Saturday, 23 March 2013

Dari Mulut ke Kritik

bismillah


Kisah ini saya dengar dari Kiai sepuh di pesantren, saat saya berada di kelas 5 KMI. Terlepas dari benar tidaknya kisah yang beliau tuturkan saat taushiyah pekanan di depan masjid ini, Kiai yang acapkali berbicara dengan bahasa Inggris ini ingin menyampaikan sebuah pesan moral,”Mulutmu, harimaumu”
Alkisah seorang pengemudi mobil yang melintas di jalan, tiba-tiba mobilnya di seruduk oleh mobil lain. Segera ia turun dan melihat ada bagian mobilnya yang lecet. Keadaan itu ia manfaatkan untuk memeras Si penabrak, “Hey, kamu harus bayar mahal untuk lecet di mobilku!”
“Saya minta maaf,Pak. Beribu maaf,” Ujar Si penabrak tulus.
Bukannya melunak pengemudi itu semakin memeras Si penabrak,”Maaf..maaf.. harusnya kamu bertanggungjawab, kalau perlu kamu ganti mobilku ini dengan yang baru!”
“Baiklah, mari ikut saya ke bengkel, Pak.” Ujar Si penabrak.
Sampai di bengkel, pengemudi itu masih saja membentak-bentak Si penabrak. Namun ia heran karena para pegawai bengkel begitu hormat dengan Si penabrak. Maka ia bertanya pada salah seorang pegawai bengkel, tentang siapa sebenarnya Si penabrak.
“Maksud anda, orang yang menyuruh kami memperbaiki mobil anda?”
“Ya,” jawab pengemudi tadi.
“Dia adalah bos kami, pemilik bengkel ini, juga pemilik pabrik perusahaan mobil Ford.” Jawab pegawai itu jujur.
Pengemudi itu malu sekali saat Henry Ford muncul, dan meminta maaf atas sikap kasar dan berbalik menghormati pemilik perusahaan mobil Ford itu.
Cerita selesai. Dari kisah itu, Kiai saya mengambil sebuah hikmah yang cukup masyhur, “mulutmu, harimaumu”.
Benar bahwa perkataan yang meluncur dari lisan harus terkontrol, jika tidak ia akan benar-benar menjadi bumerang bagi yang mengatakannya. Di era informasi saat ini, hal itu tidak perlu pembuktian lagi. Kesalahan kata sedikit saja bisa menghantarkan anda ke jeruji besi, lebih lagi jika dikatakan di depan khalayak pers oleh seorang tokoh terkenal.
Jika setiap kata-kata yang keluar dari mulut bersumber dari lisan. Kita posisikan sebagai muqaddimah sughro, dan “mulutmu, harimaumu” sebagai muqoddimah kubro, akan lahir sebuah natijah,”Lisanmu, harimaumu”. Seandainya kita andaikan opini publik sebagai ‘mulut’, dan ‘lisan’nya adalah media, maka kesimpulannya adalah penyamaan antara harimau dan media.
Ya, media sebagai corong opini publik sejatinya berada di posisi yang mengkhawatirkan ini. kesalahan dalam pemberitaan bisa berakibat fatal. Dengan satu artikel, bisa menarik jurnalis ke penjara. Dengan satu paragraf bisa membuat buletin ditarik dari peredaran.
 Karena media tak bisa lepas dari perannya yang menggiring opini masyarakat ke arah tertentu. Tentu ini sudah jadi rahasia umum. Di balik opini dan pemberitaan yang dituangkan sang jurnalis dalam media, tentu bisa sejalan dengan pemikiran oknum tertentu, atau bisa juga berbalik 180 derajat. maka di sini terbuka sebuah jalan bagi oknum yang tidak sepakat untuk membuka arena kritik sebagai balasan.
Kritik dan balasan atas suatu opini yang menyesatkan harus dilancarkan, namun –dalam hemat penulis- dengan cara yang semestinya, tanpa harus ada kedholiman. Perang opini yang sehat akan melahirkan pemikiran-pemikiran segar yang mencerahkan. Bahkan sebuah teori filsafat selalu hadir dari budaya kritik penciptanya. Seperti Anaximandros yang mengkritisi buah pikir gurunya, Thales yang menganggap asal mula segala sesuatu dari air. Selanjutnya Anaximenes mengkritisi dua sesepuhnya. Dan begitu seterusnya hingga munculnya Rene Decartes, John Lock, David Hume. Sebuah teori filsafat baru terdorong lahirnya dari budaya kritik.
Tulisan ini pasti banyak kekurangan di sana sini, namun yang sebenarnya ingin penulis ajak, adalah menghidupkan budaya kritik yang sehat. Utamanya kita sebagai insan akademis, kesadaran untuk mengkritisi itu sudah menjadi hal yang wajib dan lumrah.
Penulis sendiri merasa cukup jauh dari ajakannya. Namun semua tidak akan terjadi jika tidak dimulai dari hal yang paling kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai sekarang juga!
Mari kita hidupkan budaya kritik yang sehat dan membangun!


                                                                       Madinah Al Buuts Al Islamiyah, 23:32
23/3/2013

Sunday, 3 March 2013

Kakek Renta dalam Bus 65


bismillah


Suatu siang di tengah perjalanan menuju Hay-Asyir. Begitu keluar asrama aku dan seorang kawan langsung bertemu bus yang cukup legendaris. Bukan /80. Tapi bus ini lebih jarang, bahkan aku cukup jarang menemukan versi merahnya yang megah dan elegan. Lebih sering lagi kutemui versi hijau, yang meski sudah tua renta, penuh goresan di sana sini dan melaju dengan napas tersendat, bahkan si Rois –yang juga sudah sepuh- harus menyalakan mesin tiap melaju pelan, namun satu hal yang menurutku cukup menakjubkan. Automatic door yang masih berfungsi baik. Wow, subhanalloh! Ini lah bus 65 yang sangat antik!
Tapi terik siang itu mengantarkan takdirku untuk bertemu 65 dengan versi merahnya. Sebetulnya ini adalah kesempatan yang jarang terjadi. Bus ini seperti seorang borjuis yang memendam gengsi lebih dari liang kuburnya sendiri. Orang biasa bilang, “saat dinanti tak mau kemari, saat tak diminati ia pamer diri”. Dan siang itu aku adalah orang paling pantas untuk mengucapkannya.
Beberapa bulan terakhir, aku memang meluangkan banyak waktu untuk pergi ke Wisma Nusantara di kawasan Rob’ah. Tak hanya kesibukan di PMIK, tapi markas lama buletin Terobosan kembali aktif digunakan atau terancam digusur dengan paksa. Jadilah jadwal kunjunganku ke Wisma lebih padat di banding sebelumnya. Memang agak dekat dengan kuliah, namun jika pergi dari asrama atau dari Hay Asyir menuju Rob’ah, tentu dibutuhkan kocek lebih, bahkan dua kali lipat biasanya. Bukan karena letaknya dua kali lipat jauh dari jarak rata-rata. Tapi karena jangkauan sarana transportasi dengan harga mahasiswa yang cukup jarang. Terlebih ketika waktu beranjak petang, semakin lah rasa letih dan was-was menerbu. Bus dan tramco semakin jarang! Sebetulnya ada satu solusi yang paling jitu, tapi untuk mendapatkannya juga harus berjudi dengan takdir dan waktu. Apa itu? Bus 65!
Kembali pada siang itu. Bus sampai kawasan Maulin. Seorang kakek renta dengan dua mata tertutup –yang nampaknya sangat sulit dibuka- dituntun seorang pria paruh baya. Bus 65 berhenti untuk waktu yang tidak singkat. Ya, untuk menaiki 3 anak tangga itu, tentu kakek itu membutuhkan waktu dan tenaga lebih dari pemuda biasa. Mataku mengikutinya dari balik jendela dalam perut bus yang cukup sesak. Hingga akhirnya ia menghilang tertutup pintu bus dan penumpang yag berdesakan. Ekor mataku masih menelisik, selanjutnya aku mencoba menerka. Di antara sekian penumpang, laki-laki, perempuan, tua, paruh baya dan usia muda. Mana di antara mereka yang lebih dulu meninggalkan kursinya untuk mempersilakan kakek tua itu untuk duduk.
Sekian menit berlalu. Kakek itu tiba-tiba berada satu setengah meter dari tempat berdiriku. Satu tangannya memegang erat besi pegangan bus. Nampaknya aku salah menyimpulkan bahwa semua penumpang yang berwajah Arab itu telah kehilangan nuraninya. Kakek itu berjalan, dengan pegangan yang semakin erat. Dengan sangat lambat, amat sangat. Ia mengganti pegangan bus, dari satu kursi ke kursi yang lain. Itu adalah pertarungan antara keseimbangan dan sisa tenaga di pucuk usianya, dengan hentakan bus yang terus terjadi sesuai arah jalan dan kepadatan pengguna jalan.
Aku baru sadar ternyata kakek itu membawa segenggam kutaib yang memiliki judul sama. Surat Yasin. Kebanyakan orang bilang, yang seperti itu adalah pengemis. Tapi bagiku tidak, ini adalah satu hal yang perlu dicatat dengan tinta hitam pekat dalam setiap kamus hidup setiap bangsa. Bahkan di usia senjanya, ia tak mau sekadar meminta.
Aku semakin takjub manakala kakek itu membuang keras logam senilai satu Pound dari tangannya yang diberikan seorang pemuda, karena ia tidak mengambil “surat Yasin” dari tangannya. “Ambil ini...hei.. ambil ini!” Ujarnya dengan keras sebelum akhirnya logam itu terpental nyaring di atas lantai bus 65. Seorang pemuda bergegas mengambilnya dan menyerahkan lagi pada kakek itu, kali ini ia mengambil surat Yasin itu. Tahukah, ia adalah seorang kakek yang tak mau disebut sebagai pengemis. Karena ia bukan pengemis, mungkin lebih tepat pedagang, karena ia tidak mau sekadar menerima pemberian orang yang mengkasihaninya, tanpa ada yang harus merasakan manfaat dari kehadirannya.
Dan sebaiknya anda tahu, perbandingan harga diri seorang kakek renta yang tak mau sekedar “take” tanpa “give” dengan pejabat koruptor di negeri kita, lebih lagi, bisa kah membandingkannya dengan diri kita?
Mari muhasabah diri.
                                                                             Wisma Nusantara, 5th floor
                                                                             Cairo, 03/03/13

Friday, 8 February 2013

DIARY VALENTINE (peristiwa 10 tahun lalu)

bismillah

Aku bukan orang yang percaya diri kecuali “terpaksa”!
Akan tetapi banyak “keterpaksaan” yang membuatku begitu berani. Bahkan terkadang terhitung sebagai keberanian yang serampangan. Penuh keegoisan. Terlebih masa-masa bangku Sekolah Dasar. Siapa yang menyangka, anak perempuan yang melewati masa kanaknya di pelosok ndeso Wonogiri ini. Berani berkelahi dengan murid laki-laki paling badung di kelasnya. Atau menyeret kerah baju murid laki-laki yang membuat kericuhan di kelas. Bahkan menentang teori guru tentang fungsi gurat sisi pada ikan!
Dan pagi itu, aku yang duduk di kelas 6 sebuah SD Negeri di ujung Utara Solo, menjadi pemimpin upacara. Kebetulan pembina upacara yang menyampaikan pidato adalah guru agama Kristen di sekolah. Di awal pidato, beliau langsung mengingatkan murid-murid akan Hari Valentine yang telah berlalu. Memang saat itu telah melewati separuh bulan Februari. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang pentingnya kasih sayang kepada semua orang. Terkhusus pada hari Valentine.
Ini sedikit membuatku terkejut. Karena beberapa hari sebelumnya, aku membuat kegemparan di kelas.
Ya. Memasuki awal februari, aku menemukan selembar kertas HVS berwarna di rumah. Bukan sekedar kertas kosong. Melainkan sebuah artikel tentang asal usul hari Valentine dan sebab dilarangnya merayakan hari tersebut. Itu adalah awal mula aku tahu tentang apa itu hari Valentine yang sering dirayakan muda mudi yang berpacaran. Sekaligus mengetahui bahwa terdapat larangan untuk merayakannya.
Setelah sering membaca artikel serupa. Di masa berikutnya aku sedikit mengamati bahwa biasanya artikel semacam itu berisi tentang sejarah seorang Pendeta yang bla..bla..bla.. maka tidak aku singgung di sini.
Selesai membacanya, aku pergi ke Ummi untuk mengkonfirmasi kebenaran artikel itu, sekaligus meminta ijin Ummi untuk mengcopy-nya. Satu hal yang kupikirkan saat itu,”teman-teman dan sahabat terdekatku harus tahu akan hal ini!”
Sudah bisa ditebak apa respon teman-teman sekelas.
Mereka menentangku! Tidak hanya satu orang, tapi seisi kelas!
Bahkan teman-teman yang biasanya dekat denganku, berbalik memusuhiku. Hanya satu orang sahabat terdekatku yang berusaha bersikap netral. Meskipun dia tetap keukeuh dan merayakan hari Valentine bersama teman-teman yang lain.
Kau tahu, selama beberapa hari aku tersudut di pojok kelas. Beberapa kali mendapat komentar sinis. Tidak ada yang kurasakan dalam kelas kecuali “panas”. Wew, bermusuhan dengan satu orang saja sudah membuatku was-was. Entahlah, hingga saat ini aku begitu membenci permusuhan. Dada serasa menyempit dan bernapas serasa menghirup gas beracun. Tapi saat itu pukulan terberatku adalah, dimusuhi seisi kelas!
Aku masih ingat, saat itu teman –yang sebelumnya dekat denganku- mengirim sebuah surat balasan atas artikel yang kuberikan padanya. Kau tahu apa isinya?
“Nun, ajaran kita berbeda. Kamu Muhammadiyah dan aku NU. Maka kamu nggak berhak melarang aku buat merayakan Valentine!”
Ya, itu jawaban seorang murid polos. Kalau sekarang, mungkin aku akan meledeknya,”ye... kagak nyambung kali...”
Yang jelas saat itu aku berontak dalam hati. Lha wong aku ndak pernah ngikut-ngikut Muhammadiyah atau NU... mulai dari TK juga ndak pernah sekolah di Muhammadiyah atau NU. E.. bisa-bisanya dia menuduhku begitu!
Mengingat peristiwa itu... membuatku tersenyum geli. Bahkan aku tak menyangka, bahwa aku begitu “lancang”nya menentang seisi kelas. Meski akhirnya mereka tetap merayakannya dan telingaku sangat panas saat seorang teman dekatku maju ke depan kelas dengan sebungkus plastik hitam besar,”siapa yang mau tukeran coklat sama aku?!”
Masih dalam episode Valentine.
Seorang murid laki-laki –yang suka membuntutiku sejak kelas 4 SD dan pernah mempermalukanku dengan menyanyi gombal untukku di depan kelas (hedeh!)- ia duduk pada dua baris bangku di depanku. Selepas istirahat, ia sesekali menoleh ke arahku dengan senyuman aneh. Aku yang merasa risih dengannya, segera berkemas ketika bel akhir pelajaran berdering.
Saat membereskan laci meja, tanganku meraba sesuatu. Ku keluarkan.
Coklat!
Aku menghela napas dengan batin remuk redam. Sekilas ku lihat teman laki-laki itu tersenyum padaku. Aku merasa muak dan segera beranjak keluar kelas.
Hari itu, mungkin aku kalah.
Namun aku tak akan pernah menyerah.


In syaalloh. Biidznillah.



    Cairo, Madinah al Buuts al Islamiyah 2013

Saturday, 17 November 2012

Ahlan bik, PMIK!

bismillah

Berbeda dengan lingkungan masisir yang lain.
Ketika awal saya bergabung dengan PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo), apa yang saya jumpai sungguh mengejutkan. Mengingatkan saya pada pondok pesantren yang begitu disiplin dalam banyak hal. Baik dari segi ibadah maupun muamalah.

Jika di komunitas lain, masisir membiasakan sholat berjamaah bukan sebagai prioritas utama. Di sini tidak! Biasanya terdapat asap rokok (yang amat sangat saya benci sekali), o... jangan harap anda menemukannya di PMIK. Ya, di sini saya jumpai fenomena lain (kecuali almamater lho ya, alumnus Ngruki orangnya hanif-hanif deh!). sholat di awal waktu, tidak ada bising musik jahiliy, hubungan ikhwan akhwat yang terjaga (meski dalam pandangan saya, hal ini masih terlalu bebas, setidaknya berbeda lah dengan komunitas dan organisasi lainnya), hingga disiplin waktu. Bener-bener deh, pengen rasanya manjat ke lantai lima supaya tiap kumpul bisa on time..
Beberapa pesan senior PMIK saat upgrading kemarin dengan tema,”lintas generasi, lintas kreasi”, untuk benar-benar memanfaatkan segala apa yang ada di PMIK. Baik itu fasilitas maupun komunitas yang ada. Karena tidak setiap anggota PMIK mampu menjadi seorang PMIKers sejati. Hal itu pula yang menjadikan banyak senior yang begitu betah bertahun-tahun bergabung dengan Perpustakaan yang kini berada di bawah naungan Wisma Nusantara.
Jika biasanya orang-orang menggunakan motivasi “keluar dari zona nyaman, dan pergilah ke hataman badai agar menjadi pribadi yang tangguh”, maka pesan senior berdarah Sunda ini justru sedikit berbalik. “Kalau ada fasilitas nyaman yang bisa dimanfaatkan, gunakan saja untuk membentuk pribadi tangguh”. Itu karena fasilitas di PMIK begitu lengkap dan memadai. Mulai dari ruangan berAC hingga peralatan rumah tangga, semua ada.
Satu hal lagi yang saya jumpai di PMIK, yaitu selera humor anggotanya. Sehingga membuat saya yang masih “gress” tidak merasakan suasana yang begitu kaku. Tentu dengan joke-joke ringan bermutu dan tidak over seperti halnya yang sering saya temui di komunitas masisir lain.
Selepas upgrading, saya yang ditugaskan di Binadata (Bidang Pengadaan dan Pendataan Bahan Pustaka) langsung praktek menghadapi pendataan buku-buku yang baru masuk perpustakaan. Mulai dari cara menyetampel buku, menulis no inventaris dan no seri, hingga komputerisasi. Nah, saya dapat bagian mengurusi buku-buku berbahasa Arab bersama seorang mahasiswa Aceh. Sedang dua teman asrama lain dapat bagian buku-buku berbahasa Indonesia dan Inggris serta tesis dan majalah.
Saya di ajak ta’aruf dengan koleksi buku berbahasa Arab yang memiliki 6 rak. Di jelaskan tentang bagian penempatan sampai anjuran mencatat buku yang sering dicari pengunjung, agar nantinya menjadi masukan bagi PMIK untuk membeli buku tersebut ketika ada Pameran Buku.
“Nanti sering-sering aja keliling rak pakai kursi jalan, sambil lihat-lihat letak buku.” Pesan seorang senior Binadata.
‘ala kulli hal, kesan pertama di PMIK begitu menggoda. Selanjutnya...kita lihat saja nanti!
Allohumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an.

Harus PeDe

bismillah

Hari itu aku begitu bangga. Ya, biasanya saat muhadhoroh[1] di Al Azhar terjadi tanya jawab dan diskusi interaktif antara Duktur atau Dukturoh[2] dengan mahasiswi. Teman-teman Mesir memang memiliki rasa percaya diri dan keberanian yang tinggi. Tidak jarang mereka bertanya dan mendebat argumen Duktur. Di sisi lain juga, mereka memang terbiasa adu mulut terhadap persoalan-persoalan kecil. Agak sulit mengalah. Begitulah watak unik mereka.
Tentu berbalik seratus delapan puluh derajat dengan wafidat[3] khususnya yang berasal dari Asia. Lebih khusus lagi Asia Tenggara. Karena rata-rata mahasiswi berasal dari Malaysia, Indonesia, Thailand dan sekitarnya. Selain karena watak asli orang Asia yang pemalu dan lebih memilih tunduk dan sendiko dawuh daripada berdebat. Meski tidak semua begitu. Sejauh yang saya amati, ada beberapa wafidat Asia yang cukup berani, entah itu dari Singapura, Indonesia atau sekitarnya.
Jangankan mendebat argumen Duktur. Untuk bertanya hal yang tidak diketahui, atau memohon Duktur agar menerangkan dengan bahasa fusha[4] saja, terkadang meminta bantuan orang Mesir agar mereka yang sampaikan ke Duktur. Pun Barisan bangku awal selalu terisi mahasiswi Mesir. Entah karena malu, atau tidak percaya diri atau dua-duanya.
Hari itu, muhadhoroh al Nudzum al Islamiyah. Duktur Ahmad menerangkan tentang salah satu asas Undang-undang Islam, yaitu kebebasan. Yang saya cerna dari setiap pelajaran, tampaknya beliau orang Ikhwanul Muslimin (IM). Terlihat jelas dari setiap yang beliau terangkan, mengarah pada perpolitikan dan pujian terhadap gerakan ini.
Di awal beliau jelaskan mengenai perbudakan yang merupakan natijah atau akibat dari peperangan. Di mana hal itu merupakan sesuatu yang telah terjadi sebelum munculnya Islam di Jazirah. Setelah beberapa kali pemaparan, beliau bertanya pada semua mahasiswi. Saat itu semua wafidat diharuskan duduk di tiga baris dari depan. Saya memilih duduk di baris kedua, tepat lurus dengan Duktur. Karena kelas kami di mudarraj[5]. Di kananku Orang Maldaves, kiri orang Singapura, Depan orang Amerika. “Islam melarang adanya perbudakan. Akan tetapi mengapa tidak ada dalil yang secara jelas menyatakan akan pelarangannya?”, tanya Duktur.
Seorang mahasiswi Mesir yang dudukjauh di atasku menjawab. Duktur menggeleng, “Hadza ghoitu shohih...”[6]
Aku angkat tangan. Mencoba asal jawab berdasar  kesimpulan yang kutarik sendiri dari perkataan Duktur sebelumnya. “Perbudakan adalah natijah dari peperangan. Sedang peperangan itu akan terus terjadi hingga hari Kiamat.” Begitu jawabku, singkat.
“Mumtaz!” kata Duktur.
Cess... tanganku langsung bergetar (kebiasaan kalau grogi).
Orang Singapura di sampingku sampai terbengong-bengong, “Wah... subhanalloh. Anti hebat sekali..”. saya sendiri tidak pernah menemukan seorang wafidat yang bisa menjawab dengan benar. Sementara teman-teman Mesir saja tidak satupun yang bisa menjawab dengan benar. Rasanya bangga bercampur gembira! Mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku bisa menjawab pertanyaan duktur dan di jawab,”Mumtaz”.
Mungkin ini hal sepele dan wajar. Bahkan mungkin banyak juga wafidat yang mengalaminya. Namun saya mengambil sebuah pelajaran berharga, bahwa kita Ummat Islam harus PeDe. Harus berani! Kalau kata Ustadz saya di Pesantren dulu, “Salah itu nomer pitu likur![7] yang penting adalah keberanian untuk mencoba dan percaya diri. Karena dengan kepercayaan diri dan keberanian Islam pernah mengayomi lebih dari duapertiga dunia!
Seperti Umar bin Khothtob di awal keislamannya,”Ya Rosululloh, a lasnaa ‘ala haqq?!”[8]
Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi saya, dan pembaca sekalian. Wallohu ta’ala a’lam.


[1] Sebutan untuk kelas perkuliahan
[2]Kebiasaan untuk memanggil Dosen.  Karena semua pengajar di Al Azhar telah menyelesaikan doktoral.
[3] Sebutan untuk mahasiswi berkewarganegaraan selain Mesir.
[4] Rata-rata bahasa pengantar kuliah adalah bahasa Ammiyah.
[5] Kelas dengan susunan bangku memanjang dan bertingkat.
[6] Jawabanmu tidak benar.
[7] Salah itu nomor dua puluh tujuh.

[8] Wahai Rosululloh, bukankah kita di atas kebenaran?!

Wednesday, 14 November 2012

Aktif Sabar... hohoho (^_^)"?

bismillah

Malam ini aku jadi penanggung jawab pelatihan baca koran arab dari kekeluargaan. Tempatnya di Hay Tsamin. Selepas maghrib kita berangkat bersama dari sekretariat kekeluargaan. Di tengah-tengah pelatihan, handphone ku bergetar dalam kondisi “silent”. Niatku supaya tidak mengganggu konsentrasi saat materi di sampaikan.
Tapi di sela-sela pelatihan akhirnya tetap ku buka juga, tuntutan penasaran. Hehe.
Dan ternyata... nomor Indonesia! Nomor abi! Kayaknya aku dapat telephon dari Indonesia itu setahun yang lalu. Ketika aku baru sampai di bumi Kinanah. Selebihnya aku biasanya yang menelpon ke Indonesia setiap bulan. Karena biaya telepon lewat internet di sini relatif lebih murah.
Huwa.. rasanya pengen nangis deh... tadi telepon itu nggak aku angkat. Hiks. Sedih pokoknya deh...
Setelah itu pulang ke asrama. Sambil menunggu bus 80 coret, aku teringat mafrum alias daging giling calon pentol bakso di freezer. Waduh, di dapur nggak ada merica. Jadilah aku menyeberang jalan yang terpisah rel tua menuju athoroh yang menjual obat-obatan dan bumbu dapur.
Ini pentol bakso yg akhirnya berhasil saya buat d bantu seorang teman. dengan mengandalkan resep dari seorang senior masisir. edisi perdana bs di bilang "mumtaz" lho... ^_^

Jam setengah sembilan tepat, akhirnya kami dapat bus. Berharap dapat sampai asrama tepat pukul sembilan, sehingga tidak terlambat. Ternyata takdir berkata lain. Sedikit kemacetan, dan kami sampai asrama pukul 9 lebih 20. Karena security asrama saat itu orangnya disiplin, kami masuk daftar terlambat deh. Hiks.
Melihat Aula kecil asrama, aku teringat ujian Dauroh LUghoh yang ku lewatkan. Padahal sebelum libur Idul Adha, semua acara aku cancel demi ikut dauroh ini lho. Sampai-sampai tadi sore teman dari Belgica menelponku dan bertanya alasan absenku. Hiks lagi deh
Naik tangga ke lantai tiga, menoleh ke kanan, lihat Mesin cuci. Teringat cucian baju yang menumpuk. Kapan ada waktu sela untuk mencuci ya? Hiks
Menoleh ke kiri, melihat dapur. Ingat mafrum lagi. Kapan ya, ada waktu buat bikin baksonya? Hiks
Sampai di kamar, buka pintu. Teman sekamarku sudah tidur. Aku melihat netbook merah kesayanganku di bawah. Teringat tugas buletin yang belum ku kerjakan. Deadline nya besok. O..ow! alamat begadang nih. Hiks
Sekilas melihat notebook kertas berisi jadwal kegiatan harianku, seharusnya malam ini belajar untuk pelajaran esok hari. Harus dikorbankan deh. hiks.
Teringat esok hari –seharusnya- mulai setor tahfidz bersama teman. Tapi malam ini tak bisa murojaah. Aduh... hiks
Akhirnya ngelembur tugas buletin. E... ketiduran. Bangun-bangun meggigil kedinginan karena mulai masuk musim dingin. Brr... selepas sholat, melihat jam. Masih tersisa 40 menit sebelum adzan shubuh. Kuputuskan untuk masak sahur. Lumayan lah, ada ayam dan sayuran, bisa dibuat sop.
Sambil merebus air di hitter. Kayaknya dari kemarin aku sedikit banget minum air putih... nyambi selesaikan tugas buletin juga. Sambil bolak-balik kamar-dapur, akhirnya sup untuk sahur selesai juga. Tara!
Aku kembali melihat jam di handphone, kyaaaa!
Dua menit lagi adzan!
Aku coba makan kilat, sambil kepanasan karena kuah sop yang panas. Huaaah...
“Allohu akbar-Allohu akbar!...”
Yah.. lumayanlah tiga sendok sahur. Lha... minumnya? Hadoh, lupa deh. seret. Padahal dari semalam, cita-citaku adalah minum air putih. Hiks
Selamat datang pagi.. kita mulai aktifitas lagi!
Ala kulli hal, alhamdulillah! Betul2?

Wednesday, 24 October 2012

MARAH is JUNUN

bismillah



Malam ini, aku sedikit merenung, berkontemplasi. Sebelumnya, maaf saja kalau aku banyak menulis tentang diriku, yang tentu bias saja berbeda dengan anda atau orang lain.
Tentang amarah, emosi, temperamen, entah apa sebutan lainnya yang mewakili. Dalam kondisi marah, entah itu marah pada keadaan, orang lain atau bahkan diri sendiri –aku menyebutnya ‘penyesalan’. Apa yang terjadi dalam otakku adalah kebekuan. Ya, otak yang serasa membeku sehingga menghambat jalannya pikiran yang sebelumnya mengalir lancer.
Dalam keadaaan seperti itu pula, setan-setan terasa berkelebatan mengitari setiap gerak, pandangan dan perasaan. Mereka seolah membisikkan segala yang berbau apatisme dan kerusakan. Jadi, apapun bias terjadi. Aku bahkan bias menghamburkan sekian LE untuk hal yang remeh temeh. Aku bias mengitari Cairo dengan membuang biaya dan waktu tanpa berpikir panjang. Pun aku bias melampiaskan pada orang yang saat itu telah berbuat baik padaku.
Itu mengapa aku setuju.sangat. dengan peryataan bahwa orang yang marah itu ‘junun’, gila! Dan setelah semua itu terjadi. Ketika benak semakin mencair, meleleh, pikiran berjalan lancer kembali, yang terjadi adalah penyesalan.
Maka, aku tak seirama dengan mereka yang mengatakan bahwa ‘menyembunyikan kemarahan’ –khususnya- terhadap orang lain adalah ‘ketidakjujuran’. Justru sebaliknya, semisal aku marah dengan seseorang, dan aku cukup sadar bahwa jika kutampakkan kemarahan dan kebencianku padanya, maka nantinya aku akan menyesal. Karena aku tak ingin itu terjadi, aku memilih untuk diam.
Bukan berarti aku munafik. Dan jangan artikan sikap itu sebagai ketidakjujuran. Justru itu adalah berpikir lebih panjang. Karena aku cukup sadar bahwa segala tindakan yang kulakukan ketika ‘marah’  adalah ‘gila’. Maka aku lebih memilih untuk diam. Menunggu otakku untuk mencair.
Karena seringkali, jika aku membenci seseorang karena kesalahannya, dan suatu hari aku menemukan kebaikan darinya. Tumbuhlah penyesalan karena pernah membencinya. Dan penyesalan itu sakit, kawan. Buatku. Entah untukmu.