Labels
memory bumi kinanah
(46)
mimpi
(31)
renungan
(30)
rehat
(22)
mesir
(17)
beasiswa al azhar
(15)
IIP
(14)
Ibu Profesional Level 8 Tantangan 10 Hari
(11)
Bunsay
(9)
info
(9)
Komukasi produktif
(8)
Melatih Kemandirian
(8)
hijrah
(6)
fiksi
(5)
alazhar
(4)
hadis
(4)
kajian
(4)
pemudihijrah
(4)
haji
(3)
haji masisir
(3)
haji muda
(3)
selfreminder
(3)
temus
(3)
universitas alazhar
(3)
2019
(2)
Haji 2019
(2)
Ibu Profesional
(2)
for things to change I must change first
(1)
gaza
(1)
ibuprofesional
(1)
melatih
(1)
nisfu syaban
(1)
Monday, 11 August 2014
Friday, 1 August 2014
Jilbab, Adik-adikku... ^_^
bismillah
*semua gambar/foto ngacak di google.com
Cairo, 1 Agustus 2014
Tulisan ini saya tujukan, terutama
buat adik-adik muslimah. Entah adik sepupu (karena adik kandung saya
laki-laki), adik kelas, well, siapapun yang muslimah dan berusaha istiqomah di
jalanNya. Bukan berarti saya sempurna, karena cucu dari mbah Sampoerna. Hehe. Ala
kulli hal, la’alla nafi’an!
Jilbab, kerudung, dan hijab.saya
tidak ingin berpanjang lebar mengupas sisi bahasa dari tiga kata itu.
kesemuanya saya sebut jilbab. Begitu saja. Okay?
Ceritanya, sewaktu kecil –kira-kira
kelas 3 SD- Ummi bercerita tentang anak temannya yang berkomitmen memakai
jilbab setiap hari (kecuali di dalam rumah atau dengan mahrom tentunya). Padahal
Si anak juga seumuran saya. mulai dari situ, saya iri. Iya, iri!
Sementara saya, meski pakai
jilbab, tapi kalau merasa panas, ya lepas. Jadi, kalau anak teman ummi saja
bisa, saya juga bisa dong. Maka saya putuskan komitmen pakai jilbab. Awalnya yang
penting pakai kerudung. Meski pakai celana tiga perempat dan kaos berlengan pendek.
Kalau diingat, lucu deh. culun.
Namun semua berjalan lewat proses.
Yang intinya tidak ada paksaan dari ummi atau abi supaya saya berkomitmen
menutup aurat. Seperti masalah kaos kaki, tidak berjabat tangan/salaman dengan
non-mahrom. Semua keputusan saya. selain juga karena iri melihat ummi dan
teman-temannya begitu. Yang saat itu (masih SD lho ya) dalam pikiran saya,
muslimah dewasa ya yang berkomitmen menjaga dan menutup aurat. Tapi tetap saja,
dengan motivasi seorang anak kecil: iri dan sok jadi orang dewasa!

Lalu masuk pesantren, awalnya
sukarela memakai jilbab lebar. Hm, meski kata lebar itu relatif, buat saya bisa
disebut lebar kalau batas minimal samping jilbab adalah siku tangan. Kalau di
atas siku ya, buat saya belum lebar. Pokoknya saya pakai jilbab lebar karena
dua hal. Pertama, peraturan. Kedua, meniru ustadzah. Kebetulan tahun awal di
pesantren kami ditempatkan di komplek khusus. Sehingga-seperti lazimnya anak
baru, semua taat peraturan.
Namun sesekali melihat kakak kelas
dari komplek lain pesantren, jilbab mereka kecil. Di atas siku. Meski banyak
juga yang berjilbab lebar, bahkan bercadar. Namun tetap saja, kesannya kakak
kelas yang berkerudung kecil itu lebih gaul, lebih keren, lebih berani. Cool deh.
dari situ terbersit di pikiran saya, nanti kalau naik kelas dan tinggal satu
kompleks dengan kakak kelas, saya akan pakai jilbab kecil.
Sungguh Alloh Maha Penyayang. Beberapa
bulan di kompleks asrama pesantren yang baru, saya mengamati seorang kakak
kelas. sebut saja namanya Rani. Kak Rani ini berkerudung lebar, lalu setamat
MTs melanjutkan sekolah di luar pesantren. Namun ketika berkunjung ke
pesantren, kak Rani masih berkomitmen dengan jilbab lebarnya.

Hal itu yang membuat cara pandang
saya berubah drastis. Muslimah keren itu bukan karena ‘nakal’ atau yang kecil
jilbabnya. Tapi mereka yang mampu istiqomah dengan pilihan terbaiknya. Dari situ
saya berpikir bahwa peraturan ‘jilbab lebar’ dari pesantren (walaupun hal ini
berkali-kali disampaikan oleh asatidzah di pesantren) bukan sekedar aturan
biasa, namun ini aturan yang syar’i.
jika di pesantren saya berani
pakai jilbab lebar, kenapa di luar pesantren tidak? Buat saya ini berasa
munafik. Dan juga pecundang. Saya ingin buktikan pada diri saya sendiri bahwa
saya mamakai jilbab lebar bukan karena aturan dari orang lain. Ini pilihan
saya, dan saya bangga sekaligus percaya diri memakainya.

Iya, menurut saya,
santriwati-santriwati yang ketika di pesantren taat peraturan (meski terpaksa)
namun ketika liburan atau selepas lulus pesantren tidak berkomitmen dengan
pakaiannya, itu nggak keren. Apalagi yang pada akhirnya memilih bercelana ketat
dan berkerudung pendek dan tipis. Enggak banget!
Yang saya ingat dari pelajaran
kewanitaan di awal masa mondok, di antara fungsi pakaian muslimah adalah
sebagai pelindung dan identitas muslimah. Pelindung; melindungi dari godaan
mata lelaki nakal. Dan identitas bahwa pemakainya adalah seorang muslimah yang
memiliki kehormatan dan harga diri. wew, ini keren banget,nget!
Awalnya saya ragu untuk terus
berkomitmen dengan jilbab lebar, tapi keraguan saya tidak pernah didukung
dengan fakta yang saya hadapi. Hal ini saya buktikan di luar pesantren. Ketika berkumpul
dengan sanak saudara di keluarga besar, juga di lingkungan kuliah dan sekitar. Hm,
tidak ada masalah kok. Meski kadang di jalan juga dipandang aneh, tapi so what
gitu?! Kalau wanita yang berbusana tidak pantas saja berani tampil PeDe, maka kita,
yang berusaha menjaga harga diri, why not?!
Pun ketika merantau di negeri
Piramida. Saya sudah aware dengan perkara ini. saya tahu, bahwa saya akan menemui dunia yang lebih luas.
Orang-orang, lingkungan dan pemikiran. Namun saya coba jalani saja. Awalnya kaku
juga. hm, di sini saya tidak memandang orang lain di bawah saya lho. Buat saya, kerudung lebar
versi saya bukan suatu kewajiban buat orang lain. Tentu masing-masing punya
standar tersendiri sebagai patokan.
Iya, awalnya saya takut akan
berubah. Karena lingkungan yang saya jalani berisi muslim-muslimah dengan ragam
berbeda. Namun ternyata ketakutan saya tidak terbukti. Saya merasa kawan-kawan,
baik senior maupun junior, tidak terlalu mempermasalahkan pakaian saya. tentu
pernah sesekali terlontar pertanyaan,”enggak panas apa?”. Tapi saya yang menjalani,
dan ini nyaman. Saya jawab begitu.
Bahkan, pada beberapa komunitas
yang doyan colak-colek antara laki-laki dan wanita-nya. Saya tetap bisa
berkomunikasi, dan saya merasa lebih dihargai. Intinya tidak ada yang berani
macam-macam. Hehe. Rasanya jadi benteng berjalan. Saya bebas berkomunikasi,
mengeluarkan isi pikiran, tapi tetap aman dan dihargai.
Namun menurut saya, poinnya bukan
sekedar di pakaian (jilbab lebar). Dari yang selama ini saya jalani, di mana
pun kita berada, orang akan memperlakukan kita berdasarkan dua hal. Satu,
sikap, akhlaq dan perilaku. Dua, ilmu dan wawasan.
Jadi, adik-adikku, jangan pernah
minder dengan busana kalian yang sudah syar’i. tidak perlu ikut-ikutan ber’hijab’
ala hijabers yang pasmina-nya melingkar-lingkar dan butuh puluhan tusuk jarum
buat memasangnya, hanya sekedar terlihat gaul.NO+pashmina+@100.jpg)
NO+pashmina+@100.jpg)
Tidak perlu foto selfie dengan
pose monyong-monyong dan sok kiyut (pinjam bahasa ust Felix Siauw), karena itu
tidak membuat kita semakin lucu dan imut seperti yang kamu bayangkan. Terkadang
kita harus membedakan mana yang “be my self” dengan mana yang “menuruti hawa
nafsu”. Saya pun tidak sempurna, namun saya yakin, kita semua ingin merasa
aman, dihargai, dihormati. Sebagai muslimah. Ya, muslimah!
Smoga kita makin lebih baik!
*semua gambar/foto ngacak di google.com
Thursday, 31 July 2014
Anak-anak adalah Anugrah
bismillah
mungkin
kalian lupa nantinya, betapa kalian senang membuat kami kalang kabut. Kalian
mengejar-ngejar kami yang sedang tak ingin diajak bermain. Bahkan akhirnya kami
terpingkal-pingkal mengetahui betapa pintarnya kalian. Bergabung bersama
mendorong botol yang kami gunakan sebagai penghalang pintu.
Hai
anak-anak,
Terima kasih
telah tumbuh dengan baik. Lihat betapa Allah Maha Penyayang. Kalian tidak
semalang kakak-kakak kalian. Mereka lahir dari seorang ibu yang baik, lembut,
sopan dan tentu berbeda dari ibu-ibu lain. Ketika lewat beberapa pekan dari
kelahiran kakak-kakak kalian, bahkan mata kecil mereka pun belum sempat melihat
kerasnya dunia. Mereka harus terpisah dari sang ibu. Terbuang di tepi jalan
oleh orang yang hatinya telah membeku. Hanya tersisa satu yang mampu kami
selamatkan. Maka ia bernama Ichi.
![]() |
| Ibu anak2 n Ichi, yg diracun ablah T_T |
![]() |
| ibu anak2 |
![]() |
| ichi |
Kami tak
pernah berharap akan hadirnya kalian, anak-anak. Namun hadirnya kalian adalah
suatu anugrah yang tak pernah kami bayangkan. Mungkin kakak semata wayang
kalian, Ichi, lebih beruntung. Selama beberapa bulan ia bisa bergeliat dan
bermanja sepuas hati bersama ibu, meski kamipun masih tak terlalu tahu siapa
ayahnya.
Namun tidak
bagi kalian, ya, kalian berenam yang kini tersisa lima. Kami tak tahu, tak mau
tahu dan tidak berharap tahu siapa ayah kalian. Ketahuilah bahwa ibu kalian
bergitu cantik. Begitu anggun. Begitu sopan. Hingga kami tak tega kalian
terpisah darinya. Tak terlalu banyak yang bisa kami bantu dalam persalinan
kalian di hangatnya summer ini. tapi tahukah kalian, dari beberapa kali bahaya
dari orang-orang yang telah hilang rasa kasih sayangnya itu, kalian adalah yang
beruntung. Yang dijaga olehNya. Bersyukurlah wahai anak-anak!
Maafkan kami,
anak-anak. Ketika ibu kalian sadar akan panggilanNya, ia menjauh dari kalian
yang bahkan belum dapat membuka mata. takdir dan kebusukan hati manusia yang
membawa ibu kalian pergi. Maaf kami tak bisa membawanya kembali untuk merawat kalian.
Tahukah
betapa bingungnya kami, setiap kali mendengar tangis kalian yang merengek minta
susu? Sungguh begitu pilu. Bagaimana bisa kami makan dengan tenang sementara
ratapan tangis kalian begitu menusuk relung hati kami. Maaf kami tak bisa
mengerti bahasa tangis kalian. Jeritan kepedihan anak-anak yang ditinggal pergi
ibunya dalam usia yang sangat dini. Apa yang bisa kami perbuat, anak-anak?!
Hari pertama,
kami coba berikan susu asrama yang juga minuman keseharian kami. Kalian
mencicipnya sedikit melalui sedotan yang ujungnya tajam, lalu menolak.
Tahukah,, hati kami tersayat melihat kalian kelaparan menjilat tangan kami yang
basah dengan sisa air susu sapi. Berikutnya kami belikan kalian dot susu.
Syukurlah! Kalian mulai dapat beradaptasi.

Kami sangat
bahagia, anak-anak. Meski masih tersebit tanya, sampai kapan kalian bisa
bertahan?
Setiap
terdengar tangis kalian, kami berikan dot susu. Bergilir. Bergantian, sembari
sahur atau di siang dan malam hari. Kawan-kawan Thailand juga membantu.
Bersyukurlah. Setelah kalian puas minum lalu tertidur, barulah kami dapat makan
dengan tenang. dan setiap subuh mulai lewat, kami sembunyikan kalian dengan
berjingkat agar tak ada petugas asrama yang membuang kalian. Menjelang agak
siang, kalian terbangun, dan kami harus bergantian memberi 5 lidah yang
kehausan. Setelah itu, beberapa kami harus mengelap pantat kalian dengan tisu
agar kalian dapat buang air kecil atau besar.
Hingga makin
hari kami menyadari, kalian tumbuh, membuka mata, berjalan dan bermain dengan
kami! Terima kasih, anak-anak, kami sadar, merawat kalian dengan kesabaran adalah
anugrah yang melahirkan senyuman tatkala kami penat dengan ricuhnya dunia.
Terima kasih kalian tumbuh dengan kaki-kaki yang semakin hari semakin kuat
menopang perut buncit kalian yang menggemaskan. Terima kasih telah mampu
berlari dan bekejaran di lorong asrama kami. Meski kami harus rela mematikan
lampu lorong tatkala kalian tertidur lelap, dan menutup pintu agar kalian tak
terjatuh di anak-anak tangga asrama.

![]() |
| wajah2 kelaparan |
Dae Gu,
Gembrot, Snow White, Ji Gook dan Goro. Kini kalian mulai tumbuh dan
menggemaskan. Hingga tak jarang kami, tanpa sadar berbicara dan cerewet seperti
ibu pada anaknya,”jangan lari-lari anak2!”, “ayo tidur, waktunya istirahat,
Goro!”,”Dae Gu nggak boleh lari-lari terus!”
Anak-anak,
saat ini kami ikut berduka akan Dae Gu. Dae Gu yang semangat dan hiperaktif
kini berbaring dan jarang minum susu. Dua kaki belakangnya tanpa sengaja
terjepit pintu. Dae Gu, semoga engkau cepat sembuh. Kami tak tega melihat
tubuhmu semakin kurus. Segeralah sembuh dan bermain-main dengan Snow white,
Goro, Gembrot dan Ji gook. Terima kasih juga, Ichi, kau mau menerima dan
bermain dengan adik-adik tirimu, menggantikan ibu yang sudah tiada.

Cepat sembuh
ya Dae Gu.
Anak-anak
yang menggemaskan, tumbuh dan bermainlah. Kalian adalah anugrah! Terima kasih
telah memberi kami senyuman, dalam dunia kami yang penuh kericuhan.
*pada
akhirnya Dae Gu meninggal pada malam 28 Ramadhan 1435 H, semoga ia lebih
tenang, dan yg ditinggalkan menggenggam ketabahan.
![]() |
| anak2 mainan ma kk tirinya, Ichi |
Friday, 18 July 2014
Seorang Kakak yang Meninggal Tadi Malam
bismillah
Kakak
(almarhumah) Gusti Rahma Yeni.
Terakhir aku
berbincang ringan dengannya, saat main ke kamar seorang kawan asal Minang. Sejauh
yang ku kenal, Kak Gusti adalah sosok yang sopan. Lembut tuturnya. Ini bisa kau
dapati sejak pertama kau mengenalnya. Namun aku juga bisa membaca keteguhan
hati yang kuatnya melebihi kelembutan tuturnya.
Komunikasi terakhir
kami ketika Kak Gusti meminta dimasukkan grup Whatsapp asrama Buuts putri. Dan sahur
tadi, perutku rasanya tak karuan mendengar berita kematiannya. Innalillahi wa
inna ilaihi rojiun. Ini sahur terpahit yang sangat kupaksa di bulan Ramadhan.
Aku teringat
pada suatu hal yang selalu ku ingat namun tak selalu dapat kucerna tanpa ada
fakta yang menggiring. Ajal. Mati.
Ah, jujur
saja.
Setelah ini
semoga ada yang selalu terngiang di benakku, benak kita.
“Sungguh apa
yang telah kau siapkan untuk menghadapNya?”
Cairo, Madinah al Buuts al Islamiyah
11:06 CLT
Friday, 11 July 2014
Tragedi Gaza dan Kepedulian Kita
bismillah
Sejujurnya, ada beberapa keresahan yang beberapa waktu ini
menghantui pikiran saya. Langsung saja. Ini soal “kepedulian” yang rasa-rasanya
luntur dari lingkungan sekitar saya. Sebagai bagian dari Masisir, saya merasa
ada yang janggal setiap kali terjadi peristiwa atau isu yang memanas, baik
dalam skala nasional maupun internasional. Ya, saya melihat lambannya respon
yang dilakukan oleh Masisir.
Untuk peristiwa berskala nasional misalnya, ketika Indonesia
menjadi tuan rumah Miss World, kita (terutama masisirwati) diam saja. Meskipun pada
akhirnya-kalau tak mau disebut terlambat- Wihdah bekerjasama dengan beberapa
organisasi keputrian mendeklarasikan penyataan sikap yang menolak diadakannya
kontes kecantikan tersebut. Berikutnya, ketika berhembus isu pelarangan jilbab
untuk siswi muslimah di Bali pada awal tahun 2014. Beberapa bulan berikutnya, barulah
seorang anggota Wihdah menyebar selebaran dari PPMI, berisi petisi yang menolak
larangan jilbab. Celakanya ada beberapa kawan yang bertanya,”Petisi itu apa?”
Hm, saya sendiri bertanya-tanya,”Kenapa baru sekarang? Isunya sudah
hampir tiga bulan berlangsung”. Tapi ya, lebih baik telat daripada telat
bangeet.
Dan sekarang agresi Israel ke Gaza. Empat hari sudah lewat. Kita mungkin
telah merespon dengan memasukkan peristiwa ini dalam obrolan buka puasa, status
facebook dan twitter atau men-share segala bentuk kabar terkait Gaza dan
Palestina melalui grup-grup whatsapp atau yang sejenisnya. Tapi belum ada
tindakan nyata yang mempresentasikan respon Masisir terkait peristiwa ini.
Dua hari yang lalu saya tanyakan pada seorang pegiat organisasi
Masisir,”Gaza diserang, mau adakan penggalangan dana/pernyataan sikap tidak?” Syukurnya,
beberapa saat lalu saya lihat pamflet aksi solidaritas kemanusiaan diposting di
grup facebook PPMI Mesir. Aksi tersebut direncanakan pada hari Ahad, dua hari
lagi. Berarti 5 hari pasca agresi Israel ke Gaza. Padahal di tanah air, aksi
semacam ini sudah lebih dahulu digelar oleh ormas-ormas, organisasi dan berbagai
elemen masyarakat di berbagai daerah, begitu pula dengan penggalangan dana
untuk rakyat Palestina. Bolehlah organisasi induk kita diapresiasi. Masih belum
terlalu terlambat.
![]() |
| pic: dailymail.co.uk |
Hanya saja, rasanya agak malu. Kita yang secara geografis lebih
dekat dengan Palestina, ternyata kalah cepat dalam merespon tragedi kemanusiaan
ini dibanding masyarakat Indonesia.
Ya, kita tahu Israel bukan hanya sekali ini “kalap”. Tahun 2008-2009,
November 2012, lalu serangan terhadap Mavy Marmara dan masih banyak rentetan
kezaliman dalam kurun waktu puluhan tahun yang dilakukan Israel terkait
Palestina. Agresi militer yang lebih pantas disebut genosida yang terjadi saat ini
mungkin akan berhenti sementara waktu. Tapi kita saksikan hal semacam ini terus
berulang, perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan yang digelar terus
dilanggar, sementara tekanan masyarakat internasional kepada Israel seperti butiran
debu yang menantang angin.
Sudah wajar kita mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina terhadap
kependudukan (baca: penjajahan) Israel di tanah mereka. Hal ini jelas
bertentangan dengan bunyi Pembukaan UUD 1945. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan
itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan. Meskipun lewat sejarah kita tahu bahwa PBB mandul, jalur
diplomasi pun tak memberi harapan yang pasti. Namun sepertinya ada jalur
perjuangan untuk membantu saudara di Palestina yang selama ini kita sepelekan.
Boikot.
Seruan boikot yang juga pernah dikampanyekan DR. Yusuf Qardhawi ini,
kurang berjalan dengan sistematis dan kontinyu. Buktinya, kampanye boikot terhadap
produk-produk Israel dan pendukungnya ini hanya santer saat berita penyerangan
Israel ke Palestina memanas. Selepas itu meredup lalu hilang, dan baru akan
muncul setelah isu pembantaian terhadap rakyat Palestina mencuat lagi.
Kampanye boikot ini adalah salah satu usaha yang paling
memungkinkan untuk kita lakukan. Ya, kita setiap individu. Sebagaimana yang
pernah disampaikan DR Yusuf Qardhawi dalam khutbah Jumatnya, tahun 2002 silam, “ كل ما له بديل يجب أن
يقاطع” Setiap produk yang ada gantinya, wajib diboikot.
Namun kampanye boikot ini akan
lebih berpengaruh jika terorganisir secara kontinyu dan sistematis. Kalau dalam
lingkup Masisir, sepertinya PPMI dan Wihdah lah yang paling tepat untuk
mengorganisirnya. Begitu pula dengan penggalangan dana dari Masisir, tentu
lebih terasa manfaatnya bila diorganisir secara terpusat dan kotinyu. Sehingga tidak
harus menunggu momentum tertentu, untuk menggalang dana secara massal dari
Masisir.
Usaha di atas tentu diringi dengan doa. Kita berharap di bulan suci
Ramadan ini, seluruh muslimin di penjuru dunia dapat melaksanakan ibadah puasa
dengan tenang dan aman. Tanpa harus dibayang-bayangi oleh serangan bom,
pembantaian massal dan segala bentuk kezaliman.
Wal akhir, yang saya sampaikan
adalah uneg-uneg sederhana, dengan harapan supaya Masisir (juga saya sendiri) lebih
peka terhadap peristiwa dan isu-isu global yang kerap terjadi. Sehingga tenaga
dan respon yang kita keluarkan lebih mendatangkan manfaat, tidak hanya terbuang
sia-sia untuk perseteruan dan debat kusir tiada putus, yang justru tidak
membawa dampak apapun kecuali menyalakan api permusuhan.
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ
يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia
tiada mengetahuinya.” (QS Yusuf:21)
Wallahu ta’ala a’lam
Wednesday, 25 June 2014
Dua Puluh Dua
bismillah
Barisan kata yang sulit ku
tulis. Tahun ini berat.
22 tahunku sudah lewat. Setahun lalu
aku ingin serius menghadapi hidup. Dan kali ini sepertinya harus dirinci lagi. Namun
buatku waktu adalah waktu. Dan momen tahunan ini bukanlah suatu keistimewaan
untuk dirayakan dan digembirakan. Jadi aku memang tak berharap akan datangnya
ucapan selamat dan sebagainya. Selain karena aku juga tak terlalu peduli dengan
momen milik kawan yang lain.
Aku ingin menjadikan momen ini
sebatas titik tolak dan evaluasi perjalanan penghambaanku. Sudahkah ia berjalan
sesuai kerangka dan target yang ku susun? Haha. Padahal aku tak pernah puas
dengan jerih payahku. Rasa-rasanya waktu dan episode kehidupan yang kujalani
mudah sekali menguap dari memoriku.
Ala kulli hal, tahun ini aku
ingin lebih dekat dengan Allah Swt. ya. Aku sadar, ada satu kesalahan besar
dalam pendekatanku kepadaNya. Dan itu berimbas pada segala hal. Tak hanya
ibadah. Tapi juga muamalah, wawasan juga sikap dan jawabanku terhadap hal-hal
yang ku hadapi. Kesalahan apa itu?
Maaf lah. Aku tak ingin berbagi
kecuali dengan Rabb-ku. :P
Pada sebuah garis batas aku
berhenti dan menyadari. Dosa bukan untuk dipamerkan. Sekalipun dengan begitu
menunjukkan betapa hebatnya aku bangkit dari keterpurukan. Semoga ini benar.
Target yang belum terpenuhi? O,
banyak. Kau tahu, terkadang aku bingung dengan diriku ini. Melihat kegagalan
seseorang, aku inferior. Bagaimana bila usahaku gagal dan aku lebih terpuruk? Menyaksikan
keberhasilan seseorang, bagaimana bila aku berusaha lebih namun tak berhasil
seperti dia? Astaghfirullah...
Selama ini aku merasa hidupku
berjalan mulus. Tidak-atau belum menemui ketegangan yang cukup menggoncang. Membandingkan
dengan yang dialami kawan-kawan. Well, hidupku tidak se-fluktuatif mereka. Ah,
ini dia, mengapa harus membandingkan dengan orang lain? Betul!
Entah kenapa, akhir-akhir ini
fisikku cepat lelah. Pasca liburan yang lumayan menguras tenaga kah? Tak tahu. Apa
selaras dengan “ujian” beberapa bulan terakhir? Capek pikiran, iya. Sepertinya akhir
tingkat tiga, ujian (atau godaan?) hampir sama dengan awal lulus dari
pesantren. Cukup mengganggu konsentrasi memang. Tapi ah... yang penting belum
ada yang benar-benar nyangkut di hati. Saya tidak mau setia pada seseorang
yang tidak pasti. Eits!
Kalau mau jujur juga, ada janji
yang masih saya nantikan hari ini. Tapi hm, sepertinya si empunya janji sudah
pergi. Apa yang ia janjikan? Saya juga tidak tahu. Biarlah. Karena saya juga punya
hutang tulisan sama dia, tapi belum saya selesaikan. Buatku, yang wajib adalah
menepati janjiku. Meski terkadang memenuhi hal itu cukup kepayahan, jika sudah
begitu aku akan jujur,”maaf, saya tidak bisa tepati janji saya”. Dari pada
melenggang tanpa ucapan maaf, itu kan pecundang. Betul?
Satu hal lagi yang amat saya
gembirakan akhir-akhir ini. Keluargaku merindukanku.
Aku tahu mereka rindu. Seperti rindunya
saya. Tapi mendengar kata “I miss U” dari kakak adikku, semakin aku sadar, “Aku
cinta kalian karena Alloh”. Semoga cinta ini cinta yang abadi, hingga ke surga
nanti. Amin.
Wal akhir, terima kasih untuk
semua orang di sekitarku. Mereka mampu bertahan di sekeliling, dengan
egoisme-ku yang menyebalkan. semoga saya terus dapat perbaiki diri. Semoga,
semakin hari Alloh ta’ala semakin menyayangi aku, kamu, mereka dan... dia. ^_^

Amin.
Cairo,
pagi
Summer yang menyejukkan,06:52
26 Juni 2014
Friday, 18 April 2014
Dari Tepi Kairo (2)
bismillah
Ablah Gheda
menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih
dahulu sampai. Hari pertama, tentu saja
perkenalan.
“Ini Ablah
Rani.” Ablah Gheda menunjukku.
Sorot mata
polos mereka fokus, keluguan khas bocah tidak tertutupi rambut gimbal, baju
kusam dan ujung kuku mereka yang panjang dan hitam. Bukan anak-anak jika
situasi tenang dapat bertahan lebih dari hitungan menit. Kelas kembali gaduh.
Di sini, tiidak
ada pemisahan usia layaknya PAUD dan TK di Indonesia. Entah tiga atau lima
tahun semua bersama dalam kursi-kursi mini dan meja yang disekat tembok-tembok
berlukiskan taman bunga dengan dominasi warna yang tak lagi dapat disebut biru
muda.
Aku dan Fitri.
Kami tak sampai hati bila mengikuti cara pembelajaran ala Ablah Gheda yang ia
ajarkan di hari pertama. Bila ada yang tidak ikuti perintah, kau boleh pukul. Duh,
kami yang tak pernah menjadi guru TK saja tak sampai hati melihatnya. Bukan
pukulan ala Indonesia, tapi Mesir. Plak!
Barangkali
anak-anak merasa lebih beruntung karena pada hari-hari berikutnya, kami tak
pernah setega itu.
Memang wajib
sabar.
Di sela-sela
pelajaran menggambar misalnya, aku dan Fitri berkeliling dan memotong kuku
mereka satu demi satu. Wajah-wajah imut mereka seperti boneka di toko mainan
anak-anak, andai sedikit lebih bersih saja. Bahkan seringkali aku memandang
dekat wajah Heba, gadis kecil anak sopir tuk-tuk. Apakah bulu matanya palsu
atau sudah terpoles maskara? Ku colek pipi chubynya, ia berkedip dan
barulah aku yakin itu asli.
“Eih da?” tanyaku
pada Ahmed yang berusia 3 tahun. Di sela-sela waktu istirahat kami sering
bercanda bersama mereka.”fi isy wa la baidh wa la burtu’al?” tanyaku sambil mengusap
perutnya yang menggelembung.
“Isinya isy.”
Jawab Mahmud, kakaknya yang setahun lebih tua. Sementara adiknya hanya diam
memandangku sembari asyik menyesap ibu jarinya.
Di waktu
istirahat, anak-anak diperkenankan jajan dengan uang saku mereka. Rata-rata
satu rubu’ atau nus, meski ada beberapa yang diberi uang saku
satu pound oleh orang tuanya. Uang saku standar untuk anak-anak kurang mampu
yang belajar di sekolah gratis ini. Tak ada baju seragam apalagi grup drumband.
Mereka datang lalu kami ajak menghafal hadits-hadits pendek, itu sudah
kebahagiaan tersendiri. Apalagi bagi Ablah Gheda yang berjuang mendirikan
sekolah kecil ini. Sayang, kami hanya bisa membantu di saat masa libur kuliah
saja.
![]() |
| mattmoyer.photoshelter.com |
Kami juga
diperkenankan untuk beristirahat jika sewaktu-waktu merasa lelah. Sebuah bilik
kecil bersanding dengan ruang kelas. Dinding-dindingnya tidak terbangun
simetris. Khas flat-flat murah level penduduk kelas bawah. Ada selapis tikar
rombeng sebagai alas dan sebuah bantal buluk untuk sandarkan kepala.
Pernah suatu
ketika aku terbangun dari tidur di bilik kecil itu. Ku dapati Fitri tengah
merapikan bangku dan meja. Yusuf yang berusia empat tahun nampak kesulitan
memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Ku hampiri dia dari belakang, mencoba
membantu memasukkan barangnya yang berbungkus plastik. Ia terkejut. Tangannya
terayun menampar wajahku. Tidak sengaja, itu yang ku tangkap dari sorot matanya
yang menyesal. Tapi ia langsung berlari. Pergi menelusup dalam keramaian
pertokoan.
“Ya Yusuf!”
panggilku. Jelas tak akan membuatnya kembali. Bagi sebagian orang, begitulah
watak Mesir. Tapi buatku, yang barusan adalah seorang bocah yang tidak tahu
bagaimana mengekspresikan rasa sesal dan terkejutnya.
Di hari lain.
Pelajaran
menggambar. Temanya, binatang. Dua puluhan anak sibuk mengekspresikan bakat melukis
mereka di atas selembar kertas. Anak tiga tahun-an hanya membuat bulatan tak
sempurna yang bengkok di sana sini dengan beberapa garis tak beraturan.
Disebutnya itu kucing. Anak-anak yang lebih tua juga tidak jauh berbeda. Hanya
saja lekukan mereka sedikit lebih sempurna. Hanya satu anak yang membuatku
terpesona. Ali namanya.
Saat kutanya,
ia jawab menggambar singa. Dan memang sab’in fil mi-ah mirip singa
jantan. Dengan rambut coklat tebal memenuhi kepala yang membuatnya tampak besar
dan garang. Terlalu sempurna untuk seorang anak TK. Menjiplak? Ah, mana
mungkin. Jelas-jelas aku melihat tangannya menari-nari di atas kertas yang
sebelumnya kosong.
Ku sampaikan
penilaianku pada Fitri. Ia bilang,”Orang tuanya pelukis jalanan.”
Oh...
“Mama dan
Babanya?!” kurang yakin.
Tapi Fitri
mengangguk mantap. Barulah aku percaya bakat genetik itu ada. Tapi bagaimana ia
dapat menggambar dengan detil dan mempesona begitu? Ia bilang pernah melihatnya
di televisi, berarti dia mengcopy-paste dari sana. Jadi, sesuatu yang konyol
dan tolol jika ada yang menyuruh anak-anak menggambar Tuhan. Pikiran Mereka
yang polos hanya melukis apa yang pernah mereka tangkap dengan indra. Sedang
Tuhan tak pernah ditangkap langsung dengan indra.
Aku tersenyum
sendiri, jika beruntung, mungkin beberapa belas tahun lagi Ali akan membuka
pameran mandiri untuk lukisan-lukisannya. Atau, menjadi sebatas pewaris orang
tuanya. Pelukis jalanan. Semoga tidak.
Yusuf datang.
serta merta merobek gambar singa-nya Ali. Pertengkaran tak terelakkan. Sekali
lagi, ala Mesir, bukan Indonesia ataupun Melayu. Pukul. Tampar. Tendang. Aku
dan Fitri yang berusaha melerai cukup merasakan tenaga ekstra anak-anak Bumi
Kinanah ini.
Mungkin Yusuf
cemburu melihatku yang terkagum-kagum dengan gambar Ali. Namun tetap saja kami
paksa ia untuk meminta maaf. Harus dengan sedikit ancaman. Tidak boleh pulang.
Marwah, gadis
kecil yang paling banyak hapalan haditsnya itu pun ikut bercakap kepada Ali.
“La Tagdhab!”
Ganna pun
ikut-ikutan,”Shollu alannabi!”
Olala! Gaya
anak-anak ini lucu sekali. Sayang, sebagai guru, rasa gemasku harus
ditahan.
Syukur,
akhirnya Yusuf mau meminta maaf.
Dua bulan masa
liburan sudah terlewat. Sesuai kesepakatan, aku dan Fitri mengakhiri khidmah
begitu masa aktif kuliah datang.
Ada kesedihan
meninggalkan tatap mata bening bocah-bocah itu. Di pertemuan terakhir, ku kecup
kepala mereka satu persatu. Tak lagi peduli dengan tampang kucel dan bau tubuh
yang entah kapan terakhir kali mandi. Aku masih tak dapat meneropong ke masa
depan. Akan seperti apa nantinya? Anak-anak yang terpaksa hidup di pinggir
dalam kerasnya gemerlap kota tersibuk se-benua Afrika ini. Ah, hampir aku lupa,
mereka punya takdir. Dan mereka punya usaha.
Satu pekan
terlepas. Dalam bayang-bayang kesibukan kuliah beberapa kali rindu menyusup.
Anak-anak itu, sedang belajar apa sekarang? Berapa ayat dan hadits yang sudah
mereka hapal?
Di dalam bus,
lagi-lagi aku melihat papan reklame UU Perlindungan Anak dengan foto bocah yang
tersenyum. Aku tersenyum miris.
Seorang anak
kecil menaiki tangga bus dengan sebungkus plastik bening kusam penuh permen.
Dari rambutnya yang gimbal dan pakaiannya yang kusut tak beraturan membuatku
menarik suatu kesimpulan. Penjual permen.
![]() |
| ilo.org |
Kakinya
berjalan cepat namun lambat bagi orang dewasa. Dengan tangan mungilnya menaruh
tiap dua buah permen seharga satu pound di tiap pangkuan penumpang, Sebagaimana
lazimnya pedagang dalam bus. Banyak yang menyebut profesi begitu, pengemis.
Tapi buatku bukan. Mereka pedagang. Yang disayangkan dari penjual kecil ini
adalah usianya yang mengiris hati. Apa yang dilakukan orangtua bocah sekecil
ini sehingga harus mencari pundi-pundi junaih seorang diri?
Mau tak mau
pikiranku tersangkut pada dua bulan yang kulalui bersama anak-anak yang
terlahir dari kelas bawah itu. Ya Rabb...
Ketika bocah
itu sampai di tempatku. Ku kembalikan permen yang ia taruh dengan menyertakan
receh satu pound. Wajahnya menengadah, lalu terkesiap. Sama sepertiku. Yusuf!
Ia berlari.
Tidak peduli pada beberapa permen yang belum diambilnya dari penumpang lain.
Bus melaju lambat. Ku lihat ia meloncat dari tangga bus. “Ya Yusuf!” teriakanku
tak membuatnya berhenti. De javu.
Tak sampai
sedetik sebuah mobil dari belakang melaju kencang lalu mengerem dengan cepat.
Ya Rabb, tubuhnya terpental. Tidak! Selanjutnya bocah cilik itu jatuh
satu meter dari bemper mobil yang tak mulus itu.
Tak ada darah. Syukurlah.
Ketika orang-orang mulai
berkerumun, ia bangkit. Lalu berlari. Aku hanya mengelus dada. Kekhawatiranku
beberapa detik lalu berhenti sudah. Namun Yusuf kecil tetap berlari menembus
keramaian manusia di siang bolong. Ia terus berlari. Meski kenyataan tidak
pernah berlari pergi secepat yang ia harapkan.
NB: dimuat dalam Buletin Terobosan Edisi 361
Subscribe to:
Posts (Atom)



























