Saturday, 18 February 2017

nice homework 4

bismilla

A. Saya masih ingin menggeluti ilmu yang sama: ilmu pendidikan anak. Justru semakin hari semakin merasa tertantang. Tentu sesuai dengan waktu dan kemampuan yang saya miliki. Mengingat saat ini saya memiliki beberapa amanah: akademis, finansia dan pendidikan anak.

B. Saya belum bisa memenuhi 100% target sesuai checklist. Itu pun sepertinya kurang memenuhi yang diharapkan dalam IIP, dibuat setiap hari. Karena target saya perbulan.

B2. Misi kehidupan: inspirasi bagi masyarakat dalam bidang keilmuan Islam
Bidang: pendidikan anak, dan keilmuan Islam
Peran: inspirator masyarakat

C. Ilmu yang saya butuhkan:
1. Ilmu pendidikan anak (bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda shaleha)
2. Keilmuan Islam (ilmu hadis khususnya)

D. Milestone:
KM0-KM1: kuasai Bunda Sayang dan selesaikan kuliah jenjang Tamhidi 2
KM1-KM2: Kuasai bunda cekatan dan mulai mencari judul risalah
KM2-KM3: kuasai bunda produktif dan percepat penulisan
KM3-KM4: kuasai bunda shaleha dan selesaikan penulisan
KM4-KM5: evaluasi dan penambalan apa yang dirasa kurang, dan siap sidang thesis.

E. Ada yang perlu saya tambahkan terkait peran ssya sebagai ibu, untuk menguasai target2, sayapun perlu memperluas wawasan dalam ilmu pendidikan anak, ituyang perlu saya tambahkan dalam checklist NHW2
F. Bismillah... siap berjuang.... ๐Ÿ˜ค

Saturday, 11 February 2017

Nice Homework 3

bismillahNICE HOMEWORK #3

Saya sangat terlambat kerjakan NHW kali ini. Maklumlah, dengan adanya bookfair, suami kebanjiran pesanan kitab. Saya pun segan pegang gagdet terlalu lama. Saat putri kecil kami terbangun pun saya selalu fokus untuk membersamainya, komunikasi terus. Jadi hanya bisa pegang gagdet ketika Faqeeha tidur dan suami istirahat. Wal akhir baru buka grup IIP hari H pengumpulan NHW. Itupun hanya sempat baca materi dan NHW nya. Terkejutlah dengan tugas nya. Kirain hanya menjawab pertanyaan saja. Ala kulli hal ini yang bisa saya kerjakan๐Ÿ™



๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ฆ‍๐Ÿ‘ฆNikah

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Saya belum bisa melihat respon suami, karena beberapa pekan ini begitu sibuk dengan amanah yang tidak bisa ditinggalkan. Biasanya sih suami memperlihatkan respon di waktu yang tepat. Hihi, saya menunggu saja ๐Ÿค—

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
Putri pertama saya masih berusia 3 bulan, mulai banyak belajar bicara. Saya belum bisa menebak di mana bakat spesifiknya. Tapi saya punya harapan bahwa kelak ia menjadi seorang yang sesuai namanya, Faqeeha. Apapun yang akan ia geluti, saya akan support 100%.
Namun di awal tumbuh kembangnya, in syaallah saya akan ajak bersama menghafal AlQuran

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
Saya selalu melihat bahwa saya punya banyak potensi dalam banyak hal. Namun belakangan ini saya sadari bahwa yang menggerakkan itu semua adalah adanya kemauan, dg izin Allah tentunya.
Saya ingin memberi keteladanan akan hal itu pada anak-anak kami. Melihat lingkungan yg saat ini saya hidup di dalamnya, saya lihat bahwa Allah sengaja mempersiapkan keluarga kami untuk menjadi keluarga pembelajar yang haus akan ilmu. Yang nantinyya sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Tantangan yang saat ini kami hadapi adalah tantangan akademis untuk menyelesaikan kuliah sambil berkeluarga, finansial (karena belum ada pemasukan tetap), dan tantangan berkeluarga itu sendiri (mengasuh dan mendidik anak).
Ya, saya yakin Allah tengah menempa kami agar mampu menyeimbangkan aktifitas, juga menjaga keselarasan hidup dalam ilmu, cinta dan kasih sayang. Sehingga kami bisa menjadi keluarga yang kompak dan bahagia, dunia akherat.

Saturday, 4 February 2017

Nice Homework 2 IIP

bismillah
Dalam minggu ini Nice Home Work (NHW)nya agak bikin saya deg2an. Bukan kenapa, tapi terus terang saya sendiri merasa khawatir bila target-target tidak mampu saya selesaikan dengan sempurna. Karenanya sengaja saya buat sedikiiiiit saja, ah, nggak apa, namanya juga step by step.

Sebagai pribadi:
Dalam bulan ini;
-menyimak rekaman kuliah
-menulis satu artikel

Sebagai istri: (ehm, yang ini minta bantuan suami tercinta loh)
Bulan ini:
-membuat minuman di pagi hari
-memijit suami setibanya di rumah
(Hedeh kesenengan nih abang)

Sebagai ibu:
Dalam bulan ini;
-mengajak ngobrol baby 3 kali sehari
-membuatk mainan edukatif sesuai buku pedoman permainan edukatif

Wednesday, 25 January 2017

Nice Homework 1 IIP

bismillah

Mendapat amanah baby, ternyata membuat ritme aktifitas saya jauh berubah. Pegang gagdet makin jarang (alhamdulillah), sosmed juga jarang terbuka, tapi ya..itu. minim informasi. Hehe.

Maka dari itu, saya putuskan ikut kuliah IIP (Institut Ibu Profesional). Alhamdulillah, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, walau perjuangan untuk pegang gagdet itu hmm... padahal hanya jadi silent reader di grup.

So, ini adalah tugas pertama saya:

๐Ÿ“šNICE HOMEWORK #1๐Ÿ“š

ADAB MENUNTUT ILMU

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Ilmu pendidikan anak, atau saya lebih enak bilangnya, Tarbiyatul Aulad. Mengingat apa yang selama ini saya pelajari, ternyata sangat-amat kurang. Saya sudah belajar beberapa teori seputar Tarbiyatul Aulad, tapi selama merawat baby selama 2 bulan ini baru saya sadar, teori itu juga perlu konsep dan tehnik yang masih perlu dipelajari.

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Tentu, karena kini saya tidak lagi hanya seorang istri bagi suami, tapi telah menjadi ibu. Madrasah pertama bagi anak-anak saya. Di sisi lain, anak adalah amanah dari Allah SWT yang kelak bisa menjadi penolong atau justru bumerang atas kita. Juga ada keinginan agar dari rahim kita muncul generasi yang berperan besar dalam kemajuan peradaban ummat ini.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

Setelah niat, saya perlu menanamkan rasa haus akan ilmu, agar proses pembelajaran saya tidak pernah berhenti. Selanjutnya, tentu dengan mencari sumber-sumber terpercaya dan memperluas wawasan. Dari mana saja.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Yang perlu saya perbaiki adalah niat, juga konsistensi untuk mengikuti alur pembelajaran dengan tuntas. Serta kelapangan hati dan kesiapan mental untuk menerima setiap ilmu untuk nantinya diterapkan. Juga bersinergi dengan suami dalam menjalani semua ini.

Wednesday, 25 May 2016

O, Begini Rasanya Hamil.

bismillah

Hampir satu bulan ini perasaan kembang kempis. Kabar ujian. Iya, ujian tamhidi I untuk jenjang magister yang tengah saya jalani kabarnya simpang siur. Sekali diumumkan Ramadhan, sekali dipikirkan pasca Ramadhan. Ada bagusnya juga jika ditangguhkan, toh persiapan saya tidak lagi semaksimal waktu single dulu.

Sekarang sudah masuk awal usia bulan ke- 5 usia kehamilan. Alhamdulillah.

Awalnya terkejut juga, maklumlah, hamil perdana. Hihi. Dari sejak menginjakkan kaki di bumi Mesir ini, rasanya raga tiada henti-henti diperas. Intinya sibuk mondar-mandir untuk ijroat (proses administrasi) kampus, asrama, beasiswa, lalu cari rumah, pindahan dsb. Nah setelah menempati kontrakan –yang alhamdulillah dekat dengan kampus saya dan kampus cowok saya (jieeh)- rasa lelah itu tidak kunjung pergi. usut punya usut, ternyata hamil toh. Alhamdulillah.

Serasa tidak percaya, lalu berpikir. Lha, heloo….kan saya udah nikah. Hoho. Wajar dong.

Setiap kali bertemu kawan dan kenalan, rata-rata berkomentar, “lho habis nikah kok kurus?”

Yaelah, jangan-jangan dipikirnya dunia rumah tangga saya tidak bahagia. (Padahal-kalau kata si doi,”Dek, kita ni kayak bukan suami istri. Tapi dua anak muda yang dimabuk cinta”…ehemmm nggak usah banyak cerita di sini lah, kasihan kalau ada jomblo yang baca tulisan ini, lalu nangis darah pengen merit).

Jangankan orang lain, saya saja terkejut. Saya kira siapapun saat hamil badan bakal melebar. Makanya kalau ada kenalan yang hamil dan badannya ndak tambah ndut, saya terheran-heran. Nah sekarang saya sendiri merasakannya.

Beuh… subhanallah deh. begini sensasi jadi bumil. Dulunya saya pikir namanya wanita hamil itu beratnya di usia tua kehamilan. Karena perutnya besar, sulit bergerak dan beraktifitas. Olala, ternyata sejak awal kehamilan sensasinya luarr biasa. Maka cukup wajar dalam Al-Quran digambarkan bagaimana seorang ibu yang mengandung wahnan ala wahnin. Lemah kuadrat.

Saya yang merasa memiliki raga strong, jarang sakit, toleransi makanan tinggi (nggak pilih-pilih, bahasa pondoknya kullu syaiin kolu illa watu laa kolu). Bahkan selama kurang lebih 5 tahun ini sama sekali nggak pernah demam bahkan sariawan. tiba-tiba kehilangan nafsu makan, mual tiap saat, badan lemas wuaaah hidup segan, mati tak sampai.

Setiap kali waktu makan datang ataupun si doi bawa makanan, hmm serasa neraka itu datang. hiks. Terlebih waktu pagi (makanya disebut morning sikness) dan petang. Dua waktu itu siap-siap deh ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perut. Intinya makanan berasa buah simalakama, dimakan toh akan keluar lagi, namun jika perut kosong pun cairan lambung yang akan keluar.

Saya pernah mencoba mengeluh pada dokter kandungan Mesir. E, bliaunya malah senyum-senyum dan bilang, “sehari sekali dua kali muntah itu wajar”. Gubrak!

Nyidam?

Dulunya saya berkomitmen untuk tidak nyidam apa-apa kalau hamil. Ah, itu cuma pengaruh caper saat hamil aja. Pikir saya. ho, ternyata memang pikiran untuk makan makanan tertentu itu muncul di masa-masa morning sickness bergejolak. Setidaknya hampir tiap kali tidur, saya selalu bermimpi makan makanan khas Indonesia. Mulai dari keripik ceker ayam, sale pisang, soto, bakso daaaan banyak lagi. Namun sekali lagi, itu hanya mimpi. Hiks. Ini Mesir, Nun! Tidak ada penjaja kuliner Nusantara yang jualan dan kita tinggal beli kalau ingin makan. *ngusap air mata.

Meski sesekali manja-manja juga ke si doi, merengek minta dibelikan ini itu di kawasan Hay Asyir yang terdapat lumayan banyak toko asia. Tapi kadang sewaktu di acc sama doi, saya yang beringsut sembari pikir-pikir,”Nggak ah. Adek nggak mau manja dan boros.” Nah lho, apa nggak pusing si doi ngadepin saya. wkwk

Cari info sana sini, biasanya morning sickness berkurang pada usia kehamilan 3 bulan ke atas. Alhamdulillah, bulan ke-4 mulai berkurang. Tidak lagi tiap hari, tidak lagi harus pakai masker saat ke dapur atau mencium bau minyak goreng dan bawang-bawang. Walaupun… hehe. Nafsu makan mulai ada (di sini saya merasa begitu besar salah satu anugrah ilahi yang jarang saya sadari; nafsu makan), dan alhamdulillah buah-buahan jadi konsumsi setiap hari. Meski kasihan juga sih lihat si doi terkejut sangat melihat porsi buah saya. sehari sekilo peach habis untuk saya seorang. Imbasnya, si doi baru makan satu dua biji dan taraaa tak ada lagi buah di kulkas. Wkwk

Ala kulli hal, semoga dedek janin tetap sehat dan nantinya menjadi dzurriyah shalihah bagi kami. Saya pun sangat bersyukur tak terhingga, Allah anugrahkan saya suami yang begitu sabar menghadapi masa kehamilan yang tengah saya jalani. (So, buat para calon ayah, menjalani masa kehamilan dengan istri itu butuh kesabaran ekstra lho. jangan kaget dan jangan banyak menuntut atau berkeluh kesah.) alhamdulillah lagi dapat bonus; si doi jago masak. Mulai dari tumis-tumisan sampai bikin kue. So.. so… so sweet! Hihihi

Lalu, kalau kembali ke atas, apa hubungannya dengan ujian? Ya ada dong.

Intinya saya ndak boleh banyak cuap-cuap, kalau yang nggak hamil dan staminanya full aja butuh persiapan ekstra hadapi ujian, apalagi bumil. Back to muqarrar aja deh.


Doanya ya… maturnuwun.

                                                                                            Istana Cinta Darrasa, Kairo                  

Wednesday, 30 December 2015

2015 Tak Boleh Jomblo

bismillah



Besok saya akan menikah-in syaallah.
Setelah melalui proses-proses yang terkadang sangat di luar praduga sekaligus rencana. Yang tak bisa saya tampik, telah membuat saya meninggalkan banyak hal; amanah, tugas, rencana dan beberapa target. Ala kulli hal saya mengakui kekhilafan itu, dan semoga pihak-pihak yang terkait mampu memaafkan keinsafan diri ini (lho, ngarep banget..).

Sejak lama saya ingin menulis dan berbagi isi pikiran. Menyusunnya dalam rangkaian kata ala diri sendiri saat mood itu terbentuk. Tapi hm… akhirnya di hari -1 H, baru jemari saya sembunyi2 menari dalam kamar seorang diri. di tengah kesibukan mempersiapkan esok dan acara selanjutnya, sebenarnya saya ingin berbagi tentang rasa-rasa mengecap udara Indonesia setelah 4 tahun tak bersua. Walau jika menurut hitungan tahun matahari, belum sampai 4 tahun saya merantau di bumi Mesir.

Tapi ternyata, rasa itu bercampur aduk dengan even esok hari-sekali lagi, in syaallah- saya akan menggenapkan separuh dien. Hal ini pula yang ternyata membuat konsep “liburan” yang selama ini saya idam-idamkan sedikit (kalau tak boleh bilang banyak. Hiks)berubah.

Iya, liburan itu bukan dengan arum jeram, naik gunung ataupun snorkling. Melainkan, menjahit baju (apa gaun ya?) beserta beberapa aksesoris pernikahan lain, memasak, melipat dan menyebarkan undangan, souvenir, berberes-beres rumah daaan sebagainya.

Ada suka duka yang berlapis-lapis dan silih berganti. Terkadang air mata bahagia berselingan dengan kekhawatiran dan rasa lelah. Meskipun Ummi adalah yang tersibuk dan pusat segala persiapan nikah, walimah dan penyambutan tamu jauh, beberapa hal cukup menguras tenaga. Abi yang tiba-tiba jatuh sakit dan saudara laki-laki yang jauh ataupun tengah sibuk dengan khidmahnya.

Dengan begitu, bagi saya, tidak ada istilah anak laki-laki atau perempuan. Saya adalah keduanya. Mulai dari urusan dapur, pakaian, memasang lampu, angkat galon, hingga mengantar kasur, harus saya kerjakan.  Dengan kata lain pula, tidak ada istilah “dipingit”.

Yang patut saya syukuri dari hal itu, adalah kebiasaan saya yang tidak membedakan apakah sesuatu itu pekerjaan laki-laki atau perempuan. Selama itu mampu saya lakukan, maka akan saya lakukan. Sebenarnya ada hal yang cukup menarik buat saya; ketika mas saya pulang, ada bangkai cicak di dekat rak buku. Begitu abi perintahkan mas buat membuangnya, ia justru beringsut dan memohon pada saya untuk mengambilnya. Kalau boleh saya terjemahkan mimik wajahnya, “Plis, Nun. Tolong buangin cicak itu… aku jijik bangeeeet.”

Lho.. malah crita itu tho…

Pada awalnya saya ingin fokus pada bagaimana perasaan menjelang hari H. satu pertanyaan,”Deg-degan gak sih?” tentu jawabnya iya. Masalahnya adalah waktu, kapan itu dag dig dug nya? Pertama, ketika saya masih di Kairo dan si dia melamar ke rumah di Solo. Selepas itu kok ya… biasa saja ya. Hehe. Bahkan saat beberapa kawan menanyakan,”H min berapa Nun dari sekarang?” nah, saya malah hitung jari sambil mikir. Benar-benar ndak ingat. Bukan karena apa, tapi ya itu lho, namanya persiapan pulang itu ternyata banyak yang harus dipikir dan dijalankan. Kemudian ijroat dan bermacam persiapan juga menguras tenaga dan pikiran hingga masalah hati kadang terlupakan (kadang aja lho ya, deg2an ndak dipungkiri, meski itu kecil sekali).

Namun di awal kepulangan, saya sempat agak stress juga. Antara bingung, tidak yakin dan keragu-raguan yang kadang menyusup itu ada. kenapa harus dia apakah keputusan di saat ini telah tepat? Apakah saya sudah siap? Dan banyaaak lagi. Hal yang seringkali juga diceritakan beberapa teman yang pernah mengalami. Imbasnya memang tidak hanyak ke psikis, tapi ke fisik juga. Saya lho, yang selama 4 tahun di Kairo hanya sekali kena sariawan, begitu pulang langsung panen. (hehe). Belum pula batuk yang hingga sebulan tidak sembuh2.

Lho, nyasar lagi tulisan ini. deg-deg an yang kedua saya rasakan kemarin. Jika selama ini bayangan si dia hanya ada dalam fantasi dan memori berbulan-bulan silam, tiba-tiba malam kemarin fantasi itu hilang dan terganti dengan sebuah kenyataan; iya Nun. Dia dan keluarganya telah tiba di sini, di Solo, di rumahmu! Iya, yang kau lihat dengan sekilas-sekilas dan kau hindari tatapan matanya itu ada di depanmu! Itu calon suamimu!

DUAARR!!!

Hehe. Lebay sedikit tak apa ya…

Bismillah, besok saya akan menikah, tidak jomblo lagi tahun 2015 ini.
Semoga niatan kami ini adalah niatan untuk beribadah. Amin. Doanya ya….



                                                                                             Solo, 9 jam menuju Akad

Monday, 13 July 2015

Mengenang Almarhumah

bismillah
Setahun telah berlalu, tepat dengan kepergian kakak, teman, sahabat, uni kami di Buuts. Almh. Gusti.

Tepat selepas banat Indonesia di Buuts mengkhatamkan tasmi’ alquran 30 juz selama Ramadhan- yang dibagi 10 juz tiap pekan, diadakan khataman sekaligus doa bersama khususnya bagi almarhumah.

Terlepas dari kelanjutan proses hukum atas darah almarhumah yang kini tak lagi terdengar, mengenang dan mendoakan beliau menjadi hikmah yang tiada tara bagi kita semua.

 




Setelah doa dan usapan air mata, ada satu rasa yang mengharu biru.
"Indah sekali jika kita memiliki kawan yang tak hanya berbagi suka duka di dunia, tapi juga selalu mendoakan meski kita telah tiada."

Semoga kita dikaruniakan sahabat dan kawan yang selalu mendoakan kita.

Semoga Uni bahagia di sana, semoga Uni berada dalam ridhoNya.
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha.




                                                       Islamic Mission City for Girls, Abbasea, Cairo