Sunday, 15 September 2013

Gom’ah Mubarak... ^_^

bismillah


Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis status di facebook perihal hari Jumat. Dimana saya seringkali mencoret besar-besar agenda untuk keluar di hari Jumat karena banyak resiko yang patut dipertimbangkan untuk keluar pada hari libur resmi Mesir ini.
Dan memang beginilah faktanya. Mungkin tidak semua merasakan hal yang sama. Namun bagi kami, mahasiswi yang tinggal di asrama buuts putri, menjadi kendala tersendiri jika harus keluar pada hari Jumat. Ya, semenjak suhu politik di Mesir yang memanas dan sulit untuk diprediksi, hari Jumat adalah momen yang sering digunakan massa untuk berdemonstrasi.
Mulai dari transportasi yang sulit didapat, plus harus merogoh kocek yang lebih..lebih..dalam, hingga aturan asrama yang seringkali berubah mengenai batasan waktu untuk keluar.
Sebetulnya saya masih sedikit mutung alias ngambek gara-gara semalam ada acara di Hay Asyir yang memaksa beberapa dari kami (anak asrama putri buuts) untuk mengikutinya hingga cukup larut. Melanggar aturan jam kembali asrama? O, jelas. Resiko menghadap direktur asrama? Bisa jadi. Terpaksa naik taksi, demi hemat waktu dan karena tidak ada bus yg beroperasi? Saldo beasiswa bukan lagi nol, tapi minus. Hiks! Ini kan belum masuk tengah bulan... /(ToT)”?
Toh, intinya Jumat ini saya harus keluar lagi, karena ada agenda di Wisma Nusantara yang letaknya di kawasan Rabea al Adaweyah. Kawasan yang menjadi saksi terbunuhnya ratusan (ada yang bilang ribuan) nyawa demonstran, dan hingga kini masih dijaga ketat olrh aparat keamanan dan militer Mesir.
Mengetahui ada agenda di hari ini, sebetulnya saya sudah ada feeling agak buruk. Benar saja, aliran air asrama beberapa kali tersendat, selanjutnya ketika ijin keluar. Ammu Wahab yang menjaga gerbang mendelik pada saya,”Ruh fein?!!” Mau ke mana kamu?!!
“Awwil Sabi’,” jawabku lirih. Itu adalah kawasan yg dekat Rabea al Adaweyah.
Namun senior yang bersama saya segera menjawab dengan keras,”Ahmad Said, Ammu..” ini sih nama kawasan yang terdekat dengan asrama. Hoho...
“mau pergi ke mana kamu?!” tanya Ammu Wahab lebih keras.
Sedikit keder terpaksa saya jawab,”Ana ma’aha, ila Ahmad Said..” Maafin saya sekaliiii ini ya Ammu.
Setelah berhasil keluar asrama, barulah saya tahu kalau sebelumnya ada senior yang dibentak dengan keras gara-gara ingin sholat Jumat di Masjid alAzhar. “Teriak-teriak sampai matanya melotot dan kedengaran sampai imarah 3.” Jelasnya. Whuoo.. Imarah 3 kan jaraknya hampir 50 meter dari gerbang...
Kami agak gamang untuk melanjutkan perjalanan, karena harus kembali sebelum dhuhur. Mustahil.tapi ternyata pak Bos nggak memberi ijin untuk membatalkan agenda, malah kami disuruh segera naik taksi. Taksi ...lagi? haha, saya meringis aja deh.
awwal sabi'
Akhirnya ada sopir taksi yang berbaik hati mengantar kami hingga kawasan Rabea al Adaweyah. Ia mengambil jalur arah ke airport, namun ternyata untuk menuju Rabea al Adaweyah tidak mudah. Bebarap kali taksi berputar-putar mencari celah untuk melewati blokade militer dan aparat keamanan, namun hasilnya nihil. Hampir di setiap ruas jalan terdapat tank-tank dan tentara dengan seragam lengkap. Moncong senjatanya itu lho, bikin ketar-ketir.
Terpaksa kami turun di jalan terdekat yang diblokade untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Keluar dari gang kecil dengan beberapa restoran kecil yang baru mulai beroperasi, kami menuju jalan utama yang nampak sepi. Beberapa aparat keamanan berseragam hitam bersiaga di sana. Tidak jauh di belakang, dua tank dan beberapa tentara berseragam lengkap juga menghadang.
Setelah memastikan bahwa masing-masing dari kami berempat telah membawa paspor dan identitas diri, dengan langkah pelan kami mendekati para aparat itu.
“Langsung jalan apa ijin dulu ya?” kami masih ragu. Tapi, daripada resiko nyelonong lalu di-dor, nah lho.. lebih baik ijin lewat.
Saat berjalan mendekat, beberapa dari mereka mengamati kami yang berjalan mendekat.
“Lau samakh, boleh kami lewat..”
“silakan...” jawab beberapa dari mereka. Phuft...
Kami pun berbelok ke kanan dan...
“WHUAAAH...”
Hihi, akhirnya keinginan saya untuk melihat Maidan Rabea al Adaweyah tercapai! Saya benar-benar penasaran ingin melihat langsung masjid Rabea al Adaweyah yang sempat hangus, serta kawasan pusat yang sempat jadi ‘neraka’ di Bumi Kinanah itu.
Yap, dengan jalanan lebar dan berpusat di bundaran yang cukup besar namun sepi dan lenggang. Dulunya kawasan ini tak pernah sepi dari orang dan kendaraan. Tapi kali ini sepii.. tidak satupun kendaraan bisa lewat. Dan blokade yang cukup luas sehingga seperti taman yang sepi dan dikelilingi apartemen dan bangunan yang cukup lenggang.
Memang sudah tidak ada sisa hangus dan trotoar nampak telah diperbaiki dan ruas jalan telah dicat kembali. Tapi kami juga buru-buru istighfar, membayangkan bahwa di setiap bangunan yang mengelilingi kami terdapat sniper yang sewaktu-waktu mengincar kepala kami. Tentu saja cukup mudah bagi mereka, demonstran bertumpuk di jalanan seperti lapangan yang dikepung gedung-gedung di berbagai sisi. Para sniper sangat mudah memburu mangsanya.
Sedikit konyol kami berlari kecil dengan menunduk, membayangkan bagaimana situasi saat penyerbuan dan mengevakuasi para korban sembari menyelamatkan diri dari sniper yang mengincar kami. Haha..
Sampai di Wisma Nusantara, tentu saja kami datang telat. Ho
Meskipun hanya mengikuti briefing beberapa puluh menit, adzan berkumandang. Dan selesai. Agak canggung juga, karena kami harus segera kembali, sementara kawan-kawan yang tinggal di luar asrama Buuts harus mengikuti rapat hingga akhir.
Saya sih, tidak berpikir ‘dapat apa’ dari agenda siang itu. Yang penting setor muka saja dan kembali ke asrama sebelum kami di marahi oleh Ammu Wahab. Ini sudah jam 1 lebih, padahal kami berjanji untuk pulang sebelum Dhuhur. Punteeen, Ammu...
Cerita pulang tidak jauh berbeda dengan perjalanan berangkat. Kami harus berputar-putar dengan taksi, demi keluar dari kawasan Rabea al Adaweyah. Jika tadi kami bingung mencari jalan masuk, kini harus pusing mencari jalan keluar.
Sopir taksi akhirnya bertanya pada seorang tentara,”Ya basya... ada jalan keluar nggak?” sebab di setiap ruas jalan dan gang-gang telah diblokade oleh tank-tank dengan amunisi penuh.
“Gak ada, kullu thori muta-affil” ia juga mengatakan akan adanya kemungkinan demonstrasi, jadi setiap akses jalan memang diblokade. Whehe... sudah berputar-putar ndak jelas, akhirnya kami mencoba lewat jalan ke Anwar Sadat. Di tengah jalan yang lenggang, tiba-tiba seorang sopir taksi yang berjalan berlawan arah dari kami berteriak kencang,”IRJI’!!!”
Nadanya itu lho... “Ooii, BALIK! Jangan lewat sana!!”
Wuiih, saya meringis, seolah di depan sana sedang terjadi baku tembak. Haha, ternyata masing-masing dari kami berpikir sama.
Meskipun kembali ke tempat semula, akhirnya kami menemukan jalan keluar dari kawasan itu. Kami putuskan untuk turun dan naik bus menuju Nadi Sikkah. Dari sana oper tramco ke Duwai-ah, lalu sambung ke asrama Buuts.
Di dalam tramco kami masih berpikir bagaimana membuat alasan untuk Ammu Wahab. Kami tidak ingin berbohong, namun entah apa jadinya kalau mengaku bahwa kami pergi ke kawasan Rabea al Adaweyah. Habis lah...
Gerbang asrama telah ditutup karena waktu keluar telah habis, kami berdiri di luar dan saling bersembunyi di balik punggung satu sama lain. Akhirnya salah seorang memberanikan diri membuka gerbang, seorang Ammu bawwab berseragan putih ‘askari tersenyum melihat ketakutan di wajah kami.
“Buruan masuk..”katanya. kami mengawasi sekitar dan bertanya, di mana Ammu Wahab. Ternyata beliau sedang di kamar mandi. Serentak kami bersorak gembira dan segera menulis tanda bahwa kami telah kembali. Ammu itu hanya tersenyum geli melihat tingkah kami. Semua beres, dan kami amat sangat berterima kasih pada Ammu itu, “Mutasyakir awi... syukran..syukran Ammu...”
Tiba-tiba seorang dari kami melihat Ammu Wahab keluar, “Ada Ammu Wahab! Larii....!!”


PS: maaph, mau foto2 di TKP tapi takut di-dor. hehe
*huhu... alhamdulillah ala kulli hal ^_^


Saturday, 17 August 2013

Kado Ulang Tahun tuk Indonesia-ku

bismillah


Hai, Indonesia...usiamu sudah 68 tahun.
Apa kabarmu wahai tanah airku?

Ini tahun kesembilan sejak terakhir kalinya aku ‘hormat’ pada bendera Indonesia. Merah Putih. Meski bukan nasionalis buta, aku mencintai negeriku. Selayaknya seorang anak pada ibu kandungnya. Karena dari tanahnya aku berpijak, tumbuh dan dari hasilnya aku mereguk setiap denyut hidup hampir dua dasawarsa.
Dan sekarang aku tengah mengembara di Mesir, Egypt. Negeri pertama yang mengakui kedaulatan bangsaku, sehingga secara sah Indonesia menjadi negara secara de facto. Ya, dengan link KH Agus Salim yang bertemu tokoh-tokoh pergerakan Islam di Timur Tengah, pendirian Lajnah Difa’i ‘an Indonesia pada bulan Oktober 1945, dan berbuntut pada pengakuan Mesir atas kedaulatan Indonesia oleh Raja al Farouk –atas desakan Hasan Albanna- 22 Maret 1946.


Tidak hanya sekali dua kali bangsaku berhutang pada negeri yang sedang ku tempati ini. Mulai dari beasiswa pendidikan hingga segala kemurahan dan kedermawanan, Mesir adalah saudara Indonesia.
Sayang, negeri ini tengah terluka –jika tak mau dibilang sekarat-. Sekali lagi, ‘mainan demokrasi’ menunjukkan boroknya. Ia tak lebih akal-akalan si oportunis kapitalis. Jika untung, maka disayang. Jika buntung, maka ditendang.
Daftar kematian dengan angka bombastis tiba-tiba muncul hanya dalam hitungan sepersekian jam. Pembubaran paksa demonstran dengan peluru, gas air mata dan alat berat tak bisa memungkiri akan darah yang tertumpah. Masih tak cukup, api disulut, masjid pun tak luput. Cairo membara. Dan serentak darah mengalir di penjuru negeri. Semurah apa darah di negeri Firaun ini?
Ya, sejarah tak pernah luput dari darah. Berharap tidak? Itu utopia semata.
Ya, jangan berharap tanpa pamrih pada negeri yang menjajikan kemakmuran dan kekayaan, jika tidak diimbangi dengan keadilan dan ketaatan. Kalaupun sebuah negeri bisa berjaya dengan ketidakadilan dan kemaksiatan, ia akan meminta tumbal. Seperti Nil yang meminta seorang gadis perawan setiap tahun, hingga sampainya surat dari khalifah Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Lalu, untuk puluhan tahun yang terlewat untuk ketidakadilan tanpa tumbal apapun, apakah semua dibayar lunas pada genangan darah di masa ini?
Aku tak lupa pula dengan negeriku. Tanah air yang menjadi surga khatulistiwa, layaknya ‘singa tertidur’. Bumi pertiwi yang gemah ripah loh jinawi, dalam gugusan belasan ribu pulau dengan panorama alam, hasil bumi dan tanah yang melimpah dan menyilaukan sekaligus membutakan mata golongan serakah. ‘Surga Asia Tenggara’ ini juga meminta tumbal, tentu aku tidak heran dengan bencana alam yang banyak memakan manusia. Alur gunung berapi dari Sumatra, menuju Jawa hingga ujung Timur Nusantara bukan berarti tidak ada apa-apa. Tsunami 2004 silam juga masih menjadi satu-satunya yang terkenang dalam diktat al Azharku yang merekam nama Indonesia.
Hari Raya juga bukan semata bersuka cita. 686 orang tewas, dalam 3.061 kecelakaan di masa mudik lebaran Idul Fitri 1434 H. Pun di sini, di bumi Kinanah ini. Semarak Hari Raya tak lagi terasa kecuali tergantikan oleh berita bentrokan dan pertikaian. (heh, bicara apa aku tentang tumbal hingga ke Hari Raya? Jangan kau anggap serius lah...)
Tapi fakta memang menyimpan derita itu. Derita sebuah negeri dengan Muslim mayoritas. Aku merasa tidak sepenuhnya muslim di negeri kita bisa dibanding-bandingkan dengan mayoritas muslim di negeri ini. Dengan kultur budaya dan jumlah ulama yang berbeda tidak semua hal, mulai dari pergolakan politik hingga penyelesaiannya bisa disamakan dengan Indonesia (hah, sampai di mana baiknya negeri kita sebagai kaca perbandingan untuk yang terjadi di Mesir ini?)
Lihat lah jawaban Prof. W.F. Wertheim saat ditanya, mengapa kelompok Islam teralienasikan?  Jawabnya, “tipikal umat Islam Indonesia meerderheid met minderheids-mentaliteit (mayoritas dengan mentaliteit minoritas)”. Hampir semua sepakat, tapi faktanya PeeR ini belum kunjung selesai digarap oleh umat Islam sendiri, ndak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.
Pak Karno bilang JAS MERAH (Jangan sekali-kali melupakan sejarah)! Lalu aku teringat masa awal kemerdekaan kita. Proklamasi digelar, bukan berarti perjuangan bubar. Namun perang ideologi gencar, “mau ke mana dibawa bangsa Indonesia ini?”
Pak karno juga bilang, bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawan. Tapi ternyata pahlawan hanya tergantung siapa penulis permainan sejarahnya. Sutan Sjahrir dengan pahlawan selepas kematiannya? Natsir dengan Mosi Integral-nya yang brilian dan PRRI? Sukarno dg demokrasi  terpimpinnya? Suharto dengan Orde baru nya?
(Tidak hanya politik yang bisa dipermainkan. Sejarah tak jauh beda. Pahlawan bukan berarti tanpa cela dan cacat. Seperti halnya kau bisa menulis Abu al Abbas as Safah sebagai pengkhianat dan penghancur Umawi, atau Sang pendiri Dinasti Abbasiyah.)
Kemerdekaan dan euforia akan kebebasan berekspresi. Sewajarnya itu terjadi. Terlebih pasca kemerdekaan, revolusi, reformasi apalah yang semisal. Namun otot tambah otot sama dengan darah. Hati ditambah hati sama dengan... ‘bukan darah’ lah. Kalaupun ada ya... bisa diminimalisir.
Pinjam bahasa sesepuh di sini, Pak Sigit. Kita ini sedang ‘namu’. Tamu yang terkadang lebih banyak merepotkan dan mengganggu. Rasa kemanusiaan memang nomor satu. Tapi apa daya, kekuatan hanya sampai di lidah. Maka senjata terakhir adalah doa. Ku bilang senjata, bukan sekedar omong kosong belaka.
Untuk ending aku mencoba meraba, “Bagaimana komitmen Indonesia untuk menghapus penjajahan?”
Bukankah terdengar sangat patriotik, sejak SD pun paragraf ini selalu bergaung di telinga kita, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Sedikit berkontemplasi dengan kata ‘penjajahan’. Fa’il kata ini adalah ‘penjajah’ yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung arti orang yg terlalu menguasai (menindas dsb) orang lain (bawahan dsb).
Tidak hanya suatu bangsa yag bisa menjajah bangsa lainnya. tapi penjajah bisa jadi dilakukan satu oranag. Dengan kata lain, penjajahan bisa bersifat kolektif maupun per-individu. Selanjutnya, mengamati fenomena yang terjadi di Mesir saat ini, bisakah disebut sebagai penjajahan? Lantaran aroma darah dan kekuasaan sangat kental terasa. Dan bagaimana respon Indonesia terhadap ‘saudara’nya ini? Sesuaikah dengan amanat UUD 1945?
Bertambah satu lagi PeeR kita. Merdeka!





                                         Dirgahayu Indonesiaku, Cairo, 17 Agustus 2013
 

Friday, 26 July 2013

Sederhana

bismillah





Sederhana dalam berpikir. Seringkali itu yang diinginkan manusia. Memang enak, tidak perlu ribet2. Menerima sesuatu yang instan itu seperti orang kelaparan yang disodori mie instan siap makan. Tidak perlu belajar, menganalisa, berkomparasi dengan berbagai pemikiran dan pilihan, dan dengan bahasa yang mudah segera mendapat jawaban. A atau B. Hitam atau Putih. Begitulah berpikir secara sederhana.
Namun saya teringat dengan nasehat kakak saya kala masih santriwati. Ketika itu saya sedang berkeluh tentang kejengahan belajar. “Hey, bahkan aku tanya temanku yang paling jeniuspun,”Ujarnya setengah lantang, “ia juga tidak suka yang namanya belajar. B.E.L.A.J.A.R!”
Berpikir sederhana memang berbeda dengan belajar. Belajar itu butuh kesungguhan, ketekunan, pengorbanan! Jadi, bertanya pada seseorang, “kamu suka belajar?” sama artinya dengan “kamu suka bekerja?bertekun ria? Berkorban?” siapa yang suka berada di zona nyaman? Namun betapa keluar dari zona zero itu bisa menghantarkan menjadi hero. Ada kenyamanan dan kepuasan di akhir, bahkan dalam proses itupun ada kepuasan.
Tapi bukan hal mudah pula membahasakan apa yang telah dipelajari dengan bahasa sederhana. Walau memang terlihat indah menggunakan bahasa akademis yang ‘ilmiyah’ atau ‘sok ilmiyah’. Memang penggunaannya melihat kondisi ‘mukhotob’nya. Tapi jika diberi dua pilihan seimbang, saya, dengan girang dan riang akan memilih bahasa yang sederhana. Tidak perlu meliuk-liuk dan berliku seperti labirin yang terlihat indah dan menantang, namun perlu perjuangan untuk mengetahui makna sederhananya. Tidak pula harus menyingkat sesuatu yang jika disederhanakan memang butuh space yang sedikit lebih.
Mengapa?
Menyederhanakan pikiran dengan bahasa yang sederhana, mudah diterima itu seni tersendiri. Bahasa yang sederhana tidak hanya untuk orang awam, karena seharusnya kalangan yang gemar berbahasa ‘langit’ itu terkejut sebab bahasa mereka sebenarnya bisa berjalan di ‘bumi’. Mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi rasanya seperti Socrates yang membanting wilayah falsafat langit itu ke bumi manusia. Bum!
Saya teringat pula saat-saat mempelajari beragam rumus inti semasa MTs dulu. Kebetulan Om saya yang sangat jenius itu mengajar di kelas saya. Hampir seluruh rumus inti yang dituntut kurikulum untuk dihapal, beliau jabarkan dari suatu asal mula yang sederhana. Kami mendapat suatu pelajaran berharga, ternyata sesuatu yang ‘ribet’ dan menjadi ‘momok’ itu berawal dari sesuatu yang sederhana. Begitu sederhana seperti rumus satu ditambah satu sama dengan dua. Dan hanya dengan sedikit polesan saja, menjadi sesuatu yang menakutkan jika dilihat sekilas. Namun berkat uraian sederhana yang dijabarkan beliau, kami menjadi terpesona. Bahkan lucunya, seorang kawan menyebut Om saya itu dengan “Pangeran”. Bukan karena fisik atau apa (Om saya udah kepala empat e...) tapi mungkin karena beliaulah ia menjadi suka dengan pelajaran yang sebelumnya begitu ia benci. Matematika.
Begitulah, bahasa yang sederhana mampu merubah benci menjadi cinta.
Oleh karenanya, saya cinta dengan kata sederhana. Kata-kata biasa yang mampu menarik hati tanpa polesan-polesan palsu. Dengan bahasa sederhana semua mampu mengerti dan memahami. Bukan karena ingin berpikir sederhana. Namun sesuatu bisa disampaikan secara sederhana tanpa diksi yang berputar-putar, sebuah kerumitan mampu berkemas sederhana. Indah. Santun. Elegan.
Maturnuwun.

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
― Sapardi Djoko Damono


 

Wednesday, 26 June 2013

2013

bismillah

Masih segar dalam ingatanku. Episode kehidupan bersama Ummi dan Abi selepas lulus pesantren. Malam itu, Abi yang mengatakannya secara langsung padaku.
“Nun, kamu tahu, teman-teman Abi, mereka berinvestasi banyak untuk anak-anaknya. Ada yang berupa tanah, rumah, macam-macam. Tapi Abi dan Ummi, tidak bisa seperti mereka. Namun kami tetap berinvestasi. Dan investasi kami adalah kalian, anak-anakku...”
“Abi tidak memberi harta yang bermacam-macam, karena investasi kami adalah kalian. Bukan barang.”
Dialog satu arah itu membuatku tercekat. Aku tidak bisa bermain-main. Namun setelah mengevaluasi perjalanan hidup ini, terutama satu tahun di bumi Kinanah ini. Entah, sangat malu rasanya. Semangat juang ketika pertama kali datang bak memudar satu persatu. Mungkin banyak juga yang merasakan hal serupa. Ujung-ujungnya, Disorientasi.
Meski demikian aku tidak akan lagi mengeluh. Ku kira selama ini sudah cukup banyak aku mengeluh dan meratapi diri. Tapi toh itu tidak menghasilkan perubahan yang ‘wah’. Jadi seharusnya memang move on. Tidak lagi memandang ke belakang dengan putus asa.
Terlebih di usia 21 ini. –wew, cepat sekali rasanya- Ummi, Abi... anak-anakmu sudah besar. Eyang... Alloh menjawab pertanyaan Eyang saat aku masih di pesantren dulu, “Nun, Eyang masih bisa melihat cucu-cucu sampai pada kuliah gak ya?”
Terima kasih Alloh... kau limpahkan karuniaMu padaku. Banyak. Tak terhitung. Meski sering aku melalaikannya. Ampuni hamba ya Rabb...
Sudah waktunya serius. Tidak lagi menjalani hidup dengan ‘main-main’. Mulai sekarang –lebih baik telat daripada telat banget ^_^- aku harus fokus terhadap visi hidup yang sudah terplaning. Tak akan gentar tak akan ragu dan tak akan lagi bermain. Harus percaya diri! Kudu bisa!
Selama ini aku benar-benar seperti anak kecil yang merasa patut untuk manja. Ini dibantu, itu dibantu. Merengek sana merengek sini. Apa karena takut untuk menjalani dengan mandiri? Entah. Meski perubahan itu tidak akan langsung drastis, bagaimana bisa berubah jika tidak di awali dengan langkah pertama?
Mungkin nantinya akan ada kawan yang merasa ‘woi, Ainun kembali ekstrim!’. Hm, setidaknya aku harus bersiap untuk itu. Karena buatku, fanatik dan kolot itu perlu terutama saat tahu bahwa itu hal yang diperlukan dan dibenarkan.
Selama setahun ini, sebagaimana lazimnya kehidupan, ada suka, duka, lara, gembira, kecewa, macam-macam lah. Ada kesalahan dan kebenaran. Ada yang harus dipertahankan, juga ada yang harus dikoreksi. Setidaknya beberapa pekan ini ada beberapa hikmah yang bisa ku dapatkan. Misalnya tentang bagaimana mengakui sebuah kesalahan.
Ternyata mengakui kesalahan itu tidak cukup dilakukan ketika ‘kita merasa bahwa kita bersalah’ karena yang lebih berat adalah mengakui kesalahan ‘yang ditunjuk orang lain atas kita, padahal sama sekali kita tidak merasa salah’.
Yah, tidak ada yang spesial di hari ini kecuali usia yang semakin mendekati ajal. –makanya kudu selesaikan tugas sebelumajaldatang, hehe-. Hari ini sama seperti hari-hari biasanya. Aku masih menganggap bahwa perayaan itu tidaklah diperlukan, satu-satunya yang paling tepat hayalah momen untuk muhasabah diri.
Tidak perlu kecewa tiada seorang yang mengetahui tanggal lahirmu lalu mengucap “HBD yah...” Karena toh tidak semua melakukan hal itu karena murni perhatian dengan tanggal lahir kita. Cukup pantengin aja layar facebook setiap hari, dan siapapun bisa mengucap selamat ulang tahun pada kawannya. Entah itu benar atau salah. (based on real experience).
Maturnuwun.

                                                       Memasuki Summer, Cairo, Buuts,
                                                       26 juni 2013

Monday, 13 May 2013

Tak Ingin Kembali

bismillah


Saat ini aku adalah seorang pengecut
Maka maaf.

Aku sedang tak ingin kembali
Bukan semata citaku keliling dunia
Namun semesta kecil di kampung kita,
Aku tak tahu, bisakah aku menghadapinya

Di sini aku membeku
Dalam jumud dan silap duniaku
Seperti pesan hati
Yang benci untuk kembali
Ini aku lagi

Namun aku tetap akan kembali bukan?
Jadi bagaimana?
Di sini, aku mengutuk sepi
Di sini aku rindu berkelana lagi
Bagaimana bisa aku kembali?

Jika kembali, nanti...
Segenggam asamu, aku takut memudar
Harapmu, aku takut mendekat pada lenyap

Aku ingin pergi lagi
Jauh dari mentari di desa kita
Bolehkah?

Aku tak kuat membagi
Antara hati dan fakta yang harus dihadapi

Tidak.
Hari ini saja
Ijinkan aku pergi
Lagi...

*aih, kacau ne...

Saturday, 11 May 2013

Ini Suriah, Sepenggal Scene dari Negeri yang Terluka

bismillah

Baru saja telepon dari Negeri Syam itu disudahi. Kini aku tak sabar lagi untuk menceritakan tutur remaja WNI yang masih bertahan kuliah di Damaskus, Ibu kota Suriah yang kini tengah menjadi neraka dunia.
“ini sekitar 3 atau 4 hari lalu.” Ia bertutur melalui “private number” ke nomor Mesirku. Selanjutnya aku bahasakan dengan “aku”.
Malam itu aku dan beberapa kawan tengah menyaksikan rekaman video bersama, di rumah kami. Dan tiba-tiba, BLAMM!!
Jangan berpikir untuk mendengar suara itu, terlebih merasakannya. Karena dentuman itu jauh lebih keras dari suara meriam modern yang biasa kami dengar setiap saat. Ku pikir jantungku sempat terhenti berdetak selama suara itu nyaris memecah gendang telinga.
Tiba-tiba lampu rumah berkedap kedip. Suasana remang mencekam. Tiada seorang mampu berkata. Namun setiap penghuni rumah bergerak tanpa komando.
Klap!
Lampu dimatikan.
Sret! Jendela-jendela ditutup.
Dalam diam kami bersiaga jika tiba-tiba datang pasukan yang mendobrak pintu lantas memaksa kami untuk berkata “laa ila illa ‘Pak Kumis’...”(wa iyyadzubillah) lalu menculik dan menyeret seorang dari kami ke penjara, atau menyiksa dan menembak mati kami di tempat. Bukan hanya kami yang bersiap untuk kemungkinan terburuk, namun nampaknya seluruh penduduk Damaskus melakukan hal serupa.
Mungkinkah dentuman barusan hanya berjarak beberapa meter dari rumah kami? Aku masih bertanya-tanya. Namun dalam kondisi mencekam seperti ini, yang terbaik adalah selalu bersikap siaga.
Tak lama berselang, kami putuskan untuk melihat keadaan di luar. Malam ini, nyaris seluruh penduduk kota membuka jendela seperti kami. Dan dengan muka penuh tanda tanya, karena tidak terjadi apapun. Ini aneh.
Tiba-tiba, dari gedung yang menghalangi pandanganku, sekilas cahaya muncul. serentak pandangan mata seisi kota menuju ke sana. Aku melihat kilat cahaya merah telah sampai di atas. Ia berasal dari daratan, bukan dari langit. Berarti bukan bom yang dijatuhkan dari langit. Namun ini sama persis dengan yang ku tonton dalam film Hiroshima-Nagasaki. Tapi ini bukan asap cendawan, ini cahaya merah yang menukik ke langit.
Belum lama aku terpana, sebuah angin panas menyeruak. Mendorong dan melibas tubuh-tubuh kami, seisi rumah.
BUG!!
Masing-masing tubuh kami berdentum ke lantai dengan keras. Bersamaan dengan debu pasir dan angin panas yang menyeruak.
“Tutup jendela!!” akhirnya seisi penghuni rumah segera menutup jendela tanpa ada komando lebih.

Cerita di atas sedikit mendeskripsikan apa yang terjadi saat itu. Berdasarkan informaso yang ia peroleh, itu adalah serangan bom kimia dari dua pesawat Israel di sebuah pegunungan di pinggir Dmaksus, sekitar 5 sampai 7 Km dari pusat kota. Tentu akan lebih membuat jantungmu berdegup lebih keras jika kau mengalaminya sendiri. Kita doakan semoga mereka baik-baik saja dan selalu dalam lindunganNya. Namun yang di atas bukan film atau narasi fiktif. Hal yang benar-benar di alami seorang mahasiswa muslim yang bertahan menuntut ilmu dan membantu rakyat Suriah di sana.
“Ku pikir ini film. Kau tahu, seperti dalam scene bom nuklir yang meledak lalu gelombang ledakannya menjalar ke segala penjuru... Blaaar!!”
Aku hanya membayangkan ekspresi wajahnya di seberang sana. Di negeri yang masih berada dalam kawasan Tiur Tengah. Huh, mereka bilang Arabic Spring yang tak “spring”nya terlalu lama. Tidak seperti di Mesir dengan segala macam pergolakan pasca revolusinya.
Tapi hey, di sini aku tertegun.
Mahasiswa itu juga sama seperti masisir, ujian di depan mata. Namun ia menyaksikan sendiri hiruk pikuk peperangan, meski masih bertahan di daerah yang cukup aman dalam kawasan sang penguasa ‘Pak Kumis’. Jangan kau tanya siapa itu Pak Kumis.. itu kode kami untuk membicarakan penguasa rezim Suriah yang tega melakukan ‘genosida’ pada rakyatnya sendiri.
Damaskus bersalju. a little pic of him ^_^
Bukan karena alasan apa ia bertahan. Namun jiwa nya yang berteriak untuk membantu saudara muslim di sana lebih keras memanggil. Bertahanlah sebagai seorang muslim, kau mampu untuk pergi dengan jiwa nasionalis yang acuh, namun bantulah penduduk negeri ini dengan jiwamu sebagai seorang muslim. Itu suara iman yang mengalahkan apapun.
Aku hanya bisa mendengar kisahmu di sini. Aku pun belum membantu banyak secara langsung. Padahal kita sama-sama tengah belajar. Dan menghadapi ujian yang sudah di depan mata. setidaknya ruh belajarku kembali bergelora. Bukan untuk apa. Namun aku sadar bahwa segala fasilitas yag kini tengah kunikmati, tengah digadaikan oleh kucuran darah saudaraku di negeri-negeri yang terluka. Maka tidak sepantasnya aku berleha. Begitu pun kau!

Wallohu ta’ala a’lam

*jangan lupa juga doakan untuk segera selesainya krisis di Negeri Syam ini. Allohumma amin.


Thursday, 9 May 2013

Titisan Hawa...

bismillah
Hanya sebuah curahan hati. Yang jika terus-menerus saya pedam hanya akan bertumpuk seperti gunung berapi bawah laut. Sekali meledak, BUM!!!


Wanita, wani ing tata.
“kerata basa” atau “jarawa dhosok” di atas adalah salah satu yang masih melekat dalam ikatan saya sedari SD dalam pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa. Kurang lebih berarti: wanita itu berani dalam menata. Dengan kata lain, wanita itu lebih berani dan tertuntut dalam hal manajemen. Mengatur segala keperluan hidup, terutama dalam berumah tangga. Mulai dari keuangan, tata letak hingga kebersihan rumah dan keluarga.di sini wanita lebih “berani” alias lebih “menguasai” dibanding –siapa lagi kalau bukan- pria.
Di sini saya tidak ingin menggebyah uyah(generalisir), namun hanya sedikit berbicara mengenai apa yang selama ini coba saya petik dari pengalaman dan lingkungan sekitar. Ya, mengenai wanita. Banyak yang bilang kalau kaum hawa adalah mahluk yang unik, terkadang saya heran juga, kaum adam juga punya keunikan dalam banyak hal kok (hihi). Namun lihat saja di deretan rak toko buku, biasanya terdapat rak khusus berisi buku-buku tentang wanita. Namun hampir tidak pernah saya jumpai rak buku “khusus pria”, padahal bukan berarti buku-buku selain “wanita” itu tertuju untuk kaum adam saja lho. aha! Entahlah, membahas wanita memang selalu menarik karena akan selalu ditemukan sisi unik yang tidak terduga, bahkan terkadang oleh wanita itu sendiri.
Sedari kecil saya selalu bermain dengan kedua saudara lelaki saya. Bahkan satu-satunya teman bermain adalah tetangga kami, lelaki anak Lurah di pelosok desa Wonogiri. Secara tidak sadar, itu cukup berpengaruh pada kepribadian saya. Pertama kali terasa ketika nilai bermain “pasaran” saya nol besar dibanding teman-teman perempuan lain. Rasa iri itu selalu hadir. Terutama ketika melihat kawan-kawan perempuan bermain loncat tali dan membongkar pasang gambar boneka beserta aksesoris baju, tas dan segala tetek bengeknya. saya hanya bisa menonton. Bahkan berkomentar pun segan.
Lho.. kok malah ngelantur ke sini ya?
Intinya bahwa seiring berjalannya waktu, naluri “wanita” itu tidak akan pernah meninggalkan diri anda, selama anda adalah seorang wanita. Betapapun seringnya saya terkungkung oleh permainan anak laki-laki, toh melihat kawan perempuan menjadikan saya “iri”. Begitu pula saat menginjak masa-masa puber dengan berpikir bahwa menjadi cewek ‘tomboy’ itu ‘keren’, ternyata hm.. no..no..no.. semakin saya beranjak dewasa, semakin saya menyadari betapa indah dan mulianya menjadi seorang wanita muslimah.
Meski seringkali naluri-naluri itu tumbuh dengan lambat dan diiringi keterpaksaan, bahkan cemoohan. Bukan berarti bahwa saya sok’nyewek’ begitu. Tapi yakin sajalah, semua bisa dipelajari dan diterapkan seiring proses kedewasaan itu dijalani.
Masih sangat segar dalam ingatan. Ketika itu, di pesantren. Ummi menjenguk saya di kamar bersama seorang tetangga saya, ibu-ibu paruh baya dengan latar belakang keluarga Nasrani. Saya adalah ketua kamar sekaligus pemimpin Rayon asrama kompek I. saya akui memang, kamar kami lebih sering berantakan dibanding ‘rapi’nya (tapi bukan jorok lho ya). Hari itu saya menemui mereka di kamar depan, tepatnya ruang sidang. Jika biasanya tiap malam kami menyidang adik-adik, hari itu serasa saya yang disidang oleh Ummi dan tetangga saya.
“Bagaimana bisa santriwati kamarnya berantakan begini?” wew, Ibu itu memang wataknya tidak suka basa-basi,”Kamu tahu, Nun... Di asrama suster-suster gereja yang seringkali aku datangi, kamar mereka bersih-bersiiiiiih semua. Rapi!”
Hari itu rasanya bukan oksigen yang saya hirup, melainkan ribuan jarum yang menancap dan mencabik hati nurani saya.
Saya juga ingat betul  setiap kali menuruni tangga sekolah pesantren, ada khot berwarna biru langit yang tertulis pada dinding bercat hijau toska, tepat di atas taman dengan rerumputan hijau muda, “Innalloha jamilun yuhibbul jamaal”. Itu yang menjadi motivasi dan tuntutan bagi saya untuk selalu menjaga kebersihan, keindahan dan kerapian.
Mungkin bukan hal yang ‘waw’ bagi banyak orang, bahkan “itu sih sudah lazimnya begitu”. Namun di sini saya melihat bahwa salah satu naluri saya sebagai seorang wanita yang “wani ing tata” itu muncul dengan proses. Bukan bawaan atau ‘bakat’ tertentu. Yang mana proses itu ditempa dengan kebiasaan. Dari kebiasaan itu melahirkan sebuah karakter yang tanpa sadar mendorong kita kembali menyadari akan ‘naluri’ yang –sebenarnya- tidak pernah meninggalkan kita.
Maka jika ada yang sesekali berkomentar bahwa “kamu tuh, nyewek banget sih!” ketika seorang wanita bersikap lembut, rapi, bersih dan gemulai (tapi bukan dandan menor lho ya..)Oh...no! itu fitrah! Jangan heran jika kaum hawa ini seringkali membawa tisu, mengelap tempat duduk sebelum memakainya, begidik melihat penampilan pria yang ‘acak-acakan’ bahkan sensitif pada bau asap “ahlul hisap” (ha.. yang terakhir ini semoga bukan saya aja ya..).


Barangkali tidak semua wanita begitu. Hal yang tidak bisa saya sangkal. Meski sifat dan naluri yang ‘keibuan’ itu –sekali lagi- tidak akan meninggalkannya. Naluri itu hanya menunggu waktu di saat yang tepat untuk dapat dilihat dan dirasakan eksistensinya. Saya percaya itu.
Maka berteman dan berinteraksi dengan kawan yang sedikit jauh dari ‘naluri’nya, bagi sebagian mungkin menjadi beban. Terlebih jika kawan itu adalah rekan kerja atau orang yang mau tak mau harus menjadi partner sehari-hari. Yah, dalam sebuah kebersamaan, bagi wanita dengan naluri kebersihan dan kerapian yang lebih tinggi akan dirugikan. Memang hanya kawan anda yang terkadang hmm, berantakan. Tapi toh ternyata anda kena impasnya bukan?
Hal yang pernah saya alami, (atau jangan-jangan kawan saya alami?! Hadeuh...maaf deh) dan itu mnjadi sebuah beban yang terlihat sepele, namun menyesakkan. Sampai seringkali saya berpikir bahwa otak kanan kawan saya dulu itu lebih dominan, sedang saya lebih pada otak kiri. Di mana menginginkan segala sesuatu ‘kembali’ ke tempat asalnya dengan tertib, rapi dan indah. Tentu berbeda dengannya yang ‘asal’ taruh dan inginnya bergerak cepat. Sedang saya lebih sering berpikir lebih lama agar pekerjaan penataan lebih ‘perfect’.
Sering sangat saya harus menghela napas, mengurut kesabaran dan mencoba berpikir bahwa ini merupakan masalah sepele karena perbedaan cara berpikir saja. Lalu, Bagaimana pula jika kelak, ternyata pasangan hidup saya (ehe.. uhuk!) memiliki pola pikir sepertinya –kontras dengan saya-. Itu yang selama ini menjadi benteng saya untuk bersabar, meski ternyata pada suatu waktu. Saya tidak tersadar bahwa semuanya tiba-tiba menjadi titik klimaks yang ugh.. saya harus menyesal karena menangis sesenggukan seperti anak kecil (asli.. seperti anak TK yang tak tahu malu...)
(nah lho,,, ngelantur lagi sih?)
Sebetulnya ini melenceng dari apa yang tadinya ingin saya tulis. Namun sepertinya saya memang lebih sering terjajah oleh plot dalam pikiran saya. Jadi... ya sudahlah. Setidaknya satu titik beban berhasil saya buang dari hati ini. Semoga tidak lagi menjadi ganjalan dan bermanfaat untuk kita semua. Selamat imtihan termin II, bit taufiq wan najah... ^_^

Madinah AlBuuts AlIslamiyah,
Cairo, 10/5/2013