Saturday, 4 October 2014

Duh, Khutbah Ied yang Mengenaskan

bismillah
Dugaan saya tepat. Selepas imam mengucap salam kedua, seluruh jamaah berdiri tanpa komando. Mengambil sajadah, mengenakan sandal dan sepatu dan melenggang tak beraturan.
Nyaris semua jamaah wanita Mesir ini ngobrol
Sajadah kami terinjak? Ya.
Gaduh? O, tentu.
Hanya kami, orang Asia yang duduk menepi lalu memasang telinga untuk khutbah Idul Adha yang disampaikan. Remaja, anak-anak, ibu-ibu, semua bercengkerama lewat obrolan keras beradu menyaingi suara sang khatib. Hanya nenek-nenek-yang nyaris seluruhnya- bertubuh gempal duduk manis dan mendengarkan khutbah. Warga Mesir mana yang sudi kiranya mendengar ceramah fiqh adzhiyah dan tafsir AlKautsar itu dengan penuh kesadaran?
Iya, hal yang sangat saya rindukan adalah jamaah yang sudi mendengar khutbah Ied sang khatib. Yang tidak bergegas menarik sajadahnya untuk lari dari khutbah yang berdurasi tak lebih dari dua puluh menit.
Kita, orang Asia, orang Indonesia, ternyata lebih mampu mengetahui apa fungsi telinga. Indra pertama yang diciptakan Allah Swt sebelum yang lainnya. mungkin karena itu watak kita turut terbentuk. Watak “pengertian”, yang terkadang menjadi ekstrim dan disematkan pada orang Jawa-apalagi orang Solo dan Jogja-, lalu diterjemahkan menjadi “pekewuh”. Dan jika bergeser ke makna moderat disebut “santun”. Namun tak jarang santun dalam laku ramah itu disalahgunakan sehingga mengorbankan prioritas disiplin waktu. Jam karet.
Nah, saya mulai melantur nggak jelas. Anyway, Happy Ied Adha! Kullu ‘am wa antum bikhoir. ^_^

                                                             Masjid ArRahman ArRahim, Cairo, Iedul Adha 1435 H


Yang duduk adalah mahasiswi Asia, Indonesia

Jamaah wanita Mesir yang berlalu lalang ketika khutbah

Hanya nenek-nenek Mesir yang mau mendengarkan khutbah Ied

Thursday, 2 October 2014

Curahan Hati PMIKwati

bismillah

Kamis.
Sepi kan...
Seperti biasa, setiap jatahku shift PMIK di hari ini, sepi. Ada beberapa tugas menumpuk sebetulnya. Tapi, rehat dulu lah. Dan tahu tidak, di atas PMIK, alias di sutuh ini, muncul suara gedebak-gedebuk. Berisik? Iya. But, no problem. Aku pernah tanya salah seorang yang ‘gedebak-gedebuk’ itu, kata mas-nya, setiap Sabtu dan Kamis, mereka latihan wingchun. Padahal seingatku, wingchun itu kan seni beladiri yang diciptakan buat wanita. Karena jurus dan gerakan-gerakannya yang gesit namun tidak membutuhkan banyak tenaga. Hihi, kenapa yang latihan akhi-akhi ya?

Baru saja selesai mengklasifikasi 20 buku baru. Hey, ini bukan perkara mudah. Bermodalkan “kitab suci” PMIK, keterbatasan ingatan dan mengkaitkan judul plus konten dengan klasifikasi turunan Dewey. Ugh, terkadang menemukan buku yang untuk memberi nomor penempatan itu sampai makan seperempat jam. Well, tapi aku menikmatinya.

Rak bahasa Arab di PMIK
Selanjutnya mendata buletin-buletin Masisir yang masuk PMIK. Menyetempel yang belum distempel, komputerisasi lalu manyun karena “ini buletin kok gak ada edisinya sih!”. Aha, di sini aku paham bahwa layouter media cetak itu penting. Juga inkonsistensi layout itu sangat mengganggu pendataan dan dokumentasi.

Tugas dari buletin juga baru saja masuk inbox. Tapi... sudahlah. Akan ku kerjakan nanti malam saja di asrama.

Hari Batik kan ya.. 
Sekarang rileks dulu. Menulis uneg-uneg di hari ini. iya hari Batik Nasional 2 Oktober. Ada yang spesial?/ iya. Aku pakai baju batik ungu yang kujahit sendiri. Meski tidak 100% jahit mesin. Tapi oke punya lho. Lumayan lah. Baju Ied kemarin. Inginnya sih selfie, karena jiwa narsis-ku selalu bersemi, tapi kalau buat konsumsi publik ya... pikir-pikir dulu lah. Bukan Ainun kalau suka pajang-pajang foto selfie dan dinikmati banyak orang. Ups!

Oya, tadinya mau nulis macam-macam. Sebab sudah lama tidak posting di blog ini. bukan karena tidak ada inspirasi. (btw, manusia bisa kehabisan inspirasi ya?) tapi ya, karena beberapa alasan, nggak berani sembarang posting lah. Kalau dihitung-hitung, setiap bulan (sedikit sekali ya) aku selalu membuat folder baru untuk coretan-coretanku.

Nah lho... sudah nyasar ke mana lagi ini? begini lah kalau menulis tanpa mind maping. Karena biasanya-minimal aku membuat peta pikiran atau kerangka sebelum menuliskannya. Bukan Cuma untuk tulisan-tulisan berat. Tapi tulisan ringan pun begitu. Kalaupun tidak ditulis tangan, aku menuliskannya di pikiran.

di sini aku shift. Sepi. Asli. Tpi enak sih, buat ngerjain tugas-tugas. haha
Seringkali kawan-kawan bilang bahwa aku ini lumayan mumpuni dalam menulis. Tapi wew, no.no.no. aku-terkadang masih terikat mood. Bahkan, seniorku mengaku bahwa ia mulai menulis sejak 4 tahun terakhir. Tulisannya bagus. Logikanya dapat. Dan cukup expert lah. Tapi wait! Aku lho... sudah suka nulis fiksi sejak akhir SD, tapi sampai sekarang masih acak-adul. Seringkali logika ndak dapat, diksi kurang greget, satu paragraf dengan paragraf lain tidak koheren. Aiih, rasanya pengen pijetin ini otak!

Tapi lama-kelamaan aku berpikir, bahwa semua ini kujalani dan bisa kulakukan karena (biidznillah tentu), juga karena aku mau. Sungguh salah kalau aku dibilang memiliki bakat. Karena semua yang kulakukan, asasnya ya itu. Kemauan. Asal aja tulis. Mengikuti kata hati. Kalau dibac ulang terkadang,”wew, bagus juga”. Tapi tak jarang,”idih, apaan nih?” lalu ‘delete’. Hoho

Kalau sudah begitu, aku paling malas mengulang. Makanya paling gatel dengan kata “revisi”.

Okay, sepertinya bisa nyasar ke mana-mana kalau uneg-uneg ini dilanjutkan. Ala kulli hal, “Ainun, keep your writing spirit!”

Syukran, sudah mau baca uneg-uneg di sore ini. oya, besok puasa Arafah yuk!







                              PMIK "Krik...krik...krik..", Wisma Nusantara,Cairo, 2 OKtober 2014


Friday, 1 August 2014

Jilbab, Adik-adikku... ^_^

bismillah
Tulisan ini saya tujukan, terutama buat adik-adik muslimah. Entah adik sepupu (karena adik kandung saya laki-laki), adik kelas, well, siapapun yang muslimah dan berusaha istiqomah di jalanNya. Bukan berarti saya sempurna, karena cucu dari mbah Sampoerna. Hehe. Ala kulli hal, la’alla nafi’an!
Jilbab, kerudung, dan hijab.saya tidak ingin berpanjang lebar mengupas sisi bahasa dari tiga kata itu. kesemuanya saya sebut jilbab. Begitu saja. Okay?


Ceritanya, sewaktu kecil –kira-kira kelas 3 SD- Ummi bercerita tentang anak temannya yang berkomitmen memakai jilbab setiap hari (kecuali di dalam rumah atau dengan mahrom tentunya). Padahal Si anak juga seumuran saya. mulai dari situ, saya iri. Iya, iri!
Sementara saya, meski pakai jilbab, tapi kalau merasa panas, ya lepas. Jadi, kalau anak teman ummi saja bisa, saya juga bisa dong. Maka saya putuskan komitmen pakai jilbab. Awalnya yang penting pakai kerudung. Meski pakai celana tiga perempat dan kaos berlengan pendek. Kalau diingat, lucu deh. culun.
Namun semua berjalan lewat proses. Yang intinya tidak ada paksaan dari ummi atau abi supaya saya berkomitmen menutup aurat. Seperti masalah kaos kaki, tidak berjabat tangan/salaman dengan non-mahrom. Semua keputusan saya. selain juga karena iri melihat ummi dan teman-temannya begitu. Yang saat itu (masih SD lho ya) dalam pikiran saya, muslimah dewasa ya yang berkomitmen menjaga dan menutup aurat. Tapi tetap saja, dengan motivasi seorang anak kecil: iri dan sok jadi orang dewasa!


Lalu masuk pesantren, awalnya sukarela memakai jilbab lebar. Hm, meski kata lebar itu relatif, buat saya bisa disebut lebar kalau batas minimal samping jilbab adalah siku tangan. Kalau di atas siku ya, buat saya belum lebar. Pokoknya saya pakai jilbab lebar karena dua hal. Pertama, peraturan. Kedua, meniru ustadzah. Kebetulan tahun awal di pesantren kami ditempatkan di komplek khusus. Sehingga-seperti lazimnya anak baru, semua taat peraturan.
Namun sesekali melihat kakak kelas dari komplek lain pesantren, jilbab mereka kecil. Di atas siku. Meski banyak juga yang berjilbab lebar, bahkan bercadar. Namun tetap saja, kesannya kakak kelas yang berkerudung kecil itu lebih gaul, lebih keren, lebih berani. Cool deh. dari situ terbersit di pikiran saya, nanti kalau naik kelas dan tinggal satu kompleks dengan kakak kelas, saya akan pakai jilbab kecil.
Sungguh Alloh Maha Penyayang. Beberapa bulan di kompleks asrama pesantren yang baru, saya mengamati seorang kakak kelas. sebut saja namanya Rani. Kak Rani ini berkerudung lebar, lalu setamat MTs melanjutkan sekolah di luar pesantren. Namun ketika berkunjung ke pesantren, kak Rani masih berkomitmen dengan jilbab lebarnya.
Hal itu yang membuat cara pandang saya berubah drastis. Muslimah keren itu bukan karena ‘nakal’ atau yang kecil jilbabnya. Tapi mereka yang mampu istiqomah dengan pilihan terbaiknya. Dari situ saya berpikir bahwa peraturan ‘jilbab lebar’ dari pesantren (walaupun hal ini berkali-kali disampaikan oleh asatidzah di pesantren) bukan sekedar aturan biasa, namun ini aturan yang syar’i.
jika di pesantren saya berani pakai jilbab lebar, kenapa di luar pesantren tidak? Buat saya ini berasa munafik. Dan juga pecundang. Saya ingin buktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mamakai jilbab lebar bukan karena aturan dari orang lain. Ini pilihan saya, dan saya bangga sekaligus percaya diri memakainya.
Iya, menurut saya, santriwati-santriwati yang ketika di pesantren taat peraturan (meski terpaksa) namun ketika liburan atau selepas lulus pesantren tidak berkomitmen dengan pakaiannya, itu nggak keren. Apalagi yang pada akhirnya memilih bercelana ketat dan berkerudung pendek dan tipis. Enggak banget!
Yang saya ingat dari pelajaran kewanitaan di awal masa mondok, di antara fungsi pakaian muslimah adalah sebagai pelindung dan identitas muslimah. Pelindung; melindungi dari godaan mata lelaki nakal. Dan identitas bahwa pemakainya adalah seorang muslimah yang memiliki kehormatan dan harga diri. wew, ini keren banget,nget!
Awalnya saya ragu untuk terus berkomitmen dengan jilbab lebar, tapi keraguan saya tidak pernah didukung dengan fakta yang saya hadapi. Hal ini saya buktikan di luar pesantren. Ketika berkumpul dengan sanak saudara di keluarga besar, juga di lingkungan kuliah dan sekitar. Hm, tidak ada masalah kok. Meski kadang di jalan juga dipandang aneh, tapi so what gitu?! Kalau wanita yang berbusana tidak pantas saja berani tampil PeDe, maka kita, yang berusaha menjaga harga diri, why not?!
Pun ketika merantau di negeri Piramida. Saya sudah aware dengan perkara ini. saya tahu, bahwa saya akan menemui dunia yang lebih luas. Orang-orang, lingkungan dan pemikiran. Namun saya coba jalani saja. Awalnya kaku juga. hm, di sini saya tidak memandang orang lain di bawah saya lho. Buat saya, kerudung lebar versi saya bukan suatu kewajiban buat orang lain. Tentu masing-masing punya standar tersendiri sebagai patokan.
Iya, awalnya saya takut akan berubah. Karena lingkungan yang saya jalani berisi muslim-muslimah dengan ragam berbeda. Namun ternyata ketakutan saya tidak terbukti. Saya merasa kawan-kawan, baik senior maupun junior, tidak terlalu mempermasalahkan pakaian saya. tentu pernah sesekali terlontar pertanyaan,”enggak panas apa?”. Tapi saya yang menjalani, dan ini nyaman. Saya jawab begitu.
Bahkan, pada beberapa komunitas yang doyan colak-colek antara laki-laki dan wanita-nya. Saya tetap bisa berkomunikasi, dan saya merasa lebih dihargai. Intinya tidak ada yang berani macam-macam. Hehe. Rasanya jadi benteng berjalan. Saya bebas berkomunikasi, mengeluarkan isi pikiran, tapi tetap aman dan dihargai.
Namun menurut saya, poinnya bukan sekedar di pakaian (jilbab lebar). Dari yang selama ini saya jalani, di mana pun kita berada, orang akan memperlakukan kita berdasarkan dua hal. Satu, sikap, akhlaq dan perilaku. Dua, ilmu dan wawasan.
Jadi, adik-adikku, jangan pernah minder dengan busana kalian yang sudah syar’i. tidak perlu ikut-ikutan ber’hijab’ ala hijabers yang pasmina-nya melingkar-lingkar dan butuh puluhan tusuk jarum buat memasangnya, hanya sekedar terlihat gaul.
Tidak perlu foto selfie dengan pose monyong-monyong dan sok kiyut (pinjam bahasa ust Felix Siauw), karena itu tidak membuat kita semakin lucu dan imut seperti yang kamu bayangkan. Terkadang kita harus membedakan mana yang “be my self” dengan mana yang “menuruti hawa nafsu”. Saya pun tidak sempurna, namun saya yakin, kita semua ingin merasa aman, dihargai, dihormati. Sebagai muslimah. Ya, muslimah!
Smoga kita makin lebih baik!


*semua gambar/foto ngacak di google.com

                                                                                         Cairo, 1 Agustus 2014

Thursday, 31 July 2014

Anak-anak adalah Anugrah

bismillah
Hai anak-anak,
Terima kasih telah tumbuh dengan baik. Lihat betapa Allah Maha Penyayang. Kalian tidak semalang kakak-kakak kalian. Mereka lahir dari seorang ibu yang baik, lembut, sopan dan tentu berbeda dari ibu-ibu lain. Ketika lewat beberapa pekan dari kelahiran kakak-kakak kalian, bahkan mata kecil mereka pun belum sempat melihat kerasnya dunia. Mereka harus terpisah dari sang ibu. Terbuang di tepi jalan oleh orang yang hatinya telah membeku. Hanya tersisa satu yang mampu kami selamatkan. Maka ia bernama Ichi.
Ibu anak2 n Ichi, yg diracun ablah T_T

ibu anak2

ichi


Kami tak pernah berharap akan hadirnya kalian, anak-anak. Namun hadirnya kalian adalah suatu anugrah yang tak pernah kami bayangkan. Mungkin kakak semata wayang kalian, Ichi, lebih beruntung. Selama beberapa bulan ia bisa bergeliat dan bermanja sepuas hati bersama ibu, meski kamipun masih tak terlalu tahu siapa ayahnya.
Namun tidak bagi kalian, ya, kalian berenam yang kini tersisa lima. Kami tak tahu, tak mau tahu dan tidak berharap tahu siapa ayah kalian. Ketahuilah bahwa ibu kalian bergitu cantik. Begitu anggun. Begitu sopan. Hingga kami tak tega kalian terpisah darinya. Tak terlalu banyak yang bisa kami bantu dalam persalinan kalian di hangatnya summer ini. tapi tahukah kalian, dari beberapa kali bahaya dari orang-orang yang telah hilang rasa kasih sayangnya itu, kalian adalah yang beruntung. Yang dijaga olehNya. Bersyukurlah wahai anak-anak!
Maafkan kami, anak-anak. Ketika ibu kalian sadar akan panggilanNya, ia menjauh dari kalian yang bahkan belum dapat membuka mata. takdir dan kebusukan hati manusia yang membawa ibu kalian pergi. Maaf kami tak bisa membawanya kembali untuk merawat kalian.
Tahukah betapa bingungnya kami, setiap kali mendengar tangis kalian yang merengek minta susu? Sungguh begitu pilu. Bagaimana bisa kami makan dengan tenang sementara ratapan tangis kalian begitu menusuk relung hati kami. Maaf kami tak bisa mengerti bahasa tangis kalian. Jeritan kepedihan anak-anak yang ditinggal pergi ibunya dalam usia yang sangat dini. Apa yang bisa kami perbuat, anak-anak?!
Hari pertama, kami coba berikan susu asrama yang juga minuman keseharian kami. Kalian mencicipnya sedikit melalui sedotan yang ujungnya tajam, lalu menolak. Tahukah,, hati kami tersayat melihat kalian kelaparan menjilat tangan kami yang basah dengan sisa air susu sapi. Berikutnya kami belikan kalian dot susu. Syukurlah! Kalian mulai dapat beradaptasi.
Kami sangat bahagia, anak-anak. Meski masih tersebit tanya, sampai kapan kalian bisa bertahan?
Setiap terdengar tangis kalian, kami berikan dot susu. Bergilir. Bergantian, sembari sahur atau di siang dan malam hari. Kawan-kawan Thailand juga membantu. Bersyukurlah. Setelah kalian puas minum lalu tertidur, barulah kami dapat makan dengan tenang. dan setiap subuh mulai lewat, kami sembunyikan kalian dengan berjingkat agar tak ada petugas asrama yang membuang kalian. Menjelang agak siang, kalian terbangun, dan kami harus bergantian memberi 5 lidah yang kehausan. Setelah itu, beberapa kami harus mengelap pantat kalian dengan tisu agar kalian dapat buang air kecil atau besar.
Hingga makin hari kami menyadari, kalian tumbuh, membuka mata, berjalan dan bermain dengan kami! Terima kasih, anak-anak, kami sadar, merawat kalian dengan kesabaran adalah anugrah yang melahirkan senyuman tatkala kami penat dengan ricuhnya dunia. Terima kasih kalian tumbuh dengan kaki-kaki yang semakin hari semakin kuat menopang perut buncit kalian yang menggemaskan. Terima kasih telah mampu berlari dan bekejaran di lorong asrama kami. Meski kami harus rela mematikan lampu lorong tatkala kalian tertidur lelap, dan menutup pintu agar kalian tak terjatuh di anak-anak tangga asrama.

wajah2 kelaparan
Dae Gu, Gembrot, Snow White, Ji Gook dan Goro. Kini kalian mulai tumbuh dan menggemaskan. Hingga tak jarang kami, tanpa sadar berbicara dan cerewet seperti ibu pada anaknya,”jangan lari-lari anak2!”, “ayo tidur, waktunya istirahat, Goro!”,”Dae Gu nggak boleh lari-lari terus!”

mungkin kalian lupa nantinya, betapa kalian senang membuat kami kalang kabut. Kalian mengejar-ngejar kami yang sedang tak ingin diajak bermain. Bahkan akhirnya kami terpingkal-pingkal mengetahui betapa pintarnya kalian. Bergabung bersama mendorong botol yang kami gunakan sebagai penghalang pintu.
Anak-anak, saat ini kami ikut berduka akan Dae Gu. Dae Gu yang semangat dan hiperaktif kini berbaring dan jarang minum susu. Dua kaki belakangnya tanpa sengaja terjepit pintu. Dae Gu, semoga engkau cepat sembuh. Kami tak tega melihat tubuhmu semakin kurus. Segeralah sembuh dan bermain-main dengan Snow white, Goro, Gembrot dan Ji gook. Terima kasih juga, Ichi, kau mau menerima dan bermain dengan adik-adik tirimu, menggantikan ibu yang sudah tiada.
Cepat sembuh ya Dae Gu.
Anak-anak yang menggemaskan, tumbuh dan bermainlah. Kalian adalah anugrah! Terima kasih telah memberi kami senyuman, dalam dunia kami yang penuh kericuhan.
*pada akhirnya Dae Gu meninggal pada malam 28 Ramadhan 1435 H, semoga ia lebih tenang, dan yg ditinggalkan menggenggam ketabahan.

  



anak2 mainan ma kk tirinya, Ichi




















Friday, 18 July 2014

Seorang Kakak yang Meninggal Tadi Malam

bismillah
Kakak (almarhumah) Gusti Rahma Yeni.
Terakhir aku berbincang ringan dengannya, saat main ke kamar seorang kawan asal Minang. Sejauh yang ku kenal, Kak Gusti adalah sosok yang sopan. Lembut tuturnya. Ini bisa kau dapati sejak pertama kau mengenalnya. Namun aku juga bisa membaca keteguhan hati yang kuatnya melebihi kelembutan tuturnya.
Komunikasi terakhir kami ketika Kak Gusti meminta dimasukkan grup Whatsapp asrama Buuts putri. Dan sahur tadi, perutku rasanya tak karuan mendengar berita kematiannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ini sahur terpahit yang sangat kupaksa di bulan Ramadhan.
Aku teringat pada suatu hal yang selalu ku ingat namun tak selalu dapat kucerna tanpa ada fakta yang menggiring. Ajal. Mati.
Ah, jujur saja.
Setelah ini semoga ada yang selalu terngiang di benakku, benak kita.

“Sungguh apa yang telah kau siapkan untuk menghadapNya?”

                                                                         Cairo, Madinah al Buuts al Islamiyah
                                                                         11:06 CLT

Friday, 11 July 2014

Tragedi Gaza dan Kepedulian Kita

bismillah


Sejujurnya, ada beberapa keresahan yang beberapa waktu ini menghantui pikiran saya. Langsung saja. Ini soal “kepedulian” yang rasa-rasanya luntur dari lingkungan sekitar saya. Sebagai bagian dari Masisir, saya merasa ada yang janggal setiap kali terjadi peristiwa atau isu yang memanas, baik dalam skala nasional maupun internasional. Ya, saya melihat lambannya respon yang dilakukan oleh Masisir.
Untuk peristiwa berskala nasional misalnya, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Miss World, kita (terutama masisirwati) diam saja. Meskipun pada akhirnya-kalau tak mau disebut terlambat- Wihdah bekerjasama dengan beberapa organisasi keputrian mendeklarasikan penyataan sikap yang menolak diadakannya kontes kecantikan tersebut. Berikutnya, ketika berhembus isu pelarangan jilbab untuk siswi muslimah di Bali pada awal tahun 2014. Beberapa bulan berikutnya, barulah seorang anggota Wihdah menyebar selebaran dari PPMI, berisi petisi yang menolak larangan jilbab. Celakanya ada beberapa kawan yang bertanya,”Petisi itu apa?”
Hm, saya sendiri bertanya-tanya,”Kenapa baru sekarang? Isunya sudah hampir tiga bulan berlangsung”. Tapi ya, lebih baik telat daripada telat bangeet.
Dan sekarang agresi Israel ke Gaza. Empat hari sudah lewat. Kita mungkin telah merespon dengan memasukkan peristiwa ini dalam obrolan buka puasa, status facebook dan twitter atau men-share segala bentuk kabar terkait Gaza dan Palestina melalui grup-grup whatsapp atau yang sejenisnya. Tapi belum ada tindakan nyata yang mempresentasikan respon Masisir terkait peristiwa ini.
Dua hari yang lalu saya tanyakan pada seorang pegiat organisasi Masisir,”Gaza diserang, mau adakan penggalangan dana/pernyataan sikap tidak?” Syukurnya, beberapa saat lalu saya lihat pamflet aksi solidaritas kemanusiaan diposting di grup facebook PPMI Mesir. Aksi tersebut direncanakan pada hari Ahad, dua hari lagi. Berarti 5 hari pasca agresi Israel ke Gaza. Padahal di tanah air, aksi semacam ini sudah lebih dahulu digelar oleh ormas-ormas, organisasi dan berbagai elemen masyarakat di berbagai daerah, begitu pula dengan penggalangan dana untuk rakyat Palestina. Bolehlah organisasi induk kita diapresiasi. Masih belum terlalu terlambat.
pic: dailymail.co.uk
Hanya saja, rasanya agak malu. Kita yang secara geografis lebih dekat dengan Palestina, ternyata kalah cepat dalam merespon tragedi kemanusiaan ini dibanding masyarakat Indonesia.
Ya, kita tahu Israel bukan hanya sekali ini “kalap”. Tahun 2008-2009, November 2012, lalu serangan terhadap Mavy Marmara dan masih banyak rentetan kezaliman dalam kurun waktu puluhan tahun yang dilakukan Israel terkait Palestina. Agresi militer yang lebih pantas disebut genosida yang terjadi saat ini mungkin akan berhenti sementara waktu. Tapi kita saksikan hal semacam ini terus berulang, perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan yang digelar terus dilanggar, sementara tekanan masyarakat internasional kepada Israel seperti butiran debu yang menantang angin.
Sudah wajar kita mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina terhadap kependudukan (baca: penjajahan) Israel di tanah mereka. Hal ini jelas bertentangan dengan bunyi Pembukaan UUD 1945. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Meskipun lewat sejarah kita tahu bahwa PBB mandul, jalur diplomasi pun tak memberi harapan yang pasti. Namun sepertinya ada jalur perjuangan untuk membantu saudara di Palestina yang selama ini kita sepelekan.
Boikot.
Seruan boikot yang juga pernah dikampanyekan DR. Yusuf Qardhawi ini, kurang berjalan dengan sistematis dan kontinyu. Buktinya, kampanye boikot terhadap produk-produk Israel dan pendukungnya ini hanya santer saat berita penyerangan Israel ke Palestina memanas. Selepas itu meredup lalu hilang, dan baru akan muncul setelah isu pembantaian terhadap rakyat Palestina mencuat lagi.
Kampanye boikot ini adalah salah satu usaha yang paling memungkinkan untuk kita lakukan. Ya, kita setiap individu. Sebagaimana yang pernah disampaikan DR Yusuf Qardhawi dalam khutbah Jumatnya, tahun 2002 silam, “ كل ما له بديل يجب أن يقاطع” Setiap produk yang ada gantinya, wajib diboikot.
 Namun kampanye boikot ini akan lebih berpengaruh jika terorganisir secara kontinyu dan sistematis. Kalau dalam lingkup Masisir, sepertinya PPMI dan Wihdah lah yang paling tepat untuk mengorganisirnya. Begitu pula dengan penggalangan dana dari Masisir, tentu lebih terasa manfaatnya bila diorganisir secara terpusat dan kotinyu. Sehingga tidak harus menunggu momentum tertentu, untuk menggalang dana secara massal dari Masisir.
Usaha di atas tentu diringi dengan doa. Kita berharap di bulan suci Ramadan ini, seluruh muslimin di penjuru dunia dapat melaksanakan ibadah puasa dengan tenang dan aman. Tanpa harus dibayang-bayangi oleh serangan bom, pembantaian massal dan segala bentuk kezaliman.
Wal akhir, yang saya sampaikan adalah uneg-uneg sederhana, dengan harapan supaya Masisir (juga saya sendiri) lebih peka terhadap peristiwa dan isu-isu global yang kerap terjadi. Sehingga tenaga dan respon yang kita keluarkan lebih mendatangkan manfaat, tidak hanya terbuang sia-sia untuk perseteruan dan debat kusir tiada putus, yang justru tidak membawa dampak apapun kecuali menyalakan api permusuhan.

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS Yusuf:21)


Wallahu ta’ala a’lam