Thursday, 27 March 2014

Dari Tepi Kairo

bismillah



Tidak lagi menawan.
source: landtarget.blogspot.com
Apa yang ku lihat setiap hari telah menjadi rutinitas yang tak lagi menggairahkan. Asrama mahasiswi di kawasan Abbaseya yang cukup jauh dari pusat dinamika masisir di Madinah Nasr. Buatku jarak yang hampir sama dengan Solo-Klaten ini sudah tidak lagi jauh. Berbeda dengan mahasiswa di madinah Nasr yang ketika harus ke Abbaseya selalu menggerutu, “Jauhnya...”.
Begitu pula pemandangan yang wajib aku temui setiap hari. Pekuburan Duwaiqah,  Nadi Sikkah, Hay Sadis hingga seterusnya tak ubahnya slide film dokumenter yang setiap hari diputar lewat jendela bus pemerintah. Goresan dan lekukan tak berseni yang menyombongkan ketangguhan setiap mobil di Kairo tak lagi menarik perhatianku. Tidak jauh berbeda dengan papan reklame yang selalu ku tatap dari jarak seratus meter dalam bus, setiap kali melintas di kawasan Hay Sadis.
Di papan reklame itu terlukis dan tertulis suatu paradoks. Senyum polos gembira sengaja disorot close-up dari mimik seorang anak kecil di foto itu. Di bawahnya huruf-huruf berbaris rapi dan bersuara, Undang-Undang Perlindungan Anak. Layar iklan yang warnanya telah usang dan terpojok oleh pohon-pohong menjulang serta keramaian Eltramco itu menertawakan pandanganku.
 Seorang anak yang tak pernah kubayangkan dapat tersenyum ceria seperti yang terpampamg dalam iklan menarik perhatianku, ia naik ke dalam bus dengan bawaan plastik besar yang diseret dua tangan mungilnya. Sementara sang bunda yang bertubuh gempal berusaha duduk di atas kursi yang lebarnya hanya setengah besar tubuhnya. Bahasa tubuh bocah di hadapanku ini dapat jelas diterjemahkan,”Mama, ini berat”
Bus melewati kawasan Hay Tsamin. Siang hari yang menyengat. Masing-masing merayap dalam irama klakson bersahutan. Siapa lagi yang mau peduli? Dengan polusi suara begitu pun tak ada yang mau ambil pusing. Pejalan kaki tetap menyeberang jalan seenaknya. Begitu pula polisi lalu lintas dengan bedak debu mix asap polusi hanya peduli dengan kapan kendaraan harus berhenti atau berjalan. Tugasnya hanya itu.
Bertambah satu anak yang mengalami nasib serupa tadi. Baru saja ia menaiki tangga bus dengan tergopoh-gopoh. Gadis kecil. Ibunya duduk manis dan sibuk berbicara dengan handphone nokia layar kuning yang terselip antara pasmina dan pipinya. Aku tersenyum pada bocah 6 tahunan yang tak berkedip memandangku. Orang asing. Sudah kugeser dan kusisakan space untuknya duduk bersamaku, tapi kepalanya segera menggeleng seperti mesin otomatis.
source: cairogizadailyphoto.blogspot.com
Birrul walidain. Komentar salah seorang kawan suatu ketika. “Makanya, anak kecil harus mengalah demi orang tua.” Lanjutnya. Memang nampak perbedaan yang sangat kontras dengan kultur masyarakat Indonesia. Di Mesir, seorang anak tidak dipandang lemah. Maka orang tua tidak perlu menggendong anak yang masih belajar berjalan dan terseok. Tidak perlu khawatir untuk tidak menggandeng anak kecil di jalanan ramai, meski beresiko tertabrak mobil yang melintas dengan ugal-ugalan. Juga tidak perlu ragu untuk menampar dan memukul kepalanya keras-keras di depan umum saat berbuat salah menurut orang tua. Bagi warga asing di Kairo,terkhusus orang-orang Melayu, tentu mereka menganggap anak-anak Mesir hidup tanpa kasih sayang. Namun mungkin bagi sebagian besar orang Mesir, wafidin yang berkulit sawo matang itulah yang terlalu dimanja sejak kanak-kanaknya.
Handphoneku bergetar. “Kamu sudah sampai mana, ya habibty?” Pertanyaan di seberang membuat ekor mataku menembus jendela.
“Sudah dekat arba’ wannus, ablah.” Jawabku. Mengapa mahattah terakhir di Tabba ini disebut begitu? Empat setengah? Belum tentu setiap penduduk yang lalu lalang di sini tahu jawabannya.
Senyum pasrahku bergelayut. Aku harus merelakan sepatu yang baru kemarin kucuci menapak becek tanah selepas turun bus. Beberapa kali aku harus berjingkat dan mengangkat rok sedikit untuk menghindari beberapa genangan air dan sampah basah yang menebar bau tak sedap.
Ini hanya permulaan! Aku menyemangati diri.
Menjadi relawan di salah satu kawasan pojok Cairo ini sudah menjadi keputusanku. Kalau sudah begitu, artinya tidak boleh ada kata mengeluh. Mengajar anak TK di tempat terpencil, bagi anak-anak yang terlahir dari orang tua kelas bawah. Siapa sudi? Aku sendiri mengiyakan tawaran ini karena ingin meraup pengalaman. Adapun beberapa puluh pounds sebagai gaji setiap bulan, anggap saja menambah uang jajan.
source: greensimon.com
Bila diukur dengan kacamata materi, aku yakin tak kan ada yang bilang sepadan. Terlebih harus melewati jalanan becek tak beraspal, penuh sampah dan anjing-anjing penuh kudis berseliweran. Sesekali menggonggong, berkejaran atau mengais-ngais sampah. Bukan salah penglihatan jika jarang sekali ditemukan orang-orang berpakaian klimis, berjas dan tidak berwajah garang. Tidak heran -entah benar atau tidak- sebagian kawan bilang ini kampungnya para maling dan penjahat. Maka harga sewa syaqqah bisa lebih murah. Meski begitu, tidak sedikit warga asing yang tinggal di Tabba. Indonesia dan China misalnya.
Ablah Gheda menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat. Fitri, relawan sepertiku lebih dahulu sampai. Hari  pertama, tentu saja perkenalan.

“Ini Ablah Rani.” Ablah Gheda menunjukku.

bersambung...

NB: dimuat dalam buletin Terobosan edisi 360

Monday, 24 March 2014

Memori Ustadz Abu Bakar Baasyir

bismillah
 
Pagi ini, mata kuliah pertama Tafsir Maudhu’i. Dukturah Hindiyah, pernah mengajar kami di tingkat pertama. Kali ini tema yang kami bahas, jihad. Tema yang saya tunggu-tunggu sejak pertama menapak kaki di Al-Azhar. Bagaimana mauqif wasathi yang akan diajarkan, setidaknya itu yang ingin saya bandingkan dari fakta pembelajaran di pesantren dulu.
Why? Ini tema yang cukup sering diperbincangkan dan seringkali terjadi perselisihan dalam cabang dan praktiknya. Setidaknya, pada awal mula lulus pesantren, saya lebih banyak memasang “tameng” untuk menghindari pupusnya semangat dan nilai yang telah ditanamkan sejak di pesantren. Terlebih setelah mendengar pernyataan seorang Ustadz senior di pondok modern kami, “Ngruki terkenal karena akidahnya!”
Maksudnya, rata-rata alumni yang lulus dari pesantren terkenal dengan akidahnya yang kuat, atau bisa dibilang ‘militan’.
Bukan berarti saya fanatik lalu menganggap semua yang berbeda dengan ajaran di pesantren adalah salah. Yang jelas pagi tadi saya dapat beberapa pencerahan ketika mengikuti muhadhoroh Dr. Hindiyah.
Dari keseluruhan pembahasan di kelas, ada satu poin yang membuat saya berkontemplasi sejenak. Tepatnya ketika membahas level pertama-dari empat level- dalam masalah jihad era Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW masih berada di Mekah, di mana perintah jihad belum diturunkan. Sementara beberapa sahabat menginginkan adanya perlawanan balik. Mereka tertindas, mereka dizalimi Quraisy!
Tetapi Rasulullah SAW tidak terburu-buru mengamini keinginan muslimin saat itu, melainkan terus memotivasi sahabat untuk bersabar menghadapi ujian dan siksaan. Sembari menunggu wahyu dari Allah Swt.
Di sini kemudian Sayyid Qutb menjelaskan mengenai sebab-sebab dan hikmah tersembunyi di balik perintah bagi muslimin untuk tetap bersabar. Sebab atau hikmah pertama yang dikutip adalah pembelajaran bagi ummat Islam untuk bersabar. Apakah berhenti pada level ‘sabar’ semata? Tidak!
Di dalam kesabaran itu juga ada yang harus dilakukan, selain pembentukan kepribadian untuk menjadi muslim yang ‘tangguh’ menghadapi bencana, juga ada i’dad alias persiapan. Persiapan di sini lebih terfokus pada individu, personal tiap muslimin. Sungguh terdapat perencanaan besar yang-kalau boleh saya bilang- diprakarsai oleh Rasulullah SAW, untuk masa depan ummat Islam. Kesabaran mereka –radhiallahu ‘anhum- bukan semata diam menunggu tanpa rencana dan target untuk masa yang jauh ke depan.
Lalu hal ini saya kaitkan dengan perjuangan dakwah Ustadz Abu Bakar Baasyir. Dahulu saya sempat bingung. Ketika-misalnya- terlempar tuduhan beliau mendanai pelatihan militer di Aceh. Beliau tidak lantas menyalahkan, memaki dan mencaci mereka. Tetapi sebatas menolak tuduhan pendanaan tersebut dilakukan oleh beliau. Anehnya, beliau juga mengeluarkan statement bahwa tidak ada yang salah dengan i’dad.
Saat itu saya bertanya-tanya, mengapa beliau harus mengeluarkan pernyataan seperti itu? Tidak hanya pada tuduhan ini, namun begitu juga pada kasus-kasus lain yang justru dengan statement tersebut semakin memojokkan posisi beliau-di mata mereka yang telah menjatuhkan stigma teroris pada beliau-?
Di sini saya menyadari, bahwa beliau yang selalu tersenyum ramah meski dituduh dan digempur berbagai fitnah, tidak menyetujui adanya praktik lapangan –saya sebut jihad offensif- di Indonesia. Sudah berkali-kali dalam ceramah dan taushiyah yang beliau sampaikan –dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri- beliau katakan bahwa penerapan jihad offensif di Indonesia tidaklah tepat. Mengapa? Indonesia negeri damai, bukan darul harb!
Kendati demikian, beliau mengambil langkah berbeda dengan mereka yang menggunakan segala macam cara untuk menghapus-secara halus- esensi jihad di dalam Islam. Ustadz Abu Bakar Baasyir, tetap berjalan dalam jalur dakwah yang beliau tempuh. Tidak peduli dengan stigma fundamentalis, teroris, Islam garis keras dan sebagainya, yang dialamatkan padanya. Karena,-bagi beliau- apa yang benar harus disampaikan. Apa yang sejatinya merupakan ajaran Islam, tidak akan beliau tutup-tutupi kendati harus dituduh teroris dll. Tentu berbeda dengan ‘mereka’ yang takut mendapat stigma negatif dari ‘luar’, lalu pontang-panting mencari dalil dan berbagai alasan untuk memelintirkan esensi Islam, baik sebagian maupun keseluruhan.
Dan lagi, saya teringat dengan isi taushiyah beliau yang selalu mewanti-wanti kami untuk tidak taklid buta dan wajib mengatakan suatu kebenaran dengan argumen yang kuat, sekalipun terhadap guru kita sendiri. Namun tidak lupa, beliau juga menyuruh untuk berhati-hati,setinggi apapun gelar keilmuwan yang diperoleh, hal itu tidak berarti apa-apa jika tidak diamalkan sesuai ajaran Islam.
Di sini lagi-lagi saya belajar, bahwa kesabaran beliau melihat berbagai penyimpangan, tidak berarti harus diam dan tidak melakukan apa-apa. Keberanian beliau untuk menyampaikan kebenaran adalah sesuatu yang sangat dibenci sekaligus ditakuti oleh musuh.
Saya tidak mengkultuskan Ustadz Abu Bakar Baasyir, meskipun sering bertatap muka dalam kajian-kajian rutin beliau di pesantren. Sebagaimana pesan beliau pula, jika suatu ketika saya mendapati kesalahan dalam diri beliau, tentu saya akan mengatakan bahwa itu salah, dan tidak mencari dan memelintir dalil untuk membenarkannya.
Maka, Ustadz Abu, tetaplah bersabar dalam dakwah yang engkau jalani. Kami, santri-santrimu, akan terus mendukung dan mendoakan kebaikan.
Allohummanshur ikhwanana almuslimin wa almujahidin fi kulli makan. Allohumma Amin.
                                                                                                                Kairo, memasuki awal semi
24 Maret 2014

Tuesday, 18 February 2014

Al-Azhar untuk Islam

bismillah

Di bawah ini, adalah terjemah artikel saya, yang dimuat dalam buletin الطيف edisi bulan Februari ^_^


Pada awal didirikannya, al Azhar menjadi tempat pembelajaran mazhab Syiah saja, tepatnya Syiah Ismailiyah. Yang mana mazhab tersebut terkenal dalam mengkultuskan ahlul bait secara berlebihan. Hingga datanglah masa Shalahuddin al Ayyubi, lalu ia merubah pembelajaran di al Azhar menjadi berbasis Sunni. Selain karena belum adanya sekolah yang mengajarkan Sunni saat itu, pendirian sekolah-sekolah Sunni juga bertujuan untuk mengikis pengaruh Syiah yang masih mencengkeram erat, sisa dari pengaruh Dinasti Fathimiyah yang berkuasa sebelumnya.
Shalahuddin yang menganut mazhab Syafii, tidak hanya mendirikan sekolah-sekolah Sunni yang mengajarkan mazhab Syafii saja, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan 3 mazhab fiqih lain yang terkenal dalam Sunni. Yaitu mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali. Saat itu al Azhar menjadi salah satu masjid dan sekolah yang terkenal karena di dalamnya terdapat pembelajaran 4 mazhab tersebut, berbeda dengan sekolah lain yang mayoritas hanya mengajarkan satu atau dua mazhab saja. Demikianlah gambaran singkat perjalanan al Azhar sebagai institusi pendidikan yang tetap mempertahankan fungsinya sebagai media pembelajaran sarjana muslim, meski harus merasakan gejolak politik yang berpengaruh besar dalam perpindahan penguasa Mesir dan khususnya Kairo saat itu.
Seiring berjalannya waktu, bertambah pula jumlah pelajar di al Azhar, baik dari seluruh penjuru Mesir maupun di luar Mesir. Hingga dibuatlah peraturan Ruwaq yang dibentuk pada masa daulah Mamalik Bahriyah dan Syarakisah. Setiap pelajar diberi ruwaq khusus sesuai daerah masing-masing. Nampak jelas kemurahan hati al Azhar dan komitmen institusi ini dalam mendorong pelajarnya untuk menuntut ilmu. Tidak hanya dibebaskan dari biaya belajar, para pelajar juga dibebaskan untuk tinggal selama masa belajar, diberi uang saku bulanan dan juga diterapkan pemberian makanan pokok. Yang mana pendanaannya ditanggung oleh donatur tetap dan juga hasil wakaf yang khusus untuk membiayai al Azhar. Hal ini terus berlangsung pada masa dinasti Utsmani, lalu berlanjut pada masa berkuasanya Muhammad Ali Pasha, hingga pada tahun 1954 Dewan Kementrian Mesir menetapkan pembangunan asrama khusus mahasiswa asing al Azhar sebagai ganti dari sistem Ruwaq yang ada. Awalnya asrama ini bernama Madinah Nashir lil Buuts al Islamiyah, lalu berganti menjadi Madinah al Buuts al Islamiyah yang masih ada hingga saat ini. Tidak terhitung betapa besarnya kontribusi al Azhar dalam menyokong pembelajaran bagi mahasiswa asing sejak satu milenium lamanya.








Berbicara al Azhar, tidak akan terlepas dari prinsip yang dipegang teguh oleh institusi pendidikan ini, yaitu moderatisme. Mantan Mufti Mesir, DR Nasr Farid membenarkan soal keterkaitan moderatisme Al Azhar dengan ketidakberpihakannya dalam aliran atau partai politik tertentu, menjadi salah satu pilar eksistensi Al Azhar. “Karena moderat di sini berarti prinsip untuk menghindari fanatisme dan mengikuti aliran politik tertentu.” Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Islam posisinya lebih tinggi dari politik. Meski begitu Islam tidak terlepas dari politik, baik secara umum maupun khusus. Tetap ada korelasi antara keduanya, di mana Islam menjelaskan metode syar’i yang shahih dalam politik syar’i untuk mengatur rakyat dan negara sesuai al Quran dan Sunnah untuk kemaslahatan bersama.
Adapun dalam masa pergolakan politik yang tengah melanda negeri Mesir saat ini, al Azhar pun turut terkena imbasnya. Institusi pendidikan yang pada dasarnya netral ini pada akhirnya nama besarnya ikut diseret dalam arena perpolitikan. Padahal munculnya aliran dan perpecahan politik tersebut tidak seharusnya serta merta dikaitkan dengan institusi pendidikan manapun. Karena tugas utama yang diemban dari sebuah institusi pendidikan adalah sebagai fasilitator kegiatan pembelajaran di dalamnya. Sementara perilaku dan keputusan pribadi tidak selayaknya mewakili institusi tersebut. Di tengah carut marut perpolitikan negeri ini, muncul pula oknum-oknum yang mengaku mantan mahasiswa al Azhar namun menjatuhkan dan menghina institusi pendidikan ini. Tidak hanya itu, dalam sebuah media cetak lokal dimuat beberapa tulisan oknum yang memandang rendah al Azhar, dikatakan bahwa institusi ini seperti kakek renta yang berhenti di tengah persimpangan jalan. Al azhar tidak mampu melahirkan pembelajaran agama yang membawa pada pembaharuan, tidak pula pengajaran ilmu-ilmu umum seperti kedokteran, farmasi dan lain-lain sebagaimana universitas lainnya.
Hal ini cukup mengherankan, karena pernyataan yang merendahkan al Azhar tersebut keluar dari mereka yang mengaku telah belajar bertahun-tahun di bawah al azhar. Di manakah akhlaq seorang murid ketika menghina dan menjelek-jelekkan sekolah dan gurunya? Nampaknya ia tidak memahami akan hakekat asli sebuah institusi pendidikan dengan tugas utamanya sebagai fasilitator pengajaran dan pembelajaran. Ibarat sebuah media dan alat yang dapat memberi manfaat bagi pengguna sesuai apa yang ia butuhkan. Mengkambing hitamkannya adalah sebuah kesalahan, sebagaimana kebodohan tukang kayu yang menyalahkan palu dan kapak karena hasil kerjanya yang tidak memuaskan.
Lewat sejarah, telah terbukti besarnya peran al Azhar di segala lini kehidupan. Dalam kancah perpolitikan misalnya, tidak dapat diperhitungkan perjuangan ulama dan pelajarnya dalam perjuangan menumpas penjajahan di bumi Mesir. Di sisi lain peran al Azhar dalam menyokong pembelajaran ilmiyah tidak dapat dipandang sebelah mata, tidak hanya di Mesir namun ke seluruh penjuru dunia serta tokoh-tokoh yang dilahirkannya. Salah satu contoh bagaimana lembaga ini membawa pembaharuan, adalah pembentukan perundang-undangan di dalamnya dalam beberapa kurun waktu pada akhir abad 19. Di mana saat itu diwakili oleh Muhammad Abduh dengan pembaharuan yang ia bawa dan melahirkan ketentuan dimasukkan pembelajaran ilmu-ilmu modern beserta metode yang disesuaikan. Tidak mau tergilas jaman, pada tahun 1961 dibuatlah undang-Undang yang memutuskan pendirian fakultas Kedokteran, Arsitek, Perindustrian dan sebagainya yang hingga kini masih dapat terasa manfaat yang dihasilkannya.
Masih banyak peran al Azhar yang tak terhitung jumlahnya sejak satu milenium berdirinya. Merupakan kesalahan besar merendahkan dan memandang al Azhar dengan sebelah mata. Terlebih dilakukan oleh mereka yang mengaku telah menimba ilmu di dalamnya.
Sekali lagi, al Azhar adalah fasilitator besar bagi pembelajaran. Ia adalah wasilah yang dapat digunakan untuk menyebarkan Islam melalui pengajaran berbasis al Quran dan Sunnah yang tidak akan terhapus oleh zaman. Adapun konsep dan kurikulum di dalamnya merupakan bentuk dan rancangan ulama dengan jerih payah mereka sebagai manusia yang tak akan mencapai kata sempurna. Mereka telah berusaha agar konsep dan kurikulum yang diberlakukan di dalamnya tidak jumud dan selaras dengan ajaran Islam. Sehingga bila ada kekeliruan di dalamnya, tentu menjadi tanggung jawab ummat Islam bersama-terkhusus alumninya- untuk memperbaiki, bukan menyalahkan dan merendahkan.

Wallohu ta’ala a’lam

Thursday, 30 January 2014

Qa..na..tir..

bismillah
Qanatir,
Mendengar cerita dari orang-orang yang pernah berwisata ke daerah itu, rata-rata komentar mereka bernada penyesalan. Jelek, kotor dan yang cukup parah, “Di sana cuman ada tai kuda!
Kesan miring saya terhadap daerah wisata tersebut bertambah manakala mendengar pengalaman senior yang ‘terjebak’ oleh sarana transportasi air yang menghubungkan antara Tahrir dan Qanatir. So, mungkin bisa dibilang wajar kalau niat saya ke sana ogah-ogahan. Namun demi kawan-kawan marhalah, ngikut aja lah.
Bisa dibilang marhalah Amazing kami ini yang paling sering kumpul-kumpul di banding marhalah lain. Baik itu dalam rangka refreshing bersama pasca ujian, atau karena momen-momen tertentu, seperti ulang tahun marhalah. Mungkin karena sesama anggota yang sudah seperti keluarga. Ceile.. dan juga jumlah anggota yang bisa dibilang proporsional. Tidak banyak dan tidak terlalu sedikit untuk mengadakan acara bersama.
Pukul 10.00 pagi kami bertolak dari asrama menuju Tahrir dengan Metro. Dengan sekali transit di Atabah, lalu berjalan menuju terminal Abdul Mun’in Riyadh. Dari sana naik tramco menuju Qanatir. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar 40 menit. Memakan waktu yang tidak jauh berbeda dengan perahu, kata guide amatir kami, hehe.
Turun di dekat jembatan, dalam hati saya membenarkan kata guide yang tak lebih kawan sendiri itu. Dinamakan Qanatir (Jembatan-jembatan) karena di daerah ini terdapat seperti bendungan (lebih tepatnya pintu air) yang membendung air sungai Nil dengan jumlahnya yang banyak. Di bangun oleh Inggris dengan corak arsitek Eropa (saya lihat salah satu mesin di pintu air, memang tertulis buatan London).
Perjalanan selanjutnya menuju salah satu hadiqah dengan berjalan kaki. Akses jalan dua arah (di Cairo rata-rata akses jalan satu arah) yang bisa dibilang cukup sempit dengan lalu lalang truk, mobil dan sepeda motor mengejutkan saya yang menyebrang dengan pertimbangan satu arah. Alhamdulillah masih bisa menghirup nafas hingga detik ini.
Setelah melepas lelah, karena kami berjalan cukup jauh sejak keberangkatan tadi, selanjutnya diadakan perlombaan memancing. Terdapat anak sungi kecil di dalam hadiqah, sehingga kami bisa menyewa alat pancing beserta umpan cacingnya (huhu... geli banget lihat si dudah ni kloget-kloget ><) setiap grup beranggotakan dua orang dengan satu pancing. Biarpun nggak menang, saya cukup puas lah dengan mendapatkan satu ikan berukuran mini. Wkwk
Dua kawan anggota Wihdah, pulang terlebih dahulu karena ada agenda. (belum merasakan serunya khusnul khotimahnya lah. Kasihan deh.. :p)
Tidak terlalu puas di hadiqah, kami putuskan untuk menyewa sepeda, berkeliling daerah Qanatir. Berhubung sepeda-sepeda sewaan kurang match dengan kostum kaum hawa, kami putuskan untuk naik delman saja. Sedang mayoritas kawan laki-laki memilih untuk bersepeda.
Setelah menunggu pak Kusir yang sholat Ashar, perjalanan dengan seekor kuda, (namanya Bussy ^_^) dimulai. Sebetulnya kasihan juga dengan si Bussy yang menarik 7 orang dalam kereta kuda. Tapi ya...  maafin kita ya, Bussy... ><
Melewati Istana Raja Faruq, kediaman Muhammad Ali Pasha, dan sejenak berhenti di depan pohon beringin besar. Kusir kami mengatakan bahwa pohon tersebut telah berusia 220 tahun. (hoho, kalau di Indonesia mungkin sudah dikeramatkan, seperti beringin di alun-alun Jogja dan Solo. Dan tambah seru kalau ada mbak Kunti yang action)
Mengitari komplek istana dengan beberapa bangunan berbata merah dan dibingkai cat krem polos di tiap tepinya, khas istana Faruq. Coraknya sama dengan istana Faruq yang pernah saya kunjungi di Alexandria. Begitu pula corak taman istana yang hijau luas dengan beragam pepohonan dan tanaman. Berbelok ke kiri, kawan-kawan yang bersepeda bergabung dengan perjalanan kami. Di sisi kiri terdapat tembok sekitar 3 meter, masih dengan gaya bata merah dan cat kremnya.
Di ujung jalan, kami menuju arah kiri, melewati satu gerbang yang hampir sama bentuknya dengan beberapa gerbang di beberapa jalan lain. Sampai di awal jembatan kami berbelok ke kanan. Si Bussy mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik kereta kami di atas jalanan yang tak lagi mulus. Jembatan (sekaligus pintu air) tadi, adalah jembatan Muhammad Ali Pasha, terang Pak Kusir. Sekali lagi, khas Faruq dengan bata merah  yang menyusun tiap lengkung jembatan dan warna krem polos pelengkap di tiap tepinya. Dari setiap jembatan yang saya temui, yang paling panjang dan banyak pintu airnya adalah jembatan pertama dari arah pemberhentian awal tramco tadi, ada 51 pintu air dengan mesin buatan London yang awalnya kami kira adalah kereta.
Subhanalloh, sebelah kiri kami anak sungai Nil, dan kanan kami adalah pertanian dengan beragam tanaman dan bunga. Dari warna warni bunga dalam pot-pot kecil, saya hanya mengenali beberapa. Yasmin dan lavender, ada juga pohon pinus kecil yang kata teman saya mirip pohon Gharqat (wkwk).
Dan... TARAA!
Kami berhenti di tepi sungai yang airnya mengalir cukup jernih. Tidak seperti sungai nil yang selama ini saya jumpai, anak sungai ini cukup berbatu. Seperti “kali” kalau di ndeso-ndeso itu lah. Makanya kami exited banget. Alhamdulillah Ya Allah... masih bisa merasakan indahnya alam seperti ini. Di tambah beberapa bangau berdiri angkuh pada beberapa bebatuan dengan bulu putih dan kakinya yang kurus seperti lidi yang menyangga kelapa (eh.. pas nggak sih majas-nya)
Lumayan lupa waktu saking senangnya, apalagi ada yang yang tak boleh terlewatkan, narsis ria...
Ala kulli hal, suasana yang saya dapatkan seperti di Tawangmangu. Hua.... daerah wisata yang tidak hanya memamerkan keindahan dan kesejukan, namun sangat kuat menyimpan kenangan bersama keluarga, sanak saudara dan kawan-kawan. Rindu saya sedikit terobati di sini. Di tengah rasa ‘ingin pulang’ yang belum dapat terwujudkan, di dalam puncak pertahanan untuk tidak bersua keluarga dan kawan-kawan lama, dalam kesabaran untuk sesuatu yang disebut jarak. Di negeri yang jauhnya lintas benua ini. Alhamdulillah...
Saya pun baru ingat bahwa selepas ujian termin di musim dingin ini, belum sempat mengambil jeda refreshing. Kecuali jika keliling International Bookfair masuk dalam kategori refreshing (T_T). Dan yang tak kalah penting, kesan miring terhadap Qanatir telah saya hapus. Semoga di lain waktu, saya bisa mampir ke ‘kali’ itu lagi. Terima kasih, jazakumulloh khoiron untuk kawan2 semua, sekaligus maaf telah menyebabkan sedikit ‘diskusi’ dengan pak Kusir tadi _/\_
Dan kini, kegiatan mulai merayap padat,  saatnya kembali pada tugas yang menanti untuk diselesaikan. Ditemani segelas Nescafe Milk racikan tangan saya. Selamat beraktifitas!

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(3:190)
                                                              Madinah alBuuts,

Cairo, 30 Januari 2014













Tuesday, 10 December 2013

Berduka untuk Mesir, Sepenggal Cerita di Musim Dingin

bismillah

Winter semakin terasa. Meski begitu pagi ini saya paksakan diri berangkat kuliah lebih awal. Jam pertama dimajukan, untuk mengejar materi sebelum ujian termin dua. Karena di whatsapp tersiar kabar bahwa hari ini akan kembali terjadi demonstrasi. Kabarnya kemarin ada dua mahasiswa yang terbunuh-innalillahi wa inna ilaihi roji’un- di asrama mahasiswa Mesir al-Azhar. Maka pagi ini saya punya harapan lebih, semoga bisa masuk kampus sebelum terjadi kerusuhan.
Namun harapan tinggal harapan, Alloh ta’ala yang menentukan. Bus berputar melalui Anwar Sadat karena jalan menuju Hay Sadis (lokasi asrama mahasiswa Mesir al-Azhar) macet. Saya cukup bersyukur, karena itu berarti bisa langsung turun di depan gerbang masuk kampus tanpa harus berjalan kaki. Sayangnya gerbang utama kampus sudah diblokir massa. Petugas khozinah yang tadi naik minibus bersamaan dengan bus saya, bisa masuk. Namun lebih dahulu mendapat pukulan dari perempuan-perempuan yang berada di dekat gerbang. Entah siapa entah mengapa. Pun nampak beberapa mahasiswi memanjat tembok pagar setinggi 2 meter.
Akhirnya saya bertemu Marwa, teman Mesir yang masih satu kelas. Ia mengajak masuk melalui gerbang lain. Tapi nihil, semua terkunci. Setidaknya selama perjalanan dalam bus tadi, saya sudah melihat bahwa semua gerbang utama telah diblokir.
Seorang ibu-ibu tambun ber-scraf merah tiba-tiba muncul dari kerumunan mahasiswi, seorang laki-laki menuntunnya. Jelas bahwa ia nyaris pingsan. Namun harus menunggu cukup lama hingga ada mobil yang bersedia membawanya pergi dari kerumunan massa. MasyaAlloh.
Bersama kawan lain, saya mengikuti gerombolan mahasiswi yang bertolak menuju gerbang Fakultas Farmasi. Entahlah, hampir setiap orang berjalan tak tentu arah, datang dan pergi begitu saja. Sementara ada teman yang memberitahu bahwa mereka berhasil masuk kampus dengan cara meloncat lewat jendela pos keamanan. Tanpa pikir panjang saya langsung bertekad, apapun yang terjadi, saya tidak akan masuk kampus dengan cara meloncat. Harus dengan sopan dan secara ‘mahasiswa akademis’. Hehe...
Alhamdulillah, gerbang fak. Farmasi telah dibuka. Saya memasukinya tanpa berdesak-desakan. Lancar. Hanya saja masih banyak gerombolan mahasiswa Mesir yang berkerumun di sekitar gerbang. Hingga tidak jauh dari gerbang, seorang mahasiswi Mesir bercelana hitam berteriak, wajahnya ditutup kain hitam sembari mengacungkan tongkat ia nampak kalap dan sedikit menjadi pusat perhatian. Saya agak terkejut, tapi juga sudah mewaspadai akan hal-hal semacam ini. Hanya beberapa detik kemudian ia berlari menuju gerbang. Massa nampak kembali memadati gerbang yang barusan saya lewati. Beberapa tongkat terayun ke atas, dan suana tampak mencekam diiringi teriak histeris dari kerumunan itu. Saya berjalan cepat menjauhi gerbang. Tak begitu lama, sirine ambulan menyala dan perlahan mengecil. Berkali-kali kami istighfar.
Kampus mulai ramai karena gerbang utama telah dibuka. Puluhan massa mengangkat tangan ke atas dengan ibu jari dilipat “Rabea”, bercampur dengan massa pendukung Sisi yang mengacungkan telunjuk dan jari tengah. Saya dan seorang kawan bergegas melewati kerumunan itu dan langsung menuju kelas. Dua jam dari jadwal yang direncanakan, baru kami bisa muhadhoroh dengan dosen. Sungguh sayang karena dua mata kuliah yang seharusnya disampaikan dalam dua jam harus disingkat menjadi tiga puluh menit. Saya kasihan dengan Dukturah Rotibah yang sangat tergesa menyampaikan Takhrij dan Dirasat al-Asanid. Dukturah Azza datang dan terpaksa materi kilat Dukturah Rotibah terpotong.
Selepas kelas berakhir, seorang kawan Mesir maju ke depan. Di belakang meja dosen yang dibuat lebih tinggi dari lantai kelas. Ia mengajak semua orang untuk berpartisipasi dalam hamlah. Dengan berisghtifar seribu kali dalam sehari,”Apakah ini berat untuk kalian?” tanyanya. Kami hanya tersenyum sembari mengiyakan. Juga sholat fajar setiap qobla Shubuh, tahajud dan meminta pada Alloh ta’ala agar rof’ul bala’ atas apa yang kini tengah terjadi. Juga agar satu sama lain memiliki nomor telepon agar dapat saling mengingatkan.
Sebelum semua beranjak pergi, Hagar-seorang kawan Mesir menghimbau semua untuk segera pulang dan menghindari Madinah alias asrama mahasiswa Mesir al-Azhar karena tengah terjadi demonstrasi di sana. Secepat mungkin kami pergi meninggalkan kampus, beberapa pergi dengan setengah panik.
Cukup lama hingga kami mendapat bus ke arah Darrasah. Sementara jalur bus ke arah itu tentu harus melintasi tepat di depan gerbang Madinah. Sekitar dua ratus meter dari gerbang asrama, jalanan menyepi. Mobil-mobil berputar haluan menuju jalur lain. Beberapa mahasiswa meloncati tembok pagar asrama untuk dapat keluar. Sementara banyak juga yang berada dalam asrama dan menatap jalanan dari jendela kamar mereka. Semakin mendekati gerbang asrama, sopir bus beberapa kali berteriak,”Tutup jendela! Akan ada gas air mata!” oenumoang yang berjejal dalam bus menurut. Seratus meter dari gerbang asrama, tercium aroma aneh-saya belum (semoga tidak pernah) mencium atau terkena gas air mata- udara nampak berkabut putih, nampak pagar paku telah dipasang dan jalan berdebu, juga berserakan pasir batu. Menunjukkan bekas adanya kerusuhan.
Bus terpaksa berputar haluan. Kembali menuju kampus putri al-Azhar. Melewati ACC (al-Azhar Conference Center), nampak ratusan demonstran telah memadati jalanan depan Majma al-Buhuts. Kemacetan tak terhindarkan. Mustasyfa Ta’min dan sekitarnya mulai macet total. Namun bus kami menuju Anwar Sadat. Alhamdulillah perjalanan lancar hingga asrama Madinah al-Buuts al-Islamiyah, alias asrama mahasiswa asing al-Azhar yang kami tempati.
Kira-kira begitulah gambaran situasi Cairo saat ini, khususnya asrama dan kampus mahasiswa al-Azhar. Hal ini patut disayangkan karena semua itu mengganggu aktifitas perkuliahan, terlebih di saat menjelang ujian termin pertama yang sebentar lagi digelar.
Kita sebagai mahasiswa asing yang ‘bertamu’ dan ‘menumpang’ memang memiliki kewajiban utama belajar, terlepas dari berbagai macam situasi politik yang memanas. Siapapun yang memimpin negeri Kinanah, bagaimanapun kebijakan dalam dan luar negeri, hingga perekonomiannya tidak perlu kita turut campur tangan. Tugas kita hanya satu, belajar!
Benarkah itu sikap seorang akademis sejati? Sesungguhnya saya cukup miris jika mendengar komentar, “terserah mau bagaimana yang terjadi, yang penting kita-mahasiswa asing- belajar saja!” Sejatinya kita tidak hanya melihat permasalahan dari luarnya saja. Tidak ada musabbab kecuali didahului sebab.
Benar, tugas utama sebagai mahasiswa adalah belajar, mengkaji, berdiskusi, talaqqi dan bebagai aktifitas akademis lainnya. namun saya tidak akan mengesampingkan sikap saya sebagai seorang Muslim, atau minimal sebagai seorang ‘manusia’ lah. Anda boleh berpendapat lain, tetapi buat saya, tidak sepantasnya kita bersikap acuh dan beranggapan bahwa ‘tidak terjadi apa-apa’, hanya karena status kita sebagai mahasiswa. Padahal secara dengan mata kepala kita tahu ada banyak korban berguguran, fasilitas dihancurkan dan kedzaliman dikukuhkan.
Lalu, selain berdoa-yang merupakan senjata seorang muslim- apa yang harus kita lakukan?
Pertanyaan itu adalah PR yang harus dijawab dengan bijak dan tidak tergesa-gesa. Selamat menjawabnya...

ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ (Yusuf: 99)

Cairo, 10 Desember 2013, 18:27 CLT

Friday, 22 November 2013

Uneg-Eneg

bismillah

Hm, hampir dua bulan blog ini tidak kunjung saya “hiasi”. Rasanya hampaa... malas kah? Umm, ‘sebetulnya’ tidak juga. Sibuk? Wah, itu cari-cari alasan namanya. Tapi entah kenapa saya ingat nasehat seorang senior-siapapun yang lebih tua dari saya, maka saya sebut senior, haha- yang intinya, “istiqomahlah dalam menulis”.

Namun juga, hal itu menjadi tanda tanya bagi saya, menulis adalah bentuk aktualisasi diri saya. Penyaluran uneg-uneg-terutama- yang telah saya alami dari kejadian sehari-hari atau hasil kontemplasi yang ndak begitu serius. Dengan kata lain, bagi saya menulis akan menghadirkan kepuasan sendiri. 

Jadi, kembali pada nasehat tadi, mengapa saya harus istiqomah? Karena kata-kata ‘istiqomah’ seperti menunjuk pada hal-hal yang sulit untuk dilakukan, dan butuh kerja ekstra untuk melakukannya. Sedangkan bagi saya menulis itu kepuasan, tidak perlu kerja keras dan memeras otak untuk melakukannya.

Lalu saya teringat nasehat senior yang lain lagi, untuk meningkatkan kualitas tulisan. Hm, sampai di titik inilah saya mulai merasa ada sesuatu yang ‘aneh’. Tapi tentu saja berbeda dengan rasa ‘dahsyah’nya para filosof ketika mencapai puncak tertentu dalam gelutan pikiran mereka. (^_^)”??

Ya, dari situ saya lalu merasa tertohok. Selama ini apa sih yang sudah saya tulis? Apakah ada peningkatan kualitas? Peningkatan ragam? Atau justru berjalan ke belakang? wawasan apa pula yang sudah saya tulis? Rasanya seperti hanya jalan di tempat.

Lalu teringat lagi saat blogwalking ke blog senior yang lain. Entah ini murni kata-katanya atau hasil mengutip, “membaca adalah bernapas, dan menulis adalah menghembuskannya”. Eureka!! Di sini saya menemukan jawabannya. Bagaimana saya bisa menulis sesuatu yang berkualitas kalau bacaan saya tidak berkualitas? Bagaimana bisa menulis dengan wawasan yang luas kalau saya tidak membaca apa-apa? Saya juga teringat ketika mewawancarai sastrawan tanah air yang tengah melawat ke Mesir, bapak Taufik Ismail. Bahwa apa yang selama ini beliau perjuangkan adalah supaya masyarakat kita gemar membaca. Duh!
Setiap kali membaca hasil tulisan orang lain, saya merasa iri, minder bahkan apatis. Apa saya bisa menulis sebagus itu? Tulisan apa saja. Fiksi ataupun non-fiksi. Serius ataupun yang berpoles humor. Apa saja. Lalu tiba-tiba terbersit di kepala saya untuk ‘tawaquf’ –hihi, saya gemar sekali pakai alasan ini untuk um,,, rahasia ah- sampai bacaan saya ‘cukup’ untuk menelurkan tulisan yang sedikit ‘ehm’. Maka dari itu, blog saya jadi ‘mati suri’. Gara-gara keputusan ber-tawaquf itu.^_^

Ibaratnya, selepas masa ‘membaca’ saya ingin bisa dapat ilham dari langit, lalu keluarkan tulisan yang sedikit lebih ‘berkualitas’. Tapi setelah beberapa waktu terlewat. Justru rasa hampa yang mengisi kepala saya. Seperti ada sesuatu yang menyumbat ketika saya menarik nafas kehidupan. Eciee...

Jadi, haduh.. awalnya saya hanya ingin menulis satu paragraf untuk epilog, tapi ternyata malah ngalor ngidul. Padahal saya hanya mau menulis pengalaman sore tadi, ketika jalan yang melewati kompleks ‘madinah’ mahasiswa (Mesir) al-Azhar diblokir polisi dan nampak gas putih mengepul dari dalam kompleks (kemarin 3 mahasiswa meninggal karena bentrok dengan aparat –kabarnya begitu-) pasir dan batu juga berserakan tepat di depan gerbang kompleks asrama mahasiswa yang-ketika saya lewati- sudah lenggang. Juga sedikit insiden dalam bus, dan reaksi lucu seorang teman. Lho..lho... masih ingin menulis. Tapi ada tugas lain yg harus d kerjakan.
Anyway, smoga uneg-uneg ini bermanfaat.
Allohumma arinal haqqo haqqon warzuqna ittiba’aah, wa arinal batila batilan warzuqna ijtinabah.

                                                                                                    Cairo, 22 November 2013
20:02 CLT



Sunday, 15 September 2013

Gom’ah Mubarak... ^_^

bismillah


Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis status di facebook perihal hari Jumat. Dimana saya seringkali mencoret besar-besar agenda untuk keluar di hari Jumat karena banyak resiko yang patut dipertimbangkan untuk keluar pada hari libur resmi Mesir ini.
Dan memang beginilah faktanya. Mungkin tidak semua merasakan hal yang sama. Namun bagi kami, mahasiswi yang tinggal di asrama buuts putri, menjadi kendala tersendiri jika harus keluar pada hari Jumat. Ya, semenjak suhu politik di Mesir yang memanas dan sulit untuk diprediksi, hari Jumat adalah momen yang sering digunakan massa untuk berdemonstrasi.
Mulai dari transportasi yang sulit didapat, plus harus merogoh kocek yang lebih..lebih..dalam, hingga aturan asrama yang seringkali berubah mengenai batasan waktu untuk keluar.
Sebetulnya saya masih sedikit mutung alias ngambek gara-gara semalam ada acara di Hay Asyir yang memaksa beberapa dari kami (anak asrama putri buuts) untuk mengikutinya hingga cukup larut. Melanggar aturan jam kembali asrama? O, jelas. Resiko menghadap direktur asrama? Bisa jadi. Terpaksa naik taksi, demi hemat waktu dan karena tidak ada bus yg beroperasi? Saldo beasiswa bukan lagi nol, tapi minus. Hiks! Ini kan belum masuk tengah bulan... /(ToT)”?
Toh, intinya Jumat ini saya harus keluar lagi, karena ada agenda di Wisma Nusantara yang letaknya di kawasan Rabea al Adaweyah. Kawasan yang menjadi saksi terbunuhnya ratusan (ada yang bilang ribuan) nyawa demonstran, dan hingga kini masih dijaga ketat olrh aparat keamanan dan militer Mesir.
Mengetahui ada agenda di hari ini, sebetulnya saya sudah ada feeling agak buruk. Benar saja, aliran air asrama beberapa kali tersendat, selanjutnya ketika ijin keluar. Ammu Wahab yang menjaga gerbang mendelik pada saya,”Ruh fein?!!” Mau ke mana kamu?!!
“Awwil Sabi’,” jawabku lirih. Itu adalah kawasan yg dekat Rabea al Adaweyah.
Namun senior yang bersama saya segera menjawab dengan keras,”Ahmad Said, Ammu..” ini sih nama kawasan yang terdekat dengan asrama. Hoho...
“mau pergi ke mana kamu?!” tanya Ammu Wahab lebih keras.
Sedikit keder terpaksa saya jawab,”Ana ma’aha, ila Ahmad Said..” Maafin saya sekaliiii ini ya Ammu.
Setelah berhasil keluar asrama, barulah saya tahu kalau sebelumnya ada senior yang dibentak dengan keras gara-gara ingin sholat Jumat di Masjid alAzhar. “Teriak-teriak sampai matanya melotot dan kedengaran sampai imarah 3.” Jelasnya. Whuoo.. Imarah 3 kan jaraknya hampir 50 meter dari gerbang...
Kami agak gamang untuk melanjutkan perjalanan, karena harus kembali sebelum dhuhur. Mustahil.tapi ternyata pak Bos nggak memberi ijin untuk membatalkan agenda, malah kami disuruh segera naik taksi. Taksi ...lagi? haha, saya meringis aja deh.
awwal sabi'
Akhirnya ada sopir taksi yang berbaik hati mengantar kami hingga kawasan Rabea al Adaweyah. Ia mengambil jalur arah ke airport, namun ternyata untuk menuju Rabea al Adaweyah tidak mudah. Bebarap kali taksi berputar-putar mencari celah untuk melewati blokade militer dan aparat keamanan, namun hasilnya nihil. Hampir di setiap ruas jalan terdapat tank-tank dan tentara dengan seragam lengkap. Moncong senjatanya itu lho, bikin ketar-ketir.
Terpaksa kami turun di jalan terdekat yang diblokade untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Keluar dari gang kecil dengan beberapa restoran kecil yang baru mulai beroperasi, kami menuju jalan utama yang nampak sepi. Beberapa aparat keamanan berseragam hitam bersiaga di sana. Tidak jauh di belakang, dua tank dan beberapa tentara berseragam lengkap juga menghadang.
Setelah memastikan bahwa masing-masing dari kami berempat telah membawa paspor dan identitas diri, dengan langkah pelan kami mendekati para aparat itu.
“Langsung jalan apa ijin dulu ya?” kami masih ragu. Tapi, daripada resiko nyelonong lalu di-dor, nah lho.. lebih baik ijin lewat.
Saat berjalan mendekat, beberapa dari mereka mengamati kami yang berjalan mendekat.
“Lau samakh, boleh kami lewat..”
“silakan...” jawab beberapa dari mereka. Phuft...
Kami pun berbelok ke kanan dan...
“WHUAAAH...”
Hihi, akhirnya keinginan saya untuk melihat Maidan Rabea al Adaweyah tercapai! Saya benar-benar penasaran ingin melihat langsung masjid Rabea al Adaweyah yang sempat hangus, serta kawasan pusat yang sempat jadi ‘neraka’ di Bumi Kinanah itu.
Yap, dengan jalanan lebar dan berpusat di bundaran yang cukup besar namun sepi dan lenggang. Dulunya kawasan ini tak pernah sepi dari orang dan kendaraan. Tapi kali ini sepii.. tidak satupun kendaraan bisa lewat. Dan blokade yang cukup luas sehingga seperti taman yang sepi dan dikelilingi apartemen dan bangunan yang cukup lenggang.
Memang sudah tidak ada sisa hangus dan trotoar nampak telah diperbaiki dan ruas jalan telah dicat kembali. Tapi kami juga buru-buru istighfar, membayangkan bahwa di setiap bangunan yang mengelilingi kami terdapat sniper yang sewaktu-waktu mengincar kepala kami. Tentu saja cukup mudah bagi mereka, demonstran bertumpuk di jalanan seperti lapangan yang dikepung gedung-gedung di berbagai sisi. Para sniper sangat mudah memburu mangsanya.
Sedikit konyol kami berlari kecil dengan menunduk, membayangkan bagaimana situasi saat penyerbuan dan mengevakuasi para korban sembari menyelamatkan diri dari sniper yang mengincar kami. Haha..
Sampai di Wisma Nusantara, tentu saja kami datang telat. Ho
Meskipun hanya mengikuti briefing beberapa puluh menit, adzan berkumandang. Dan selesai. Agak canggung juga, karena kami harus segera kembali, sementara kawan-kawan yang tinggal di luar asrama Buuts harus mengikuti rapat hingga akhir.
Saya sih, tidak berpikir ‘dapat apa’ dari agenda siang itu. Yang penting setor muka saja dan kembali ke asrama sebelum kami di marahi oleh Ammu Wahab. Ini sudah jam 1 lebih, padahal kami berjanji untuk pulang sebelum Dhuhur. Punteeen, Ammu...
Cerita pulang tidak jauh berbeda dengan perjalanan berangkat. Kami harus berputar-putar dengan taksi, demi keluar dari kawasan Rabea al Adaweyah. Jika tadi kami bingung mencari jalan masuk, kini harus pusing mencari jalan keluar.
Sopir taksi akhirnya bertanya pada seorang tentara,”Ya basya... ada jalan keluar nggak?” sebab di setiap ruas jalan dan gang-gang telah diblokade oleh tank-tank dengan amunisi penuh.
“Gak ada, kullu thori muta-affil” ia juga mengatakan akan adanya kemungkinan demonstrasi, jadi setiap akses jalan memang diblokade. Whehe... sudah berputar-putar ndak jelas, akhirnya kami mencoba lewat jalan ke Anwar Sadat. Di tengah jalan yang lenggang, tiba-tiba seorang sopir taksi yang berjalan berlawan arah dari kami berteriak kencang,”IRJI’!!!”
Nadanya itu lho... “Ooii, BALIK! Jangan lewat sana!!”
Wuiih, saya meringis, seolah di depan sana sedang terjadi baku tembak. Haha, ternyata masing-masing dari kami berpikir sama.
Meskipun kembali ke tempat semula, akhirnya kami menemukan jalan keluar dari kawasan itu. Kami putuskan untuk turun dan naik bus menuju Nadi Sikkah. Dari sana oper tramco ke Duwai-ah, lalu sambung ke asrama Buuts.
Di dalam tramco kami masih berpikir bagaimana membuat alasan untuk Ammu Wahab. Kami tidak ingin berbohong, namun entah apa jadinya kalau mengaku bahwa kami pergi ke kawasan Rabea al Adaweyah. Habis lah...
Gerbang asrama telah ditutup karena waktu keluar telah habis, kami berdiri di luar dan saling bersembunyi di balik punggung satu sama lain. Akhirnya salah seorang memberanikan diri membuka gerbang, seorang Ammu bawwab berseragan putih ‘askari tersenyum melihat ketakutan di wajah kami.
“Buruan masuk..”katanya. kami mengawasi sekitar dan bertanya, di mana Ammu Wahab. Ternyata beliau sedang di kamar mandi. Serentak kami bersorak gembira dan segera menulis tanda bahwa kami telah kembali. Ammu itu hanya tersenyum geli melihat tingkah kami. Semua beres, dan kami amat sangat berterima kasih pada Ammu itu, “Mutasyakir awi... syukran..syukran Ammu...”
Tiba-tiba seorang dari kami melihat Ammu Wahab keluar, “Ada Ammu Wahab! Larii....!!”


PS: maaph, mau foto2 di TKP tapi takut di-dor. hehe
*huhu... alhamdulillah ala kulli hal ^_^