Thursday, 9 May 2013

Titisan Hawa...

bismillah
Hanya sebuah curahan hati. Yang jika terus-menerus saya pedam hanya akan bertumpuk seperti gunung berapi bawah laut. Sekali meledak, BUM!!!


Wanita, wani ing tata.
“kerata basa” atau “jarawa dhosok” di atas adalah salah satu yang masih melekat dalam ikatan saya sedari SD dalam pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa. Kurang lebih berarti: wanita itu berani dalam menata. Dengan kata lain, wanita itu lebih berani dan tertuntut dalam hal manajemen. Mengatur segala keperluan hidup, terutama dalam berumah tangga. Mulai dari keuangan, tata letak hingga kebersihan rumah dan keluarga.di sini wanita lebih “berani” alias lebih “menguasai” dibanding –siapa lagi kalau bukan- pria.
Di sini saya tidak ingin menggebyah uyah(generalisir), namun hanya sedikit berbicara mengenai apa yang selama ini coba saya petik dari pengalaman dan lingkungan sekitar. Ya, mengenai wanita. Banyak yang bilang kalau kaum hawa adalah mahluk yang unik, terkadang saya heran juga, kaum adam juga punya keunikan dalam banyak hal kok (hihi). Namun lihat saja di deretan rak toko buku, biasanya terdapat rak khusus berisi buku-buku tentang wanita. Namun hampir tidak pernah saya jumpai rak buku “khusus pria”, padahal bukan berarti buku-buku selain “wanita” itu tertuju untuk kaum adam saja lho. aha! Entahlah, membahas wanita memang selalu menarik karena akan selalu ditemukan sisi unik yang tidak terduga, bahkan terkadang oleh wanita itu sendiri.
Sedari kecil saya selalu bermain dengan kedua saudara lelaki saya. Bahkan satu-satunya teman bermain adalah tetangga kami, lelaki anak Lurah di pelosok desa Wonogiri. Secara tidak sadar, itu cukup berpengaruh pada kepribadian saya. Pertama kali terasa ketika nilai bermain “pasaran” saya nol besar dibanding teman-teman perempuan lain. Rasa iri itu selalu hadir. Terutama ketika melihat kawan-kawan perempuan bermain loncat tali dan membongkar pasang gambar boneka beserta aksesoris baju, tas dan segala tetek bengeknya. saya hanya bisa menonton. Bahkan berkomentar pun segan.
Lho.. kok malah ngelantur ke sini ya?
Intinya bahwa seiring berjalannya waktu, naluri “wanita” itu tidak akan pernah meninggalkan diri anda, selama anda adalah seorang wanita. Betapapun seringnya saya terkungkung oleh permainan anak laki-laki, toh melihat kawan perempuan menjadikan saya “iri”. Begitu pula saat menginjak masa-masa puber dengan berpikir bahwa menjadi cewek ‘tomboy’ itu ‘keren’, ternyata hm.. no..no..no.. semakin saya beranjak dewasa, semakin saya menyadari betapa indah dan mulianya menjadi seorang wanita muslimah.
Meski seringkali naluri-naluri itu tumbuh dengan lambat dan diiringi keterpaksaan, bahkan cemoohan. Bukan berarti bahwa saya sok’nyewek’ begitu. Tapi yakin sajalah, semua bisa dipelajari dan diterapkan seiring proses kedewasaan itu dijalani.
Masih sangat segar dalam ingatan. Ketika itu, di pesantren. Ummi menjenguk saya di kamar bersama seorang tetangga saya, ibu-ibu paruh baya dengan latar belakang keluarga Nasrani. Saya adalah ketua kamar sekaligus pemimpin Rayon asrama kompek I. saya akui memang, kamar kami lebih sering berantakan dibanding ‘rapi’nya (tapi bukan jorok lho ya). Hari itu saya menemui mereka di kamar depan, tepatnya ruang sidang. Jika biasanya tiap malam kami menyidang adik-adik, hari itu serasa saya yang disidang oleh Ummi dan tetangga saya.
“Bagaimana bisa santriwati kamarnya berantakan begini?” wew, Ibu itu memang wataknya tidak suka basa-basi,”Kamu tahu, Nun... Di asrama suster-suster gereja yang seringkali aku datangi, kamar mereka bersih-bersiiiiiih semua. Rapi!”
Hari itu rasanya bukan oksigen yang saya hirup, melainkan ribuan jarum yang menancap dan mencabik hati nurani saya.
Saya juga ingat betul  setiap kali menuruni tangga sekolah pesantren, ada khot berwarna biru langit yang tertulis pada dinding bercat hijau toska, tepat di atas taman dengan rerumputan hijau muda, “Innalloha jamilun yuhibbul jamaal”. Itu yang menjadi motivasi dan tuntutan bagi saya untuk selalu menjaga kebersihan, keindahan dan kerapian.
Mungkin bukan hal yang ‘waw’ bagi banyak orang, bahkan “itu sih sudah lazimnya begitu”. Namun di sini saya melihat bahwa salah satu naluri saya sebagai seorang wanita yang “wani ing tata” itu muncul dengan proses. Bukan bawaan atau ‘bakat’ tertentu. Yang mana proses itu ditempa dengan kebiasaan. Dari kebiasaan itu melahirkan sebuah karakter yang tanpa sadar mendorong kita kembali menyadari akan ‘naluri’ yang –sebenarnya- tidak pernah meninggalkan kita.
Maka jika ada yang sesekali berkomentar bahwa “kamu tuh, nyewek banget sih!” ketika seorang wanita bersikap lembut, rapi, bersih dan gemulai (tapi bukan dandan menor lho ya..)Oh...no! itu fitrah! Jangan heran jika kaum hawa ini seringkali membawa tisu, mengelap tempat duduk sebelum memakainya, begidik melihat penampilan pria yang ‘acak-acakan’ bahkan sensitif pada bau asap “ahlul hisap” (ha.. yang terakhir ini semoga bukan saya aja ya..).


Barangkali tidak semua wanita begitu. Hal yang tidak bisa saya sangkal. Meski sifat dan naluri yang ‘keibuan’ itu –sekali lagi- tidak akan meninggalkannya. Naluri itu hanya menunggu waktu di saat yang tepat untuk dapat dilihat dan dirasakan eksistensinya. Saya percaya itu.
Maka berteman dan berinteraksi dengan kawan yang sedikit jauh dari ‘naluri’nya, bagi sebagian mungkin menjadi beban. Terlebih jika kawan itu adalah rekan kerja atau orang yang mau tak mau harus menjadi partner sehari-hari. Yah, dalam sebuah kebersamaan, bagi wanita dengan naluri kebersihan dan kerapian yang lebih tinggi akan dirugikan. Memang hanya kawan anda yang terkadang hmm, berantakan. Tapi toh ternyata anda kena impasnya bukan?
Hal yang pernah saya alami, (atau jangan-jangan kawan saya alami?! Hadeuh...maaf deh) dan itu mnjadi sebuah beban yang terlihat sepele, namun menyesakkan. Sampai seringkali saya berpikir bahwa otak kanan kawan saya dulu itu lebih dominan, sedang saya lebih pada otak kiri. Di mana menginginkan segala sesuatu ‘kembali’ ke tempat asalnya dengan tertib, rapi dan indah. Tentu berbeda dengannya yang ‘asal’ taruh dan inginnya bergerak cepat. Sedang saya lebih sering berpikir lebih lama agar pekerjaan penataan lebih ‘perfect’.
Sering sangat saya harus menghela napas, mengurut kesabaran dan mencoba berpikir bahwa ini merupakan masalah sepele karena perbedaan cara berpikir saja. Lalu, Bagaimana pula jika kelak, ternyata pasangan hidup saya (ehe.. uhuk!) memiliki pola pikir sepertinya –kontras dengan saya-. Itu yang selama ini menjadi benteng saya untuk bersabar, meski ternyata pada suatu waktu. Saya tidak tersadar bahwa semuanya tiba-tiba menjadi titik klimaks yang ugh.. saya harus menyesal karena menangis sesenggukan seperti anak kecil (asli.. seperti anak TK yang tak tahu malu...)
(nah lho,,, ngelantur lagi sih?)
Sebetulnya ini melenceng dari apa yang tadinya ingin saya tulis. Namun sepertinya saya memang lebih sering terjajah oleh plot dalam pikiran saya. Jadi... ya sudahlah. Setidaknya satu titik beban berhasil saya buang dari hati ini. Semoga tidak lagi menjadi ganjalan dan bermanfaat untuk kita semua. Selamat imtihan termin II, bit taufiq wan najah... ^_^

Madinah AlBuuts AlIslamiyah,
Cairo, 10/5/2013

Thursday, 25 April 2013

Jalan-Jalan -lagi-

bismillah

Hari ini amazing kumpul, menjelang imtihan, sekaligus setelah banyak kesibukan dan kepulangan pak ketua. Jika dibilang capek, rasanya cukup sulit untuk berkata tidak.
Mulai dari pagi hingga menjelang dhuhur, amazing banat sudah gotong-royong masak  lauk.beuh.. capek lah intinya. Tapi yah.. alhamdulillah semua bisa terobati dengan acara-acara fun yang dikemas dalam bentuk games oleh para tim kreatif.
Alhamdulillah bus 926 langsung muncul –yah, ndak lebih dari 15 menit lah kita nunggu-, cabut deh ke Tahrir. Kita turun di Opera. Lalu jalan dikit deh ke pintu hadiqoh jaziroh. Cukup 3 Le untuk masuknya. Yah, harga standar sih, cuman kalau di banding tahun lalu, naik 1 Le lah.
Awalnya kawan2 banin khususnya yg belum pernah pergi ke hadiqoh ini pada bengong. Jelas sekali di wajah mereka tertulis,”Ini hadiqoh ni?”
Sampai saat ada yang bertanya, “ini hadiqoh? Gak ada tumbuhannya?”
Saya langsung jawab,”iya, memang begini seperti yang saya bilang. Sederhana.”
Nggak heran juga sih. Karena suasananya lumayan berbeda dengan setahun yang lalu di mana tidak ada restoran kecuali dalam kapal di tepi hadiqoh. Namun hari ini sudah banyak seperangkat meja kursi yang tertata hampir di setiap jengkal hadiqoh. Jadinya tak lagi nyaman untuk kumpul2 lah.
Tapi akhirnya pilihan tempat kumpul jadinya di bawah jembatan gitu lah. Miris sih, sedikit. But... musti di syukuri tah?
Saya sempat bertegur sapa dengan satu keluarga berkebangsaan Suriah. Subhanalloh... mereka mengungsi ke Mesir, sudah sekitar 5 bulan. Bahkan anaknya bersekolah di ma’had fatayat dekat asrama saya. Ia cukup kaget ketika saya katakan bahwa seorang saudara saya masih bertahan di Damaskus, ibu kota Suriah. Dan ketika saya bertanya tentang gosip bahwa “Pak Kumis” –maksudnya Bassar Assad itu lho- sudah mati, ia segera menengadahkan dua tangannya ke langit seraya berdoa agar ia benar-benar dibinasakan.
Hanya pertemuan singkat itu.
Selanjutnya, makan-makan –yummy-...
Lalu seorang kawan “mentraktir” kami untuk naik kapal melintasi sungai nil selama kurang lebih 30 menit. Hampir sekitar 20an orang lah kapal tu muatnya. Nah di sini lah saya mulai heran dengan diri saya sendiri.
Yang dari semalam meriang –biasa.. awal flu bgitulah-...hingga sore pun masih meriang sikit-sikit lah... e.. berfoto-foto ria di atas perahu kok ya semua rasa pegal tu hilang. Virus narsis ebih kuat sepertinya ya... hihi


Yah.. wah akhir capek-capek deh seharian ni. Kami harus menyebrangi jembatan hingga mencapai stasiun metro Sadat. Transit di Attaba, lalu menuju Abdou Basha.. Lalu jalan lagi –huwa... asli capek bangeeeeeet- sampai asrama...
e.. Ammu mahmud yang jaga... Ammu yang hapal silsilah keluarga dari pihak laki-laki hingga 14 keturunan ini,  wajahnya bijaksana gitu deh.. sesuai dengan sifat ramahnya... jadinya kami tidak perlu menullis nama di buku “hitam” atas keterlambatan kami.
Maturnuwun Ammu Mahmud Mamduh Mahmud...
Aih.. udah bingung mau nulias apa lagi.... semoga refreshing kali ini berbarokah dan menambah semangat buat menghadapi imtihan termin 2. Najjihna ya Rabb...
Allohumma Aamiin.

Tuesday, 16 April 2013

APA AJA, asal BeTe hilang :p

bismillah

“Setiap masalah, ada foldernya masing-masing.”
Itu nasehat singkat seorang kawan dekat aku, kira-kira setahun yag lalu.  Jadi tempatkan masalah sesuai foldernya, sehingga tidak berimbas pada hal lain. Misalnya, ketika itu aku sedang bertarung dengan birokrasi asrama yang ruwet dan njelimet, wajar jika aku marah dan sebal. Namun rasa marah dan sebal itu jangan sampai dilimpahkan pada kuliah dan belajar.
Nah, rasanya saat ini aku harus menerapkan nasehat kawan dekatku itu. Ya... ditengah-tengah setumpuk tugas dan kewajiban yang tak kunjung usai hingga menjelang imtihan termin 2 ini. Ku rasa tidak ada salahnya menulis sejenak dalam rangka meredakan emosi yang campur aduk. (hedeh...)
Yah, begini saja. Perasaan sial, marah, sebal, kecewa, menyesal, semua terasa bercampur dan berbenturan tak beraturan dalam pikiran. Bolehlah menikmatinya sejenak. Hm, 5 menit cukupkah? Oke lah, bisa ditolerir sampai satu jam. Menangis, boleh? Silakan...
Nah, sekarang tiba saatnya masa pembekuan. Dinginkan otak, pikiran, perasaan dan kelakuan. Lho, mengapa dengan kelakuan? Tentu saja, kau tahu, orang marah itu sedang junun! Jadi pastikan jangan berbuat apapun saat perasaan dan emosi yang masih di atas garis batas normal itu meraja. Orang mau mencaci, berkomentar atau sak polah tingkah mereka, biarkan! Jangan marah, jangan ditanggapi, jangan berbuat apapun. Ssttt... diam.
Maaf Nabil... aq gemes asli ama pipi embem-mu
Ketika mulai dingin, pejamkan mata, ambil semua perasaan yang menggalaukan itu tadi. Kumpulkan. Anggap itu semua bagai kertas coretan yang “gagal”, remaslah sekuat tenaga. Remas lagi, hingga kusut tak beraturan, genggam dengan tangan hingga sekecil mungkin. Lalu dengan sekuat tenaga, hantamkan ke sebuah dinding besar dalam imajinasimu. Look!
Ia terjatuh dan menggelinding kembali ke arahku. Yak, injak! Bug bug bug! Lalu tendang dengan kaki! Dan, yup. Masuk tong sampah. Bye bye...
Setidaknya aku berusaha berbuat macam tu..
Saat pikiran sedang tidak karuan begini. Dimulai dari dini hari, aku tidak percaya dengan hari sial. Namun aku harus mengakui bahwa dini hari tadi aku telah memulai hari dengan sebuah mimpi buruk. Tentang kawan-kawan yang mencaci dan memainkan kelemahanku dalam kepemimpinan. aku akui, aku bukan tipe seorang pemimpin. Leadership itu.. beuh, bukan aku banget. Setidaknya begitu faktanya. Ragu-ragu, kurang tanggap, bekerja sesuai mood dan tidak pandai membaca keadaan, itu pula yang seringkali melahirkan keputusan yang salah (menurutku), tentu ini berimbas pula pada ketidaknyamanan kawan-kawan. Entahlah, semua bilang bahwa ini keluarga di tanah rantau, tapi buatku justru semakin hari semakin menjadi beban. Setiap kali berkumpul, aku tidak merasa apa yang sebagian mereka rasakan. Kedamaian, keharmonisan. Ugh! Maaf aku harus jujur.
Setiap kali mendapat cobaan, aku selalu teringat pada nasehat Abi, bahwa jika hari itu kau mendapat musibah, ketahuilah bahwa sebelumnya kau telah melakukan kesalahan yang hmm.. vatal. Mungkin aku menemukan kesalahan itu, mungkin tidak. Tapi ku rasa yang juga berat adalah untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Suatu ketika mungkin aku pernah mencelamu atau mengatakan bahwa kau terlalu ceroboh. Dan entah berapa waktu berselang dan perasaanku menjadi was-was dan akhirnya aku harus menyesal telah mengatakannya padamu. Karena aku telah melakukan kesalahan yang sama. Karma? Entahlah. Yang jelas Alloh ta’ala Maha Adil.
Dan... sore ini. Ya Rabb... pikiran ini masih kacau. Bukan perkara besar, tapi justru terkadang perkara yang sempat memutus harapan dan impian duniawi itu pun menyesakkan. Terlebih hasil keringatku itu melayang dalam sekejap. Apa karena aku riya? Semoga tidak. Kalaupun iya, tolong maafkan aku, Rabbi...
Huft, yang jelas, menulis begini sedikit mengobati. Dari pada berderai air mata, ya tho? (haha, alay!) masih berharap bahwa kali ini –mengutip sahabat curatku dari pesantren dulu- aku salah menekan tombol “pause” dan bukan “game over”. Ya Rabb...

Saturday, 23 March 2013

Dari Mulut ke Kritik

bismillah


Kisah ini saya dengar dari Kiai sepuh di pesantren, saat saya berada di kelas 5 KMI. Terlepas dari benar tidaknya kisah yang beliau tuturkan saat taushiyah pekanan di depan masjid ini, Kiai yang acapkali berbicara dengan bahasa Inggris ini ingin menyampaikan sebuah pesan moral,”Mulutmu, harimaumu”
Alkisah seorang pengemudi mobil yang melintas di jalan, tiba-tiba mobilnya di seruduk oleh mobil lain. Segera ia turun dan melihat ada bagian mobilnya yang lecet. Keadaan itu ia manfaatkan untuk memeras Si penabrak, “Hey, kamu harus bayar mahal untuk lecet di mobilku!”
“Saya minta maaf,Pak. Beribu maaf,” Ujar Si penabrak tulus.
Bukannya melunak pengemudi itu semakin memeras Si penabrak,”Maaf..maaf.. harusnya kamu bertanggungjawab, kalau perlu kamu ganti mobilku ini dengan yang baru!”
“Baiklah, mari ikut saya ke bengkel, Pak.” Ujar Si penabrak.
Sampai di bengkel, pengemudi itu masih saja membentak-bentak Si penabrak. Namun ia heran karena para pegawai bengkel begitu hormat dengan Si penabrak. Maka ia bertanya pada salah seorang pegawai bengkel, tentang siapa sebenarnya Si penabrak.
“Maksud anda, orang yang menyuruh kami memperbaiki mobil anda?”
“Ya,” jawab pengemudi tadi.
“Dia adalah bos kami, pemilik bengkel ini, juga pemilik pabrik perusahaan mobil Ford.” Jawab pegawai itu jujur.
Pengemudi itu malu sekali saat Henry Ford muncul, dan meminta maaf atas sikap kasar dan berbalik menghormati pemilik perusahaan mobil Ford itu.
Cerita selesai. Dari kisah itu, Kiai saya mengambil sebuah hikmah yang cukup masyhur, “mulutmu, harimaumu”.
Benar bahwa perkataan yang meluncur dari lisan harus terkontrol, jika tidak ia akan benar-benar menjadi bumerang bagi yang mengatakannya. Di era informasi saat ini, hal itu tidak perlu pembuktian lagi. Kesalahan kata sedikit saja bisa menghantarkan anda ke jeruji besi, lebih lagi jika dikatakan di depan khalayak pers oleh seorang tokoh terkenal.
Jika setiap kata-kata yang keluar dari mulut bersumber dari lisan. Kita posisikan sebagai muqaddimah sughro, dan “mulutmu, harimaumu” sebagai muqoddimah kubro, akan lahir sebuah natijah,”Lisanmu, harimaumu”. Seandainya kita andaikan opini publik sebagai ‘mulut’, dan ‘lisan’nya adalah media, maka kesimpulannya adalah penyamaan antara harimau dan media.
Ya, media sebagai corong opini publik sejatinya berada di posisi yang mengkhawatirkan ini. kesalahan dalam pemberitaan bisa berakibat fatal. Dengan satu artikel, bisa menarik jurnalis ke penjara. Dengan satu paragraf bisa membuat buletin ditarik dari peredaran.
 Karena media tak bisa lepas dari perannya yang menggiring opini masyarakat ke arah tertentu. Tentu ini sudah jadi rahasia umum. Di balik opini dan pemberitaan yang dituangkan sang jurnalis dalam media, tentu bisa sejalan dengan pemikiran oknum tertentu, atau bisa juga berbalik 180 derajat. maka di sini terbuka sebuah jalan bagi oknum yang tidak sepakat untuk membuka arena kritik sebagai balasan.
Kritik dan balasan atas suatu opini yang menyesatkan harus dilancarkan, namun –dalam hemat penulis- dengan cara yang semestinya, tanpa harus ada kedholiman. Perang opini yang sehat akan melahirkan pemikiran-pemikiran segar yang mencerahkan. Bahkan sebuah teori filsafat selalu hadir dari budaya kritik penciptanya. Seperti Anaximandros yang mengkritisi buah pikir gurunya, Thales yang menganggap asal mula segala sesuatu dari air. Selanjutnya Anaximenes mengkritisi dua sesepuhnya. Dan begitu seterusnya hingga munculnya Rene Decartes, John Lock, David Hume. Sebuah teori filsafat baru terdorong lahirnya dari budaya kritik.
Tulisan ini pasti banyak kekurangan di sana sini, namun yang sebenarnya ingin penulis ajak, adalah menghidupkan budaya kritik yang sehat. Utamanya kita sebagai insan akademis, kesadaran untuk mengkritisi itu sudah menjadi hal yang wajib dan lumrah.
Penulis sendiri merasa cukup jauh dari ajakannya. Namun semua tidak akan terjadi jika tidak dimulai dari hal yang paling kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai sekarang juga!
Mari kita hidupkan budaya kritik yang sehat dan membangun!


                                                                       Madinah Al Buuts Al Islamiyah, 23:32
23/3/2013

Sunday, 3 March 2013

Kakek Renta dalam Bus 65


bismillah


Suatu siang di tengah perjalanan menuju Hay-Asyir. Begitu keluar asrama aku dan seorang kawan langsung bertemu bus yang cukup legendaris. Bukan /80. Tapi bus ini lebih jarang, bahkan aku cukup jarang menemukan versi merahnya yang megah dan elegan. Lebih sering lagi kutemui versi hijau, yang meski sudah tua renta, penuh goresan di sana sini dan melaju dengan napas tersendat, bahkan si Rois –yang juga sudah sepuh- harus menyalakan mesin tiap melaju pelan, namun satu hal yang menurutku cukup menakjubkan. Automatic door yang masih berfungsi baik. Wow, subhanalloh! Ini lah bus 65 yang sangat antik!
Tapi terik siang itu mengantarkan takdirku untuk bertemu 65 dengan versi merahnya. Sebetulnya ini adalah kesempatan yang jarang terjadi. Bus ini seperti seorang borjuis yang memendam gengsi lebih dari liang kuburnya sendiri. Orang biasa bilang, “saat dinanti tak mau kemari, saat tak diminati ia pamer diri”. Dan siang itu aku adalah orang paling pantas untuk mengucapkannya.
Beberapa bulan terakhir, aku memang meluangkan banyak waktu untuk pergi ke Wisma Nusantara di kawasan Rob’ah. Tak hanya kesibukan di PMIK, tapi markas lama buletin Terobosan kembali aktif digunakan atau terancam digusur dengan paksa. Jadilah jadwal kunjunganku ke Wisma lebih padat di banding sebelumnya. Memang agak dekat dengan kuliah, namun jika pergi dari asrama atau dari Hay Asyir menuju Rob’ah, tentu dibutuhkan kocek lebih, bahkan dua kali lipat biasanya. Bukan karena letaknya dua kali lipat jauh dari jarak rata-rata. Tapi karena jangkauan sarana transportasi dengan harga mahasiswa yang cukup jarang. Terlebih ketika waktu beranjak petang, semakin lah rasa letih dan was-was menerbu. Bus dan tramco semakin jarang! Sebetulnya ada satu solusi yang paling jitu, tapi untuk mendapatkannya juga harus berjudi dengan takdir dan waktu. Apa itu? Bus 65!
Kembali pada siang itu. Bus sampai kawasan Maulin. Seorang kakek renta dengan dua mata tertutup –yang nampaknya sangat sulit dibuka- dituntun seorang pria paruh baya. Bus 65 berhenti untuk waktu yang tidak singkat. Ya, untuk menaiki 3 anak tangga itu, tentu kakek itu membutuhkan waktu dan tenaga lebih dari pemuda biasa. Mataku mengikutinya dari balik jendela dalam perut bus yang cukup sesak. Hingga akhirnya ia menghilang tertutup pintu bus dan penumpang yag berdesakan. Ekor mataku masih menelisik, selanjutnya aku mencoba menerka. Di antara sekian penumpang, laki-laki, perempuan, tua, paruh baya dan usia muda. Mana di antara mereka yang lebih dulu meninggalkan kursinya untuk mempersilakan kakek tua itu untuk duduk.
Sekian menit berlalu. Kakek itu tiba-tiba berada satu setengah meter dari tempat berdiriku. Satu tangannya memegang erat besi pegangan bus. Nampaknya aku salah menyimpulkan bahwa semua penumpang yang berwajah Arab itu telah kehilangan nuraninya. Kakek itu berjalan, dengan pegangan yang semakin erat. Dengan sangat lambat, amat sangat. Ia mengganti pegangan bus, dari satu kursi ke kursi yang lain. Itu adalah pertarungan antara keseimbangan dan sisa tenaga di pucuk usianya, dengan hentakan bus yang terus terjadi sesuai arah jalan dan kepadatan pengguna jalan.
Aku baru sadar ternyata kakek itu membawa segenggam kutaib yang memiliki judul sama. Surat Yasin. Kebanyakan orang bilang, yang seperti itu adalah pengemis. Tapi bagiku tidak, ini adalah satu hal yang perlu dicatat dengan tinta hitam pekat dalam setiap kamus hidup setiap bangsa. Bahkan di usia senjanya, ia tak mau sekadar meminta.
Aku semakin takjub manakala kakek itu membuang keras logam senilai satu Pound dari tangannya yang diberikan seorang pemuda, karena ia tidak mengambil “surat Yasin” dari tangannya. “Ambil ini...hei.. ambil ini!” Ujarnya dengan keras sebelum akhirnya logam itu terpental nyaring di atas lantai bus 65. Seorang pemuda bergegas mengambilnya dan menyerahkan lagi pada kakek itu, kali ini ia mengambil surat Yasin itu. Tahukah, ia adalah seorang kakek yang tak mau disebut sebagai pengemis. Karena ia bukan pengemis, mungkin lebih tepat pedagang, karena ia tidak mau sekadar menerima pemberian orang yang mengkasihaninya, tanpa ada yang harus merasakan manfaat dari kehadirannya.
Dan sebaiknya anda tahu, perbandingan harga diri seorang kakek renta yang tak mau sekedar “take” tanpa “give” dengan pejabat koruptor di negeri kita, lebih lagi, bisa kah membandingkannya dengan diri kita?
Mari muhasabah diri.
                                                                             Wisma Nusantara, 5th floor
                                                                             Cairo, 03/03/13

Friday, 8 February 2013

DIARY VALENTINE (peristiwa 10 tahun lalu)

bismillah

Aku bukan orang yang percaya diri kecuali “terpaksa”!
Akan tetapi banyak “keterpaksaan” yang membuatku begitu berani. Bahkan terkadang terhitung sebagai keberanian yang serampangan. Penuh keegoisan. Terlebih masa-masa bangku Sekolah Dasar. Siapa yang menyangka, anak perempuan yang melewati masa kanaknya di pelosok ndeso Wonogiri ini. Berani berkelahi dengan murid laki-laki paling badung di kelasnya. Atau menyeret kerah baju murid laki-laki yang membuat kericuhan di kelas. Bahkan menentang teori guru tentang fungsi gurat sisi pada ikan!
Dan pagi itu, aku yang duduk di kelas 6 sebuah SD Negeri di ujung Utara Solo, menjadi pemimpin upacara. Kebetulan pembina upacara yang menyampaikan pidato adalah guru agama Kristen di sekolah. Di awal pidato, beliau langsung mengingatkan murid-murid akan Hari Valentine yang telah berlalu. Memang saat itu telah melewati separuh bulan Februari. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang pentingnya kasih sayang kepada semua orang. Terkhusus pada hari Valentine.
Ini sedikit membuatku terkejut. Karena beberapa hari sebelumnya, aku membuat kegemparan di kelas.
Ya. Memasuki awal februari, aku menemukan selembar kertas HVS berwarna di rumah. Bukan sekedar kertas kosong. Melainkan sebuah artikel tentang asal usul hari Valentine dan sebab dilarangnya merayakan hari tersebut. Itu adalah awal mula aku tahu tentang apa itu hari Valentine yang sering dirayakan muda mudi yang berpacaran. Sekaligus mengetahui bahwa terdapat larangan untuk merayakannya.
Setelah sering membaca artikel serupa. Di masa berikutnya aku sedikit mengamati bahwa biasanya artikel semacam itu berisi tentang sejarah seorang Pendeta yang bla..bla..bla.. maka tidak aku singgung di sini.
Selesai membacanya, aku pergi ke Ummi untuk mengkonfirmasi kebenaran artikel itu, sekaligus meminta ijin Ummi untuk mengcopy-nya. Satu hal yang kupikirkan saat itu,”teman-teman dan sahabat terdekatku harus tahu akan hal ini!”
Sudah bisa ditebak apa respon teman-teman sekelas.
Mereka menentangku! Tidak hanya satu orang, tapi seisi kelas!
Bahkan teman-teman yang biasanya dekat denganku, berbalik memusuhiku. Hanya satu orang sahabat terdekatku yang berusaha bersikap netral. Meskipun dia tetap keukeuh dan merayakan hari Valentine bersama teman-teman yang lain.
Kau tahu, selama beberapa hari aku tersudut di pojok kelas. Beberapa kali mendapat komentar sinis. Tidak ada yang kurasakan dalam kelas kecuali “panas”. Wew, bermusuhan dengan satu orang saja sudah membuatku was-was. Entahlah, hingga saat ini aku begitu membenci permusuhan. Dada serasa menyempit dan bernapas serasa menghirup gas beracun. Tapi saat itu pukulan terberatku adalah, dimusuhi seisi kelas!
Aku masih ingat, saat itu teman –yang sebelumnya dekat denganku- mengirim sebuah surat balasan atas artikel yang kuberikan padanya. Kau tahu apa isinya?
“Nun, ajaran kita berbeda. Kamu Muhammadiyah dan aku NU. Maka kamu nggak berhak melarang aku buat merayakan Valentine!”
Ya, itu jawaban seorang murid polos. Kalau sekarang, mungkin aku akan meledeknya,”ye... kagak nyambung kali...”
Yang jelas saat itu aku berontak dalam hati. Lha wong aku ndak pernah ngikut-ngikut Muhammadiyah atau NU... mulai dari TK juga ndak pernah sekolah di Muhammadiyah atau NU. E.. bisa-bisanya dia menuduhku begitu!
Mengingat peristiwa itu... membuatku tersenyum geli. Bahkan aku tak menyangka, bahwa aku begitu “lancang”nya menentang seisi kelas. Meski akhirnya mereka tetap merayakannya dan telingaku sangat panas saat seorang teman dekatku maju ke depan kelas dengan sebungkus plastik hitam besar,”siapa yang mau tukeran coklat sama aku?!”
Masih dalam episode Valentine.
Seorang murid laki-laki –yang suka membuntutiku sejak kelas 4 SD dan pernah mempermalukanku dengan menyanyi gombal untukku di depan kelas (hedeh!)- ia duduk pada dua baris bangku di depanku. Selepas istirahat, ia sesekali menoleh ke arahku dengan senyuman aneh. Aku yang merasa risih dengannya, segera berkemas ketika bel akhir pelajaran berdering.
Saat membereskan laci meja, tanganku meraba sesuatu. Ku keluarkan.
Coklat!
Aku menghela napas dengan batin remuk redam. Sekilas ku lihat teman laki-laki itu tersenyum padaku. Aku merasa muak dan segera beranjak keluar kelas.
Hari itu, mungkin aku kalah.
Namun aku tak akan pernah menyerah.


In syaalloh. Biidznillah.



    Cairo, Madinah al Buuts al Islamiyah 2013

Saturday, 17 November 2012

Ahlan bik, PMIK!

bismillah

Berbeda dengan lingkungan masisir yang lain.
Ketika awal saya bergabung dengan PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo), apa yang saya jumpai sungguh mengejutkan. Mengingatkan saya pada pondok pesantren yang begitu disiplin dalam banyak hal. Baik dari segi ibadah maupun muamalah.

Jika di komunitas lain, masisir membiasakan sholat berjamaah bukan sebagai prioritas utama. Di sini tidak! Biasanya terdapat asap rokok (yang amat sangat saya benci sekali), o... jangan harap anda menemukannya di PMIK. Ya, di sini saya jumpai fenomena lain (kecuali almamater lho ya, alumnus Ngruki orangnya hanif-hanif deh!). sholat di awal waktu, tidak ada bising musik jahiliy, hubungan ikhwan akhwat yang terjaga (meski dalam pandangan saya, hal ini masih terlalu bebas, setidaknya berbeda lah dengan komunitas dan organisasi lainnya), hingga disiplin waktu. Bener-bener deh, pengen rasanya manjat ke lantai lima supaya tiap kumpul bisa on time..
Beberapa pesan senior PMIK saat upgrading kemarin dengan tema,”lintas generasi, lintas kreasi”, untuk benar-benar memanfaatkan segala apa yang ada di PMIK. Baik itu fasilitas maupun komunitas yang ada. Karena tidak setiap anggota PMIK mampu menjadi seorang PMIKers sejati. Hal itu pula yang menjadikan banyak senior yang begitu betah bertahun-tahun bergabung dengan Perpustakaan yang kini berada di bawah naungan Wisma Nusantara.
Jika biasanya orang-orang menggunakan motivasi “keluar dari zona nyaman, dan pergilah ke hataman badai agar menjadi pribadi yang tangguh”, maka pesan senior berdarah Sunda ini justru sedikit berbalik. “Kalau ada fasilitas nyaman yang bisa dimanfaatkan, gunakan saja untuk membentuk pribadi tangguh”. Itu karena fasilitas di PMIK begitu lengkap dan memadai. Mulai dari ruangan berAC hingga peralatan rumah tangga, semua ada.
Satu hal lagi yang saya jumpai di PMIK, yaitu selera humor anggotanya. Sehingga membuat saya yang masih “gress” tidak merasakan suasana yang begitu kaku. Tentu dengan joke-joke ringan bermutu dan tidak over seperti halnya yang sering saya temui di komunitas masisir lain.
Selepas upgrading, saya yang ditugaskan di Binadata (Bidang Pengadaan dan Pendataan Bahan Pustaka) langsung praktek menghadapi pendataan buku-buku yang baru masuk perpustakaan. Mulai dari cara menyetampel buku, menulis no inventaris dan no seri, hingga komputerisasi. Nah, saya dapat bagian mengurusi buku-buku berbahasa Arab bersama seorang mahasiswa Aceh. Sedang dua teman asrama lain dapat bagian buku-buku berbahasa Indonesia dan Inggris serta tesis dan majalah.
Saya di ajak ta’aruf dengan koleksi buku berbahasa Arab yang memiliki 6 rak. Di jelaskan tentang bagian penempatan sampai anjuran mencatat buku yang sering dicari pengunjung, agar nantinya menjadi masukan bagi PMIK untuk membeli buku tersebut ketika ada Pameran Buku.
“Nanti sering-sering aja keliling rak pakai kursi jalan, sambil lihat-lihat letak buku.” Pesan seorang senior Binadata.
‘ala kulli hal, kesan pertama di PMIK begitu menggoda. Selanjutnya...kita lihat saja nanti!
Allohumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an.