Friday, 18 April 2014

Dari Tepi Kairo (2)

bismillah
Ablah Gheda menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih dahulu sampai. Hari  pertama, tentu saja perkenalan.


“Ini Ablah Rani.” Ablah Gheda menunjukku.
Sorot mata polos mereka fokus, keluguan khas bocah tidak tertutupi rambut gimbal, baju kusam dan ujung kuku mereka yang panjang dan hitam. Bukan anak-anak jika situasi tenang dapat bertahan lebih dari hitungan menit. Kelas kembali gaduh.
Di sini, tiidak ada pemisahan usia layaknya PAUD dan TK di Indonesia. Entah tiga atau lima tahun semua bersama dalam kursi-kursi mini dan meja yang disekat tembok-tembok berlukiskan taman bunga dengan dominasi warna yang tak lagi dapat disebut biru muda.
Aku dan Fitri. Kami tak sampai hati bila mengikuti cara pembelajaran ala Ablah Gheda yang ia ajarkan di hari pertama. Bila ada yang tidak ikuti perintah, kau boleh pukul. Duh, kami yang tak pernah menjadi guru TK saja tak sampai hati melihatnya. Bukan pukulan ala Indonesia, tapi Mesir. Plak!
Barangkali anak-anak merasa lebih beruntung karena pada hari-hari berikutnya, kami tak pernah setega itu.
Memang wajib sabar.
Di sela-sela pelajaran menggambar misalnya, aku dan Fitri berkeliling dan memotong kuku mereka satu demi satu. Wajah-wajah imut mereka seperti boneka di toko mainan anak-anak, andai sedikit lebih bersih saja. Bahkan seringkali aku memandang dekat wajah Heba, gadis kecil anak sopir tuk-tuk. Apakah bulu matanya palsu atau sudah terpoles maskara? Ku colek pipi chubynya, ia berkedip dan barulah aku yakin itu asli.
“Eih da?” tanyaku pada Ahmed yang berusia 3 tahun. Di sela-sela waktu istirahat kami sering bercanda bersama mereka.”fi isy wa la baidh wa la burtu’al?” tanyaku sambil mengusap perutnya yang menggelembung.
“Isinya isy.” Jawab Mahmud, kakaknya yang setahun lebih tua. Sementara adiknya hanya diam memandangku sembari asyik menyesap ibu jarinya.
Di waktu istirahat, anak-anak diperkenankan jajan dengan uang saku mereka. Rata-rata satu rubu’ atau nus, meski ada beberapa yang diberi uang saku satu pound oleh orang tuanya. Uang saku standar untuk anak-anak kurang mampu yang belajar di sekolah gratis ini. Tak ada baju seragam apalagi grup drumband. Mereka datang lalu kami ajak menghafal hadits-hadits pendek, itu sudah kebahagiaan tersendiri. Apalagi bagi Ablah Gheda yang berjuang mendirikan sekolah kecil ini. Sayang, kami hanya bisa membantu di saat masa libur kuliah saja.
mattmoyer.photoshelter.com
Kami juga diperkenankan untuk beristirahat jika sewaktu-waktu merasa lelah. Sebuah bilik kecil bersanding dengan ruang kelas. Dinding-dindingnya tidak terbangun simetris. Khas flat-flat murah level penduduk kelas bawah. Ada selapis tikar rombeng sebagai alas dan sebuah bantal buluk untuk sandarkan kepala.
Pernah suatu ketika aku terbangun dari tidur di bilik kecil itu. Ku dapati Fitri tengah merapikan bangku dan meja. Yusuf yang berusia empat tahun nampak kesulitan memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Ku hampiri dia dari belakang, mencoba membantu memasukkan barangnya yang berbungkus plastik. Ia terkejut. Tangannya terayun menampar wajahku. Tidak sengaja, itu yang ku tangkap dari sorot matanya yang menyesal. Tapi ia langsung berlari. Pergi menelusup dalam keramaian pertokoan.
“Ya Yusuf!” panggilku. Jelas tak akan membuatnya kembali. Bagi sebagian orang, begitulah watak Mesir. Tapi buatku, yang barusan adalah seorang bocah yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa sesal dan terkejutnya.
Di hari lain.
Pelajaran menggambar. Temanya, binatang. Dua puluhan anak sibuk mengekspresikan bakat melukis mereka di atas selembar kertas. Anak tiga tahun-an hanya membuat bulatan tak sempurna yang bengkok di sana sini dengan beberapa garis tak beraturan. Disebutnya itu kucing. Anak-anak yang lebih tua juga tidak jauh berbeda. Hanya saja lekukan mereka sedikit lebih sempurna. Hanya satu anak yang membuatku terpesona. Ali namanya.
Saat kutanya, ia jawab menggambar singa. Dan memang sab’in fil mi-ah mirip singa jantan. Dengan rambut coklat tebal memenuhi kepala yang membuatnya tampak besar dan garang. Terlalu sempurna untuk seorang anak TK. Menjiplak? Ah, mana mungkin. Jelas-jelas aku melihat tangannya menari-nari di atas kertas yang sebelumnya kosong.
Ku sampaikan penilaianku pada Fitri. Ia bilang,”Orang tuanya pelukis jalanan.”
Oh...
“Mama dan Babanya?!” kurang yakin.
Tapi Fitri mengangguk mantap. Barulah aku percaya bakat genetik itu ada. Tapi bagaimana ia dapat menggambar dengan detil dan mempesona begitu? Ia bilang pernah melihatnya di televisi, berarti dia mengcopy-paste dari sana. Jadi, sesuatu yang konyol dan tolol jika ada yang menyuruh anak-anak menggambar Tuhan. Pikiran Mereka yang polos hanya melukis apa yang pernah mereka tangkap dengan indra. Sedang Tuhan tak pernah ditangkap langsung dengan indra.
Aku tersenyum sendiri, jika beruntung, mungkin beberapa belas tahun lagi Ali akan membuka pameran mandiri untuk lukisan-lukisannya. Atau, menjadi sebatas pewaris orang tuanya. Pelukis jalanan. Semoga tidak.
Yusuf datang. serta merta merobek gambar singa-nya Ali. Pertengkaran tak terelakkan. Sekali lagi, ala Mesir, bukan Indonesia ataupun Melayu. Pukul. Tampar. Tendang. Aku dan Fitri yang berusaha melerai cukup merasakan tenaga ekstra anak-anak Bumi Kinanah ini.
Mungkin Yusuf cemburu melihatku yang terkagum-kagum dengan gambar Ali. Namun tetap saja kami paksa ia untuk meminta maaf. Harus dengan sedikit ancaman. Tidak boleh pulang.
Marwah, gadis kecil yang paling banyak hapalan haditsnya itu pun ikut bercakap kepada Ali. “La Tagdhab!”
Ganna pun ikut-ikutan,”Shollu alannabi!”
Olala! Gaya anak-anak ini lucu sekali. Sayang, sebagai guru, rasa gemasku harus ditahan.
Syukur, akhirnya Yusuf mau meminta maaf.
Dua bulan masa liburan sudah terlewat. Sesuai kesepakatan, aku dan Fitri mengakhiri khidmah begitu masa aktif kuliah datang.
Ada kesedihan meninggalkan tatap mata bening bocah-bocah itu. Di pertemuan terakhir, ku kecup kepala mereka satu persatu. Tak lagi peduli dengan tampang kucel dan bau tubuh yang entah kapan terakhir kali mandi. Aku masih tak dapat meneropong ke masa depan. Akan seperti apa nantinya? Anak-anak yang terpaksa hidup di pinggir dalam kerasnya gemerlap kota tersibuk se-benua Afrika ini. Ah, hampir aku lupa, mereka punya takdir. Dan mereka punya usaha.
Satu pekan terlepas. Dalam bayang-bayang kesibukan kuliah beberapa kali rindu menyusup. Anak-anak itu, sedang belajar apa sekarang? Berapa ayat dan hadits yang sudah mereka hapal?
Di dalam bus, lagi-lagi aku melihat papan reklame UU Perlindungan Anak dengan foto bocah yang tersenyum. Aku tersenyum miris.
Seorang anak kecil menaiki tangga bus dengan sebungkus plastik bening kusam penuh permen. Dari rambutnya yang gimbal dan pakaiannya yang kusut tak beraturan membuatku menarik suatu kesimpulan. Penjual permen.
ilo.org
Kakinya berjalan cepat namun lambat bagi orang dewasa. Dengan tangan mungilnya menaruh tiap dua buah permen seharga satu pound di tiap pangkuan penumpang, Sebagaimana lazimnya pedagang dalam bus. Banyak yang menyebut profesi begitu, pengemis. Tapi buatku bukan. Mereka pedagang. Yang disayangkan dari penjual kecil ini adalah usianya yang mengiris hati. Apa yang dilakukan orangtua bocah sekecil ini sehingga harus mencari pundi-pundi junaih seorang diri?
Mau tak mau pikiranku tersangkut pada dua bulan yang kulalui bersama anak-anak yang terlahir dari kelas bawah itu. Ya Rabb...
Ketika bocah itu sampai di tempatku. Ku kembalikan permen yang ia taruh dengan menyertakan receh satu pound. Wajahnya menengadah, lalu terkesiap. Sama sepertiku. Yusuf!
Ia berlari. Tidak peduli pada beberapa permen yang belum diambilnya dari penumpang lain. Bus melaju lambat. Ku lihat ia meloncat dari tangga bus. “Ya Yusuf!” teriakanku tak membuatnya berhenti. De javu.
Tak sampai sedetik sebuah mobil dari belakang melaju kencang lalu mengerem dengan cepat. Ya Rabb, tubuhnya terpental. Tidak! Selanjutnya bocah cilik itu jatuh satu meter dari bemper mobil yang tak mulus itu.
Tak ada darah. Syukurlah.
Ketika orang-orang mulai berkerumun, ia bangkit. Lalu berlari. Aku hanya mengelus dada. Kekhawatiranku beberapa detik lalu berhenti sudah. Namun Yusuf kecil tetap berlari menembus keramaian manusia di siang bolong. Ia terus berlari. Meski kenyataan tidak pernah berlari pergi secepat yang ia harapkan.

NB: dimuat dalam Buletin Terobosan Edisi 361



Wednesday, 16 April 2014

Diri Sendiri

bismillah

di dunia ini banyak permasalahan yang lebih layak dibahas ketimbang 'diri sendiri'. Entah anda sepakat atau tidak, buat saya, apapun itu, selama bisa diambil hikmahnya, why not?


Saya lelah.
Menurut saya, beberapa kawan irresponsible. Itu yang membuat saya frustasi.
Sedikit-sedikit mengeluh, lalu marah. Saya kira stok kesabaran sudah habis. Namun setelah dipikir ulang, tidak seberapa besar kesalahan di sisi kawan-kawan. Saya merasa setiap usaha saya harus berbuah manis. Seperti mangga yang manis dipohonnya. Tak boleh ada ulat yang berpesta dalam istana buah.
Padahal harapan seperti itu mustahil terus-menerus terjadi. Terlebih dalam kerja tim. Saya tak mungkin memaksa orang lain-yang berbeda prioritas dan sudut pandang- mengikuti apa mau saya.
Saya menyalahkan kawan. Padahal sebenarnya itu adalah ekspresi ketidakpuasan pada hasil kerja saya yang-rasanya- tidak dihargai.
Lalu saya teringat Ummi saat berkata pada seorang asing yag bertanya perihal saya. “Ainun ini sifatnya masih kekanakan,” Benar, saya tak pernah berontak pada statemen itu. tapi bukan karena paham betul. Karena baru sekarang saya mulai sadar. Sifat kekanakan saya, ya di sini. Selalu ingin idealita menjadi realita. Padahal dunia bukan milik saya seorang.
Saya tak ingin diam dan tidak berbuat. Pembenahan selalu saya usahakan. Dengan begitu akselerasi kebaikan diri tak boleh putus. Mindset saya harus dirubah, sesekali boleh juga saya jatuh, untuk tahu rasa kegagalan itu bagaimana. Karena seorang senior pernah bilang, salah satu yang membuat Firaun menjadi ‘firaun’ adalah perasaan tak pernah gagal.
Dan...
Agak-agaknya saya menyadari sesuatu,

Saya belum siap menerima orang lain di sisi saya.

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
"...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah..." (QS Yusuf:87)

Wednesday, 9 April 2014

Setia

bismillah

Ku buka diary lama.
7 tahun lalu.
Ku dapati seorang,
tipe setia.
Minimal, gaya tulisan tangannya tidak berubah.
Tanyakan pada kawanku,
Tak ada yang tak terkejut.
Did U see?
Ia setia.
Loyal.
kaku seperti robot.
Lurus tapi keras.
Birokratis.
Idealis yang naif.
Dan barangkali...
Membosankan

Sunday, 6 April 2014

thanks

bismillah
Selepas lulus dari pesantren,
saya tak lagi berhasrat punya sahabat dekat
tak ingin berkawan karib,
apalagi saling mengetahui curahan hati,
terlebih berinteraksi dengan intens 24 jam

semua saya kubur,
meski naluri 'cerewet' ala wanita sesekali bocor juga
tapi jujur,
saya tak ingin punya kawan dekat,
baik perempuan atau kaum adam,
(entah kalau candaan saya ditafsirkan 'kedekatan')

apa?
bukan kenapa.
saya tak ingin menyiksa kawan,
tak ingin buatnya menderita,
karena kebusukan-kebusukan saya


semakin kami dekat,
semakin ia tahu busuk pribadi saya
makin ia sadari kontrasnya 'in' dan 'out'
makin ia tahu saya bagai kedondong
mulus di luar, menusuk di dalam

walau bagaimanapun,
terimakasih,
untuk semua orang yang terpaksa berada di sekelilingku
untuk cinta, sayang, ukhuwah dan segalanya...

#bukan sedang galau, hanya mencoba bangkit dari pribadi yang inferior

Thursday, 27 March 2014

Dari Tepi Kairo

bismillah



Tidak lagi menawan.
source: landtarget.blogspot.com
Apa yang ku lihat setiap hari telah menjadi rutinitas yang tak lagi menggairahkan. Asrama mahasiswi di kawasan Abbaseya yang cukup jauh dari pusat dinamika masisir di Madinah Nasr. Buatku jarak yang hampir sama dengan Solo-Klaten ini sudah tidak lagi jauh. Berbeda dengan mahasiswa di madinah Nasr yang ketika harus ke Abbaseya selalu menggerutu, “Jauhnya...”.
Begitu pula pemandangan yang wajib aku temui setiap hari. Pekuburan Duwaiqah,  Nadi Sikkah, Hay Sadis hingga seterusnya tak ubahnya slide film dokumenter yang setiap hari diputar lewat jendela bus pemerintah. Goresan dan lekukan tak berseni yang menyombongkan ketangguhan setiap mobil di Kairo tak lagi menarik perhatianku. Tidak jauh berbeda dengan papan reklame yang selalu ku tatap dari jarak seratus meter dalam bus, setiap kali melintas di kawasan Hay Sadis.
Di papan reklame itu terlukis dan tertulis suatu paradoks. Senyum polos gembira sengaja disorot close-up dari mimik seorang anak kecil di foto itu. Di bawahnya huruf-huruf berbaris rapi dan bersuara, Undang-Undang Perlindungan Anak. Layar iklan yang warnanya telah usang dan terpojok oleh pohon-pohong menjulang serta keramaian Eltramco itu menertawakan pandanganku.
 Seorang anak yang tak pernah kubayangkan dapat tersenyum ceria seperti yang terpampamg dalam iklan menarik perhatianku, ia naik ke dalam bus dengan bawaan plastik besar yang diseret dua tangan mungilnya. Sementara sang bunda yang bertubuh gempal berusaha duduk di atas kursi yang lebarnya hanya setengah besar tubuhnya. Bahasa tubuh bocah di hadapanku ini dapat jelas diterjemahkan,”Mama, ini berat”
Bus melewati kawasan Hay Tsamin. Siang hari yang menyengat. Masing-masing merayap dalam irama klakson bersahutan. Siapa lagi yang mau peduli? Dengan polusi suara begitu pun tak ada yang mau ambil pusing. Pejalan kaki tetap menyeberang jalan seenaknya. Begitu pula polisi lalu lintas dengan bedak debu mix asap polusi hanya peduli dengan kapan kendaraan harus berhenti atau berjalan. Tugasnya hanya itu.
Bertambah satu anak yang mengalami nasib serupa tadi. Baru saja ia menaiki tangga bus dengan tergopoh-gopoh. Gadis kecil. Ibunya duduk manis dan sibuk berbicara dengan handphone nokia layar kuning yang terselip antara pasmina dan pipinya. Aku tersenyum pada bocah 6 tahunan yang tak berkedip memandangku. Orang asing. Sudah kugeser dan kusisakan space untuknya duduk bersamaku, tapi kepalanya segera menggeleng seperti mesin otomatis.
source: cairogizadailyphoto.blogspot.com
Birrul walidain. Komentar salah seorang kawan suatu ketika. “Makanya, anak kecil harus mengalah demi orang tua.” Lanjutnya. Memang nampak perbedaan yang sangat kontras dengan kultur masyarakat Indonesia. Di Mesir, seorang anak tidak dipandang lemah. Maka orang tua tidak perlu menggendong anak yang masih belajar berjalan dan terseok. Tidak perlu khawatir untuk tidak menggandeng anak kecil di jalanan ramai, meski beresiko tertabrak mobil yang melintas dengan ugal-ugalan. Juga tidak perlu ragu untuk menampar dan memukul kepalanya keras-keras di depan umum saat berbuat salah menurut orang tua. Bagi warga asing di Kairo,terkhusus orang-orang Melayu, tentu mereka menganggap anak-anak Mesir hidup tanpa kasih sayang. Namun mungkin bagi sebagian besar orang Mesir, wafidin yang berkulit sawo matang itulah yang terlalu dimanja sejak kanak-kanaknya.
Handphoneku bergetar. “Kamu sudah sampai mana, ya habibty?” Pertanyaan di seberang membuat ekor mataku menembus jendela.
“Sudah dekat arba’ wannus, ablah.” Jawabku. Mengapa mahattah terakhir di Tabba ini disebut begitu? Empat setengah? Belum tentu setiap penduduk yang lalu lalang di sini tahu jawabannya.
Senyum pasrahku bergelayut. Aku harus merelakan sepatu yang baru kemarin kucuci menapak becek tanah selepas turun bus. Beberapa kali aku harus berjingkat dan mengangkat rok sedikit untuk menghindari beberapa genangan air dan sampah basah yang menebar bau tak sedap.
Ini hanya permulaan! Aku menyemangati diri.
Menjadi relawan di salah satu kawasan pojok Cairo ini sudah menjadi keputusanku. Kalau sudah begitu, artinya tidak boleh ada kata mengeluh. Mengajar anak TK di tempat terpencil, bagi anak-anak yang terlahir dari orang tua kelas bawah. Siapa sudi? Aku sendiri mengiyakan tawaran ini karena ingin meraup pengalaman. Adapun beberapa puluh pounds sebagai gaji setiap bulan, anggap saja menambah uang jajan.
source: greensimon.com
Bila diukur dengan kacamata materi, aku yakin tak kan ada yang bilang sepadan. Terlebih harus melewati jalanan becek tak beraspal, penuh sampah dan anjing-anjing penuh kudis berseliweran. Sesekali menggonggong, berkejaran atau mengais-ngais sampah. Bukan salah penglihatan jika jarang sekali ditemukan orang-orang berpakaian klimis, berjas dan tidak berwajah garang. Tidak heran -entah benar atau tidak- sebagian kawan bilang ini kampungnya para maling dan penjahat. Maka harga sewa syaqqah bisa lebih murah. Meski begitu, tidak sedikit warga asing yang tinggal di Tabba. Indonesia dan China misalnya.
Ablah Gheda menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih dahulu sampai. Hari  pertama, tentu saja perkenalan.

“Ini Ablah Rani.” Ablah Gheda menunjukku.

bersambung...

NB: dimuat dalam buletin Terobosan edisi 360

Monday, 24 March 2014

Memori Ustadz Abu Bakar Baasyir

bismillah
 
Pagi ini, mata kuliah pertama Tafsir Maudhu’i. Dukturah Hindiyah, pernah mengajar kami di tingkat pertama. Kali ini tema yang kami bahas, jihad. Tema yang saya tunggu-tunggu sejak pertama menapak kaki di Al-Azhar. Bagaimana mauqif wasathi yang akan diajarkan, setidaknya itu yang ingin saya bandingkan dari fakta pembelajaran di pesantren dulu.
Why? Ini tema yang cukup sering diperbincangkan dan seringkali terjadi perselisihan dalam cabang dan praktiknya. Setidaknya, pada awal mula lulus pesantren, saya lebih banyak memasang “tameng” untuk menghindari pupusnya semangat dan nilai yang telah ditanamkan sejak di pesantren. Terlebih setelah mendengar pernyataan seorang Ustadz senior di pondok modern kami, “Ngruki terkenal karena akidahnya!”
Maksudnya, rata-rata alumni yang lulus dari pesantren terkenal dengan akidahnya yang kuat, atau bisa dibilang ‘militan’.
Bukan berarti saya fanatik lalu menganggap semua yang berbeda dengan ajaran di pesantren adalah salah. Yang jelas pagi tadi saya dapat beberapa pencerahan ketika mengikuti muhadhoroh Dr. Hindiyah.
Dari keseluruhan pembahasan di kelas, ada satu poin yang membuat saya berkontemplasi sejenak. Tepatnya ketika membahas level pertama-dari empat level- dalam masalah jihad era Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW masih berada di Mekah, di mana perintah jihad belum diturunkan. Sementara beberapa sahabat menginginkan adanya perlawanan balik. Mereka tertindas, mereka dizalimi Quraisy!
Tetapi Rasulullah SAW tidak terburu-buru mengamini keinginan muslimin saat itu, melainkan terus memotivasi sahabat untuk bersabar menghadapi ujian dan siksaan. Sembari menunggu wahyu dari Allah Swt.
Di sini kemudian Sayyid Qutb menjelaskan mengenai sebab-sebab dan hikmah tersembunyi di balik perintah bagi muslimin untuk tetap bersabar. Sebab atau hikmah pertama yang dikutip adalah pembelajaran bagi ummat Islam untuk bersabar. Apakah berhenti pada level ‘sabar’ semata? Tidak!
Di dalam kesabaran itu juga ada yang harus dilakukan, selain pembentukan kepribadian untuk menjadi muslim yang ‘tangguh’ menghadapi bencana, juga ada i’dad alias persiapan. Persiapan di sini lebih terfokus pada individu, personal tiap muslimin. Sungguh terdapat perencanaan besar yang-kalau boleh saya bilang- diprakarsai oleh Rasulullah SAW, untuk masa depan ummat Islam. Kesabaran mereka –radhiallahu ‘anhum- bukan semata diam menunggu tanpa rencana dan target untuk masa yang jauh ke depan.
Lalu hal ini saya kaitkan dengan perjuangan dakwah Ustadz Abu Bakar Baasyir. Dahulu saya sempat bingung. Ketika-misalnya- terlempar tuduhan beliau mendanai pelatihan militer di Aceh. Beliau tidak lantas menyalahkan, memaki dan mencaci mereka. Tetapi sebatas menolak tuduhan pendanaan tersebut dilakukan oleh beliau. Anehnya, beliau juga mengeluarkan statement bahwa tidak ada yang salah dengan i’dad.
Saat itu saya bertanya-tanya, mengapa beliau harus mengeluarkan pernyataan seperti itu? Tidak hanya pada tuduhan ini, namun begitu juga pada kasus-kasus lain yang justru dengan statement tersebut semakin memojokkan posisi beliau-di mata mereka yang telah menjatuhkan stigma teroris pada beliau-?
Di sini saya menyadari, bahwa beliau yang selalu tersenyum ramah meski dituduh dan digempur berbagai fitnah, tidak menyetujui adanya praktik lapangan –saya sebut jihad offensif- di Indonesia. Sudah berkali-kali dalam ceramah dan taushiyah yang beliau sampaikan –dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri- beliau katakan bahwa penerapan jihad offensif di Indonesia tidaklah tepat. Mengapa? Indonesia negeri damai, bukan darul harb!
Kendati demikian, beliau mengambil langkah berbeda dengan mereka yang menggunakan segala macam cara untuk menghapus-secara halus- esensi jihad di dalam Islam. Ustadz Abu Bakar Baasyir, tetap berjalan dalam jalur dakwah yang beliau tempuh. Tidak peduli dengan stigma fundamentalis, teroris, Islam garis keras dan sebagainya, yang dialamatkan padanya. Karena,-bagi beliau- apa yang benar harus disampaikan. Apa yang sejatinya merupakan ajaran Islam, tidak akan beliau tutup-tutupi kendati harus dituduh teroris dll. Tentu berbeda dengan ‘mereka’ yang takut mendapat stigma negatif dari ‘luar’, lalu pontang-panting mencari dalil dan berbagai alasan untuk memelintirkan esensi Islam, baik sebagian maupun keseluruhan.
Dan lagi, saya teringat dengan isi taushiyah beliau yang selalu mewanti-wanti kami untuk tidak taklid buta dan wajib mengatakan suatu kebenaran dengan argumen yang kuat, sekalipun terhadap guru kita sendiri. Namun tidak lupa, beliau juga menyuruh untuk berhati-hati,setinggi apapun gelar keilmuwan yang diperoleh, hal itu tidak berarti apa-apa jika tidak diamalkan sesuai ajaran Islam.
Di sini lagi-lagi saya belajar, bahwa kesabaran beliau melihat berbagai penyimpangan, tidak berarti harus diam dan tidak melakukan apa-apa. Keberanian beliau untuk menyampaikan kebenaran adalah sesuatu yang sangat dibenci sekaligus ditakuti oleh musuh.
Saya tidak mengkultuskan Ustadz Abu Bakar Baasyir, meskipun sering bertatap muka dalam kajian-kajian rutin beliau di pesantren. Sebagaimana pesan beliau pula, jika suatu ketika saya mendapati kesalahan dalam diri beliau, tentu saya akan mengatakan bahwa itu salah, dan tidak mencari dan memelintir dalil untuk membenarkannya.
Maka, Ustadz Abu, tetaplah bersabar dalam dakwah yang engkau jalani. Kami, santri-santrimu, akan terus mendukung dan mendoakan kebaikan.
Allohummanshur ikhwanana almuslimin wa almujahidin fi kulli makan. Allohumma Amin.
                                                                                                                Kairo, memasuki awal semi
24 Maret 2014

Tuesday, 18 February 2014

Al-Azhar untuk Islam

bismillah

Di bawah ini, adalah terjemah artikel saya, yang dimuat dalam buletin الطيف edisi bulan Februari ^_^


Pada awal didirikannya, al Azhar menjadi tempat pembelajaran mazhab Syiah saja, tepatnya Syiah Ismailiyah. Yang mana mazhab tersebut terkenal dalam mengkultuskan ahlul bait secara berlebihan. Hingga datanglah masa Shalahuddin al Ayyubi, lalu ia merubah pembelajaran di al Azhar menjadi berbasis Sunni. Selain karena belum adanya sekolah yang mengajarkan Sunni saat itu, pendirian sekolah-sekolah Sunni juga bertujuan untuk mengikis pengaruh Syiah yang masih mencengkeram erat, sisa dari pengaruh Dinasti Fathimiyah yang berkuasa sebelumnya.
Shalahuddin yang menganut mazhab Syafii, tidak hanya mendirikan sekolah-sekolah Sunni yang mengajarkan mazhab Syafii saja, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan 3 mazhab fiqih lain yang terkenal dalam Sunni. Yaitu mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali. Saat itu al Azhar menjadi salah satu masjid dan sekolah yang terkenal karena di dalamnya terdapat pembelajaran 4 mazhab tersebut, berbeda dengan sekolah lain yang mayoritas hanya mengajarkan satu atau dua mazhab saja. Demikianlah gambaran singkat perjalanan al Azhar sebagai institusi pendidikan yang tetap mempertahankan fungsinya sebagai media pembelajaran sarjana muslim, meski harus merasakan gejolak politik yang berpengaruh besar dalam perpindahan penguasa Mesir dan khususnya Kairo saat itu.
Seiring berjalannya waktu, bertambah pula jumlah pelajar di al Azhar, baik dari seluruh penjuru Mesir maupun di luar Mesir. Hingga dibuatlah peraturan Ruwaq yang dibentuk pada masa daulah Mamalik Bahriyah dan Syarakisah. Setiap pelajar diberi ruwaq khusus sesuai daerah masing-masing. Nampak jelas kemurahan hati al Azhar dan komitmen institusi ini dalam mendorong pelajarnya untuk menuntut ilmu. Tidak hanya dibebaskan dari biaya belajar, para pelajar juga dibebaskan untuk tinggal selama masa belajar, diberi uang saku bulanan dan juga diterapkan pemberian makanan pokok. Yang mana pendanaannya ditanggung oleh donatur tetap dan juga hasil wakaf yang khusus untuk membiayai al Azhar. Hal ini terus berlangsung pada masa dinasti Utsmani, lalu berlanjut pada masa berkuasanya Muhammad Ali Pasha, hingga pada tahun 1954 Dewan Kementrian Mesir menetapkan pembangunan asrama khusus mahasiswa asing al Azhar sebagai ganti dari sistem Ruwaq yang ada. Awalnya asrama ini bernama Madinah Nashir lil Buuts al Islamiyah, lalu berganti menjadi Madinah al Buuts al Islamiyah yang masih ada hingga saat ini. Tidak terhitung betapa besarnya kontribusi al Azhar dalam menyokong pembelajaran bagi mahasiswa asing sejak satu milenium lamanya.








Berbicara al Azhar, tidak akan terlepas dari prinsip yang dipegang teguh oleh institusi pendidikan ini, yaitu moderatisme. Mantan Mufti Mesir, DR Nasr Farid membenarkan soal keterkaitan moderatisme Al Azhar dengan ketidakberpihakannya dalam aliran atau partai politik tertentu, menjadi salah satu pilar eksistensi Al Azhar. “Karena moderat di sini berarti prinsip untuk menghindari fanatisme dan mengikuti aliran politik tertentu.” Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Islam posisinya lebih tinggi dari politik. Meski begitu Islam tidak terlepas dari politik, baik secara umum maupun khusus. Tetap ada korelasi antara keduanya, di mana Islam menjelaskan metode syar’i yang shahih dalam politik syar’i untuk mengatur rakyat dan negara sesuai al Quran dan Sunnah untuk kemaslahatan bersama.
Adapun dalam masa pergolakan politik yang tengah melanda negeri Mesir saat ini, al Azhar pun turut terkena imbasnya. Institusi pendidikan yang pada dasarnya netral ini pada akhirnya nama besarnya ikut diseret dalam arena perpolitikan. Padahal munculnya aliran dan perpecahan politik tersebut tidak seharusnya serta merta dikaitkan dengan institusi pendidikan manapun. Karena tugas utama yang diemban dari sebuah institusi pendidikan adalah sebagai fasilitator kegiatan pembelajaran di dalamnya. Sementara perilaku dan keputusan pribadi tidak selayaknya mewakili institusi tersebut. Di tengah carut marut perpolitikan negeri ini, muncul pula oknum-oknum yang mengaku mantan mahasiswa al Azhar namun menjatuhkan dan menghina institusi pendidikan ini. Tidak hanya itu, dalam sebuah media cetak lokal dimuat beberapa tulisan oknum yang memandang rendah al Azhar, dikatakan bahwa institusi ini seperti kakek renta yang berhenti di tengah persimpangan jalan. Al azhar tidak mampu melahirkan pembelajaran agama yang membawa pada pembaharuan, tidak pula pengajaran ilmu-ilmu umum seperti kedokteran, farmasi dan lain-lain sebagaimana universitas lainnya.
Hal ini cukup mengherankan, karena pernyataan yang merendahkan al Azhar tersebut keluar dari mereka yang mengaku telah belajar bertahun-tahun di bawah al azhar. Di manakah akhlaq seorang murid ketika menghina dan menjelek-jelekkan sekolah dan gurunya? Nampaknya ia tidak memahami akan hakekat asli sebuah institusi pendidikan dengan tugas utamanya sebagai fasilitator pengajaran dan pembelajaran. Ibarat sebuah media dan alat yang dapat memberi manfaat bagi pengguna sesuai apa yang ia butuhkan. Mengkambing hitamkannya adalah sebuah kesalahan, sebagaimana kebodohan tukang kayu yang menyalahkan palu dan kapak karena hasil kerjanya yang tidak memuaskan.
Lewat sejarah, telah terbukti besarnya peran al Azhar di segala lini kehidupan. Dalam kancah perpolitikan misalnya, tidak dapat diperhitungkan perjuangan ulama dan pelajarnya dalam perjuangan menumpas penjajahan di bumi Mesir. Di sisi lain peran al Azhar dalam menyokong pembelajaran ilmiyah tidak dapat dipandang sebelah mata, tidak hanya di Mesir namun ke seluruh penjuru dunia serta tokoh-tokoh yang dilahirkannya. Salah satu contoh bagaimana lembaga ini membawa pembaharuan, adalah pembentukan perundang-undangan di dalamnya dalam beberapa kurun waktu pada akhir abad 19. Di mana saat itu diwakili oleh Muhammad Abduh dengan pembaharuan yang ia bawa dan melahirkan ketentuan dimasukkan pembelajaran ilmu-ilmu modern beserta metode yang disesuaikan. Tidak mau tergilas jaman, pada tahun 1961 dibuatlah undang-Undang yang memutuskan pendirian fakultas Kedokteran, Arsitek, Perindustrian dan sebagainya yang hingga kini masih dapat terasa manfaat yang dihasilkannya.
Masih banyak peran al Azhar yang tak terhitung jumlahnya sejak satu milenium berdirinya. Merupakan kesalahan besar merendahkan dan memandang al Azhar dengan sebelah mata. Terlebih dilakukan oleh mereka yang mengaku telah menimba ilmu di dalamnya.
Sekali lagi, al Azhar adalah fasilitator besar bagi pembelajaran. Ia adalah wasilah yang dapat digunakan untuk menyebarkan Islam melalui pengajaran berbasis al Quran dan Sunnah yang tidak akan terhapus oleh zaman. Adapun konsep dan kurikulum di dalamnya merupakan bentuk dan rancangan ulama dengan jerih payah mereka sebagai manusia yang tak akan mencapai kata sempurna. Mereka telah berusaha agar konsep dan kurikulum yang diberlakukan di dalamnya tidak jumud dan selaras dengan ajaran Islam. Sehingga bila ada kekeliruan di dalamnya, tentu menjadi tanggung jawab ummat Islam bersama-terkhusus alumninya- untuk memperbaiki, bukan menyalahkan dan merendahkan.

Wallohu ta’ala a’lam