Friday, 8 February 2013

DIARY VALENTINE (peristiwa 10 tahun lalu)

bismillah

Aku bukan orang yang percaya diri kecuali “terpaksa”!
Akan tetapi banyak “keterpaksaan” yang membuatku begitu berani. Bahkan terkadang terhitung sebagai keberanian yang serampangan. Penuh keegoisan. Terlebih masa-masa bangku Sekolah Dasar. Siapa yang menyangka, anak perempuan yang melewati masa kanaknya di pelosok ndeso Wonogiri ini. Berani berkelahi dengan murid laki-laki paling badung di kelasnya. Atau menyeret kerah baju murid laki-laki yang membuat kericuhan di kelas. Bahkan menentang teori guru tentang fungsi gurat sisi pada ikan!
Dan pagi itu, aku yang duduk di kelas 6 sebuah SD Negeri di ujung Utara Solo, menjadi pemimpin upacara. Kebetulan pembina upacara yang menyampaikan pidato adalah guru agama Kristen di sekolah. Di awal pidato, beliau langsung mengingatkan murid-murid akan Hari Valentine yang telah berlalu. Memang saat itu telah melewati separuh bulan Februari. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang pentingnya kasih sayang kepada semua orang. Terkhusus pada hari Valentine.
Ini sedikit membuatku terkejut. Karena beberapa hari sebelumnya, aku membuat kegemparan di kelas.
Ya. Memasuki awal februari, aku menemukan selembar kertas HVS berwarna di rumah. Bukan sekedar kertas kosong. Melainkan sebuah artikel tentang asal usul hari Valentine dan sebab dilarangnya merayakan hari tersebut. Itu adalah awal mula aku tahu tentang apa itu hari Valentine yang sering dirayakan muda mudi yang berpacaran. Sekaligus mengetahui bahwa terdapat larangan untuk merayakannya.
Setelah sering membaca artikel serupa. Di masa berikutnya aku sedikit mengamati bahwa biasanya artikel semacam itu berisi tentang sejarah seorang Pendeta yang bla..bla..bla.. maka tidak aku singgung di sini.
Selesai membacanya, aku pergi ke Ummi untuk mengkonfirmasi kebenaran artikel itu, sekaligus meminta ijin Ummi untuk mengcopy-nya. Satu hal yang kupikirkan saat itu,”teman-teman dan sahabat terdekatku harus tahu akan hal ini!”
Sudah bisa ditebak apa respon teman-teman sekelas.
Mereka menentangku! Tidak hanya satu orang, tapi seisi kelas!
Bahkan teman-teman yang biasanya dekat denganku, berbalik memusuhiku. Hanya satu orang sahabat terdekatku yang berusaha bersikap netral. Meskipun dia tetap keukeuh dan merayakan hari Valentine bersama teman-teman yang lain.
Kau tahu, selama beberapa hari aku tersudut di pojok kelas. Beberapa kali mendapat komentar sinis. Tidak ada yang kurasakan dalam kelas kecuali “panas”. Wew, bermusuhan dengan satu orang saja sudah membuatku was-was. Entahlah, hingga saat ini aku begitu membenci permusuhan. Dada serasa menyempit dan bernapas serasa menghirup gas beracun. Tapi saat itu pukulan terberatku adalah, dimusuhi seisi kelas!
Aku masih ingat, saat itu teman –yang sebelumnya dekat denganku- mengirim sebuah surat balasan atas artikel yang kuberikan padanya. Kau tahu apa isinya?
“Nun, ajaran kita berbeda. Kamu Muhammadiyah dan aku NU. Maka kamu nggak berhak melarang aku buat merayakan Valentine!”
Ya, itu jawaban seorang murid polos. Kalau sekarang, mungkin aku akan meledeknya,”ye... kagak nyambung kali...”
Yang jelas saat itu aku berontak dalam hati. Lha wong aku ndak pernah ngikut-ngikut Muhammadiyah atau NU... mulai dari TK juga ndak pernah sekolah di Muhammadiyah atau NU. E.. bisa-bisanya dia menuduhku begitu!
Mengingat peristiwa itu... membuatku tersenyum geli. Bahkan aku tak menyangka, bahwa aku begitu “lancang”nya menentang seisi kelas. Meski akhirnya mereka tetap merayakannya dan telingaku sangat panas saat seorang teman dekatku maju ke depan kelas dengan sebungkus plastik hitam besar,”siapa yang mau tukeran coklat sama aku?!”
Masih dalam episode Valentine.
Seorang murid laki-laki –yang suka membuntutiku sejak kelas 4 SD dan pernah mempermalukanku dengan menyanyi gombal untukku di depan kelas (hedeh!)- ia duduk pada dua baris bangku di depanku. Selepas istirahat, ia sesekali menoleh ke arahku dengan senyuman aneh. Aku yang merasa risih dengannya, segera berkemas ketika bel akhir pelajaran berdering.
Saat membereskan laci meja, tanganku meraba sesuatu. Ku keluarkan.
Coklat!
Aku menghela napas dengan batin remuk redam. Sekilas ku lihat teman laki-laki itu tersenyum padaku. Aku merasa muak dan segera beranjak keluar kelas.
Hari itu, mungkin aku kalah.
Namun aku tak akan pernah menyerah.


In syaalloh. Biidznillah.



    Cairo, Madinah al Buuts al Islamiyah 2013

Saturday, 17 November 2012

Ahlan bik, PMIK!

bismillah

Berbeda dengan lingkungan masisir yang lain.
Ketika awal saya bergabung dengan PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo), apa yang saya jumpai sungguh mengejutkan. Mengingatkan saya pada pondok pesantren yang begitu disiplin dalam banyak hal. Baik dari segi ibadah maupun muamalah.

Jika di komunitas lain, masisir membiasakan sholat berjamaah bukan sebagai prioritas utama. Di sini tidak! Biasanya terdapat asap rokok (yang amat sangat saya benci sekali), o... jangan harap anda menemukannya di PMIK. Ya, di sini saya jumpai fenomena lain (kecuali almamater lho ya, alumnus Ngruki orangnya hanif-hanif deh!). sholat di awal waktu, tidak ada bising musik jahiliy, hubungan ikhwan akhwat yang terjaga (meski dalam pandangan saya, hal ini masih terlalu bebas, setidaknya berbeda lah dengan komunitas dan organisasi lainnya), hingga disiplin waktu. Bener-bener deh, pengen rasanya manjat ke lantai lima supaya tiap kumpul bisa on time..
Beberapa pesan senior PMIK saat upgrading kemarin dengan tema,”lintas generasi, lintas kreasi”, untuk benar-benar memanfaatkan segala apa yang ada di PMIK. Baik itu fasilitas maupun komunitas yang ada. Karena tidak setiap anggota PMIK mampu menjadi seorang PMIKers sejati. Hal itu pula yang menjadikan banyak senior yang begitu betah bertahun-tahun bergabung dengan Perpustakaan yang kini berada di bawah naungan Wisma Nusantara.
Jika biasanya orang-orang menggunakan motivasi “keluar dari zona nyaman, dan pergilah ke hataman badai agar menjadi pribadi yang tangguh”, maka pesan senior berdarah Sunda ini justru sedikit berbalik. “Kalau ada fasilitas nyaman yang bisa dimanfaatkan, gunakan saja untuk membentuk pribadi tangguh”. Itu karena fasilitas di PMIK begitu lengkap dan memadai. Mulai dari ruangan berAC hingga peralatan rumah tangga, semua ada.
Satu hal lagi yang saya jumpai di PMIK, yaitu selera humor anggotanya. Sehingga membuat saya yang masih “gress” tidak merasakan suasana yang begitu kaku. Tentu dengan joke-joke ringan bermutu dan tidak over seperti halnya yang sering saya temui di komunitas masisir lain.
Selepas upgrading, saya yang ditugaskan di Binadata (Bidang Pengadaan dan Pendataan Bahan Pustaka) langsung praktek menghadapi pendataan buku-buku yang baru masuk perpustakaan. Mulai dari cara menyetampel buku, menulis no inventaris dan no seri, hingga komputerisasi. Nah, saya dapat bagian mengurusi buku-buku berbahasa Arab bersama seorang mahasiswa Aceh. Sedang dua teman asrama lain dapat bagian buku-buku berbahasa Indonesia dan Inggris serta tesis dan majalah.
Saya di ajak ta’aruf dengan koleksi buku berbahasa Arab yang memiliki 6 rak. Di jelaskan tentang bagian penempatan sampai anjuran mencatat buku yang sering dicari pengunjung, agar nantinya menjadi masukan bagi PMIK untuk membeli buku tersebut ketika ada Pameran Buku.
“Nanti sering-sering aja keliling rak pakai kursi jalan, sambil lihat-lihat letak buku.” Pesan seorang senior Binadata.
‘ala kulli hal, kesan pertama di PMIK begitu menggoda. Selanjutnya...kita lihat saja nanti!
Allohumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an.

Harus PeDe

bismillah

Hari itu aku begitu bangga. Ya, biasanya saat muhadhoroh[1] di Al Azhar terjadi tanya jawab dan diskusi interaktif antara Duktur atau Dukturoh[2] dengan mahasiswi. Teman-teman Mesir memang memiliki rasa percaya diri dan keberanian yang tinggi. Tidak jarang mereka bertanya dan mendebat argumen Duktur. Di sisi lain juga, mereka memang terbiasa adu mulut terhadap persoalan-persoalan kecil. Agak sulit mengalah. Begitulah watak unik mereka.
Tentu berbalik seratus delapan puluh derajat dengan wafidat[3] khususnya yang berasal dari Asia. Lebih khusus lagi Asia Tenggara. Karena rata-rata mahasiswi berasal dari Malaysia, Indonesia, Thailand dan sekitarnya. Selain karena watak asli orang Asia yang pemalu dan lebih memilih tunduk dan sendiko dawuh daripada berdebat. Meski tidak semua begitu. Sejauh yang saya amati, ada beberapa wafidat Asia yang cukup berani, entah itu dari Singapura, Indonesia atau sekitarnya.
Jangankan mendebat argumen Duktur. Untuk bertanya hal yang tidak diketahui, atau memohon Duktur agar menerangkan dengan bahasa fusha[4] saja, terkadang meminta bantuan orang Mesir agar mereka yang sampaikan ke Duktur. Pun Barisan bangku awal selalu terisi mahasiswi Mesir. Entah karena malu, atau tidak percaya diri atau dua-duanya.
Hari itu, muhadhoroh al Nudzum al Islamiyah. Duktur Ahmad menerangkan tentang salah satu asas Undang-undang Islam, yaitu kebebasan. Yang saya cerna dari setiap pelajaran, tampaknya beliau orang Ikhwanul Muslimin (IM). Terlihat jelas dari setiap yang beliau terangkan, mengarah pada perpolitikan dan pujian terhadap gerakan ini.
Di awal beliau jelaskan mengenai perbudakan yang merupakan natijah atau akibat dari peperangan. Di mana hal itu merupakan sesuatu yang telah terjadi sebelum munculnya Islam di Jazirah. Setelah beberapa kali pemaparan, beliau bertanya pada semua mahasiswi. Saat itu semua wafidat diharuskan duduk di tiga baris dari depan. Saya memilih duduk di baris kedua, tepat lurus dengan Duktur. Karena kelas kami di mudarraj[5]. Di kananku Orang Maldaves, kiri orang Singapura, Depan orang Amerika. “Islam melarang adanya perbudakan. Akan tetapi mengapa tidak ada dalil yang secara jelas menyatakan akan pelarangannya?”, tanya Duktur.
Seorang mahasiswi Mesir yang dudukjauh di atasku menjawab. Duktur menggeleng, “Hadza ghoitu shohih...”[6]
Aku angkat tangan. Mencoba asal jawab berdasar  kesimpulan yang kutarik sendiri dari perkataan Duktur sebelumnya. “Perbudakan adalah natijah dari peperangan. Sedang peperangan itu akan terus terjadi hingga hari Kiamat.” Begitu jawabku, singkat.
“Mumtaz!” kata Duktur.
Cess... tanganku langsung bergetar (kebiasaan kalau grogi).
Orang Singapura di sampingku sampai terbengong-bengong, “Wah... subhanalloh. Anti hebat sekali..”. saya sendiri tidak pernah menemukan seorang wafidat yang bisa menjawab dengan benar. Sementara teman-teman Mesir saja tidak satupun yang bisa menjawab dengan benar. Rasanya bangga bercampur gembira! Mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku bisa menjawab pertanyaan duktur dan di jawab,”Mumtaz”.
Mungkin ini hal sepele dan wajar. Bahkan mungkin banyak juga wafidat yang mengalaminya. Namun saya mengambil sebuah pelajaran berharga, bahwa kita Ummat Islam harus PeDe. Harus berani! Kalau kata Ustadz saya di Pesantren dulu, “Salah itu nomer pitu likur![7] yang penting adalah keberanian untuk mencoba dan percaya diri. Karena dengan kepercayaan diri dan keberanian Islam pernah mengayomi lebih dari duapertiga dunia!
Seperti Umar bin Khothtob di awal keislamannya,”Ya Rosululloh, a lasnaa ‘ala haqq?!”[8]
Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi saya, dan pembaca sekalian. Wallohu ta’ala a’lam.


[1] Sebutan untuk kelas perkuliahan
[2]Kebiasaan untuk memanggil Dosen.  Karena semua pengajar di Al Azhar telah menyelesaikan doktoral.
[3] Sebutan untuk mahasiswi berkewarganegaraan selain Mesir.
[4] Rata-rata bahasa pengantar kuliah adalah bahasa Ammiyah.
[5] Kelas dengan susunan bangku memanjang dan bertingkat.
[6] Jawabanmu tidak benar.
[7] Salah itu nomor dua puluh tujuh.

[8] Wahai Rosululloh, bukankah kita di atas kebenaran?!

Wednesday, 14 November 2012

Aktif Sabar... hohoho (^_^)"?

bismillah

Malam ini aku jadi penanggung jawab pelatihan baca koran arab dari kekeluargaan. Tempatnya di Hay Tsamin. Selepas maghrib kita berangkat bersama dari sekretariat kekeluargaan. Di tengah-tengah pelatihan, handphone ku bergetar dalam kondisi “silent”. Niatku supaya tidak mengganggu konsentrasi saat materi di sampaikan.
Tapi di sela-sela pelatihan akhirnya tetap ku buka juga, tuntutan penasaran. Hehe.
Dan ternyata... nomor Indonesia! Nomor abi! Kayaknya aku dapat telephon dari Indonesia itu setahun yang lalu. Ketika aku baru sampai di bumi Kinanah. Selebihnya aku biasanya yang menelpon ke Indonesia setiap bulan. Karena biaya telepon lewat internet di sini relatif lebih murah.
Huwa.. rasanya pengen nangis deh... tadi telepon itu nggak aku angkat. Hiks. Sedih pokoknya deh...
Setelah itu pulang ke asrama. Sambil menunggu bus 80 coret, aku teringat mafrum alias daging giling calon pentol bakso di freezer. Waduh, di dapur nggak ada merica. Jadilah aku menyeberang jalan yang terpisah rel tua menuju athoroh yang menjual obat-obatan dan bumbu dapur.
Ini pentol bakso yg akhirnya berhasil saya buat d bantu seorang teman. dengan mengandalkan resep dari seorang senior masisir. edisi perdana bs di bilang "mumtaz" lho... ^_^

Jam setengah sembilan tepat, akhirnya kami dapat bus. Berharap dapat sampai asrama tepat pukul sembilan, sehingga tidak terlambat. Ternyata takdir berkata lain. Sedikit kemacetan, dan kami sampai asrama pukul 9 lebih 20. Karena security asrama saat itu orangnya disiplin, kami masuk daftar terlambat deh. Hiks.
Melihat Aula kecil asrama, aku teringat ujian Dauroh LUghoh yang ku lewatkan. Padahal sebelum libur Idul Adha, semua acara aku cancel demi ikut dauroh ini lho. Sampai-sampai tadi sore teman dari Belgica menelponku dan bertanya alasan absenku. Hiks lagi deh
Naik tangga ke lantai tiga, menoleh ke kanan, lihat Mesin cuci. Teringat cucian baju yang menumpuk. Kapan ada waktu sela untuk mencuci ya? Hiks
Menoleh ke kiri, melihat dapur. Ingat mafrum lagi. Kapan ya, ada waktu buat bikin baksonya? Hiks
Sampai di kamar, buka pintu. Teman sekamarku sudah tidur. Aku melihat netbook merah kesayanganku di bawah. Teringat tugas buletin yang belum ku kerjakan. Deadline nya besok. O..ow! alamat begadang nih. Hiks
Sekilas melihat notebook kertas berisi jadwal kegiatan harianku, seharusnya malam ini belajar untuk pelajaran esok hari. Harus dikorbankan deh. hiks.
Teringat esok hari –seharusnya- mulai setor tahfidz bersama teman. Tapi malam ini tak bisa murojaah. Aduh... hiks
Akhirnya ngelembur tugas buletin. E... ketiduran. Bangun-bangun meggigil kedinginan karena mulai masuk musim dingin. Brr... selepas sholat, melihat jam. Masih tersisa 40 menit sebelum adzan shubuh. Kuputuskan untuk masak sahur. Lumayan lah, ada ayam dan sayuran, bisa dibuat sop.
Sambil merebus air di hitter. Kayaknya dari kemarin aku sedikit banget minum air putih... nyambi selesaikan tugas buletin juga. Sambil bolak-balik kamar-dapur, akhirnya sup untuk sahur selesai juga. Tara!
Aku kembali melihat jam di handphone, kyaaaa!
Dua menit lagi adzan!
Aku coba makan kilat, sambil kepanasan karena kuah sop yang panas. Huaaah...
“Allohu akbar-Allohu akbar!...”
Yah.. lumayanlah tiga sendok sahur. Lha... minumnya? Hadoh, lupa deh. seret. Padahal dari semalam, cita-citaku adalah minum air putih. Hiks
Selamat datang pagi.. kita mulai aktifitas lagi!
Ala kulli hal, alhamdulillah! Betul2?

Wednesday, 24 October 2012

MARAH is JUNUN

bismillah



Malam ini, aku sedikit merenung, berkontemplasi. Sebelumnya, maaf saja kalau aku banyak menulis tentang diriku, yang tentu bias saja berbeda dengan anda atau orang lain.
Tentang amarah, emosi, temperamen, entah apa sebutan lainnya yang mewakili. Dalam kondisi marah, entah itu marah pada keadaan, orang lain atau bahkan diri sendiri –aku menyebutnya ‘penyesalan’. Apa yang terjadi dalam otakku adalah kebekuan. Ya, otak yang serasa membeku sehingga menghambat jalannya pikiran yang sebelumnya mengalir lancer.
Dalam keadaaan seperti itu pula, setan-setan terasa berkelebatan mengitari setiap gerak, pandangan dan perasaan. Mereka seolah membisikkan segala yang berbau apatisme dan kerusakan. Jadi, apapun bias terjadi. Aku bahkan bias menghamburkan sekian LE untuk hal yang remeh temeh. Aku bias mengitari Cairo dengan membuang biaya dan waktu tanpa berpikir panjang. Pun aku bias melampiaskan pada orang yang saat itu telah berbuat baik padaku.
Itu mengapa aku setuju.sangat. dengan peryataan bahwa orang yang marah itu ‘junun’, gila! Dan setelah semua itu terjadi. Ketika benak semakin mencair, meleleh, pikiran berjalan lancer kembali, yang terjadi adalah penyesalan.
Maka, aku tak seirama dengan mereka yang mengatakan bahwa ‘menyembunyikan kemarahan’ –khususnya- terhadap orang lain adalah ‘ketidakjujuran’. Justru sebaliknya, semisal aku marah dengan seseorang, dan aku cukup sadar bahwa jika kutampakkan kemarahan dan kebencianku padanya, maka nantinya aku akan menyesal. Karena aku tak ingin itu terjadi, aku memilih untuk diam.
Bukan berarti aku munafik. Dan jangan artikan sikap itu sebagai ketidakjujuran. Justru itu adalah berpikir lebih panjang. Karena aku cukup sadar bahwa segala tindakan yang kulakukan ketika ‘marah’  adalah ‘gila’. Maka aku lebih memilih untuk diam. Menunggu otakku untuk mencair.
Karena seringkali, jika aku membenci seseorang karena kesalahannya, dan suatu hari aku menemukan kebaikan darinya. Tumbuhlah penyesalan karena pernah membencinya. Dan penyesalan itu sakit, kawan. Buatku. Entah untukmu.

Saturday, 22 September 2012

DUA SAUDARA dan INSPIRASI


bismillah


Sejujurnya, aku sedang tidak mood untuk menulis. Heh, padahal satu hal yang sangat ingin kuhindari, dikalahkan oleh mood. Tapi melihat beberapa buku yang tersusun di atas meja kamar, aku merasa de javu. Teringat sesuatu, apa ya? Eh, bukan. Seseorang, siapa ya? Kelihatannya bukan hanya seorang.
Ha! Tak lain dua saudara kandungku. Hmm, nampaknya aku banyak terinspirasi oleh keluarga. Seperti kata seorang teman Mas yang tengah menempuh studi di Timur Tengah, “Masing-masing kalian (Mas, aku dan Adek) adalah inspirasi. kalau untuk Mas dan Adek, aku setuju sekali. Tapi kalau diriku? Ha, rasanya tak ada yang pantas.
Kembali ke topik semula. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengingat masa-masa di pesantren. Saat itu kami bertiga masih hidup dalam lingkungan pesantren untuk waktu yang lumayan lama. Enam tahun, menghabiskan masa study. Plus setahun bagi yang mengabdi (buat yang bebas pengabdian, bersyukurlah. Aha!)
Saat masih santri, aku tidak masuk kategori santriwati yang sering dijenguk oleh dua saudara kandungku. Cukup sering sih,tidak. Tapi bukan juga termasuk yang jarang dijenguk. Biasanya dijenguk salah satu saja dari mereka berdua. Jarang sekali lah mereka jenguk aku berdua.
Ada satu ciri khas yang berbeda dari santriwan lain saat menjenguk saudari mereka di ghurfah istiqbal. Ya, biasanya santriwan yang menjenguk bawa sesuatu lah untuk santriwati yang dijenguk. Toh, banyak warung dan penjaja makanan yang selalu stand by di depan pondok Putri. Mulai dari bakso hingga gado-gado. Tapi dua saudaraku itu beda. Seingatku, mereka tidak pernah membelikanku sesuatu apapun dari yang dijajakan di depan pondok. Hiks!
Bukan berarti mereka tidak sayang denganku. Mungkin karena kebiasaan ‘tidak jajan’ masih terbawa hingga dewasa ini. oya, ciri khas yang membedakan mereka dengan santriwan lain saat menjenguk adalah, buku. Ya, BUKU! Baik Mas ataupun Adek selalu bawa buku. Meski hanya buku kecil, tapi mereka selalu bawa. Bahkan sampai ada adek kelasku (putri) yang melongo melihat adekku bawa buku. Yang lain bawa siomay, batagor, bakso. Lha ini kok bawa buku! Subhanalloh!mungkin begitu pikirnya. Yang jelas aku sering menggoda adek kelasku itu, “ehm, entar aku jodohin sama Adekku, mau ya?” Haha...
Aku ingin meniru kebiasaan dua saudaraku itu, tapi ternyata hanya terlaksana saat imtihan )ujian(. Itu pun, karena Mudabbiroh Muaqqotah (pengurus sementara) memberi sanksi bagi yang keluar kamar tanpa membawa buku.
Tidak hanya itu, mereka sangat jarang meminta uang saku ke Ummi atau Abi. Berbeda sekali denganku yang tiap dua pekan langganan telpon ke rumah. Cukup dengan tiga suku kata di awal telepon,”Hehe, Mi...” maka suara di seberang otomatis menjawab,”Apa, Nun? Uangnya habis?” Retoris deh. Geli kalau mengenang masa-masa itu. Sekarang tidak bisa lagi begitu.
Bahkan bebrapa kali Adek menjengukku lalu bilang, “Mbak, aku nggak punya sabun...” Weleh, kan tinggal telepon rumah juga bisa!Pikirku. tapi nampaknya ia lebih senang meminta uang dariku daripada langsung minta ke Ummi. Dan saat ku tanya, mengapa uang sakunya telah habis, ia selalu menjawab seperti yang juga biasanya dikatakan Mas,”Habis buat beli buku.” Jawaban yang klise dan selalu sukses membuatku nyengir.
Hm, whatever lah... aku sangat iri dengan mereka. karena mereka adalah samudra inspirasi yang semakin kugali, semakin ia dalam tiada bertepi. Aku ingin mengambil semangat juang mereka. membawanya ke dasar jiwa dan mememjarakannya di lubuk hati yang terdalam agar tak pernah semangat itu pergi.
Semoga, antum terinspirasi. Wallohu ta’ala a’lam.
                                                                                               
                                                                                                Abbasea, Cairo
                                                                                                September in Autumn

Sunday, 19 August 2012

Idul Fitri kali ini....

bismillah

I’dun sa’id!!!
Taqobbalallohu minna wa minkum!!!
Wa ja’alanalloh wa iyyakum minal aidin wal faizin!!!
Kullu ‘aam wa antum bi khoir!!!

Alhamdulillah, itu yang jadi kalimat utama untuk hari ini. Meski lebaran kali ini cukup berbeda dari 20 lebaran sebelumnya. Di hari penuh kemenangan ini, semua terasa ‘bahagia’.
Dan hmm... terdengar cukup childish memang. Tapi saya akui, es krim tetap jadi yang nomor satu buatku di hari raya ini (dan hari-hari biasanya), dan air mata akhirnya tumpah juga mengingat lebaran kali ini tanpa kebersamaan dengan Ummi dan Abi, juga Mas Us dan Jundi.
Ummi , Abi,”besok kita telpon dan puas-puasan ya...”
Mas Us di Suriah, smoga Ied nya lancar-lancar saja meski berada di negri konflik dan dalam keadaan mengungsi. “Mas, aku pengen telpon tapi kok nomermu gak aktif terus ya...?”
Jundi, Ustadz Macho,”Aku kangen dengan keluguan dan joke-joke spontanmu...”
Eyang, Mbah ty... “Maaf, tahun ini gak bisa sungkem... smoga di beri umur panjang, Yang... Mbah...”
Aku kangen suasana silaturrahim di Indonesia...
Kangen dengan liburannya...
Menikmati berbagai air terjun di Tawangmangu. Jumog...Grojogan Sewu dengan ribuan anak tangga dan monyet-monyet kreatifnya... Parang Ijo... brrr.. ku rindukan kesegaran itu...
Menelusuri pantai-pantai di selatan Jogja... Mas Us yang jadi sopir kebanggaan keluarga... Kukup, krakal, Baron... terakhir kita ke sana sebelum perpisahan Mas Us ke Yordan... eh, malah nyasar ke Suriah...
Aku kangen Bulek Ida dan anak-anaknya yang paling imyut sedunia... Muti’ yg kreatif... Fida yang diam-diam cabe rawit... Dina, siluman Tomat (saking pipinya embem)... Syafiq, yang mulai kliatan dewasanya,... Fatan, yang usil tapi nggemesin... en, Zidan... aku baru ketemu kamu di fb... huwaaaa semua imut2.. sholeh n sholehah.. mbak Inun kangeeeen....
Kangen,
Kangen,
Kangen,
Pengen pulaaaaang......
Hiks.
>_<