Labels
memory bumi kinanah
(46)
mimpi
(31)
renungan
(30)
rehat
(22)
mesir
(17)
beasiswa al azhar
(15)
IIP
(14)
Ibu Profesional Level 8 Tantangan 10 Hari
(11)
Bunsay
(9)
info
(9)
Komukasi produktif
(8)
Melatih Kemandirian
(8)
hijrah
(6)
fiksi
(5)
alazhar
(4)
hadis
(4)
kajian
(4)
pemudihijrah
(4)
haji
(3)
haji masisir
(3)
haji muda
(3)
selfreminder
(3)
temus
(3)
universitas alazhar
(3)
2019
(2)
Haji 2019
(2)
Ibu Profesional
(2)
for things to change I must change first
(1)
gaza
(1)
ibuprofesional
(1)
melatih
(1)
nisfu syaban
(1)
Wednesday, 9 April 2014
Sunday, 6 April 2014
thanks
bismillah
Selepas lulus dari pesantren,
saya tak lagi berhasrat punya sahabat dekat
tak ingin berkawan karib,
apalagi saling mengetahui curahan hati,
terlebih berinteraksi dengan intens 24 jam
semua saya kubur,
meski naluri 'cerewet' ala wanita sesekali bocor juga
tapi jujur,
saya tak ingin punya kawan dekat,
baik perempuan atau kaum adam,
(entah kalau candaan saya ditafsirkan 'kedekatan')
apa?
bukan kenapa.
saya tak ingin menyiksa kawan,
tak ingin buatnya menderita,
karena kebusukan-kebusukan saya
semakin kami dekat,
semakin ia tahu busuk pribadi saya
makin ia sadari kontrasnya 'in' dan 'out'
makin ia tahu saya bagai kedondong
mulus di luar, menusuk di dalam
walau bagaimanapun,
terimakasih,
untuk semua orang yang terpaksa berada di sekelilingku
untuk cinta, sayang, ukhuwah dan segalanya...
#bukan sedang galau, hanya mencoba bangkit dari pribadi yang inferior
Selepas lulus dari pesantren,
saya tak lagi berhasrat punya sahabat dekat
tak ingin berkawan karib,
apalagi saling mengetahui curahan hati,
terlebih berinteraksi dengan intens 24 jam
semua saya kubur,
meski naluri 'cerewet' ala wanita sesekali bocor juga
tapi jujur,
saya tak ingin punya kawan dekat,
baik perempuan atau kaum adam,
(entah kalau candaan saya ditafsirkan 'kedekatan')
apa?
bukan kenapa.
saya tak ingin menyiksa kawan,
tak ingin buatnya menderita,
karena kebusukan-kebusukan saya
semakin kami dekat,
semakin ia tahu busuk pribadi saya
makin ia sadari kontrasnya 'in' dan 'out'
makin ia tahu saya bagai kedondong
mulus di luar, menusuk di dalam
walau bagaimanapun,
terimakasih,
untuk semua orang yang terpaksa berada di sekelilingku
untuk cinta, sayang, ukhuwah dan segalanya...
#bukan sedang galau, hanya mencoba bangkit dari pribadi yang inferior
Thursday, 27 March 2014
Dari Tepi Kairo
bismillah
Tidak lagi
menawan.
| source: landtarget.blogspot.com |
Apa yang ku
lihat setiap hari telah menjadi rutinitas yang tak lagi menggairahkan. Asrama
mahasiswi di kawasan Abbaseya yang cukup jauh dari pusat dinamika masisir di
Madinah Nasr. Buatku jarak yang hampir sama dengan Solo-Klaten ini sudah tidak
lagi jauh. Berbeda dengan mahasiswa di madinah Nasr yang ketika harus ke
Abbaseya selalu menggerutu, “Jauhnya...”.
Begitu pula
pemandangan yang wajib aku temui setiap hari. Pekuburan Duwaiqah, Nadi Sikkah, Hay Sadis hingga seterusnya tak
ubahnya slide film dokumenter yang setiap hari diputar lewat jendela bus pemerintah.
Goresan dan lekukan tak berseni yang menyombongkan ketangguhan setiap mobil di Kairo tak lagi menarik perhatianku. Tidak jauh berbeda dengan papan reklame
yang selalu ku tatap dari jarak seratus meter dalam bus, setiap kali melintas
di kawasan Hay Sadis.
Di papan
reklame itu terlukis dan tertulis suatu paradoks. Senyum polos gembira sengaja
disorot close-up dari mimik seorang anak kecil di foto itu. Di bawahnya
huruf-huruf berbaris rapi dan bersuara, Undang-Undang Perlindungan Anak. Layar iklan
yang warnanya telah usang dan terpojok oleh pohon-pohong menjulang serta
keramaian Eltramco itu menertawakan pandanganku.
Seorang anak yang tak pernah kubayangkan dapat
tersenyum ceria seperti yang terpampamg dalam iklan menarik perhatianku, ia
naik ke dalam bus dengan bawaan plastik besar yang diseret dua tangan mungilnya.
Sementara sang bunda yang bertubuh gempal berusaha duduk di atas kursi yang
lebarnya hanya setengah besar tubuhnya. Bahasa tubuh bocah di hadapanku ini
dapat jelas diterjemahkan,”Mama, ini berat”
Bus melewati
kawasan Hay Tsamin. Siang hari yang menyengat. Masing-masing merayap dalam
irama klakson bersahutan. Siapa lagi yang mau peduli? Dengan polusi suara
begitu pun tak ada yang mau ambil pusing. Pejalan kaki tetap menyeberang jalan
seenaknya. Begitu pula polisi lalu lintas dengan bedak debu mix asap
polusi hanya peduli dengan kapan kendaraan harus berhenti atau berjalan.
Tugasnya hanya itu.
Bertambah satu
anak yang mengalami nasib serupa tadi. Baru saja ia menaiki tangga bus dengan
tergopoh-gopoh. Gadis kecil. Ibunya duduk manis dan sibuk berbicara dengan
handphone nokia layar kuning yang terselip antara pasmina dan pipinya. Aku
tersenyum pada bocah 6 tahunan yang tak berkedip memandangku. Orang asing.
Sudah kugeser dan kusisakan space untuknya duduk bersamaku, tapi kepalanya segera
menggeleng seperti mesin otomatis.
| source: cairogizadailyphoto.blogspot.com |
Birrul
walidain. Komentar salah seorang kawan suatu ketika. “Makanya, anak kecil
harus mengalah demi orang tua.” Lanjutnya. Memang nampak perbedaan yang sangat
kontras dengan kultur masyarakat Indonesia. Di Mesir, seorang anak tidak
dipandang lemah. Maka orang tua tidak perlu menggendong anak yang masih belajar
berjalan dan terseok. Tidak perlu khawatir untuk tidak menggandeng anak kecil
di jalanan ramai, meski beresiko tertabrak mobil yang melintas dengan
ugal-ugalan. Juga tidak perlu ragu untuk menampar dan memukul kepalanya
keras-keras di depan umum saat berbuat salah menurut orang tua. Bagi warga
asing di Kairo,terkhusus orang-orang Melayu, tentu mereka menganggap anak-anak
Mesir hidup tanpa kasih sayang. Namun mungkin bagi sebagian besar orang Mesir, wafidin
yang berkulit sawo matang itulah yang terlalu dimanja sejak kanak-kanaknya.
Handphoneku bergetar. “Kamu sudah
sampai mana, ya habibty?” Pertanyaan di seberang membuat ekor mataku
menembus jendela.
“Sudah dekat arba’
wannus, ablah.” Jawabku. Mengapa mahattah terakhir di Tabba ini
disebut begitu? Empat setengah? Belum tentu setiap penduduk yang lalu lalang di
sini tahu jawabannya.
Senyum pasrahku
bergelayut. Aku harus merelakan sepatu yang baru kemarin kucuci menapak becek
tanah selepas turun bus. Beberapa kali aku harus berjingkat dan mengangkat rok
sedikit untuk menghindari beberapa genangan air dan sampah basah yang menebar
bau tak sedap.
Ini hanya
permulaan! Aku menyemangati diri.
Menjadi relawan
di salah satu kawasan pojok Cairo ini sudah menjadi keputusanku. Kalau sudah
begitu, artinya tidak boleh ada kata mengeluh. Mengajar anak TK di tempat
terpencil, bagi anak-anak yang terlahir dari orang tua kelas bawah. Siapa sudi?
Aku sendiri mengiyakan tawaran ini karena ingin meraup pengalaman. Adapun
beberapa puluh pounds sebagai gaji setiap bulan, anggap saja menambah uang
jajan.
![]() |
| source: greensimon.com |
Bila diukur
dengan kacamata materi, aku yakin tak kan ada yang bilang sepadan. Terlebih
harus melewati jalanan becek tak beraspal, penuh sampah dan anjing-anjing penuh
kudis berseliweran. Sesekali menggonggong, berkejaran atau mengais-ngais
sampah. Bukan salah penglihatan jika jarang sekali ditemukan orang-orang
berpakaian klimis, berjas dan tidak berwajah garang. Tidak heran -entah benar
atau tidak- sebagian kawan bilang ini kampungnya para maling dan penjahat. Maka
harga sewa syaqqah bisa lebih murah. Meski begitu, tidak sedikit warga
asing yang tinggal di Tabba. Indonesia dan China misalnya.
Ablah Gheda
menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih
dahulu sampai. Hari pertama, tentu saja
perkenalan.
“Ini Ablah
Rani.” Ablah Gheda menunjukku.
bersambung...
NB: dimuat dalam buletin Terobosan edisi 360
Monday, 24 March 2014
Memori Ustadz Abu Bakar Baasyir
bismillah
Pagi ini, mata kuliah pertama
Tafsir Maudhu’i. Dukturah Hindiyah, pernah mengajar kami di tingkat pertama.
Kali ini tema yang kami bahas, jihad. Tema yang saya tunggu-tunggu sejak
pertama menapak kaki di Al-Azhar. Bagaimana mauqif wasathi yang akan diajarkan,
setidaknya itu yang ingin saya bandingkan dari fakta pembelajaran di pesantren
dulu.
Why? Ini tema yang cukup sering
diperbincangkan dan seringkali terjadi perselisihan dalam cabang dan
praktiknya. Setidaknya, pada awal mula lulus pesantren, saya lebih banyak
memasang “tameng” untuk menghindari pupusnya semangat dan nilai yang telah
ditanamkan sejak di pesantren. Terlebih setelah mendengar pernyataan seorang
Ustadz senior di pondok modern kami, “Ngruki terkenal karena akidahnya!”
Maksudnya, rata-rata alumni yang
lulus dari pesantren terkenal dengan akidahnya yang kuat, atau bisa dibilang
‘militan’.
Bukan berarti saya fanatik lalu
menganggap semua yang berbeda dengan ajaran di pesantren adalah salah. Yang
jelas pagi tadi saya dapat beberapa pencerahan ketika mengikuti muhadhoroh Dr.
Hindiyah.
Dari keseluruhan pembahasan di
kelas, ada satu poin yang membuat saya berkontemplasi sejenak. Tepatnya ketika
membahas level pertama-dari empat level- dalam masalah jihad era Rasulullah
SAW. Saat itu Rasulullah SAW masih berada di Mekah, di mana perintah jihad
belum diturunkan. Sementara beberapa sahabat menginginkan adanya perlawanan
balik. Mereka tertindas, mereka dizalimi Quraisy!
Tetapi Rasulullah SAW tidak
terburu-buru mengamini keinginan muslimin saat itu, melainkan terus memotivasi
sahabat untuk bersabar menghadapi ujian dan siksaan. Sembari menunggu wahyu
dari Allah Swt.
Di sini kemudian Sayyid Qutb
menjelaskan mengenai sebab-sebab dan hikmah tersembunyi di balik perintah bagi
muslimin untuk tetap bersabar. Sebab atau hikmah pertama yang dikutip adalah
pembelajaran bagi ummat Islam untuk bersabar. Apakah berhenti pada level
‘sabar’ semata? Tidak!
Di dalam kesabaran itu juga ada
yang harus dilakukan, selain pembentukan kepribadian untuk menjadi muslim yang ‘tangguh’
menghadapi bencana, juga ada i’dad alias persiapan. Persiapan di sini
lebih terfokus pada individu, personal tiap muslimin. Sungguh terdapat
perencanaan besar yang-kalau boleh saya bilang- diprakarsai oleh Rasulullah
SAW, untuk masa depan ummat Islam. Kesabaran mereka –radhiallahu ‘anhum- bukan
semata diam menunggu tanpa rencana dan target untuk masa yang jauh ke depan.
Lalu hal ini saya kaitkan dengan
perjuangan dakwah Ustadz Abu Bakar Baasyir. Dahulu saya sempat bingung.
Ketika-misalnya- terlempar tuduhan beliau mendanai pelatihan militer di Aceh.
Beliau tidak lantas menyalahkan, memaki dan mencaci mereka. Tetapi sebatas
menolak tuduhan pendanaan tersebut dilakukan oleh beliau. Anehnya, beliau juga
mengeluarkan statement bahwa tidak ada yang salah dengan i’dad.
Saat itu saya bertanya-tanya,
mengapa beliau harus mengeluarkan pernyataan seperti itu? Tidak hanya pada
tuduhan ini, namun begitu juga pada kasus-kasus lain yang justru dengan
statement tersebut semakin memojokkan posisi beliau-di mata mereka yang telah
menjatuhkan stigma teroris pada beliau-?
Di sini saya menyadari, bahwa
beliau yang selalu tersenyum ramah meski dituduh dan digempur berbagai fitnah,
tidak menyetujui adanya praktik lapangan –saya sebut jihad offensif- di
Indonesia. Sudah berkali-kali dalam ceramah dan taushiyah yang beliau sampaikan
–dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri- beliau katakan bahwa penerapan
jihad offensif di Indonesia tidaklah tepat. Mengapa? Indonesia negeri damai,
bukan darul harb!
Kendati demikian, beliau mengambil
langkah berbeda dengan mereka yang menggunakan segala macam cara untuk
menghapus-secara halus- esensi jihad di dalam Islam. Ustadz Abu Bakar Baasyir,
tetap berjalan dalam jalur dakwah yang beliau tempuh. Tidak peduli dengan
stigma fundamentalis, teroris, Islam garis keras dan sebagainya, yang
dialamatkan padanya. Karena,-bagi beliau- apa yang benar harus disampaikan. Apa
yang sejatinya merupakan ajaran Islam, tidak akan beliau tutup-tutupi kendati
harus dituduh teroris dll. Tentu berbeda dengan ‘mereka’ yang takut mendapat
stigma negatif dari ‘luar’, lalu pontang-panting mencari dalil dan berbagai
alasan untuk memelintirkan esensi Islam, baik sebagian maupun keseluruhan.
Dan lagi, saya teringat dengan isi
taushiyah beliau yang selalu mewanti-wanti kami untuk tidak taklid buta dan
wajib mengatakan suatu kebenaran dengan argumen yang kuat, sekalipun terhadap
guru kita sendiri. Namun tidak lupa, beliau juga menyuruh untuk
berhati-hati,setinggi apapun gelar keilmuwan yang diperoleh, hal itu tidak berarti
apa-apa jika tidak diamalkan sesuai ajaran Islam.
Di sini lagi-lagi saya belajar,
bahwa kesabaran beliau melihat berbagai penyimpangan, tidak berarti harus diam
dan tidak melakukan apa-apa. Keberanian beliau untuk menyampaikan kebenaran
adalah sesuatu yang sangat dibenci sekaligus ditakuti oleh musuh.
Saya tidak mengkultuskan Ustadz
Abu Bakar Baasyir, meskipun sering bertatap muka dalam kajian-kajian rutin
beliau di pesantren. Sebagaimana pesan beliau pula, jika suatu ketika saya
mendapati kesalahan dalam diri beliau, tentu saya akan mengatakan bahwa itu
salah, dan tidak mencari dan memelintir dalil untuk membenarkannya.
Maka, Ustadz Abu, tetaplah
bersabar dalam dakwah yang engkau jalani. Kami, santri-santrimu, akan terus
mendukung dan mendoakan kebaikan.
Allohummanshur ikhwanana
almuslimin wa almujahidin fi kulli makan. Allohumma Amin.
Kairo,
memasuki awal semi
24 Maret 2014
Tuesday, 18 February 2014
Al-Azhar untuk Islam
bismillah
Di bawah ini, adalah terjemah artikel saya, yang dimuat dalam buletin الطيف edisi bulan Februari ^_^
Seiring berjalannya waktu, bertambah pula
jumlah pelajar di al Azhar, baik dari seluruh penjuru Mesir maupun di luar
Mesir. Hingga dibuatlah peraturan Ruwaq yang dibentuk pada masa daulah Mamalik
Bahriyah dan Syarakisah. Setiap pelajar diberi ruwaq khusus sesuai daerah
masing-masing. Nampak jelas kemurahan hati al Azhar dan komitmen institusi ini
dalam mendorong pelajarnya untuk menuntut ilmu. Tidak hanya dibebaskan dari
biaya belajar, para pelajar juga dibebaskan untuk tinggal selama masa belajar,
diberi uang saku bulanan dan juga diterapkan pemberian makanan pokok. Yang mana
pendanaannya ditanggung oleh donatur tetap dan juga hasil wakaf yang khusus
untuk membiayai al Azhar. Hal ini terus berlangsung pada masa dinasti Utsmani,
lalu berlanjut pada masa berkuasanya Muhammad Ali Pasha, hingga pada tahun 1954
Dewan Kementrian Mesir menetapkan pembangunan asrama khusus mahasiswa asing al
Azhar sebagai ganti dari sistem Ruwaq yang ada. Awalnya asrama ini bernama
Madinah Nashir lil Buuts al Islamiyah, lalu berganti menjadi Madinah al Buuts
al Islamiyah yang masih ada hingga saat ini. Tidak terhitung betapa besarnya
kontribusi al Azhar dalam menyokong pembelajaran bagi mahasiswa asing sejak
satu milenium lamanya.
Berbicara al Azhar, tidak akan terlepas dari
prinsip yang dipegang teguh oleh institusi pendidikan ini, yaitu moderatisme. Mantan
Mufti Mesir, DR Nasr Farid membenarkan soal keterkaitan moderatisme Al Azhar
dengan ketidakberpihakannya dalam aliran atau partai politik tertentu, menjadi
salah satu pilar eksistensi Al Azhar. “Karena moderat di sini berarti prinsip
untuk menghindari fanatisme dan mengikuti aliran politik tertentu.” Lebih
lanjut beliau mengatakan bahwa Islam posisinya lebih tinggi dari politik. Meski
begitu Islam tidak terlepas dari politik, baik secara umum maupun khusus. Tetap
ada korelasi antara keduanya, di mana Islam menjelaskan metode syar’i yang shahih
dalam politik syar’i untuk mengatur rakyat dan negara sesuai al Quran dan
Sunnah untuk kemaslahatan bersama.
Hal ini cukup mengherankan, karena pernyataan
yang merendahkan al Azhar tersebut keluar dari mereka yang mengaku telah
belajar bertahun-tahun di bawah al azhar. Di manakah akhlaq seorang murid
ketika menghina dan menjelek-jelekkan sekolah dan gurunya? Nampaknya ia tidak
memahami akan hakekat asli sebuah institusi pendidikan dengan tugas utamanya
sebagai fasilitator pengajaran dan pembelajaran. Ibarat sebuah media dan alat
yang dapat memberi manfaat bagi pengguna sesuai apa yang ia butuhkan.
Mengkambing hitamkannya adalah sebuah kesalahan, sebagaimana kebodohan tukang
kayu yang menyalahkan palu dan kapak karena hasil kerjanya yang tidak memuaskan.
Di bawah ini, adalah terjemah artikel saya, yang dimuat dalam buletin الطيف edisi bulan Februari ^_^
Pada awal didirikannya, al Azhar menjadi tempat
pembelajaran mazhab Syiah saja, tepatnya Syiah Ismailiyah. Yang mana mazhab
tersebut terkenal dalam mengkultuskan ahlul bait secara berlebihan. Hingga
datanglah masa Shalahuddin al Ayyubi, lalu ia merubah pembelajaran di al Azhar
menjadi berbasis Sunni. Selain karena belum adanya sekolah yang mengajarkan
Sunni saat itu, pendirian sekolah-sekolah Sunni juga bertujuan untuk mengikis
pengaruh Syiah yang masih mencengkeram erat, sisa dari pengaruh Dinasti
Fathimiyah yang berkuasa sebelumnya.
Shalahuddin yang menganut mazhab Syafii, tidak
hanya mendirikan sekolah-sekolah Sunni yang mengajarkan mazhab Syafii saja,
tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan 3 mazhab fiqih lain yang
terkenal dalam Sunni. Yaitu mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali. Saat itu al Azhar
menjadi salah satu masjid dan sekolah yang terkenal karena di dalamnya terdapat
pembelajaran 4 mazhab tersebut, berbeda dengan sekolah lain yang mayoritas
hanya mengajarkan satu atau dua mazhab saja. Demikianlah gambaran singkat
perjalanan al Azhar sebagai institusi pendidikan yang tetap mempertahankan
fungsinya sebagai media pembelajaran sarjana muslim, meski harus merasakan
gejolak politik yang berpengaruh besar dalam perpindahan penguasa Mesir dan
khususnya Kairo saat itu.
Seiring berjalannya waktu, bertambah pula
jumlah pelajar di al Azhar, baik dari seluruh penjuru Mesir maupun di luar
Mesir. Hingga dibuatlah peraturan Ruwaq yang dibentuk pada masa daulah Mamalik
Bahriyah dan Syarakisah. Setiap pelajar diberi ruwaq khusus sesuai daerah
masing-masing. Nampak jelas kemurahan hati al Azhar dan komitmen institusi ini
dalam mendorong pelajarnya untuk menuntut ilmu. Tidak hanya dibebaskan dari
biaya belajar, para pelajar juga dibebaskan untuk tinggal selama masa belajar,
diberi uang saku bulanan dan juga diterapkan pemberian makanan pokok. Yang mana
pendanaannya ditanggung oleh donatur tetap dan juga hasil wakaf yang khusus
untuk membiayai al Azhar. Hal ini terus berlangsung pada masa dinasti Utsmani,
lalu berlanjut pada masa berkuasanya Muhammad Ali Pasha, hingga pada tahun 1954
Dewan Kementrian Mesir menetapkan pembangunan asrama khusus mahasiswa asing al
Azhar sebagai ganti dari sistem Ruwaq yang ada. Awalnya asrama ini bernama
Madinah Nashir lil Buuts al Islamiyah, lalu berganti menjadi Madinah al Buuts
al Islamiyah yang masih ada hingga saat ini. Tidak terhitung betapa besarnya
kontribusi al Azhar dalam menyokong pembelajaran bagi mahasiswa asing sejak
satu milenium lamanya.
Berbicara al Azhar, tidak akan terlepas dari
prinsip yang dipegang teguh oleh institusi pendidikan ini, yaitu moderatisme. Mantan
Mufti Mesir, DR Nasr Farid membenarkan soal keterkaitan moderatisme Al Azhar
dengan ketidakberpihakannya dalam aliran atau partai politik tertentu, menjadi
salah satu pilar eksistensi Al Azhar. “Karena moderat di sini berarti prinsip
untuk menghindari fanatisme dan mengikuti aliran politik tertentu.” Lebih
lanjut beliau mengatakan bahwa Islam posisinya lebih tinggi dari politik. Meski
begitu Islam tidak terlepas dari politik, baik secara umum maupun khusus. Tetap
ada korelasi antara keduanya, di mana Islam menjelaskan metode syar’i yang shahih
dalam politik syar’i untuk mengatur rakyat dan negara sesuai al Quran dan
Sunnah untuk kemaslahatan bersama.
Adapun dalam masa pergolakan politik yang
tengah melanda negeri Mesir saat ini, al Azhar pun turut terkena imbasnya. Institusi
pendidikan yang pada dasarnya netral ini pada akhirnya nama besarnya ikut
diseret dalam arena perpolitikan. Padahal munculnya aliran dan perpecahan
politik tersebut tidak seharusnya serta merta dikaitkan dengan institusi
pendidikan manapun. Karena tugas utama yang diemban dari sebuah institusi
pendidikan adalah sebagai fasilitator kegiatan pembelajaran di dalamnya.
Sementara perilaku dan keputusan pribadi tidak selayaknya mewakili institusi
tersebut. Di tengah carut marut perpolitikan negeri ini, muncul pula
oknum-oknum yang mengaku mantan mahasiswa al Azhar namun menjatuhkan dan
menghina institusi pendidikan ini. Tidak hanya itu, dalam sebuah media cetak lokal
dimuat beberapa tulisan oknum yang memandang rendah al Azhar, dikatakan bahwa
institusi ini seperti kakek renta yang berhenti di tengah persimpangan jalan.
Al azhar tidak mampu melahirkan pembelajaran agama yang membawa pada pembaharuan,
tidak pula pengajaran ilmu-ilmu umum seperti kedokteran, farmasi dan lain-lain
sebagaimana universitas lainnya.
Hal ini cukup mengherankan, karena pernyataan
yang merendahkan al Azhar tersebut keluar dari mereka yang mengaku telah
belajar bertahun-tahun di bawah al azhar. Di manakah akhlaq seorang murid
ketika menghina dan menjelek-jelekkan sekolah dan gurunya? Nampaknya ia tidak
memahami akan hakekat asli sebuah institusi pendidikan dengan tugas utamanya
sebagai fasilitator pengajaran dan pembelajaran. Ibarat sebuah media dan alat
yang dapat memberi manfaat bagi pengguna sesuai apa yang ia butuhkan.
Mengkambing hitamkannya adalah sebuah kesalahan, sebagaimana kebodohan tukang
kayu yang menyalahkan palu dan kapak karena hasil kerjanya yang tidak memuaskan.
Lewat sejarah, telah terbukti besarnya peran al
Azhar di segala lini kehidupan. Dalam kancah perpolitikan misalnya, tidak dapat
diperhitungkan perjuangan ulama dan pelajarnya dalam perjuangan menumpas
penjajahan di bumi Mesir. Di sisi lain peran al Azhar dalam menyokong
pembelajaran ilmiyah tidak dapat dipandang sebelah mata, tidak hanya di Mesir
namun ke seluruh penjuru dunia serta tokoh-tokoh yang dilahirkannya. Salah satu
contoh bagaimana lembaga ini membawa pembaharuan, adalah pembentukan perundang-undangan
di dalamnya dalam beberapa kurun waktu pada akhir abad 19. Di mana saat itu
diwakili oleh Muhammad Abduh dengan pembaharuan yang ia bawa dan melahirkan
ketentuan dimasukkan pembelajaran ilmu-ilmu modern beserta metode yang
disesuaikan. Tidak mau tergilas jaman, pada tahun 1961 dibuatlah undang-Undang
yang memutuskan pendirian fakultas Kedokteran, Arsitek, Perindustrian dan
sebagainya yang hingga kini masih dapat terasa manfaat yang dihasilkannya.
Masih banyak peran al Azhar yang tak terhitung
jumlahnya sejak satu milenium berdirinya. Merupakan kesalahan besar merendahkan
dan memandang al Azhar dengan sebelah mata. Terlebih dilakukan oleh mereka yang
mengaku telah menimba ilmu di dalamnya.

Sekali lagi, al Azhar adalah fasilitator besar
bagi pembelajaran. Ia adalah wasilah yang dapat digunakan untuk menyebarkan
Islam melalui pengajaran berbasis al Quran dan Sunnah yang tidak akan terhapus
oleh zaman. Adapun konsep dan kurikulum di dalamnya merupakan bentuk dan
rancangan ulama dengan jerih payah mereka sebagai manusia yang tak akan mencapai
kata sempurna. Mereka telah berusaha agar konsep dan kurikulum yang
diberlakukan di dalamnya tidak jumud dan selaras dengan ajaran Islam. Sehingga
bila ada kekeliruan di dalamnya, tentu menjadi tanggung jawab ummat Islam
bersama-terkhusus alumninya- untuk memperbaiki, bukan menyalahkan dan
merendahkan.
Wallohu ta’ala a’lam
Thursday, 30 January 2014
Qa..na..tir..
bismillah
Qanatir,
Mendengar
cerita dari orang-orang yang pernah berwisata ke daerah itu, rata-rata komentar
mereka bernada penyesalan. Jelek, kotor dan yang cukup parah, “Di sana cuman
ada tai kuda!”
Kesan miring
saya terhadap daerah wisata tersebut bertambah manakala mendengar pengalaman
senior yang ‘terjebak’ oleh sarana transportasi air yang menghubungkan antara
Tahrir dan Qanatir. So, mungkin bisa dibilang wajar kalau niat saya ke sana ogah-ogahan.
Namun demi kawan-kawan marhalah, ngikut aja lah.
Bisa dibilang
marhalah Amazing kami ini yang paling sering kumpul-kumpul di banding marhalah
lain. Baik itu dalam rangka refreshing bersama pasca ujian, atau karena
momen-momen tertentu, seperti ulang tahun marhalah. Mungkin karena sesama anggota
yang sudah seperti keluarga. Ceile.. dan juga jumlah anggota yang bisa
dibilang proporsional. Tidak banyak dan tidak terlalu sedikit untuk mengadakan
acara bersama.
Pukul 10.00
pagi kami bertolak dari asrama menuju Tahrir dengan Metro. Dengan sekali
transit di Atabah, lalu berjalan menuju terminal Abdul Mun’in Riyadh. Dari sana
naik tramco menuju Qanatir. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar 40
menit. Memakan waktu yang tidak jauh berbeda dengan perahu, kata guide amatir
kami, hehe.

Turun di dekat
jembatan, dalam hati saya membenarkan kata guide yang tak lebih kawan sendiri
itu. Dinamakan Qanatir (Jembatan-jembatan) karena di daerah ini terdapat
seperti bendungan (lebih tepatnya pintu air) yang membendung air sungai Nil
dengan jumlahnya yang banyak. Di bangun oleh Inggris dengan corak arsitek Eropa
(saya lihat salah satu mesin di pintu air, memang tertulis buatan London).
Perjalanan selanjutnya
menuju salah satu hadiqah dengan berjalan kaki. Akses jalan dua arah (di Cairo
rata-rata akses jalan satu arah) yang bisa dibilang cukup sempit dengan lalu
lalang truk, mobil dan sepeda motor mengejutkan saya yang menyebrang dengan
pertimbangan satu arah. Alhamdulillah masih bisa menghirup nafas hingga
detik ini.

Setelah melepas
lelah, karena kami berjalan cukup jauh sejak keberangkatan tadi, selanjutnya
diadakan perlombaan memancing. Terdapat anak sungi kecil di dalam hadiqah,
sehingga kami bisa menyewa alat pancing beserta umpan cacingnya (huhu...
geli banget lihat si dudah ni kloget-kloget ><) setiap grup beranggotakan
dua orang dengan satu pancing. Biarpun nggak menang, saya cukup puas lah
dengan mendapatkan satu ikan berukuran mini. Wkwk
Dua kawan
anggota Wihdah, pulang terlebih dahulu karena ada agenda. (belum merasakan
serunya khusnul khotimahnya lah. Kasihan deh.. :p)
Tidak terlalu
puas di hadiqah, kami putuskan untuk menyewa sepeda, berkeliling daerah
Qanatir. Berhubung sepeda-sepeda sewaan kurang match dengan kostum kaum
hawa, kami putuskan untuk naik delman saja. Sedang mayoritas kawan laki-laki
memilih untuk bersepeda.
Setelah
menunggu pak Kusir yang sholat Ashar, perjalanan dengan seekor kuda, (namanya
Bussy ^_^) dimulai. Sebetulnya kasihan juga dengan si Bussy yang menarik 7
orang dalam kereta kuda. Tapi ya... maafin
kita ya, Bussy... ><
Melewati Istana
Raja Faruq, kediaman Muhammad Ali Pasha, dan sejenak berhenti di depan pohon
beringin besar. Kusir kami mengatakan bahwa pohon tersebut telah berusia 220
tahun. (hoho, kalau di Indonesia mungkin sudah dikeramatkan, seperti beringin
di alun-alun Jogja dan Solo. Dan tambah seru kalau ada mbak Kunti yang action)
Mengitari komplek
istana dengan beberapa bangunan berbata merah dan dibingkai cat krem polos di
tiap tepinya, khas istana Faruq. Coraknya sama dengan istana Faruq yang pernah
saya kunjungi di Alexandria. Begitu pula corak taman istana yang hijau luas
dengan beragam pepohonan dan tanaman. Berbelok ke kiri, kawan-kawan yang
bersepeda bergabung dengan perjalanan kami. Di sisi kiri terdapat tembok
sekitar 3 meter, masih dengan gaya bata merah dan cat kremnya.
Di ujung jalan,
kami menuju arah kiri, melewati satu gerbang yang hampir sama bentuknya dengan
beberapa gerbang di beberapa jalan lain. Sampai di awal jembatan kami berbelok
ke kanan. Si Bussy mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik kereta kami di atas
jalanan yang tak lagi mulus. Jembatan (sekaligus pintu air) tadi, adalah
jembatan Muhammad Ali Pasha, terang Pak Kusir. Sekali lagi, khas Faruq dengan
bata merah yang menyusun tiap lengkung
jembatan dan warna krem polos pelengkap di tiap tepinya. Dari setiap jembatan
yang saya temui, yang paling panjang dan banyak pintu airnya adalah jembatan
pertama dari arah pemberhentian awal tramco tadi, ada 51 pintu air dengan mesin
buatan London yang awalnya kami kira adalah kereta.

Subhanalloh,
sebelah kiri kami anak sungai Nil, dan kanan kami adalah pertanian dengan
beragam tanaman dan bunga. Dari warna warni bunga dalam pot-pot kecil, saya
hanya mengenali beberapa. Yasmin dan lavender, ada juga pohon pinus kecil yang
kata teman saya mirip pohon Gharqat (wkwk).
Dan... TARAA!
Kami berhenti
di tepi sungai yang airnya mengalir cukup jernih. Tidak seperti sungai nil yang
selama ini saya jumpai, anak sungai ini cukup berbatu. Seperti “kali” kalau di ndeso-ndeso
itu lah.
Makanya kami exited banget. Alhamdulillah Ya Allah... masih
bisa merasakan indahnya alam seperti ini. Di tambah beberapa bangau berdiri
angkuh pada beberapa bebatuan dengan bulu putih dan kakinya yang kurus seperti
lidi yang menyangga kelapa (eh.. pas nggak sih majas-nya)
Makanya kami exited banget. Alhamdulillah Ya Allah... masih
bisa merasakan indahnya alam seperti ini. Di tambah beberapa bangau berdiri
angkuh pada beberapa bebatuan dengan bulu putih dan kakinya yang kurus seperti
lidi yang menyangga kelapa (eh.. pas nggak sih majas-nya)
Lumayan lupa
waktu saking senangnya, apalagi ada yang yang tak boleh terlewatkan, narsis
ria...
Ala kulli hal,
suasana yang saya dapatkan seperti di Tawangmangu. Hua.... daerah wisata yang
tidak hanya memamerkan keindahan dan kesejukan, namun sangat kuat menyimpan
kenangan bersama keluarga, sanak saudara dan kawan-kawan. Rindu saya sedikit
terobati di sini. Di tengah rasa ‘ingin pulang’ yang belum dapat terwujudkan, di
dalam puncak pertahanan untuk tidak bersua keluarga dan kawan-kawan lama, dalam
kesabaran untuk sesuatu yang disebut jarak. Di negeri yang jauhnya lintas benua
ini. Alhamdulillah...

Saya pun baru
ingat bahwa selepas ujian termin di musim dingin ini, belum sempat mengambil
jeda refreshing. Kecuali jika keliling International Bookfair masuk dalam
kategori refreshing (T_T). Dan yang tak kalah penting, kesan miring terhadap
Qanatir telah saya hapus. Semoga di lain waktu, saya bisa mampir ke ‘kali’ itu
lagi. Terima kasih, jazakumulloh khoiron untuk kawan2 semua, sekaligus maaf
telah menyebabkan sedikit ‘diskusi’ dengan pak Kusir tadi _/\_

Dan kini, kegiatan
mulai merayap padat, saatnya kembali
pada tugas yang menanti untuk diselesaikan. Ditemani segelas Nescafe Milk
racikan tangan saya. Selamat beraktifitas!
إِنَّ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(3:190)
Madinah alBuuts,
Cairo, 30 Januari 2014
Tuesday, 10 December 2013
Berduka untuk Mesir, Sepenggal Cerita di Musim Dingin
bismillah
Winter
semakin terasa. Meski begitu pagi ini saya paksakan diri berangkat kuliah lebih
awal. Jam pertama dimajukan, untuk mengejar materi sebelum ujian termin dua. Karena
di whatsapp tersiar kabar bahwa hari ini akan kembali terjadi demonstrasi. Kabarnya
kemarin ada dua mahasiswa yang terbunuh-innalillahi wa inna ilaihi roji’un- di
asrama mahasiswa Mesir al-Azhar. Maka pagi ini saya punya harapan lebih, semoga
bisa masuk kampus sebelum terjadi kerusuhan.
Namun harapan
tinggal harapan, Alloh ta’ala yang menentukan. Bus berputar melalui Anwar Sadat
karena jalan menuju Hay Sadis (lokasi asrama mahasiswa Mesir al-Azhar) macet. Saya
cukup bersyukur, karena itu berarti bisa langsung turun di depan gerbang masuk
kampus tanpa harus berjalan kaki. Sayangnya gerbang utama kampus sudah diblokir
massa. Petugas khozinah yang tadi naik minibus bersamaan dengan bus
saya, bisa masuk. Namun lebih dahulu mendapat pukulan dari perempuan-perempuan
yang berada di dekat gerbang. Entah siapa entah mengapa. Pun nampak beberapa
mahasiswi memanjat tembok pagar setinggi 2 meter.
Akhirnya saya
bertemu Marwa, teman Mesir yang masih satu kelas. Ia mengajak masuk melalui
gerbang lain. Tapi nihil, semua terkunci. Setidaknya selama perjalanan dalam
bus tadi, saya sudah melihat bahwa semua gerbang utama telah diblokir.
Seorang ibu-ibu
tambun ber-scraf merah tiba-tiba muncul dari kerumunan mahasiswi, seorang
laki-laki menuntunnya. Jelas bahwa ia nyaris pingsan. Namun harus menunggu
cukup lama hingga ada mobil yang bersedia membawanya pergi dari kerumunan
massa. MasyaAlloh.
Bersama kawan
lain, saya mengikuti gerombolan mahasiswi yang bertolak menuju gerbang Fakultas
Farmasi. Entahlah, hampir setiap orang berjalan tak tentu arah, datang dan
pergi begitu saja. Sementara ada teman yang memberitahu bahwa mereka berhasil
masuk kampus dengan cara meloncat lewat jendela pos keamanan. Tanpa pikir
panjang saya langsung bertekad, apapun yang terjadi, saya tidak akan masuk
kampus dengan cara meloncat. Harus dengan sopan dan secara ‘mahasiswa akademis’.
Hehe...
Alhamdulillah,
gerbang fak. Farmasi telah dibuka. Saya memasukinya tanpa berdesak-desakan. Lancar.
Hanya saja masih banyak gerombolan mahasiswa Mesir yang berkerumun di sekitar
gerbang. Hingga tidak jauh dari gerbang, seorang mahasiswi Mesir bercelana
hitam berteriak, wajahnya ditutup kain hitam sembari mengacungkan tongkat ia
nampak kalap dan sedikit menjadi pusat perhatian. Saya agak terkejut, tapi juga
sudah mewaspadai akan hal-hal semacam ini. Hanya beberapa detik kemudian ia
berlari menuju gerbang. Massa nampak kembali memadati gerbang yang barusan saya
lewati. Beberapa tongkat terayun ke atas, dan suana tampak mencekam diiringi
teriak histeris dari kerumunan itu. Saya berjalan cepat menjauhi gerbang. Tak begitu
lama, sirine ambulan menyala dan perlahan mengecil. Berkali-kali kami
istighfar.
Kampus mulai
ramai karena gerbang utama telah dibuka. Puluhan massa mengangkat tangan ke
atas dengan ibu jari dilipat “Rabea”, bercampur dengan massa pendukung Sisi
yang mengacungkan telunjuk dan jari tengah. Saya dan seorang kawan bergegas
melewati kerumunan itu dan langsung menuju kelas. Dua jam dari jadwal yang
direncanakan, baru kami bisa muhadhoroh dengan dosen. Sungguh sayang
karena dua mata kuliah yang seharusnya disampaikan dalam dua jam harus
disingkat menjadi tiga puluh menit. Saya kasihan dengan Dukturah Rotibah yang
sangat tergesa menyampaikan Takhrij dan Dirasat al-Asanid. Dukturah
Azza datang dan terpaksa materi kilat Dukturah Rotibah terpotong.
Selepas kelas
berakhir, seorang kawan Mesir maju ke depan. Di belakang meja dosen yang dibuat
lebih tinggi dari lantai kelas. Ia mengajak semua orang untuk berpartisipasi
dalam hamlah. Dengan berisghtifar seribu kali dalam sehari,”Apakah ini
berat untuk kalian?” tanyanya. Kami hanya tersenyum sembari mengiyakan. Juga sholat
fajar setiap qobla Shubuh, tahajud dan meminta pada Alloh ta’ala agar rof’ul
bala’ atas apa yang kini tengah terjadi. Juga agar satu sama lain memiliki
nomor telepon agar dapat saling mengingatkan.
Sebelum semua
beranjak pergi, Hagar-seorang kawan Mesir menghimbau semua untuk segera pulang
dan menghindari Madinah alias asrama mahasiswa Mesir al-Azhar karena
tengah terjadi demonstrasi di sana. Secepat mungkin kami pergi meninggalkan
kampus, beberapa pergi dengan setengah panik.
Cukup lama
hingga kami mendapat bus ke arah Darrasah. Sementara jalur bus ke arah itu
tentu harus melintasi tepat di depan gerbang Madinah. Sekitar dua ratus
meter dari gerbang asrama, jalanan menyepi. Mobil-mobil berputar haluan menuju
jalur lain. Beberapa mahasiswa meloncati tembok pagar asrama untuk dapat
keluar. Sementara banyak juga yang berada dalam asrama dan menatap jalanan dari
jendela kamar mereka. Semakin mendekati gerbang asrama, sopir bus beberapa kali
berteriak,”Tutup jendela! Akan ada gas air mata!” oenumoang yang berjejal dalam
bus menurut. Seratus meter dari gerbang asrama, tercium aroma aneh-saya belum
(semoga tidak pernah) mencium atau terkena gas air mata- udara nampak berkabut
putih, nampak pagar paku telah dipasang dan jalan berdebu, juga berserakan
pasir batu. Menunjukkan bekas adanya kerusuhan.
Bus terpaksa berputar
haluan. Kembali menuju kampus putri al-Azhar. Melewati ACC (al-Azhar Conference
Center), nampak ratusan demonstran telah memadati jalanan depan Majma
al-Buhuts. Kemacetan tak terhindarkan. Mustasyfa Ta’min dan sekitarnya mulai
macet total. Namun bus kami menuju Anwar Sadat. Alhamdulillah perjalanan lancar
hingga asrama Madinah al-Buuts al-Islamiyah, alias asrama mahasiswa
asing al-Azhar yang kami tempati.
Kira-kira
begitulah gambaran situasi Cairo saat ini, khususnya asrama dan kampus
mahasiswa al-Azhar. Hal ini patut disayangkan karena semua itu mengganggu
aktifitas perkuliahan, terlebih di saat menjelang ujian termin pertama yang
sebentar lagi digelar.
Kita sebagai
mahasiswa asing yang ‘bertamu’ dan ‘menumpang’ memang memiliki kewajiban utama
belajar, terlepas dari berbagai macam situasi politik yang memanas. Siapapun yang
memimpin negeri Kinanah, bagaimanapun kebijakan dalam dan luar negeri, hingga
perekonomiannya tidak perlu kita turut campur tangan. Tugas kita hanya satu,
belajar!
Benarkah itu
sikap seorang akademis sejati? Sesungguhnya saya cukup miris jika mendengar
komentar, “terserah mau bagaimana yang terjadi, yang penting kita-mahasiswa
asing- belajar saja!” Sejatinya kita tidak hanya melihat permasalahan dari
luarnya saja. Tidak ada musabbab kecuali didahului sebab.
Benar, tugas
utama sebagai mahasiswa adalah belajar, mengkaji, berdiskusi, talaqqi dan
bebagai aktifitas akademis lainnya. namun saya tidak akan mengesampingkan sikap
saya sebagai seorang Muslim, atau minimal sebagai seorang ‘manusia’ lah. Anda boleh
berpendapat lain, tetapi buat saya, tidak sepantasnya kita bersikap acuh dan
beranggapan bahwa ‘tidak terjadi apa-apa’, hanya karena status kita sebagai
mahasiswa. Padahal secara dengan mata kepala kita tahu ada banyak korban
berguguran, fasilitas dihancurkan dan kedzaliman dikukuhkan.
Lalu, selain
berdoa-yang merupakan senjata seorang muslim- apa yang harus kita lakukan?
Pertanyaan
itu adalah PR yang harus dijawab dengan bijak dan tidak tergesa-gesa. Selamat menjawabnya...
ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ (Yusuf:
99)
Cairo,
10 Desember 2013, 18:27 CLT
Subscribe to:
Posts (Atom)





