Wednesday, 6 May 2015

Editor Kecil dan Fisika

bismillah


Editor kecil.

Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Abi seringkali meminta saya menjadi asisten alias sekretarisnya. Terlebih pasca ujiaperubahan gaya gan berartin SLTPN, juga saat LKS buatannya melewati fase pengeditan.

Pasca ujian, dengan dalih “Ow, tulisan kamu sudah seperti tulisan orang dewasa.” Akhirnya saya yang bertugas menulis puluhan rapor siswa-siswi Abi. Mulai dari rata kiri, rata kanan, semua manual dan penuh pengarahan. Sekali tangan menulis, artinya harus selesaikan semua. Karena perpindahan tangan berarti perubahan gaya tulisan. Jadilah saya penulis rapor Abi. Apa rewardnya? Bolpoin.

Iya, bolpoin snowman yang telah digunakan untuk menulis rapor, dihitung sebagai “kompensasi” atas ketelitian saya. Bangga? Iya dong. Terlebih saat tahu bahwa kerapian tulisan dua saudara laki-laki saya benar-benar tak bisa diharapkan. :D

Saya juga menjadi editor Abi ketika LKS (Lembar Kerja Siswa) yang disusunnya telah diketik rapi. Mulai dari Mata Pelajaran Biologi, Fisika hingga Kimia, saya yang edit. Karena saat itu saya masih SD, sedang tulisan yang saya edit merupakan materi siswa SLTP, saya edit semampu saya. Huruf capital, kesalahan-kesalahan teks, keteraturan susunan soal multiple choise, hal itu saja. Soal Bahasa ilmiyah, Abi yang tangani.

Kadang bangga, kadang sebal juga. Karena waktu bermain saya jadi berkurang. Tapi ini resiko anak perempuan yang kerjanya rapi :p

Kalau ingat masa-masa itu, rasanya haru. Lintasan masa kecil selalu beraroma nostalgik yang hm… membahagiakan dan penuh kerinduan. Baru akhir-akhir ini saya sadari, ternyata sebelum saya jadi editor (amatiran) di Terobosan, lebih dari satu dasawarsa lalu, saya telah jadi editor kecil Abi. Yeah!

Meski tidak terlalu dualem menguasai EYD, modal saya hanya teliti, kritis, berani dan ….sok tahu. Hehe. Rasa-rasanya perpaduan itu semua seringkali membuat orang lain terlalu percaya pada saya. Percaya saya bisa, saya mampu, dan menguasai suatu persoalan. Ups… padahal aslinya sih, begini-begini saja.

Ngomong-ngomong soal edit-mengedit. Meski kadang saya sebal karena jadi editor Abi-waktu itu-, tapi saya benar-benar merasa bersalah pernah sebal dengan kerjaan edit-mengedit itu. Tepatnya saat saya kelas VII MTs, sudah mondok.
Ceritanya, saat pelajaran Fisika, guru saya Ustadz Rosyid bertanya pada seisi kelas. Tentang volume dan cara mengukur satuannya. “Volume balok dapat diketahui dengan mengalikan panjang, lebar dan tingginya. Bagaimana dengan… batu. ia tidak memiliki tinggi, lebar dan panjang yang teratur seperti balok. Bagaimana kita mengukur volume-nya?”

Kelas hening.

Tidak seorangpun menyahut.

Akhirnya ada santriwati angkat suara. Tapi berakhir dengan gelengan kepala Ustadz Rosyid.

Entah ilham itu turun dari mana. Tiba-tiba saya angkat tangan.

“Ya, Ainun.” Tunjuk Ustadz yang selalu terlihat kalem itu.

Spontan saja benak saya memutar pola dan gambar-gambar di kertas LKS Abi yang pernah saya edit. Saya tidak pernah mencoba memahami apa yang say abaca, karena focus saya hanya pada teks-teks yang salah. Tapi gambar-gambar peraga di atas kertas itu seperti bercerita dan tersusun kembali di kepala.

Bukan saya mengatakan apa yang pernah saya baca. Tapi lewat gambar-gambar itu saya terinspirasi untuk membuat jawaban sendiri.

“Kita ambil wadah, lalu kita isi air sampai penuh,”
Ustadz Rasyid mengangguk-angguk seolah ingin segera saya selesaikan jawaban.
“Lalu, masukkan batu itu ke sana, Ustadz.”
“Lalu, Nun?” Tanya beliau. Kedua matanya semakin berbinar. Mungkin hanya saya yang merasakan. Cie…

“M… ya air yang tumpah, itu volumenya, Ustadz.” Saya berhenti menjawab.
Ustadz Rasyid menepuk tangan sekali. Menunjuk ke arah saya, dan tanpa kata ia buka pintu kelas.



Telunjuknya mengarah keluar kelas. Oh, tidak!

“Yah…” ujarnya dengan nada kecewa.

“Andai saja..” katanya,”andai saja kantin sudah buka, saya akan belikan makanan apa saja yang kamu mau.”

Seisi kelas gaduh.
Dikiranya saya siswi yang rajin dan jenius di kelas.
Ustadz Rasyid tersenyum bangga.

Saya senyum-senyum saja. Untung saja kawan-kawan saya tidak tahu, bahwa jauh-jauh lalu saya sering mengedit LKS Fisika Abi pada pembahasan yang sama.

Di tambah, pada pekan berikutnya. Seluruh santriwati kelas VII akan ulangan. Kecuali di kelas saya. Karena guru di kelas kami berbeda dengan kelas lainnya. Hanya Ustadz Rasyid yang tidak mengadakan ulangan.

Karena kawan-kawan sekamar saya-yang berbeda kelas- belajar Fisika, saya ikut mereka belajar.

Dan tahukah apa yang terjadi esoknya? Ulangan Fisika!

Ustadz Rasyid bilang,”Ini ulangan mendadak.” Seisi kelas protes. Untung semalam saya ikut belajar dengan teman-teman kamar.

Eng…ing…eng…

Selesai ulangan, Ustadz Rasyid tersenyum melihat hasil ulangan saya. Hoho.. ternyata. Tak seorang pun di kelas yang mendapat nilai 60. Sedangkan saya sendiri… 100! (secara… semalam saya kan belajar. Yang lain tidak.)

Tambahlah kelas dibuat heran. Dikira saya ini santriwati yang rajin dan jenius. Andai saja mereka tahu bahwa semalam saya belajar bersama kawan-kawan kamar. lol

Hwe… ceritanya sedikit nyasar. Tak apa lah. Sedikit nostalgia dengan masa-masa menjelang remaja.

Smoga cerita saya memberi manfaat ^_^.

Dan… selamat ujian. Semangat, Nuuuun!


PMIK, Rabea el Adawea, Cairo
Di Ujung senja


















Tuesday, 7 April 2015

Dari Gerbang Kampus (1)

bismillah
Pagi ini saya berangkat ke kampus menggunakan jasa bus asrama. Entah ini masih boleh disebut semi atau tidak, cuaca lebih dari cukup dari kata hangat. Belajar dari pengalaman beberapa kali masuk kampus, saya putuskan untuk turun di gerbang Fakultas Farmasi Al Azhar. Nampaknya keputusan saya diikuti beberapa kawan Indonesia. Meski jarak tempuh ke gedung Fakultas Dirasat Islamiyah lebih jauh, kami lebih memilih masuk kampus lewat gerbang ini.
Memang semenjak gejolak politik Mesir-hampir 2 tahun- berlalu, kampus putri tidak pernah sepi dari mahasiswi yang berunjuk rasa. Awalnya cukup mendebarkan, melihat gerombolan massa demonstran yang berkeliling kampus dan meluapkan tuntutan mereka. Terlebih jika mengingat tahun lalu kami-mahasiswa asing- juga turut bermain “petak umpet” dengan gas air mata. namun kini hal itu-demonstrasi- dan segala tindak tanduk massanya menjadi “hidangan” yang setiap hari kami santap.
Dukturah yang mengajar di kelas semakin hari semakin maklum dengan keramaian di kampus. Bila mulai terdengar hiruk pikuk demonstran yang kompak berteriak-teriak, tanpa harus dikomando jendela kelas kami tutup. Tak ada lagi gerutu dan keluhan para dukturah kecuali beberapa pekan lalu. saat Dekan Fakultas melakukan inspeksi mendadak ke kelas kami. Kebetulan terdapat beberapa coretan demonstran pada dinding kelas. tak satupun dari kami yang tahu siapa pelakunya, yang jelas anak kelas Hadis saya lihat semua netral. Tidak mungkin terdapat yang pro maupun kontra dengan aksi demonstran.
Akan tetapi apa mau dikata, pelajaran siroh Nabawiyah kami membeku beberapa menit. Dekan beserta rombongan nampak kalap seraya menanyakan kawan Mesir siapa pelaku yang mengotori dinding kelas kami. Tak ada yang mengaku, tak ada yang tahu. “Ya banat, dzi fauzo!!” ujarnya. Tak lama kemudian beliau keluar dan pelajaran kembali berlanjut.
Sebenarnya tidak hanya di kelas, bahkan di gedung-gedung lain pun masih terdapat coretan pilok maupun spidol para demonstran. Entah sudah berapa kali coretan itu ditutup dengan cat baru, namun sebanyak itu pula coretan itu kembali ditulis. Saya pernah membaca salah satunya,”Imsah! Wa hanaktub tani!” Hapus! Kami akan tulis lagi! Keukeuh dan menggelikan.
Karena hal itu dan banyak hal, akhirnya suasana kampus berubah. Gerbang baja bercat hitam di pasang pada 3 gerbang kampus putri, plus belasan petugas keamanan sewaan yang juga berjas hitam di siagakan. Kini, untuk masuk kampus, kami harus antri dan melewati pemeriksaan sekuriti kampus.
Selanjutnya kami harus maklum dan sadar, bahwa al Azhar ini berada di negara Mesir dengan watak orang Arab yang begitu adanya. Jangan pernah berharap bahwa dengan mengantri anda bisa masuk kampus. Nampaknya kata “antri” sudah terhapus dari kamus hidup mayoritas penduduk negeri ini. bayangkan saja, bagaimana para mahasiswi harus tumpah ruah di gerbang untuk berebut masuk kampus, terlebih pada waktu-waktu menjelang jam aktif pelajaran. Saya yang bertubuh mungil dibanding orang-orang Mesir hanya bisa pasrah dan membiarkan badan terbawa arus desakan hingga terdorong masuk gerbang. terkadang juga tanpa sadar badang saya berputar 180  derajat karena arus desakan massa, pernah juga saya melewati tangga gerbang tanpa melangkahkan kaki, cukup berdiam diri karena tidak ada space untuk melangkah kecuali dorongan dari massa di belakang.
Bagi banyak orang, mungkin hal ini menjadi pemicu amarah dan kekesalan. Bagaimana tidak, waktu yang terbuang untuk berjejal membuat kami terlambat masuk kelas, selain itu tenaga dan kondisi badan yang masih fresh saat masuk kampus telah terkuras oleh desakan di gerbang. tapi bagi saya, ini adalah tantangan. Saya yakin bahwa di setiap masa ada tantangan tersendiri untuk belajar di kampus Al Azhar.

Meski demikian ada beberapa fakta yang membuat saya merasa miris. Sesuatu yang belakangan saya sadari bertolak belakang dari apa yang selama ini saya pikir. Akan saya ceritakan di “coretan” saya berikutnya, biidznillah.



Monday, 6 April 2015

Menghargai diri [?]

bismillah
Biasanya aku menulis dengan topik atau tema yang sudah saya petakan di kepala. Tapi untuk kali ini, mari biarkan ia mengalir.
Karena ini permintaan yang dirubah menjadi sebuah “usul” kata seseorang yang gusar dengan sepinya blog ini. ya, dengan begitu aku relakan untuk menulis apa saja. Ayyi hagah kata orang Mesir. Biar perut mual, biar raga masih lelah dan pikiran suntuk merajai.


Beberapa waktu ini ada ketakutan dan kecemasan menyelimuti. Hal-hal yang sejatinya mampu kuperkirakan akan datangnya, akhirnya nampak gejalanya. Di samping itu, amanah-amanah lain tidak berhenti. Ada semacam kekalutan yang terus mencecar di benak. Ada saat-saat di mana terjadi pergulatan batin. Di situ ada rahasia yang tak sanggup untuk saya rahasiakan. Di situ ada perasaan dan kesalahpahaman yang berbenturan. Baik dalam diri maupun dengan orang lain. Bagi kebanyakan orang, mungkin masalah terbesar adalah perselisihan dengan orang lain. namun bagiku, hal terberat adalah ketidakseimbangan antara “idealita” dan cita-cita.
Ketika ku putuskan untuk merenung. Barulah aku rasakan perkataan seorang kawan, “later means never”. Waktu banyak tersia untuk pikiran-pikiran yang tidak –atau belum- produktif. Bahkan aku menjadi seorang yang sangat menyebalkan; phobia dengan handphone. Seringkali alat komunikasi itu ku buat “silent”. Supaya pekerjaan dan amanahku tidak bertambah. Bahkan untuk membuka isi gadget itu aku ketakutan; takut ia berbunyi, mendapat pesan, lalu harus menjawabnya.
Aku takut menjalani kewajiban.
Apa ini pengecut? Buatku, iya.
Lalu bertambahlah list pertarungan idealita-ku. Bertambah pula kalutku.
Dan di saat seperti inilah, waktu terasa menghimpit. Ada selaksa berkah yang tercerabut. Aku bertambah yakin bahwa ini karena dosa dan nafsu yang kubiarkan.
Namun, ada satu hal. Hal yang sangat sulit ku pungkiri.
Aku punya komunitas, kawan serta guru di sini. Mereka adalah inspirasi sekaligus penyemangat bagiku untuk terus bergerak. Meski terseok. Meski banyak cacat dan sering ku berbuat yang tak layak, ada satu motivasi yang tak ingin ku buat surut.
Mungkin aku sedang inferior. Aku sedang menjadi seorang pesakitan yang pemalas. Tapi setidaknya aku harus menghargai diri sendiri sebelum orang lain menilai lebih tinggi dari espektasi mereka terhadapku.
Menghargai diri sendiri artinya mempersiapkan. Ya, tidak harus matang dan seperti idealisme yang kaku. Sedikit demi sedikit. Apa yang untuk-Nya tak sepantasnya disebut letih dan lelah.
Sedalam apa pikiran-pikiran itu merampas waktuku, sedalam apa kekalutan itu menyelam jiwaku, aku tak pernah sendiri.

Terima kasih dan maaf. Ini bukan tulisan untuk #purnama.


Thursday, 8 January 2015

Merelakan Kau Pergi

bismillah

Belum sempat kusapa, purnama sudah lewat. Ujian Termin 1 yang memaksaku. Maka di sisa “sempurna”nya aku ingin bercerita. Ada beberapa, tapi aku tak tahu bagaimana merangkainya. Kekesalan atas beberapa masalah, kegalauan beberapa kawan di tengah ujian, kematian Snowwhite? Ah, tepat di kalimat ini, aku menitikkan air mata. Barusaja aku diberitahu, Goro meninggal. Kucing menggemaskan yang paling penurut itu… Innalillah.



Beberapa hari lalu keduanya nampak sakit. Hanya meringkuk, tak mau makan, minum susu pun harus kami paksa pakai dot bayi. Tak lama kemudian Snowwhite mati. Selepas kepergiannya, aku berharap Goro mengalami nasib lain. Kembali sehat. Apalagi ia nampak semakin bugar. Pun pagi tadi ia mau minum susu yang diberi kawan Thailand. Beberapa hari ini ia tidur meringkuk di depan kamarku. Aku pun harus relameminjam sandal kawan, karena punyaku ia tindih untuk hangatkan badan. Terkadang Gembrot dan saudara tirinya, Ichi datang menjenguk. Mengajak bermain atau sekedar tempelkan badan dan tidur bersama saling menghangatkan.
Tadi, sebelum aku berangkat ujian, Goro nampak kedinginan, maka kuberi alas kardus dan kuselimuti ia dengan kain. Ia nampak baik-baik saja. Ah, tidak. Ia nampak lebih sehat dari kemarin. Bahkan ia sempat meloncat ke bawah ranjang, lalu ku keluarkan,”Anak sholeh, keluar yah… kamu sedang sakit, bukan di sini tempatnya,”
Mungkin ada yang berpikir aku setengah sinting. Tapi aku suka berbicara bahkan mengobrol lama dengan kucing-kucing di lorong kami. Tapi untuk Goro, nyatanya hari ini Allah beri takdir lain.
Goro…
Tiba-tiba aku rindu sambutan hangatmu saat aku dating. Di ujung tangga menuju lorong kau biasa berjingkat dan berlarian mengejarku. Saat ku buka pintu dapur, kau satu-satunya yang menelusup cepat lalu berkelendot manja di kakiku. Tepat saat kau tahu bahwa aku akan membuka kulkas.
Goro, aku rindu kau berebut makanan dengan kawan-kawanmu. Saat kau begitu semangat berdiri dengan dua kaki, tak sabar menanti remah keju yang sedang kubuka. Aku rindu dengan cakar mungilmu yang tak sengaja menembus baju dan membuatku tersentak. Kau yang penurut saat ku mainkan bagai boneka, kupeluk dan ku goda saat tidurpun, kau diam saja.
Ah, apa kau ingat bagaimana kau bertahan hidup di musim panas kemarin? Bagaimana kami sengaja membagi susu asrama saat sahur demi kalian yang piatu? Juga saat kami rela kekurangan penerangan dan menjaga suara agar tidak mengganggu tidur nyenyak kalian?
Goro, Snowwhite, 7  purnama bersama kalian adalah hari-hari yang tak mudah kami lupakan. Maaf, aku tidak selalu peduli saat kalian merengek kelaparan. Maaf, aku pernah membentak kasar saat kalian mengacak-acak kamar yang baru saja ku rapikan. Maaf, sempat mendorong kasar saat kalian melompat ke atas meja dapur. Maaf, karena baru sekarang aku sadar, betapa kalian adalah bagian dari hari-hariku di Kairo.
Aku berduka atas kepergian kalian, namun terima kasih. Setidaknya untuk satu hal. Sesuatu terasa berharga saat kita kehilangannya.
Goro, Snowwhite, aku akan ikhlaskan kalian.
Aku ucapkan, selamat jalan…

                                                             Puncak Winter (feel 2 Derajat)
               Kairo, 8 Jan 2015

Friday, 2 January 2015

Saatnya Kau Pergi, Cinta...

bismillah
Menjelang ujian, saya terbiasa kedatangan tamu dari luar asrama. Biasanya kawan-kawan datang silih berganti untuk belajar dan share hal-hal yang kami belum pahami. Tapi sore ini beda. Ketika turun menemuinya di bawwab, saya tersentak. Mata dan seluruh wajahnya memerah, air matanya deras mengalir, dan isakannya benar-benar seperti seseorang yang meratapi kematian.
Saya ajak masuk ke mushola, beruntung saya sudah buatkan teh hangat untuknya. Untuk seorang kawan yang selama ini begitu bersemangat dan menggebu-gebu, apa yang saya lihat darinya sore ini adalah sisi lain yang begitu berbeda. Saya tahu hari ini ia akan bersedih. Tapi kalau sampai sesegukan begini, itu benar-benar di luar perkiraan saya.
Cinta.


Iya, perasaannya terhadap lawan jenis yang ia sukai ternyata merobek batas akhir sendunya. Mau tak mau ia harus melepaskan kepergian orang yang ia sukai di bandara. Bukan cinta yang berbalas. Itu yang menyakitkan. Terlebih ia beranggapan bahwa perpisahannya di bandara adalah pertemuan terakhir kali dengan lelaki yang ia sukai. Benteng pertahanannya sudah ambruk. Sekalipun ia pernah bercerita beberapa hari sebelumnya,”aku sudah persiapkan untuk hari ini, Nun.”. Nyatanya, hari ini ia baru sadar bahwa di ujung klimaks ia tak sanggup menahannya, sekalipun di hadapan kawan-kawan –yang selama ini ia tutup-tutupi.
Hal seperti ini yang tidak saya suka. Wanita yang berusaha mendapatkan timbal balik perasaannya atas laki-laki. Saya tidak suka bukan berarti hal itu salah. Barangkali saya tidak suka dengan resiko dari sebuah perasaan. Maksud saya begini, kita suka dengan seseorang, tentu menginginkan timbal balik berupa rasa yang sama dari orang tersebut. Namun belum tentu ia membalas perasaan kita. Tidak berbalas, artinya tertolak. Ini yang saya sebut resiko.
Hal tersebut wajar-kata kawan-kawan- dirasakan oleh perempuan. Karena tabiat asal kita memang pemalu, yang lebih banyak “dikejar” daripada “mengejar”. Tapi mungkin sifat dan sikap waspada saya cukup besar, sehingga untuk mengejar sesuatu yang terlalu beresiko menyangkut perasaan, hm.. sudah saya hapus dari kamus hidup. Hehe.
Akibatnya –mungkin-terlihat cukup dramatis. Seorang kawan pernah tunjukkan sebuah buku pada saya. Di situ disebut kriteria “cinta yang manja”. Dapat mencintai jika dicintai terlebih dahulu. Wew… tidak dapat menyukai seseorang kecuali ia lebih dulu suka dengan kita. Its me! Saya pernah katakan ini pada seorang kawan, lalu ia bilang, sikap saya cukup menginspirasi buatnya. Really, Sis?! Tapi saya merasa ini muncul dari sifat asli saya. Iya, sekagum-kagum saya dengan lawan jenis (mau seganteng Brad Pitt atau Lee Min Ho, sepintar Pak Habibi atau sebijak Pak Mario Teguh :p) kalau dia ndak suka sama saya, ya lewat saja. Wuss, ndak ada perasaan apa-apa. Tapi ceritanya bisa berbalik 180 derajat kalau dia punya rasa dengan saya. ejie…cie..cie..
Saya pikir, itulah yang selama ini membuat saya nampak enjoy terhadap perasaan-perasaan yang tidak karuan. Bahkan dari masa puber pun, saya tidak punya permasalahan pelik yang melibatkan perasaan, sebagaimana permasalahan kawan-kawan (begini-begini, saya sering jadi tempat curhat teman-teman lho) Maka saya pernah kelimpungan saat menjawab pertanyaan seorang kawan,”Nun, aku minta doa tolak cinta dong” Gubrak!
Kalau di Indonesia, saya masih bisa curhat ria langsung dengan Ummi. Tapi begitu di Mesir, saya melihat kawan-kawan yang senasib di perantauan. Cerita yang sederhana terkait perasaan mereka sampai yang kompleks terjadi di depan mata saya. Hm… bukan karena idealisme sudah saya hancurkan. Tapi mata saya semakin terbuka melihat beragam hal yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Lalu saya sempat goyah. Saya sempat “mencoba” bermain dengan rasa.
Untung saja hanya berhenti di situ. Saya rasa Allah cepat sekali menegur ketika saya mencoba menyerempet idealisme yang cukup lama saya bangun. Iya, rasa suka itu fitroh. Namun ketahanan dan kecerdikan kita untuk meluapkannya akan menjadi tolak ukur bagi syahwat. Nampaknya hal itu tidak mudah. Itu yang saya perhatikan. Baik dari perilaku saya maupun kawan-kawan.
Maka saya sebut rasa itu, candu.
Sekali kita mencoba luapkan, kita akan ketagihan. Kita ingin lagi dan lagi. Maka obatnya adalah lari, sebelum level kecanduan mencapai klimaks seperti kawan saya sore tadi.
Di usia yang sedang melewati “masa itu”, memang banyak godaan. Tentu, kita wanita. Terlebih lawan jenis baru sekedar mengenal lewat penampilan luar yang benar-benar tak bisa mewakili sisi lain diri kita. Mereka yang sekedar menggoda lewat sapaan, berPeDeKaTe lewat obrolan hingga berkirim makanan, mereka yang nampak mengejar namun hanya berhenti di mulut, mereka yang berusaha namun cepat sekali menyerah.. hm. Lupakan saja. Tolak dengan halus dan mundurlah secara perlahan, sopan dan anggun.
Wew, awalnya terlihat menyeramkan. Tapi kita benar-benar harus tegas. Terutama pada diri sendiri. Ini hidup kita, Sis. Prinsip yang sudah lama kita bangun terlalu sayang untuk ditukar dengan usaha mereka yang “nggak greget”(pinjam istilah kawan). Ada saatnya kita coba berpaling, kalau tidak dikejar ya… lewatkan saja. Allah akan kirim yang sungguh-sungguh dan tepat untuk kita, Sis. Kita tidak pernah tahu, bisa saja orang yang selama ini kita kagumi, yang selama ini kita hormati dan banggakan, tiba-tiba mengetuk pintu rumah... Ups! (semoga si dia tidak baca tulisan ini)
Ala kulli hal, semoga kawan saya sore tadi, bisa segera move on dan full semangat untuk hadapi imtihan, hadapi kehidupan. Nas-alullah laha attaufiq wannajah, fiddunya wal akhirah…
Eits, ini kan mau imtihan, sempat-sempatnya nulis beginian.
Plak!!!

Back to muqarrar, Sis! *Doakan kami, kawan-kawan.



Saturday, 6 December 2014

Tahun Ketiga

bismillah

5 Desember 2014
Di suatu petang. Mahattah Asyir.
Aku menikmati langit Kairo yang semakin kelam di antara bising klakson yang bersahutan. Dengan nafas sepenggal-sepenggal pasca mengejar bus 80 yang akhirnya tak dapat ku jangkau. Dingin menyusup sedikit-sedikit lewat jaket tipis dan beberapa lapis baju. Dalam kondisi begini aku telah bersiap untuk bertarung dengan kemungkinan terburuk atas waktu. Durasi kedatangan bus berikutnya tidak akan sebentar. Dan ini mahattah. Puluhan mikrobus nongkrong tak beraturan. Begitu pula jalanan menuju Hay Sabi. Suq Sayyarat.
Aku punya beberapa kenangan buruk dengan terminal (mahattah). Baik di Indonesia maupun di Mesir. Terminal adalah rimba yang terkonsep secara modern. Terutama di kota-kota besar. Lihat saja, manusia berlimpah ruah. Berjejalan. Tapi tak satupun acuh kecuali untuk dirinya sendiri. Masing-masing sibuk mengejar kepentingan, hal yang tak sulit kita baca lewat mimik wajah yang berkerut-kerut. Juga kecepatan jalan mereka. Lalu umpatan-umpatan dan juga potensi kejahatan yang ada. Ditambah cahaya lampu yang-sudah redup- terhalangi beberapa kios pedagang asongan. Ku putuskan menunggu berdiri, setelah memilih tempat yang dapat ku belakangi 90 derajat. Setidaknya aku mengurangi potensi tindakan kriminal dengan pengawasan 270 derajat. takut? Manusiawi. Dan aku memperbanyak dzikir.
Untunglah, masih sempat ku lihat langit. Ternyata aku tidak sendiri. Calon purnama menemaniku dengan cahaya putihnya yang belum sempurna. Lalu aku teringat, bahwa malam ini adalah tepat malam terakhir untuk tahun ketigaku di bumi Kinanah. 6 Desember 2011. Tiga tahun? Cepat sekali.
Awal tahun kedatanganku di Kairo. Boleh dibilang beruntung, bisa juga tidak. Beruntung, karena biidznillah (benar-benar dengan izin Allah SWT) akhirnya aku menapakkan kaki di negeri para Nabi. Meski saat itu rasanya berat sekali, tidak seorangpun dari keluarga inti yang melepas kepergianku di bandara. Pun Abi masih dalam masa pemulihan pasca kecelakaan. Ditambah penerbangan pertamaku pakai transit di Kuwait, dan tidak ada satu kawan atau kenalanpun yang menemani di pesawat. Aih, ndak usah didramatisir! Kurasa hampir setiap orang yang pernah pergi ke luar negeri pernah merasakan hal yang sama.
Sampai di asrama Buus, barulah aku tahu. Ternyata kawan-kawan satu marhalah sudah menempuh banyak ijroat (administrasi). Nasibku yang datang paling akhir, seorang diri dan tidak punya banyak kenalan se-almamater pula. Untungnya ada senior asrama yang masih bersedia bantu-bantu, seorang senior yang membantu urusan tiket-lah yang berjasa besar membantu ijroatku. Bulan-bulan awal ku lewati tanpa ada arahan senior, yang mengajariku untuk beradaptasi adalah kawan-kawan satu marhalah. Merekalah yang kuanggap senior dan mampu membimbingku saat itu. meski akhirnya kewalahan juga, sampai-sampai ijroat saya di asrama, baru kelar setelah 4 bulan.
Setelah itu aku mulai meraba-raba. Di lingkungan seperti apa hidupku di Mesir ini? Karena Ormaba juga sudah selesai diselenggarakan sebelum aku datang, lama-kelamaan aku mulai dapat membaca. Oh, di Masisir ada hal seperti ini, ada organisasi ini dan itu. Pengurusan terhadap KBRI dengan cara begini, begitu, bla..bla..
Yah, ala kulli hal. Aku ingin bersyukur dengan semua yang telah Allah SWT takdirkan. Meski seringkali aku mendzalimi diri sendiri, bersikap kekanakan terhadap keluarga, teman-teman, senior dan yang lainnya, aku merasa semakin hari semakin banyak belajar dari orang-orang di sekitarku. Walau tidak setiap pelajaran “kedewasaan” itu mampu kucerna lalu ku praktikkan secara langsung.
Terima kasih kepada kakak-kakak, senior, teman, guru, keluarga dan semua orang yang begitu sabar menghadapi sifat dan sikapku. Aku akan terus belajar menjadi lebih baik.


Doakan.

                                                             Madinatul Buus el Islamiyah, Abbasea, Cairo

                                                             Memasuki awal tahun keempat, 6 Des 2014

Saturday, 15 November 2014

Egypt vs Senegal

bismillah
Hari ini saya ke stadion. Nonton bola!
Sesuatu yang tidak pernah saya inginkan sebelumnya, dan ini sedikit di luar rencana. Beberapa hari lalu, iseng-iseng saya minta didaftarkan seorang kawan asrama. Seorang mahasiswi Senegal menawarkan seat supporter negaranya. Saya bukan maniak bola, hanya sesekali pernah nonton di televisi. Itu pun dulu. Dulu sekali. Lalu saya pikir, mumpung di luar negeri, pertandingan internasional, dapat aksesoris plus jemputan, ada kawan, free pula. Boleh deh!
Dalam bus
Sebetulnya dijadwalkan jemputan di asrama pukul 15.00, ternyata jam 14.30 bus sudah stand by. Mungkin karena Kedubes Senegal tak mau ada keterlambatan. Di dalam bus, hanya saya dan seorang kawan yang berkebangsaan Indonesia. Anak Thailand bisa dihitung jari, dua orang Mesir dan sisanya, nona-nona benua coklat-mencontek istilah Arab. Setelah diabsen, kaos dibagikan.
Di atas kaos berwarna latar putih itu ada bendera Senegal; hijau, kuning, merah dan satu bintang kecil di tengah, juga lambang CAF (Confederation of African Football-alias Prancisnya Confederation Africaine de Football). Ada dua kalimat tertulis. Saya tak tahu apa artinya. Bahasa Prancis. Saat tanya petugas, kalimat pertama dia bilang,”kulluna dhidda Ebola” we against Ebola, kita semua lawan Ebola. O, jadi, kampanye lawan Ebola. Wabah ini memang sedang mendera di Afrika. Saya tidak tanya kalimat kedua karena dia kelihatan sibuk. Yang jelas, pertandingan ini merupakan bagian dari rentetan Piala Afrika yang diselenggarakan 2 tahun sekali. Biasanya dihelat pada bulan Januari-Februari. Artinya, acara puncak akan digelar tahun besok. Pantas saja, saya banyak lihat tulisan 2015 di spanduk dan kaos-kaos.
Melihat supporter Senegal
Meskipun kali ini Mesir vs Senegal, saya kira hanya akan sedikit yang menonton. Tapi saat bus perlahan mengitari komplek Cairo International Stadion, antusiasme supporter Mesir tidak main-main. Dalam perjalanan-disebut perjalanan karena, meskipun lokasi stadion dekat dengan asrama, tapi macet plus satu kali putaran hingga melewati komplek Anwar Sadat- setiap kali musyaji’ itu melihat bus kami, mereka akan memutar ibu jari ke arah bumi, sambil meneriakkan yel-yel dan tertawa mengejek, kata mereka,”tiga-kosong!”. Saya sesekali tertawa bersama kawan. Siapapun yang menang kami takkan peduli. Di sela itu saya berimajinasi ringan, seandainya warna hitam dendera dan aksesoris Mesir ini dirobek, jadilah Indonesia. Hm... semoga tidak ada mahasiswa Indonesia yang melihat kami jadi supporter Senegal. Malu lah. Haha.
Dua kali pemeriksaan dan dua gerbang yang harus diterobos dengan merunduk-saking ketatnya penjagaan oleh sekuriti. And then... ya! Stadion!
Ini pertama kali saya ke stadion yang berisi supporter. Yeah! I feel it!
Ya..ya.. jadi begini toh, rasanya jadi supporter di bangku First Class. Satu tujuan kami menghemat baterai handphone. Selfie dan jeprat jepret sana sini. Ups, hehe.
Saya melihat lautan manusia dalam pekik histeria. Terompet, lukisan bendera di pipi, polisi-polisi, bendera-bendera, teriakan, sorot lampu dan tangan-tangan yang bergerak seirama. Seperti di televisi, tapi tidak seluas yang saya kira. Mungkin karena posisi bangku di tengah, tidak terlalu jauh, lapangan hijau dan kemampuan melihat nomor punggung pemain lapangan. Tapi kata kawan,”oh, ini paling Cuma sepertiga GBK”.
Jumlah supporter Senegal-termasuk saya dan puluhan anak asrama Buuts- tidak sampai sepersepuluh supporter Mesir. Pintar sekali, tidak perlu keluarkan banyak yel, cukup andalkan sound system besar di ujung depan untuk teriakkan rekaman yel-yel.
ambil foto dengan supporter Senegal asal China
Magrib menggema sejak sebelum masuk stadion, puluhan supporter bergantian sholat di belakang bangku. Ada pemandangan yang cukup menarik buat masyarakat Indonesia, andai saja saya punya kamera yang lensanya seharga belasan juta. Tak apalah, mata saya cukup jelas merekam seorang polisi berseragam hitam yang melepas sepatu dan beberapa atribut lalu sholat di tepi-agak tengah- lapangan hijau. Begitu pula setelah Isya, beberapa offisial saya lihat sholat di tepi lapangan, agak ke tengah. Mungkin menghindari keramaian yang amat sangat. Sedangkan kami, sembari menanti antrian sajadah, kawan saya ngobrol sejenak dengan sekuriti Mesir yang cukup ramah. Olala, dia mahasiswa tingkat 3 Azhar Tanta.
Seorang polisi tengah sholat dalam posisi rukuk di lapangan
Pertandingan dimulai. Memasuki menit ke-8. GOAL!
1-0   untuk Senegal!
Teriakan saya kalah dengan histeria puluhan manusia berkulit hitam. Ups, reflek. Pokoknya saya niatkan pengalaman nonton bola “beneran” ini sekali saja. Buat obati rasa penasaran. Sebetulnya saya ada janji silaturahim ke rumah seorang senior yang punya baby. Tapi dengan banyak pertimbangan, rasa-rasanya tak mungkin keluar stadion menuju mahattah seorang diri. Maafkan saya, kakak. (^o^)
Di sini saya-selaku orang yang kuper bola- belajar beberapa hal. Dari injury time, kode wasit pinggir sampai bagaimana cara menggerakkan bendera jumbo oleh supporter. Hehe.
Sampai babak kedua, skor belum berubah. Saya cukup paham bagaimana seorang bapak Mesir yang menonton dari bangku Senegal menepuk pundak anak lelakinya, saat timnas Mesir tak kunjung membalas gol Senegal.


Bapak dan anak Mesir duduk di bangku Senegal

Hello, ini Mesir lho. Negara dengan rekor terbanyak penyabet juara Piala Afrika sejak 1957. Saya juga tidak heran dengan histeria supporter Mesir mengingat banyak cerita kawan Masisir tentang fanatisme warga terhadap bola dan klub andalan mereka. Cukup jelas tergambar penantian mereka akan gol balasan. Iya, wajah para sekuriti berjas dan berdasi rapi hanya datar namun penuh gelora yang ditahan. Alias geregetan.
Ada satu hal yang patut disayangkan, mendekati akhir babak kedua, sebuah batu melayang ke bangku supporter Senegal. Berasal dari atas. Di mana supporter Mesir berkerumun. Tidak tahu siapa yang berbuat ulah, karena penglihatan kami terhalang oleh beton pembatas tingkat atas. Seorang supporter terluka. Saya sempat melihat, ia dipandu menuju ruang medis, dengan tangan kanan menutup kepala dan tangan kiri menadah darah yang bercucuran. Tak ada penanganan khusus. Kecuali para polisi yang disiagakan di kanan bangku supporter. Itupun tidak mencegah lemparan-lemparan botol, terompet dan sampah dari atas. Hm... saya dan kawan putuskan mundur ke bangku yang agak atas. Di bawah beton. Demi keamanan.
Beberapa supporter wanita menaruh tas di atas kepala menghindari lemparan dari atas
Tuh kan. Saya nggak akan “nonton” bola lagi. Diakidkan oleh kejadian semacam ini. cukup sekali ini sebagai obat penasaran. Ini pun dengan beberapa keluhan sepanjang pertandingan. Mau tahu apa? “Duh, laparnya. Ndak Ada yang jualan kacang ya?” Jadi terbayang obrolan seorang kawan di grup Whatsapp asrama. “Eh, kalau gue jualan kacang di stadion Cairo, laku banyak pasti ya?” Sayang tidak ada yang berani membuktikan.
Begitulah, hingga pukul 10 lewat, akhirnya kami bisa pulang dengan bus yang sama. Namun kali ini lebih padat. Karena banyak mahasiswa asrama yang lebih dulu menyusup dalam bus mahasiswi. Ya sudahlah, berdiripun tak apa. Rasa penasaran sudah terobati, dan untungnya tak ada mahasiswa Indonesia yang melihat kehadiran kami. Saya dan seorang kawan berdiri di bus agak belakang. seorang berwajah Asia memberi kursi untuk mahasiswi Afrika. Saya dan seorang kawan yang melihat mahasiswa Asia berjaket merah itu tertegun. Spontan menahan nafas. Erm... tidak. Tidak apa-apa.

Hanya saja tulisan di belakang jaket pemuda itu membuat kami terkejut. INDONESIA.



*Madinah al Buuts al Islamiyah
Abbasea, Cairo
Dini hari, 3.29

*Sedikit kontemplasi: ada kalanya saya menulis bukan supaya orang memperlakukan saya dengan sikap tertentu. Bukan.
Saya ingin tulisan disikapi sebagai tulisan. bukan sebagai siapa si penulis.
Saya ingin berbagi. Dan berekspresi. Bas!
what about you?