummi dan Abi, juga Mas Us dan Jundi.
Ummi , Abi,”besok kita telpon dan puas-puasan ya...”
Mas Us di Suriah, smoga Ied nya lancar-lancar saja meski berada di negri konflik dan dalam keadaan mengungsi. “Mas, aku pengen telpon tapi kok nomermu gak aktif terus ya...?”
Jundi, Ustadz Macho,”Aku kangen dengan keluguan dan joke-joke spontanmu...”
Eyang, Mbah ty... “Maaf, tahun ini gak bisa sungkem... smoga di beri umur panjang, Yang... Mbah...”
Aku kangen suasana silaturrahim di Indonesia...
Kangen dengan liburannya...
Menikmati berbagai air terjun di Tawangmangu. Jumog...Grojogan Sewu dengan ribuan anak tangga dan monyet-monyet kreatifnya... Parang Ijo... brrr.. ku rindukan kesegaran itu...
Menelusuri pantai-pantai di selatan Jogja... Mas Us yang jadi sopir kebanggaan keluarga... Kukup, krakal, Baron... terakhir kita ke sana sebelum perpisahan Mas Us ke Yordan... eh, malah nyasar ke Suriah...
Aku kangen Bulek Ida dan anak-anaknya yang paling imyut sedunia... Muti’ yg kreatif... Fida yang diam-diam cabe rawit... Dina, siluman Tomat (saking pipinya embem)... Syafiq, yang mulai kliatan dewasanya,... Fatan, yang usil tapi nggemesin... en, Zidan... aku baru ketemu kamu di fb... huwaaaa semua imut2.. sholeh n sholehah.. mbak Inun kangeeeen....
Kangen,
Kangen,
Kangen,
Pengen pulaaaaang......
Hiks.
>_<

Saturday, 18 August 2012

Aku dan AMAZING (sebuah catatan kecil)

bismillah

Mungkin ini hal yang terbilang sepele. Tapi buat saya, tidak.
Masih terhitung akhir Ramadhan. Teman-teman Indonesia yang lulus seleksi beasiswa dan ditempatkan di asrama internasional Al Azhar, membentuk sebuah wadah di setiap tahun kedatangan. Putra dan putri.
Kami menamainya marhalah AMAZING. 
Dengan harapan masing-masing menjadi pribadi yang ‘amazing’ untuk ummat, bangsa, dan diri masing-masing. Kalau dikalkulasi, hampir satu tahun marhalah ini terbentuk. Tentu saya hanya menikmati sekitar 7 atau 8 bulan saja, mengingat keterlambatan saya dalam mendapat visa ke mesir.
Setahun berlalu. Dan pemilihan ketua baru untuk putra maupun putri dilangsungkan di rumah salah seorang anggota putri yang telah berkeluarga di kawasan Tub Romly, Nasr City. Masih dalam Ramadhan. Berharap seiring dengan masa Ramadhan yang belum berakhir, turut mendapat suntikan barokah dalam pemilihan ini.
Dari segi kuantitas anggota, memang tidak mencapai angka yang fantastis. Bahkan terhitung marhalah dengan jumlah anggota paling sedikit di banding para senior. Namun justru hal itu yang membuat suasana ‘kekeluargaan’ kami begitu erat. Terlebih anggota putri yang hanya berjumlah 10 orang.
Dan ada yang terasa cukup menyesakkan buat saya. Ya, awalnya kandidat utama untuk ketua putri adalah seorang sahabat karib saya. Namun di tengah pemilihan, secara spontan dan di luar dugaan saya, ia mengundurkan diri. Bukan tanpa alasan memang, dan sayangnya, saya paham betul kondisi yang ia alami. Jadi, dengan berat –sangat- saya dan seorang kawan yang juga menjadi kandidat harus merelakannya mengundurkan diri.
Pemilihan babak kedua berlanjut. Dan, ya Rabb. Akhirnya saya yang harus menerima amanah tersebut.
Ya, ini terlihat biasa saja. Bukan sesuatu yang ‘wah’ buat kebanyakan orang. Tapi sepertinya tidak buat saya. Memang sempat  beberapa kali saya menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi. Tapi rasanya kali ini berbeda.
Tentu saja, yang saya pimpin adalah orang-orang yang kematangan dan kedewasaannya sama bahkan jauh melampaui saya. Kawan-kawan masisir, dalam pandangan saya adalah sosok-sosok yang mengagumkan. Bukan saja dari segi akademis. Namun dari ketekunan dan ijtihad mereka dalam berbagai lahan yang digeluti. Saya? Bukan apa-apa.
Fenomena itu saya sadari. Dan saya juga cukup sadar akan kelemahan diri. Terlebih untuk menjadi seorang pemimpin. Satu kelemahan besar yang saya miliki adalah tidak dapat melakukan pengambilan keputusan (decision making) dengan cepat.
Ya, seharusnya seorang pemimpin dituntut untuk intuitif, memiliki rasa peka yang besar dan juga cepat dalam mengambil keputusan. Tidak perlu jauh-jauh, dari sebuah contoh sehari-hari saja, bisa menjadi analogi yang tepat. Jika lazimnya seseorang (wanita khususnya) memasak di dapur selama satu jam. Maka saya menghabiskan waktu satu setengah jam, bahkan dua jam.
Ya, setengah jam pertama saya gunakan untuk berpikir keras.  Tentang apa nanti yang pertama kali saya lakukan di dapur. Mana yang seharusnya lebih dulu saya kerjakan, menyiapkan bahan utama atau bumbunya? Mana yang seharusnya lebih dahulu untuk dikerjakan agar efektivitas waktu mampu dioptimalkan. Saya selalu ingin meminimalisir kesalahan, namun itu juga menuntut saya –yang tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat- untuk menghabiskan banyak waktu. Tidak sesuai dengan tujuan awal.
Dan dari hal-hal seperti itu, saya membangun karakter diri untuk hal yang lebih besar lagi. Saya tidak tahu, apakah karakter yang demikian bisa berubah –untuk yang lebih baik- atau itu memang sesuatu yang melekat dalam diri dan tak dapat dipisahkan.
Saya tahu, bahwa kawan-kawan akan membantu di perjalanan ini nantinya. Karena kita adalah keluarga. Bersatu dalam ukhuwah abadi. Ukhuwah Islamiyah.
In syaalloh…


Cairo, akhir Ramadhan 1433 H


Sunday, 5 August 2012

Benar, anda Benar?

bismillah

Sepulang buka bersama marhalah kekeluargaan di Hay Asyir, Mutsallas.
Ketua kekeluargaan berbaik hati mengantar saya dan seorang kawan kembali ke asrama. Malam memang, sekitar pukul setengah sepuluh. Meski di jam itu jalanan Cairo masih ramai, karena di musim panas, masyarakat Mesir banyak menghabiskan waktu malam untuk beraktifitas sebagai ‘balas dendam’ atas teriknya siang hari.
Cairo seperti kota yang nyaris 24 jam berdenyut. Terlebih Ramadhan ini, di mana masjid-masjid selalu ramai dengan tarawih dan berlanjut dengan qiyamullail hingga dini hari. Bus besar yang dikelola pemerintah Mesir, beroperasi mulai sekitar jam 6 pagi hingga pukul 12 malam. Sementara minibus dan tramco, nyaris selalu ada. 24 jam. Berbeda dengan di Indonesia, khususnya kota Solo, kampung halaman saya. Bus dan angkot sudah nyaris tidak ada jika lewat jam 5 sore hari. Saya melihat bahwasanya tenaga dan spirit orang Arab –mesir khususnya- cukup berjarak jauh dengan orang Indonesia. Meski begitu, orientasi mereka bukan ‘uang’ semata. Itu yang saya lihat selama ini.
Kembali pada senior yang mengantar kami berdua pulang. Karena jam sepuluh adalah batas akhir kami keluar asrama –jika tidak ingin menandatangani buku hitam, maka Mas Hasan –sebut saja begitu- menyetop taksi. Saya dan kawan berpandangan dengan bahasa tanpa kata, “wah, mahal nih. Gimana dong?!”
Untuk kalangan masisir, taksi adalah transportasi yang cukup jarang kami gunakan. Lebih baik naik bus, yang ongkosnya tidak bikin kantong tipis. Tapi Mas Hasan segera menangkap isi kepala kami, “Biar cepet, naik taksi aja ya?”. Bisa saya bilang, bahwa beliau sangat mengkhawatirkan keselamatan kami. Intinya, terharu deh. Baru kali ini menemukan senior yang benar-benar perhatian dan merasa bertanggung jawab atas anggotanya.
Beliau adalah kakak kelas kawan saya. Jadi wajar saja sangat perhatian dengan kami berdua –kan ada adik almamaternya. Di sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 40 menit itu, terjadi perbincangan dua arah antara beliau dan kawan saya. Sementara saya lebih memilih untuk diam dan mendengar alunan Musyari Rasyid dari MP3 di balik jilbab. Inti dari yang saya dengar, beliau memberi paparan seputar dunia masisir. Tentang fenomena globalisasi yang berujung pada aktifitas masisir, di mana geliat intelektualitas semakin lesu, terkalahkan oleh hasrat finansial yang menandalkan profit semata. Cukup panjang beliau bercerita, dan sesekali kawan saya turut berargumen. Sampai air matanya menitik. terharu dengan perhatian kakak almamaternya.
Saya iri? Iya. Ternyata memang kita tidak bisa menilai penampilan seseorang. Orang yang kesehariannya memakai celana jins, penampilan yang agak jauh dari kesan islami, bahkan terkadang merokok. Ternyata memiliki perhatian jauh dengan fenomena lingkungan di sekitarnya, tentang pengabdian dan sumbangsih terhadap ummat Islam. Yah, meski juga bukan jaminan bahwa seluruhnya bisa dibenarkan.
Suasana menjadi tenang. Mereka terdiam, saya kecilkan alunan murottal. Dan Mas Hasan mengajak saya bicara, “Ainun dari Ngruki kan ya?” saya mengamini. “Bisa bahasa Jawa kan?” kembali saya amini. Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa kenalan dan adik kelasnya yang sempat belajar di Ngruki juga, sesekali dengan bahasa Jawa.
Dengan bahasa yang tidak to the point beliau memberi wejangan. Cukup membuat saya tahu tentang anak Ngruki di matanya. “Kita harus menerapkan apa yang dipelajari. Katanya, innamal mukminuna ikhwah. Ya harus di terapkan, jangan kok mengurung diri, belajar sendiri. Harus sosialisasi kan? Itu bukti “ikhwah”nya.
Di satu sisi saya merasa tersindir. Soalnya, hehe, saya rasa itu ada benarnya –buat saya lho, bukan buat senior dan alumnus Ngruki lainnya. Namun di sisi lain saya tidak setuju. Terlebih ketika dia berkata,”Jangan merasa benar, bla bla bla...”
Karena buat saya, kita memang harus selalu menjadi yang “benar”. Dalam arti, tidak mengakui sesuatu yang jelas-jelas itu salah dan menyimpang. Okelah, sebagai insan akademisi tidak berarti mengakui segala sesuatu sebagai “kebenaran”. Harus ada prinsip dan idealisme yang harus tertancap kokoh. Misalnya saja, ada 2 pendapat yang berlawanan, kontradiksi. Tidak bisa kita membenarkan keduanya, juga tidak bisa menyalahkan keduanya. Kita harus berdiri di salah satunya. Sesuai prinsip kita. Ya, kalau dalam ilmu mantiq “annaqidhoni la yajtamiani”. Anda melihat sebuah benda bergerak, sementara ada orang lain melihat benda tersebut diam. Berdiri sebagai akademisi, tidak bisa kita mengatakan “o, benda itu bergerak tapi juga diam” nah lho.. yang benar hanya satu. Satu.
Karena menurut saya, merasa “benar” itu harus. Bukan berarti tanpa ilmu. Namun sejauh mana kebenaran yang kita peroleh dari apa yang dipelajari, harus diterapkan dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Jika toh, ternyata seiring berjalannya waktu, kita tahu hal itu menyimpang, ya harus siap banting setir.
Dalam melihat permasalahan, bolehlah melihat berbagai pendapat. Namun berdiri di salah satunya, bukan berarti menafikan yang lain. Tapi itu adalah idealisme.
Wallohu ta’ala a’lam