Saturday, 11 February 2012

SAAT FUTUR TIBA

bismillah

                Ada saat-saat di mana rasa ingin mengeluh itu mencoba menghampiri. Jika dibiarkan, dan tidak segera ditangani. Bisa mencapai titik klimaks. Dan entah sampai ketinggian mana klimaks itu mau berhenti.
                Ada baiknya kita bedakan, antara menuruti kata hati, atau menuruti hawa nafsu. Sekali futur, langsung “down”. Wah, bahaya itu.

                Adakalanya, rasa futur itu cepat sekali hadir. Belum juga sepekan, dari masa penantian 3,5 tahun. Sudah mencoba rasa itu hinggap di relung hati. Merobeknya pelan. Pelaan sekali. Percaya? Harus.
                Adapun mensiasatinya, tentu setiap pribadi punya cara tersindiri. Ingat, likulli ro’sin ro’yun!
Kalau untuk saya pribadi, selama ini rasanya sulit sekali mengusir rasa itu. Namun saya banyak termotivasi ketika masa orientasi kemarin, DR Amir Mahmud memutar slide power point sederhana. Dengan gambar monyet yang menutup kedua mata. Jelas tertulis dengan huruf kapital besar-besar, STOP DREAMING AND JUST DO IT!
                Kini, hampir setiap kali rasa malas-yang menjadi pemicu futur itu datang, selalu saya teringat slide itu. Hm, manjur kan? Tinggalkan pikiran yang berkecamuk,”aku pengen kerjakan tugas, tapi kok capek ya? Kok buntu ya?” STOP! Segera saja tegakkan badan, and do it! Simple sekali kan?
                Nah, untuk selanjutnya. Saya terinspirasi seorang kawan yang tengah membaca status fb friend-nya. “Jangan berhenti bekerja sampai anda benar-benar merasa lelah”. Wew!
                Yup, seringkali kita berhenti sebelum benar-benar kita lelah. Lelah segalanya. Fisik maupun psikis! Jangan sampai ketika kita mengerjakan sesuatu, pekerjaan itu terhenti lantaran hilangnya rasa mood. Toh, pekerjaan kita belum usai!
                Terakhir, seperti Imam Ahmad ketika ditanya, mengapa ia tak beristirahat sejenak dari kesibukannya sebagai ‘alim. Inti jawaban beliau, Di dunia ini kita terus bekerja dan Istirahat itu di akherat.
Subhanalloh!!!

                                                                                                                              Klaten Utara, 10102011

JANGAN HAFAL QURAN?

Apa yang menjadi jaminan akan kesempurnaan seorang muhafidz/muhafidzoh?

Tidak ada maksud saya merendahkan bahkan melecehkan para penghafal alquran. Karena toh, tidak ada jaminan akan kema’shuman terhadap penghafal alquran.
Sekarang ini, masyarakat kita sudah lebih “melek” terhadap kebutuhan akan Alquran. Buktinya, bertebaran sekolah-sekolah berbasis Islam yang menambah program “tahfidzul quran” sebagai program unggulan mereka. Bahkan di televisi pun Yusuf Mansur turut menyemarakkan program “Rumah Tahfidz”, disamping “Sedekah”nya. Sebuah kemajuan yang patut untuk terus didukung dan dikembangkan.
Namun, sayang beribu sayang. Selayaknya harapan bagi seorang muhafidz/muhafidzoh, setelah sempurnanya hafalan 30 juz. Adalah menerapkan apa yang telah mereka hafal. Namun pada fakta yang sering dijumpai, -berdasarkan pengalaman pribadi saya- begitu banyak para muhafidz yang minim sekali bekal keilmuannya. Dalam penguasaan bahasa Arab, terjemahnya, penafsirannya. Sehingga apa yang mereka hafal seolang hanya di bibir. Belum melekat ke hati. Terlebih mendarah daging menjadi suluk, akhlaq keseharian mereka.
Padahal mereka –beberapa- menjadi asatidzah di sekolah-sekolah tahfidz, pondok pesantren!
Sunggah, apalah guna AlQuran, Kalamulloh itu jika hanya sebatas bisa terucap di bibir? Bukankah tujuan utamanya adalah implementasi dari apa yang dihafalkan? Lihatlah bagaimana ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlaq Rosul, “Akhlaq beliau adalah Alquran” jawab Aisyah ra. Subhanalloh... betapa jawaban itu menunjukkan betapa Alquran itu benar-benar mendarah daging dalam diri Rosul? Sehingga setiap tindak-tanduk beliau tidak mungkin terlepas dari Alquran?
Sementara di sini. Di negrei ini khususnya. Betapa banyak muhafidz dan muhafidzoh bertebaran. Hanya sayang, kebanyakan baru hafal di bibir. Belum sepenuhnya ada kesadaran untuk menerapkan.
Bukan ayat ini pernah dihafal? Sering diucapkan? Sering dimuroja’ah?
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
5. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. QS AlJumuah:5
MasyaAlloh, apakah hanya menjadi keledai dungu?
Saya –sekali lagi- tidak bermaksud mencemooh mereka yang telah menjadi hafidz/hafidzoh. Tulisan ini saya buat, dengan harapan agar para muhafidz dan muhafidzoh tidak semata puas atas apa yang telah dihafal. Melainkan agar hendaknya selalu merasa haus akan penerapan Alquran itu sendiri. Secara kaffah. Semampunya. Semaksimalnya. Juga ini menjadi peringatan buat saya sendiri secara pribadi agar terus menghafal, belajar memahami dan menerapkan apa yang telah, sedang dan akan saya pelajari.
Dan hendaknya, sebelum kita menuntut ilmu, niatkan dalam hati, bahwa apa yang kita pelajari adalah untuk diterapkan. Bukan sekedar teori yang direndam dan sipendam dalam kepala. Wallohu musta’an.

                                                                                Klaten Utara, Belangwetan 11102011



Masih Sendiri

bismillah

Selepas landing di Kuwait Airport
Turun dari pesawat, angin musim dingin Kuwait segera menampar wajahku.
                Segar.
                Begitu masuk waiting room, barulah dingin itu menusuk tulang. Bah, musim dingin begini kenapa masih pakai AC! Rutukku dalam hati. Namun selalu semboyan itu bergumam dalam hatiku, ala kulli hal Alhamdulillah.
 Walau bagaimanapun, Alhamdulillah!
Aku mencoba berkenalan dengan beberapa muslimah yang juga ke musholla, dan tadinya satu pesawat denganku.
“what is your destination?”
Semua menjawab, “Cairo”.
Dan semuanya orang Malaysia. Ada yang memang berwisata, ada pula yang mengunjungi saudaranyaa yang juga mahasiswi di Mesir.
Hanya sayang, tak satupun yang menawarkan keramahan. Bahkan untuk sekedar bertanya balik padaku. Ke mana tujuanku. Apa asal negaraku.
Hm, mungkin itu juga yang menjadi sebab bahwa masyarakat Indonesia terkenal lebih ramah.
Aku sedikit kecewa. Namun tidak mengapa. Aku bertanya pada petugas mengenai apa yang harus ku lakukan selama menunggu 6 jam di bandara Kuwait. Aku pun di beri voucher snack dan menuju tempat yang di sediakan.
Di sekelilingku orang-orang –yang juga transit- menikmati snack bersama teman atau keluarganya. Dan, hmm, hanya aku yang sendirian duduk di meja paling pojok.
Ada rasa iri, tapi ala kulli hal Alhamdulillah!

Menikmati snack di Kuwait Airport. Alone.

Masih sendiri....

bismillah


Selepas landing di Kuwait Airport
Turun dari pesawat, angin musim dingin Kuwait segera menampar wajahku.
                Segar.
                Begitu masuk waiting room, barulah dingin itu menusuk tulang. Bah, musim dingin begini kenapa masih pakai AC! Rutukku dalam hati. Namun selalu semboyan itu bergumam dalam hatiku, ala kulli hal Alhamdulillah.
 Walau bagaimanapun, Alhamdulillah!
Aku mencoba berkenalan dengan beberapa muslimah yang juga ke musholla, dan tadinya satu pesawat denganku.
“what is your destination?”
Semua menjawab, “Cairo”.
Dan semuanya orang Malaysia. Ada yang memang berwisata, ada pula yang mengunjungi saudaranyaa yang juga mahasiswi di Mesir.
Hanya sayang, tak satupun yang menawarkan keramahan. Bahkan untuk sekedar bertanya balik padaku. Ke mana tujuanku. Apa asal negaraku.
Hm, mungkin itu juga yang menjadi sebab bahwa masyarakat Indonesia terkenal lebih ramah.
Aku sedikit kecewa. Namun tidak mengapa. Aku bertanya pada petugas mengenai apa yang harus ku lakukan selama menunggu 6 jam di bandara Kuwait. Aku pun di beri voucher snack dan menuju tempat yang di sediakan.
Di sekelilingku orang-orang –yang juga transit- menikmati snack bersama teman atau keluarganya. Dan, hmm, hanya aku yang sendirian duduk di meja paling pojok.
Ada rasa iri, tapi ala kulli hal Alhamdulillah!
Menikmati snack di Kuwait Airport. Alone.

FOTO2 MY SAFAR

 atas kuwait....

 sendiri ke gate D5 d cengkareng

 atas asrama


 menu pagi

 menjelang sampai d kuwait



 jundi kok ikut mampang.. ni lg d hongkong. hihi


Benar-Benar Sendiri?

bismillah

Pesawatku berhenti –nyaris satu jam- di Malaysia. Kendati demikian, tak ada ijin bagi penumpang untuk turun. Aku menghabiskan waktu untuk mengirimi sms pada keluarga. Terlupa bahwa jam telah menunjukkan pukul dua pagi. Tak ada jawaban.
Aku menikmati keheningan. pun terhadap kakek di sampingku, aku belum banyak bicara dengannya. Ia membawa satu koper, dan tas kecil terbuka berisi –nampaknya- netbook dan mushaf al quran.
                Hingga mendekati shubuh, aku menikmati tidur. Terbangun saat mencapai langit Kuwait. Barulah ku beranikan diri membuka pembicaraan dengan kakek itu. Kami memutuskan mengobrol dengan bahasa Inggris setelah kesulitan komunikasi dengan bahasa arab kami yang lumayan berbeda.
                Namanya Saad Rafi, ia seorang dokter. Pulang ke Cairo setelah mengunjungi putrinya di Indonesia yang menikah dengan WNI dan tinggal di Surabaya. Kakek itu ternyata sangat bersahabat. Aku jadi sedikit menyesal tidak mengobrol sejak awal duduk.

                Ku ceritakan bahwa aku menerima beasiswa al azhar untuk studi di Cairo. Dan ini adalah penerbangan pertamaku. Ia pun menawarkan nomor hp nya agar aku bias menghubunginya bila butuh bantuan. Tapi aku hanya mengangguk dan berterimakasih. Ia juga menjelaskan sedikit tentang apa yang harus di lakukan ketika transit nanti.
Pagi hari di atas langit Kuwait
                On time. Tepat setengah tujuh, pesawat landing di bandara Kuwait. Aku terpisah dengan kakek Saad karena ia tak mampu membawa koper saat menuruni tangga, sedang petugas menyuruhnya untuk duduk dahulu. Kami pun tak lagi bersama.

bismillah


                Saya pernah bercita-cita, mimpi yang rasanya sulit ditemui. Namun saya punya tekad, keyakinan, dan tentu saja semua itu harus disertai dengan tawakkal.
Sekitar lima tahun yang lalu, saya menuliskan mimpi itu di atas lembaran diary kecil. Dari lima target besar, mimpi besar yang saya tulis –dan berjangka waktu- toh kenyataannya hanya dua yang terlaksana. Itu pun tidak maksimal. Saya pun kecewa.
Sering, saya berpikir. Mimpi besar tak selamanya bisa terwujud! Karena cuma mimpi!
Setelah empat tahun berlalu, saya mulai tersadar. Mungkin mimpi itu tidak terwujud –selain karena suratan takdirNya- lantaran hanya saya jadikan sebatas mimpi yang ‘tidak mungkin bisa terwujud’. So, saya pun tidak serius menetapkan target mimpi itu.
Istilah lainnya, OMDO! Omong Doank!
NATO! No Action Talking Only!
Dan suatu hari, saya mendapat slide power point yang berisikan motivasi meraih mimpi. Inti dari slide itu, ialah “menulis mimpi”. Bukan sekedar menulis di otak, tetapi menulisnya di atas kertas! Kalau perlu di tempel di dinding kamar besar-besar!
Sekali lagi, saya mencoba menulisnya. Jika beberapa tahun lalu, hanya saya tulis di buku diary, kali ini saya lebih ‘PeDe’ untuk menulisnya di atas HVS dan menempelkannya di dinding kamar! Biarlah nanti banyak yang menertawakan, aku harus bisa cuek! Semangat itu selalu bergema dalam batin saya.
Hingga, kembali saya menelan kecewa. Ya, hingga kini. Ada sebuah mimpi besar yang tak kunjung tercapai. Padahal saya ‘merasa’ telah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Namun kembali saya harus kembali pada konsep ‘tawakkal’. Walau, rasa kecewa juga terus menghantui. Toh, akhirnya saya sedikit putar haluan... meninggalkan mimpi yang ‘saya pikir’ hanya ‘mimpi’...
Dan suatu hari, saya. Sekali lagi. Terbangun dari sebuah sikap apatis...
Mimpi itu ada... dan semua bisa terwujud.. bi idznillah...
Sesuatu yang tak pernah anda bayangkan...
Sesuatu yang hanya anda pikir.. huh! Mimpi kali ye...
Sesuatu yang anda impikan, sedang orang lain menertawakan atas mimpi anda itu...
Really!! Semua bisa!
Bagaimana bisa?
Satu, tulis mimpi ‘besar’ itu...
Dua, tempelkan besar-besar di dinding kamar anda...
Tiga, berusahalah mewujudkannya, meski dengan satu langkah kecil
Empat, jangan pernah keluar dari bingkai ‘tawakkal’.
Hingga, saat tiba untuk berpisah... satu persatu kawan-kawan karib memeluk saya. Untuk sebuah perpisahan. Dan satu kalimat yang terus terngiang dalam benak saya. Kalimat terakhir sahabat karib saya...
“Nun... carikan aku Fahry...!!”
GUBRAK!!!


وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
(AtTalaq:2)
Kau tahu... rencanaNya selalu indah... ^_^