Friday, 1 August 2014

Jilbab, Adik-adikku... ^_^

bismillah
Tulisan ini saya tujukan, terutama buat adik-adik muslimah. Entah adik sepupu (karena adik kandung saya laki-laki), adik kelas, well, siapapun yang muslimah dan berusaha istiqomah di jalanNya. Bukan berarti saya sempurna, karena cucu dari mbah Sampoerna. Hehe. Ala kulli hal, la’alla nafi’an!
Jilbab, kerudung, dan hijab.saya tidak ingin berpanjang lebar mengupas sisi bahasa dari tiga kata itu. kesemuanya saya sebut jilbab. Begitu saja. Okay?


Ceritanya, sewaktu kecil –kira-kira kelas 3 SD- Ummi bercerita tentang anak temannya yang berkomitmen memakai jilbab setiap hari (kecuali di dalam rumah atau dengan mahrom tentunya). Padahal Si anak juga seumuran saya. mulai dari situ, saya iri. Iya, iri!
Sementara saya, meski pakai jilbab, tapi kalau merasa panas, ya lepas. Jadi, kalau anak teman ummi saja bisa, saya juga bisa dong. Maka saya putuskan komitmen pakai jilbab. Awalnya yang penting pakai kerudung. Meski pakai celana tiga perempat dan kaos berlengan pendek. Kalau diingat, lucu deh. culun.
Namun semua berjalan lewat proses. Yang intinya tidak ada paksaan dari ummi atau abi supaya saya berkomitmen menutup aurat. Seperti masalah kaos kaki, tidak berjabat tangan/salaman dengan non-mahrom. Semua keputusan saya. selain juga karena iri melihat ummi dan teman-temannya begitu. Yang saat itu (masih SD lho ya) dalam pikiran saya, muslimah dewasa ya yang berkomitmen menjaga dan menutup aurat. Tapi tetap saja, dengan motivasi seorang anak kecil: iri dan sok jadi orang dewasa!


Lalu masuk pesantren, awalnya sukarela memakai jilbab lebar. Hm, meski kata lebar itu relatif, buat saya bisa disebut lebar kalau batas minimal samping jilbab adalah siku tangan. Kalau di atas siku ya, buat saya belum lebar. Pokoknya saya pakai jilbab lebar karena dua hal. Pertama, peraturan. Kedua, meniru ustadzah. Kebetulan tahun awal di pesantren kami ditempatkan di komplek khusus. Sehingga-seperti lazimnya anak baru, semua taat peraturan.
Namun sesekali melihat kakak kelas dari komplek lain pesantren, jilbab mereka kecil. Di atas siku. Meski banyak juga yang berjilbab lebar, bahkan bercadar. Namun tetap saja, kesannya kakak kelas yang berkerudung kecil itu lebih gaul, lebih keren, lebih berani. Cool deh. dari situ terbersit di pikiran saya, nanti kalau naik kelas dan tinggal satu kompleks dengan kakak kelas, saya akan pakai jilbab kecil.
Sungguh Alloh Maha Penyayang. Beberapa bulan di kompleks asrama pesantren yang baru, saya mengamati seorang kakak kelas. sebut saja namanya Rani. Kak Rani ini berkerudung lebar, lalu setamat MTs melanjutkan sekolah di luar pesantren. Namun ketika berkunjung ke pesantren, kak Rani masih berkomitmen dengan jilbab lebarnya.
Hal itu yang membuat cara pandang saya berubah drastis. Muslimah keren itu bukan karena ‘nakal’ atau yang kecil jilbabnya. Tapi mereka yang mampu istiqomah dengan pilihan terbaiknya. Dari situ saya berpikir bahwa peraturan ‘jilbab lebar’ dari pesantren (walaupun hal ini berkali-kali disampaikan oleh asatidzah di pesantren) bukan sekedar aturan biasa, namun ini aturan yang syar’i.
jika di pesantren saya berani pakai jilbab lebar, kenapa di luar pesantren tidak? Buat saya ini berasa munafik. Dan juga pecundang. Saya ingin buktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mamakai jilbab lebar bukan karena aturan dari orang lain. Ini pilihan saya, dan saya bangga sekaligus percaya diri memakainya.
Iya, menurut saya, santriwati-santriwati yang ketika di pesantren taat peraturan (meski terpaksa) namun ketika liburan atau selepas lulus pesantren tidak berkomitmen dengan pakaiannya, itu nggak keren. Apalagi yang pada akhirnya memilih bercelana ketat dan berkerudung pendek dan tipis. Enggak banget!
Yang saya ingat dari pelajaran kewanitaan di awal masa mondok, di antara fungsi pakaian muslimah adalah sebagai pelindung dan identitas muslimah. Pelindung; melindungi dari godaan mata lelaki nakal. Dan identitas bahwa pemakainya adalah seorang muslimah yang memiliki kehormatan dan harga diri. wew, ini keren banget,nget!
Awalnya saya ragu untuk terus berkomitmen dengan jilbab lebar, tapi keraguan saya tidak pernah didukung dengan fakta yang saya hadapi. Hal ini saya buktikan di luar pesantren. Ketika berkumpul dengan sanak saudara di keluarga besar, juga di lingkungan kuliah dan sekitar. Hm, tidak ada masalah kok. Meski kadang di jalan juga dipandang aneh, tapi so what gitu?! Kalau wanita yang berbusana tidak pantas saja berani tampil PeDe, maka kita, yang berusaha menjaga harga diri, why not?!
Pun ketika merantau di negeri Piramida. Saya sudah aware dengan perkara ini. saya tahu, bahwa saya akan menemui dunia yang lebih luas. Orang-orang, lingkungan dan pemikiran. Namun saya coba jalani saja. Awalnya kaku juga. hm, di sini saya tidak memandang orang lain di bawah saya lho. Buat saya, kerudung lebar versi saya bukan suatu kewajiban buat orang lain. Tentu masing-masing punya standar tersendiri sebagai patokan.
Iya, awalnya saya takut akan berubah. Karena lingkungan yang saya jalani berisi muslim-muslimah dengan ragam berbeda. Namun ternyata ketakutan saya tidak terbukti. Saya merasa kawan-kawan, baik senior maupun junior, tidak terlalu mempermasalahkan pakaian saya. tentu pernah sesekali terlontar pertanyaan,”enggak panas apa?”. Tapi saya yang menjalani, dan ini nyaman. Saya jawab begitu.
Bahkan, pada beberapa komunitas yang doyan colak-colek antara laki-laki dan wanita-nya. Saya tetap bisa berkomunikasi, dan saya merasa lebih dihargai. Intinya tidak ada yang berani macam-macam. Hehe. Rasanya jadi benteng berjalan. Saya bebas berkomunikasi, mengeluarkan isi pikiran, tapi tetap aman dan dihargai.
Namun menurut saya, poinnya bukan sekedar di pakaian (jilbab lebar). Dari yang selama ini saya jalani, di mana pun kita berada, orang akan memperlakukan kita berdasarkan dua hal. Satu, sikap, akhlaq dan perilaku. Dua, ilmu dan wawasan.
Jadi, adik-adikku, jangan pernah minder dengan busana kalian yang sudah syar’i. tidak perlu ikut-ikutan ber’hijab’ ala hijabers yang pasmina-nya melingkar-lingkar dan butuh puluhan tusuk jarum buat memasangnya, hanya sekedar terlihat gaul.
Tidak perlu foto selfie dengan pose monyong-monyong dan sok kiyut (pinjam bahasa ust Felix Siauw), karena itu tidak membuat kita semakin lucu dan imut seperti yang kamu bayangkan. Terkadang kita harus membedakan mana yang “be my self” dengan mana yang “menuruti hawa nafsu”. Saya pun tidak sempurna, namun saya yakin, kita semua ingin merasa aman, dihargai, dihormati. Sebagai muslimah. Ya, muslimah!
Smoga kita makin lebih baik!


*semua gambar/foto ngacak di google.com

                                                                                         Cairo, 1 Agustus 2014

Thursday, 31 July 2014

Anak-anak adalah Anugrah

bismillah
Hai anak-anak,
Terima kasih telah tumbuh dengan baik. Lihat betapa Allah Maha Penyayang. Kalian tidak semalang kakak-kakak kalian. Mereka lahir dari seorang ibu yang baik, lembut, sopan dan tentu berbeda dari ibu-ibu lain. Ketika lewat beberapa pekan dari kelahiran kakak-kakak kalian, bahkan mata kecil mereka pun belum sempat melihat kerasnya dunia. Mereka harus terpisah dari sang ibu. Terbuang di tepi jalan oleh orang yang hatinya telah membeku. Hanya tersisa satu yang mampu kami selamatkan. Maka ia bernama Ichi.
Ibu anak2 n Ichi, yg diracun ablah T_T

ibu anak2

ichi


Kami tak pernah berharap akan hadirnya kalian, anak-anak. Namun hadirnya kalian adalah suatu anugrah yang tak pernah kami bayangkan. Mungkin kakak semata wayang kalian, Ichi, lebih beruntung. Selama beberapa bulan ia bisa bergeliat dan bermanja sepuas hati bersama ibu, meski kamipun masih tak terlalu tahu siapa ayahnya.
Namun tidak bagi kalian, ya, kalian berenam yang kini tersisa lima. Kami tak tahu, tak mau tahu dan tidak berharap tahu siapa ayah kalian. Ketahuilah bahwa ibu kalian bergitu cantik. Begitu anggun. Begitu sopan. Hingga kami tak tega kalian terpisah darinya. Tak terlalu banyak yang bisa kami bantu dalam persalinan kalian di hangatnya summer ini. tapi tahukah kalian, dari beberapa kali bahaya dari orang-orang yang telah hilang rasa kasih sayangnya itu, kalian adalah yang beruntung. Yang dijaga olehNya. Bersyukurlah wahai anak-anak!
Maafkan kami, anak-anak. Ketika ibu kalian sadar akan panggilanNya, ia menjauh dari kalian yang bahkan belum dapat membuka mata. takdir dan kebusukan hati manusia yang membawa ibu kalian pergi. Maaf kami tak bisa membawanya kembali untuk merawat kalian.
Tahukah betapa bingungnya kami, setiap kali mendengar tangis kalian yang merengek minta susu? Sungguh begitu pilu. Bagaimana bisa kami makan dengan tenang sementara ratapan tangis kalian begitu menusuk relung hati kami. Maaf kami tak bisa mengerti bahasa tangis kalian. Jeritan kepedihan anak-anak yang ditinggal pergi ibunya dalam usia yang sangat dini. Apa yang bisa kami perbuat, anak-anak?!
Hari pertama, kami coba berikan susu asrama yang juga minuman keseharian kami. Kalian mencicipnya sedikit melalui sedotan yang ujungnya tajam, lalu menolak. Tahukah,, hati kami tersayat melihat kalian kelaparan menjilat tangan kami yang basah dengan sisa air susu sapi. Berikutnya kami belikan kalian dot susu. Syukurlah! Kalian mulai dapat beradaptasi.
Kami sangat bahagia, anak-anak. Meski masih tersebit tanya, sampai kapan kalian bisa bertahan?
Setiap terdengar tangis kalian, kami berikan dot susu. Bergilir. Bergantian, sembari sahur atau di siang dan malam hari. Kawan-kawan Thailand juga membantu. Bersyukurlah. Setelah kalian puas minum lalu tertidur, barulah kami dapat makan dengan tenang. dan setiap subuh mulai lewat, kami sembunyikan kalian dengan berjingkat agar tak ada petugas asrama yang membuang kalian. Menjelang agak siang, kalian terbangun, dan kami harus bergantian memberi 5 lidah yang kehausan. Setelah itu, beberapa kami harus mengelap pantat kalian dengan tisu agar kalian dapat buang air kecil atau besar.
Hingga makin hari kami menyadari, kalian tumbuh, membuka mata, berjalan dan bermain dengan kami! Terima kasih, anak-anak, kami sadar, merawat kalian dengan kesabaran adalah anugrah yang melahirkan senyuman tatkala kami penat dengan ricuhnya dunia. Terima kasih kalian tumbuh dengan kaki-kaki yang semakin hari semakin kuat menopang perut buncit kalian yang menggemaskan. Terima kasih telah mampu berlari dan bekejaran di lorong asrama kami. Meski kami harus rela mematikan lampu lorong tatkala kalian tertidur lelap, dan menutup pintu agar kalian tak terjatuh di anak-anak tangga asrama.

wajah2 kelaparan
Dae Gu, Gembrot, Snow White, Ji Gook dan Goro. Kini kalian mulai tumbuh dan menggemaskan. Hingga tak jarang kami, tanpa sadar berbicara dan cerewet seperti ibu pada anaknya,”jangan lari-lari anak2!”, “ayo tidur, waktunya istirahat, Goro!”,”Dae Gu nggak boleh lari-lari terus!”

mungkin kalian lupa nantinya, betapa kalian senang membuat kami kalang kabut. Kalian mengejar-ngejar kami yang sedang tak ingin diajak bermain. Bahkan akhirnya kami terpingkal-pingkal mengetahui betapa pintarnya kalian. Bergabung bersama mendorong botol yang kami gunakan sebagai penghalang pintu.
Anak-anak, saat ini kami ikut berduka akan Dae Gu. Dae Gu yang semangat dan hiperaktif kini berbaring dan jarang minum susu. Dua kaki belakangnya tanpa sengaja terjepit pintu. Dae Gu, semoga engkau cepat sembuh. Kami tak tega melihat tubuhmu semakin kurus. Segeralah sembuh dan bermain-main dengan Snow white, Goro, Gembrot dan Ji gook. Terima kasih juga, Ichi, kau mau menerima dan bermain dengan adik-adik tirimu, menggantikan ibu yang sudah tiada.
Cepat sembuh ya Dae Gu.
Anak-anak yang menggemaskan, tumbuh dan bermainlah. Kalian adalah anugrah! Terima kasih telah memberi kami senyuman, dalam dunia kami yang penuh kericuhan.
*pada akhirnya Dae Gu meninggal pada malam 28 Ramadhan 1435 H, semoga ia lebih tenang, dan yg ditinggalkan menggenggam ketabahan.

  



anak2 mainan ma kk tirinya, Ichi




















Friday, 18 July 2014

Seorang Kakak yang Meninggal Tadi Malam

bismillah
Kakak (almarhumah) Gusti Rahma Yeni.
Terakhir aku berbincang ringan dengannya, saat main ke kamar seorang kawan asal Minang. Sejauh yang ku kenal, Kak Gusti adalah sosok yang sopan. Lembut tuturnya. Ini bisa kau dapati sejak pertama kau mengenalnya. Namun aku juga bisa membaca keteguhan hati yang kuatnya melebihi kelembutan tuturnya.
Komunikasi terakhir kami ketika Kak Gusti meminta dimasukkan grup Whatsapp asrama Buuts putri. Dan sahur tadi, perutku rasanya tak karuan mendengar berita kematiannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ini sahur terpahit yang sangat kupaksa di bulan Ramadhan.
Aku teringat pada suatu hal yang selalu ku ingat namun tak selalu dapat kucerna tanpa ada fakta yang menggiring. Ajal. Mati.
Ah, jujur saja.
Setelah ini semoga ada yang selalu terngiang di benakku, benak kita.

“Sungguh apa yang telah kau siapkan untuk menghadapNya?”

                                                                         Cairo, Madinah al Buuts al Islamiyah
                                                                         11:06 CLT

Friday, 11 July 2014

Tragedi Gaza dan Kepedulian Kita

bismillah


Sejujurnya, ada beberapa keresahan yang beberapa waktu ini menghantui pikiran saya. Langsung saja. Ini soal “kepedulian” yang rasa-rasanya luntur dari lingkungan sekitar saya. Sebagai bagian dari Masisir, saya merasa ada yang janggal setiap kali terjadi peristiwa atau isu yang memanas, baik dalam skala nasional maupun internasional. Ya, saya melihat lambannya respon yang dilakukan oleh Masisir.
Untuk peristiwa berskala nasional misalnya, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Miss World, kita (terutama masisirwati) diam saja. Meskipun pada akhirnya-kalau tak mau disebut terlambat- Wihdah bekerjasama dengan beberapa organisasi keputrian mendeklarasikan penyataan sikap yang menolak diadakannya kontes kecantikan tersebut. Berikutnya, ketika berhembus isu pelarangan jilbab untuk siswi muslimah di Bali pada awal tahun 2014. Beberapa bulan berikutnya, barulah seorang anggota Wihdah menyebar selebaran dari PPMI, berisi petisi yang menolak larangan jilbab. Celakanya ada beberapa kawan yang bertanya,”Petisi itu apa?”
Hm, saya sendiri bertanya-tanya,”Kenapa baru sekarang? Isunya sudah hampir tiga bulan berlangsung”. Tapi ya, lebih baik telat daripada telat bangeet.
Dan sekarang agresi Israel ke Gaza. Empat hari sudah lewat. Kita mungkin telah merespon dengan memasukkan peristiwa ini dalam obrolan buka puasa, status facebook dan twitter atau men-share segala bentuk kabar terkait Gaza dan Palestina melalui grup-grup whatsapp atau yang sejenisnya. Tapi belum ada tindakan nyata yang mempresentasikan respon Masisir terkait peristiwa ini.
Dua hari yang lalu saya tanyakan pada seorang pegiat organisasi Masisir,”Gaza diserang, mau adakan penggalangan dana/pernyataan sikap tidak?” Syukurnya, beberapa saat lalu saya lihat pamflet aksi solidaritas kemanusiaan diposting di grup facebook PPMI Mesir. Aksi tersebut direncanakan pada hari Ahad, dua hari lagi. Berarti 5 hari pasca agresi Israel ke Gaza. Padahal di tanah air, aksi semacam ini sudah lebih dahulu digelar oleh ormas-ormas, organisasi dan berbagai elemen masyarakat di berbagai daerah, begitu pula dengan penggalangan dana untuk rakyat Palestina. Bolehlah organisasi induk kita diapresiasi. Masih belum terlalu terlambat.
pic: dailymail.co.uk
Hanya saja, rasanya agak malu. Kita yang secara geografis lebih dekat dengan Palestina, ternyata kalah cepat dalam merespon tragedi kemanusiaan ini dibanding masyarakat Indonesia.
Ya, kita tahu Israel bukan hanya sekali ini “kalap”. Tahun 2008-2009, November 2012, lalu serangan terhadap Mavy Marmara dan masih banyak rentetan kezaliman dalam kurun waktu puluhan tahun yang dilakukan Israel terkait Palestina. Agresi militer yang lebih pantas disebut genosida yang terjadi saat ini mungkin akan berhenti sementara waktu. Tapi kita saksikan hal semacam ini terus berulang, perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan yang digelar terus dilanggar, sementara tekanan masyarakat internasional kepada Israel seperti butiran debu yang menantang angin.
Sudah wajar kita mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina terhadap kependudukan (baca: penjajahan) Israel di tanah mereka. Hal ini jelas bertentangan dengan bunyi Pembukaan UUD 1945. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Meskipun lewat sejarah kita tahu bahwa PBB mandul, jalur diplomasi pun tak memberi harapan yang pasti. Namun sepertinya ada jalur perjuangan untuk membantu saudara di Palestina yang selama ini kita sepelekan.
Boikot.
Seruan boikot yang juga pernah dikampanyekan DR. Yusuf Qardhawi ini, kurang berjalan dengan sistematis dan kontinyu. Buktinya, kampanye boikot terhadap produk-produk Israel dan pendukungnya ini hanya santer saat berita penyerangan Israel ke Palestina memanas. Selepas itu meredup lalu hilang, dan baru akan muncul setelah isu pembantaian terhadap rakyat Palestina mencuat lagi.
Kampanye boikot ini adalah salah satu usaha yang paling memungkinkan untuk kita lakukan. Ya, kita setiap individu. Sebagaimana yang pernah disampaikan DR Yusuf Qardhawi dalam khutbah Jumatnya, tahun 2002 silam, “ كل ما له بديل يجب أن يقاطع” Setiap produk yang ada gantinya, wajib diboikot.
 Namun kampanye boikot ini akan lebih berpengaruh jika terorganisir secara kontinyu dan sistematis. Kalau dalam lingkup Masisir, sepertinya PPMI dan Wihdah lah yang paling tepat untuk mengorganisirnya. Begitu pula dengan penggalangan dana dari Masisir, tentu lebih terasa manfaatnya bila diorganisir secara terpusat dan kotinyu. Sehingga tidak harus menunggu momentum tertentu, untuk menggalang dana secara massal dari Masisir.
Usaha di atas tentu diringi dengan doa. Kita berharap di bulan suci Ramadan ini, seluruh muslimin di penjuru dunia dapat melaksanakan ibadah puasa dengan tenang dan aman. Tanpa harus dibayang-bayangi oleh serangan bom, pembantaian massal dan segala bentuk kezaliman.
Wal akhir, yang saya sampaikan adalah uneg-uneg sederhana, dengan harapan supaya Masisir (juga saya sendiri) lebih peka terhadap peristiwa dan isu-isu global yang kerap terjadi. Sehingga tenaga dan respon yang kita keluarkan lebih mendatangkan manfaat, tidak hanya terbuang sia-sia untuk perseteruan dan debat kusir tiada putus, yang justru tidak membawa dampak apapun kecuali menyalakan api permusuhan.

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS Yusuf:21)


Wallahu ta’ala a’lam

Wednesday, 25 June 2014

Dua Puluh Dua

bismillah


Barisan kata yang sulit ku tulis. Tahun ini berat.
22 tahunku sudah lewat. Setahun lalu aku ingin serius menghadapi hidup. Dan kali ini sepertinya harus dirinci lagi. Namun buatku waktu adalah waktu. Dan momen tahunan ini bukanlah suatu keistimewaan untuk dirayakan dan digembirakan. Jadi aku memang tak berharap akan datangnya ucapan selamat dan sebagainya. Selain karena aku juga tak terlalu peduli dengan momen milik kawan yang lain.
Aku ingin menjadikan momen ini sebatas titik tolak dan evaluasi perjalanan penghambaanku. Sudahkah ia berjalan sesuai kerangka dan target yang ku susun? Haha. Padahal aku tak pernah puas dengan jerih payahku. Rasa-rasanya waktu dan episode kehidupan yang kujalani mudah sekali menguap dari memoriku.


Ala kulli hal, tahun ini aku ingin lebih dekat dengan Allah Swt. ya. Aku sadar, ada satu kesalahan besar dalam pendekatanku kepadaNya. Dan itu berimbas pada segala hal. Tak hanya ibadah. Tapi juga muamalah, wawasan juga sikap dan jawabanku terhadap hal-hal yang ku hadapi. Kesalahan apa itu?
Maaf lah. Aku tak ingin berbagi kecuali dengan Rabb-ku. :P
Pada sebuah garis batas aku berhenti dan menyadari. Dosa bukan untuk dipamerkan. Sekalipun dengan begitu menunjukkan betapa hebatnya aku bangkit dari keterpurukan. Semoga ini benar.
Target yang belum terpenuhi? O, banyak. Kau tahu, terkadang aku bingung dengan diriku ini. Melihat kegagalan seseorang, aku inferior. Bagaimana bila usahaku gagal dan aku lebih terpuruk? Menyaksikan keberhasilan seseorang, bagaimana bila aku berusaha lebih namun tak berhasil seperti dia? Astaghfirullah...
Selama ini aku merasa hidupku berjalan mulus. Tidak-atau belum menemui ketegangan yang cukup menggoncang. Membandingkan dengan yang dialami kawan-kawan. Well, hidupku tidak se-fluktuatif mereka. Ah, ini dia, mengapa harus membandingkan dengan orang lain? Betul!
Entah kenapa, akhir-akhir ini fisikku cepat lelah. Pasca liburan yang lumayan menguras tenaga kah? Tak tahu. Apa selaras dengan “ujian” beberapa bulan terakhir? Capek pikiran, iya. Sepertinya akhir tingkat tiga, ujian (atau godaan?) hampir sama dengan awal lulus dari pesantren. Cukup mengganggu konsentrasi memang. Tapi ah... yang penting belum ada yang benar-benar nyangkut di hati. Saya tidak mau setia pada seseorang yang tidak pasti. Eits!
Kalau mau jujur juga, ada janji yang masih saya nantikan hari ini. Tapi hm, sepertinya si empunya janji sudah pergi. Apa yang ia janjikan? Saya juga tidak tahu. Biarlah. Karena saya juga punya hutang tulisan sama dia, tapi belum saya selesaikan. Buatku, yang wajib adalah menepati janjiku. Meski terkadang memenuhi hal itu cukup kepayahan, jika sudah begitu aku akan jujur,”maaf, saya tidak bisa tepati janji saya”. Dari pada melenggang tanpa ucapan maaf, itu kan pecundang. Betul?
Satu hal lagi yang amat saya gembirakan akhir-akhir ini. Keluargaku merindukanku.
Aku tahu mereka rindu. Seperti rindunya saya. Tapi mendengar kata “I miss U” dari kakak adikku, semakin aku sadar, “Aku cinta kalian karena Alloh”. Semoga cinta ini cinta yang abadi, hingga ke surga nanti. Amin.
Wal akhir, terima kasih untuk semua orang di sekitarku. Mereka mampu bertahan di sekeliling, dengan egoisme-ku yang menyebalkan. semoga saya terus dapat perbaiki diri. Semoga, semakin hari Alloh ta’ala semakin menyayangi aku, kamu, mereka dan... dia. ^_^
Amin.

                                                                                                                Cairo, pagi
Summer yang menyejukkan,06:52
26 Juni 2014
                                                                                                                               
 

Friday, 18 April 2014

Dari Tepi Kairo (2)

bismillah
Ablah Gheda menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih dahulu sampai. Hari  pertama, tentu saja perkenalan.


“Ini Ablah Rani.” Ablah Gheda menunjukku.
Sorot mata polos mereka fokus, keluguan khas bocah tidak tertutupi rambut gimbal, baju kusam dan ujung kuku mereka yang panjang dan hitam. Bukan anak-anak jika situasi tenang dapat bertahan lebih dari hitungan menit. Kelas kembali gaduh.
Di sini, tiidak ada pemisahan usia layaknya PAUD dan TK di Indonesia. Entah tiga atau lima tahun semua bersama dalam kursi-kursi mini dan meja yang disekat tembok-tembok berlukiskan taman bunga dengan dominasi warna yang tak lagi dapat disebut biru muda.
Aku dan Fitri. Kami tak sampai hati bila mengikuti cara pembelajaran ala Ablah Gheda yang ia ajarkan di hari pertama. Bila ada yang tidak ikuti perintah, kau boleh pukul. Duh, kami yang tak pernah menjadi guru TK saja tak sampai hati melihatnya. Bukan pukulan ala Indonesia, tapi Mesir. Plak!
Barangkali anak-anak merasa lebih beruntung karena pada hari-hari berikutnya, kami tak pernah setega itu.
Memang wajib sabar.
Di sela-sela pelajaran menggambar misalnya, aku dan Fitri berkeliling dan memotong kuku mereka satu demi satu. Wajah-wajah imut mereka seperti boneka di toko mainan anak-anak, andai sedikit lebih bersih saja. Bahkan seringkali aku memandang dekat wajah Heba, gadis kecil anak sopir tuk-tuk. Apakah bulu matanya palsu atau sudah terpoles maskara? Ku colek pipi chubynya, ia berkedip dan barulah aku yakin itu asli.
“Eih da?” tanyaku pada Ahmed yang berusia 3 tahun. Di sela-sela waktu istirahat kami sering bercanda bersama mereka.”fi isy wa la baidh wa la burtu’al?” tanyaku sambil mengusap perutnya yang menggelembung.
“Isinya isy.” Jawab Mahmud, kakaknya yang setahun lebih tua. Sementara adiknya hanya diam memandangku sembari asyik menyesap ibu jarinya.
Di waktu istirahat, anak-anak diperkenankan jajan dengan uang saku mereka. Rata-rata satu rubu’ atau nus, meski ada beberapa yang diberi uang saku satu pound oleh orang tuanya. Uang saku standar untuk anak-anak kurang mampu yang belajar di sekolah gratis ini. Tak ada baju seragam apalagi grup drumband. Mereka datang lalu kami ajak menghafal hadits-hadits pendek, itu sudah kebahagiaan tersendiri. Apalagi bagi Ablah Gheda yang berjuang mendirikan sekolah kecil ini. Sayang, kami hanya bisa membantu di saat masa libur kuliah saja.
mattmoyer.photoshelter.com
Kami juga diperkenankan untuk beristirahat jika sewaktu-waktu merasa lelah. Sebuah bilik kecil bersanding dengan ruang kelas. Dinding-dindingnya tidak terbangun simetris. Khas flat-flat murah level penduduk kelas bawah. Ada selapis tikar rombeng sebagai alas dan sebuah bantal buluk untuk sandarkan kepala.
Pernah suatu ketika aku terbangun dari tidur di bilik kecil itu. Ku dapati Fitri tengah merapikan bangku dan meja. Yusuf yang berusia empat tahun nampak kesulitan memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Ku hampiri dia dari belakang, mencoba membantu memasukkan barangnya yang berbungkus plastik. Ia terkejut. Tangannya terayun menampar wajahku. Tidak sengaja, itu yang ku tangkap dari sorot matanya yang menyesal. Tapi ia langsung berlari. Pergi menelusup dalam keramaian pertokoan.
“Ya Yusuf!” panggilku. Jelas tak akan membuatnya kembali. Bagi sebagian orang, begitulah watak Mesir. Tapi buatku, yang barusan adalah seorang bocah yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa sesal dan terkejutnya.
Di hari lain.
Pelajaran menggambar. Temanya, binatang. Dua puluhan anak sibuk mengekspresikan bakat melukis mereka di atas selembar kertas. Anak tiga tahun-an hanya membuat bulatan tak sempurna yang bengkok di sana sini dengan beberapa garis tak beraturan. Disebutnya itu kucing. Anak-anak yang lebih tua juga tidak jauh berbeda. Hanya saja lekukan mereka sedikit lebih sempurna. Hanya satu anak yang membuatku terpesona. Ali namanya.
Saat kutanya, ia jawab menggambar singa. Dan memang sab’in fil mi-ah mirip singa jantan. Dengan rambut coklat tebal memenuhi kepala yang membuatnya tampak besar dan garang. Terlalu sempurna untuk seorang anak TK. Menjiplak? Ah, mana mungkin. Jelas-jelas aku melihat tangannya menari-nari di atas kertas yang sebelumnya kosong.
Ku sampaikan penilaianku pada Fitri. Ia bilang,”Orang tuanya pelukis jalanan.”
Oh...
“Mama dan Babanya?!” kurang yakin.
Tapi Fitri mengangguk mantap. Barulah aku percaya bakat genetik itu ada. Tapi bagaimana ia dapat menggambar dengan detil dan mempesona begitu? Ia bilang pernah melihatnya di televisi, berarti dia mengcopy-paste dari sana. Jadi, sesuatu yang konyol dan tolol jika ada yang menyuruh anak-anak menggambar Tuhan. Pikiran Mereka yang polos hanya melukis apa yang pernah mereka tangkap dengan indra. Sedang Tuhan tak pernah ditangkap langsung dengan indra.
Aku tersenyum sendiri, jika beruntung, mungkin beberapa belas tahun lagi Ali akan membuka pameran mandiri untuk lukisan-lukisannya. Atau, menjadi sebatas pewaris orang tuanya. Pelukis jalanan. Semoga tidak.
Yusuf datang. serta merta merobek gambar singa-nya Ali. Pertengkaran tak terelakkan. Sekali lagi, ala Mesir, bukan Indonesia ataupun Melayu. Pukul. Tampar. Tendang. Aku dan Fitri yang berusaha melerai cukup merasakan tenaga ekstra anak-anak Bumi Kinanah ini.
Mungkin Yusuf cemburu melihatku yang terkagum-kagum dengan gambar Ali. Namun tetap saja kami paksa ia untuk meminta maaf. Harus dengan sedikit ancaman. Tidak boleh pulang.
Marwah, gadis kecil yang paling banyak hapalan haditsnya itu pun ikut bercakap kepada Ali. “La Tagdhab!”
Ganna pun ikut-ikutan,”Shollu alannabi!”
Olala! Gaya anak-anak ini lucu sekali. Sayang, sebagai guru, rasa gemasku harus ditahan.
Syukur, akhirnya Yusuf mau meminta maaf.
Dua bulan masa liburan sudah terlewat. Sesuai kesepakatan, aku dan Fitri mengakhiri khidmah begitu masa aktif kuliah datang.
Ada kesedihan meninggalkan tatap mata bening bocah-bocah itu. Di pertemuan terakhir, ku kecup kepala mereka satu persatu. Tak lagi peduli dengan tampang kucel dan bau tubuh yang entah kapan terakhir kali mandi. Aku masih tak dapat meneropong ke masa depan. Akan seperti apa nantinya? Anak-anak yang terpaksa hidup di pinggir dalam kerasnya gemerlap kota tersibuk se-benua Afrika ini. Ah, hampir aku lupa, mereka punya takdir. Dan mereka punya usaha.
Satu pekan terlepas. Dalam bayang-bayang kesibukan kuliah beberapa kali rindu menyusup. Anak-anak itu, sedang belajar apa sekarang? Berapa ayat dan hadits yang sudah mereka hapal?
Di dalam bus, lagi-lagi aku melihat papan reklame UU Perlindungan Anak dengan foto bocah yang tersenyum. Aku tersenyum miris.
Seorang anak kecil menaiki tangga bus dengan sebungkus plastik bening kusam penuh permen. Dari rambutnya yang gimbal dan pakaiannya yang kusut tak beraturan membuatku menarik suatu kesimpulan. Penjual permen.
ilo.org
Kakinya berjalan cepat namun lambat bagi orang dewasa. Dengan tangan mungilnya menaruh tiap dua buah permen seharga satu pound di tiap pangkuan penumpang, Sebagaimana lazimnya pedagang dalam bus. Banyak yang menyebut profesi begitu, pengemis. Tapi buatku bukan. Mereka pedagang. Yang disayangkan dari penjual kecil ini adalah usianya yang mengiris hati. Apa yang dilakukan orangtua bocah sekecil ini sehingga harus mencari pundi-pundi junaih seorang diri?
Mau tak mau pikiranku tersangkut pada dua bulan yang kulalui bersama anak-anak yang terlahir dari kelas bawah itu. Ya Rabb...
Ketika bocah itu sampai di tempatku. Ku kembalikan permen yang ia taruh dengan menyertakan receh satu pound. Wajahnya menengadah, lalu terkesiap. Sama sepertiku. Yusuf!
Ia berlari. Tidak peduli pada beberapa permen yang belum diambilnya dari penumpang lain. Bus melaju lambat. Ku lihat ia meloncat dari tangga bus. “Ya Yusuf!” teriakanku tak membuatnya berhenti. De javu.
Tak sampai sedetik sebuah mobil dari belakang melaju kencang lalu mengerem dengan cepat. Ya Rabb, tubuhnya terpental. Tidak! Selanjutnya bocah cilik itu jatuh satu meter dari bemper mobil yang tak mulus itu.
Tak ada darah. Syukurlah.
Ketika orang-orang mulai berkerumun, ia bangkit. Lalu berlari. Aku hanya mengelus dada. Kekhawatiranku beberapa detik lalu berhenti sudah. Namun Yusuf kecil tetap berlari menembus keramaian manusia di siang bolong. Ia terus berlari. Meski kenyataan tidak pernah berlari pergi secepat yang ia harapkan.

NB: dimuat dalam Buletin Terobosan Edisi 361